
...Tak mudah menyatukan gelas yang pecah dan mengembalikannya utuh. Butuh waktu yang lama untuk membangunnya lagi meski tak bisa kembali seperti semula....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Seorang pria terlihat sedang berdiri di pinggir jalan. Pakaiannya sudah acak-acakan. Tangannya berkacak pinggang dengan bibir tak hentinya berdecak. Kakinya menendang ban mobilnya yang kempes.
Sungguh dirinya benar-benar merasa sial sekali malam ini. Tubuhnya yang lelah dan ingin segera istirahat harus dia urungkan karena ban mobilnya kempes. Bayang-bayang kedatangannya disambut oleh Almeera harus dia pendam.
"Kenapa kempes segala sih," dengusnya sambil memijat dahinya yang mulai sakit.Â
Dia menatap jalanan yang sepi. Tak ada seorang pun disana dan membuat Bara memilih masuk ke dalam mobil dan mengunci pintunya. Dirinya meraih ponsel yang sejak tadi tak ia lihat.Â
Matanya membelalak saat melihat panggilan dari istrinya tak terjawab. Tanpa menunda Bara segera menelpon balik. Dia berharap semoga Almeera masih terjaga.Â
"Assalamualaikum, Mas. Kamu dimana? Kenapa belum pulang? Kamu baik-baik aja, 'kan? Kamu gak lupa ultimatum dari aku, 'kan?" cerocos suara perempuan yang dia rindukan.
Bara melipat bibirnya menahan tawa. Matanya berembun saat menyadari sifat istrinya kembali seperti dulu. Mengkhawatirkan dirinya ketika pulang telat. Lalu sekarang, akhirnya dia bisa merasakan itu lagi setelah melakukan kesalahan fatal pada istri pertamanya.Â
"Mas jawab! Kamu baik-baik aja, 'kan?"Â
Bara mengangguk, "Iya. Mas baik-baik aja."
"Terus Mas lagi dimana sekarang?"Â
"Di jalan," sahut Bara dengan jujur. "Ban mobilku kempes."Â
Bara bisa mendengar helaan nafas Almeera dari seberang telepon. Dia menyadari jika istrinya itu pasti begitu khawatir kepadanya.
"Kenapa gak kabarin dari tadi, Mas?" sungut Almeera dengan nada kesal.
"Maaf, Sayang. Aku berusaha mencari tumpangan tapi ternyata jalanan sepi banget."Â
Sesaat Bara bisa mendengar suara seorang pria yang sangat dia hafal. Hingga tak lama, ponsel istrinya itu berpindah alih.
"Aku jemput kamu, Bar. Tunggu di dalam mobil aja, okey?"Â
"Okey."Â
"Hati-hati, Mas," kata Almeera setelah ponselnya kembali kepadanya.Â
Bara tersenyum bersamaan air matanya menetes. Entah kenapa malam ini dirinya merasa sangat bahagia. Perhatian yang dulu sering di dapatkan olehnya dan sempat hilang. Akhirnya kembali dia rasakan. Bara merasa bersyukur. Tuhan masih begitu baik kepadanya dan memberinya kesempatan untuk bisa merasakan hal itu lagi. Â
__ADS_1
"Iya, Sayang."Â
"Aku tunggu kamu pulang. Assalamualaikum," ucap Almeera sebelum menutup panggilannya.Â
"Waalaikumsalam."
Perlahan Bara mulai meletakkan ponselnya di kursi penumpang. Dia menghela nafas berat sambil menatap ke arah jalanan. Dirinya baru menyadari jika jalan raya ini dekat dengan rumah istri keduanya.
Dia baru sadar akan pertanyaan Almeera tadi. Bara yakin jika istri pertamanya pasti mengira dia sedang bersama Narumi. Namun, bukankah Bara sudah janji pada istrinya. Dia akan menepati ultimatum Almeera. Menceraikan Narumi dan memperbaiki hubungan keduanya.Â
Bara tak mau terperosok ke jurang yang sama. Dia tak mau melakukan kesalahan lagi. Cukup sudah dia melakukan kesalahan fatal kemarin. Sekarang, dia harus berubah.Â
...🌴🌴🌴...
"Tidurlah. Aku akan menyusul suamimu yang bodoh itu," ejek Jimmy dengan terkekeh.
Bukannya marah, Almeera malah tertawa kencang. Dia menganggukkan kepalanya karena itulah kebenarannya. Suaminya itu terlalu baik hingga mudah dimanfaatkan.
"Bawa dia pulang dengan utuh. Kalau dia jelalatan, congkel matanya dan masukkan saku bajumu."Â
Keduanya benar-benar dua saudara yang gila. Jika bersama Jimmy, Almeera bisa bercanda segila itu. Kakak keduanya ini memang berbeda dengan kakak pertamanya. Walau terkesan cuek, tingkat ocehan dan kepedasan bibir dimenangkan oleh Jimmy. Bahkan pria itu lebih suka berbicara realita daripada gombalan. Itulah ciri khas seorang Jimmy. Dia hanya hangat ketika bersama keluarga dan akan menjadi pribadi dingin ketika sendirian.Â
Saat dia sudah duduk di kursi kemudi. Jimmy segera menekan klakson sebelum menjalankan mobilnya. Dirinya benar-benar tak mau buang waktu terlalu lama. Tanpa menunda lama, dia segera menekan pedal gas dan menaiki mobilnya dengan kecepatan tinggi.Â
Hanya butuh waktu empat puluh menit akhirnya dia sampai di posisi mobil Bara. Jimmy segera keluar dan mengetuk kaca mobil adik iparnya.
"Nggak, Kak. Aku cari di belakang gak ada," sahut Bara dengan wajah lelah.
"Ya udah. Aku telpon temanku dulu."
Jimmy menjauh. Dia segera melakukan panggilan telepon agar temannya bisa datang kesini.Â
"Gue share lokasinya. Thanks, Bro."
"Mending kamu tidur di mobil, Bar. Kamu kelihatan capek banget," ucap Jimmy merasa kasihan.
Apa yang dikatakan oleh Jimmy memang benar. Kondisi Bara malam ini super berantakan. Mata pria itu berkantung dengan sesekali bibirnya menguap.Â
"Tapi, Kakak…"Â
"Gapapa. Aku tungguin temanku. Mana kuncinya?"Â
Bara tak menolak. Dia segera mengambil tas kerja, laptop dan ponselnya lalu menyerahkan kunci itu pada Jimmy. Dia benar-benar mempercayakan semua kepada kakak iparnya. Bara sudah terlalu letih dan membuatnya ingin segera tidur.Â
Setelah Bara masuk ke dalam mobilnya. Jimmy menunggu hampir dua puluh menit sampai sebuah mobil mendekati posisinya.Â
__ADS_1
"Thanks, Bro. Udah mau gue repotin malem-malem," kata Jimmy setelah melakukan salam sesama pria.Â
"Santai aja. Mending Lo pulang deh. Gue bawa temen kok," kata pria dengan pakaian kaos berwarna hitam.Â
"Lo yakin?"Â
"Yakin lah. Lo kirim alamat rumahnya. Gue anter langsung nanti."
Jimmy mengangguk. Setelah menyerahkan mobil adik iparnya pada temannya itu. Akhirnya dia segera mengendarai mobilnya pulang. Jimmy tak mengganggu Bara yang sedang tertidur. Pria itu benar-benar kelelahan sampai mobil yang dikendarai Jimmy memasuki halaman rumah Almeera.
"Bangun, Bar. Sampe nih!"Â
Bara meregangkan otot-ototnya. Matanya terbuka dengan perlahan. Hingga dirinya terbelalak saat menyadari bahwa mereka sudah sampai di rumah.
"Kenapa gak bangunin aku, Kak?"Â
"Udah gapapa. Cepet masuk! Aku yakin adikku itu menunggumu."Â
Akhirnya Bara menurut. Pria itu segera turun dan berjalan menuju pintu utama. Benar saja, saat dia mendorong pintu itu hingga terbuka, sosok istrinya terlihat disana.Â
"Kamu baik-baik aja, 'kan, Mas?" tanya Almeera menatap Bara dari atas sampai bawah.Â
"Iya, Sayang. Aku…" Tiba-tiba ucapan Bara terhenti saat istrinya itu menarik kemejanya.
Almeera mengendus bau tubuh suaminya. Dari kerah kemeja, sampai bagian perut. Dia benar-benar tak melewatkan apapun hingga Bara mulai menyadari sesuatu.Â
"Sayang aku gak ke rumah…"Â
"Aku percaya kamu gak ke rumah istri keduamu," kata Almeera dengan cepat. "Bau badanmu yang menjadi bukti."Â
Ucapan istrinya tentu menjadi pukulan telak bagi Bara. Pria itu terdiam menyadari jika apa yang dia katakan tak akan dengan mudah dipercayai oleh istrinya.
Banyak kesalahan yang dia lakukan hingga membuat kepercayaan Almeera tak ada lagi untuknya. Dirinya mengerti tak mudah mendapatkan itu lagi. Namun, Bara berjanji dalam dirinya, dia akan menunjukkan keseriusannya. Dia akan berusaha jujur dan membuktikan bahwa dia bisa dipercaya kembali.
"Jangan tersinggung, Mas. Aku benar-benar belum bisa percaya pada ucapanmu. Banyak kebohongan yang kamu lakukan hingga memupus semua rasa percayaku untukmu."
~Bersambung
Hy semua pembaca setia Mas Bara dan Mbak Meera. Sebelumnya aku mau kasih pengertian yah. Kemarin ada yang komen begini, "Authornya gak pernah bales komentar, pembaca gak dianggap."
Untuk semua pembaca yang sudah kasih komentar, aku malah merasa bahagia banget. Tapi kalau gak semua kubales, aku minta maaf.
Bayangin aja sebanyak itu, aku harus balesin satu-satu. Bisanya bisa, tapi aku ya gak nutut buat ngetik bab selanjutnya. Aku baca komentar kalian semua kok. Bahkan ada yang dibales walau gak semua. Jadi jangan merasa gak dianggap, jujur malah aku ngerasa gak enak sama kalian semua.
Kalau tanganku mesin, aku mau balesin semuanya. Tapi tanganku tetep buatan Allah. Bisa capek juga. Jadi aku minta maaf kalau ada komentar yang gak kebales.
__ADS_1
Aku sayang kalian.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah..Biar author semangat ngetik bab selanjutnya.