Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Rayuan Maut Ala Bang Jim


__ADS_3


...Dulu mungkin aku tak menyangka memiliki kekasih membuat kita menjadi bahagia. Tapi setelah punya kamu, aku menyadari jika hidupku lebih berwarna dengan keberadaan kamu di sisiku....


...~Azzelia Qaireen...


...🌴🌴🌴...


Setelah menyelesaikan panggilan dengan rekan kerjanya. Jimmy segera mematikan segala peralatan kerjanya. Siang ini dirinya memiliki jadwal untuk menemani Zelia belanja. Ya, kekasihnya itu minta ditemani ke market karena ingin memasakkan sesuatu yang spesial untuknya. 


Dengan memakai kaos hitam ketat yang membungkus tubuh atletisnya, serta celana jeans pendek selutut, dipadu dengan sepatu membuat penampilan pria itu sangat amat terlihat berkelas. Dadanya yang bidang tentu sangat tercetak jelas disana dan membuat mata kaum hawa pasti ternoda. 


Dengan langkah ringan, Jimmy berjalan keluar dari kamar. Dirinya menenteng sebuah tas kecil berisi dompet kartu dan ponsel miliknya. Hingga saat dirinya sampai di ruang televisi, pandangannya tertuju pada dua keponakannya yang sedang bermain ponsel dengan keadaan tv menyala.


Jimmy menggeleng. Dia segera mendekati keduanya dengan langkah tanpa suara. 


"Dor!" 


"Aa." Dua anak itu menjerit terkejut.


Bia bahkan sampai menutupi matanya reflek karena takut. Hal itu tentu membuat Jimmy yang ingin bercanda merasa bersalah.


"Bia," panggil Jimmy khawatir. "Om minta maaf." 


Bia perlahan melepaskan tangannya. Pandangannya buram tapi terlihat jelas ketakutan disana.  


"Kamu pasti takut," lanjut Jimmy meraih keponakannya itu dalam pangkuan.


"Bia cuma kaget, Om," cicitnya pelan sambil mengusap matanya yang sedikit buram.


"Kalau kamu masih takut. Bilang sama Om, Mama atau Papa yah?" 


Bia mengangguk. Lalu dia menatap sosok om nya yang terlihat begitu rapi.


"Om mau kemana?" 


"Belanja," sahut Jimmy dengan menurunkan Bia dari pangkuan.


"Sama Tante Zelia?" tanya Bia penasaran.


Jimmy mengangguk. "Mau ikut?" 


Jimmy tak hanya bermulut busa. Dia benar-benar ingin mengajak keponakannya berbelanja dengan Zelia agar Bia tak merasa kesepian.


Dia tahu jika sang adik, Almeera sedang ke psikiater bersama Bara. Maka dari itu, sejenak ia mengambil alih peran orang tua pada dua anak ini. 


"Emang boleh?" Itu bukan suara Bia. Melainkan Abraham yang sejak tadi bermain game di ponselnya.


"Iya serius."


"Oke. Abra ikut!" ujar anak itu sambil beranjak kabur menuju kamarnya.


Jimmy terkekeh melihat tingkah keponakannya itu. Lalu pandangannya turun menatap Bia yang sedang menatapnya juga.

__ADS_1


"Gimana?" 


"Bia ikut juga." 


"Oke." 


Akhirnya siang itu, Jimmy mengendarai mobilnya dengan ditemani dua keponakannya. Terlihat Abraham dan Bia duduk dengan tenang di kursi tengah. Di tangan mereka terdapat ipad masing-masing untuk menemani keduanya saat dilanda kebosanan.


"Abang."


"Ya?" sahut Abraham pada adiknya.


"Papa sama Mama apa masih lama?" tanya Bia dengan wajah terlihat khawatir.


Abraham menggelengkan kepalanya. Dirinya saja tak tahu Mama dan Papanya akan kembali jam berapa.


"Kenapa Bia tanya Mama sama Papa? Bia kangen?" tanya Jimmy yang tak sengaja mendengar pembicaraan dua ponakannya.


"Bisa takut Mama sama Papa terjadi sesuatu," kata anak itu dengan nada khawatir.


"Bia mau nelpon, Mama?" tawar Abraham yang tak tega melihat adiknya.


"Nggak perlu. Abang cukup kirim pesan sama Mama dan tanya lagi dimana." 


Akhirnya anak pertama pasangan Almeera dan Bara mengirimkan pesan sesuai permintaan adiknya. Dia tak mau Bia menjadi sedih. Hingga tak lama balasan pesan itu langsung dibalas oleh mamanya.


"Nih Mama balas!" kata Abraham menyodorkan ipadnya.


Mama


Bia mengangguk. Akhirnya hati anak itu mulai tenang. Tak lama mobil Jimmy mulai memasuki pelataran rumah Zelia dan bersamaan dengan itu, kekasihnya sudah muncul dari dalam rumahnya.


"Tante," panggil Bia yang ikut turun dengan wajah berbinar.


Zelia terbelalak terkejut dengan kehadiran anak sahabatnya. Dia segera mensejajarkan tubuhnya dan menerima pelukan Bia dengan hangat.


"Sayangnya Tante." 


Zelia benar-benar terlihat bahagia dengan kedatangan Bia. Bahkan wajah gadis itu benar-benar ceria.


"Maaf. Aku mengajak mereka," kata Jimmy dengan tak enak hati.


"Kenapa minta maaf, Kak?" tanya Zelia bingung. "Aku bahkan seneng banget kalau ada Bia."


Karena kalau cuma kamu, kamunya juga diem macem patung, lanjutnya dalam hati. 


"Beneran?" 


Jimmy memang awalnya merasa takut kekasihnya terganggu. Dia berniat jika Zelia keberatan dengan keberadaan dua keponakannya. Maka ia akan mengajak Zelia belanja keesokan harinya. Namun, ternyata dugaannya salah.


Kekasihnya benar-benar luar biasa. Sejak mereka naik ke dalam mobil. Zelia terus mengajak Bia berbicara. Bahkan sesekali gadis itu mencoba dekat dengan Abraham yang notabenenya pendiam.


Kebaikan dan ketulusan Zelia lah semakin membuat Jimmy jatuh dalam pesona kekasihnya. Bagaimana lembutnya Zelia, tulusnya wanita itu dan ramahnya. Membuat Jimmy benar-benar yakin jika apa yang ia rasakan pada Zelia adalah perasaan cinta yang mendalam.

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


"Kita mau belanja apa, Tante?" tanya Bia pada Zelia.


Saat ini keduanya sudah berada di supermarket yang ada di dalam mall. Mereka sedang menunggu Jimmy yang mengambil troli belanja untuk mereka berpetualang hari ini.


"Tante mau bikin sup daging, kentang perkedel, udang krispi dan nugget ayam," ucap Zelia yang membuat mata Bia berbinar.


"Bia suka nugget ayam."


"Tante bikin nugget emang khusus buat Bia. Jadi nanti kita masak bersama. Bagaimana?" 


"Oke." 


Bia dan Zelia saling bertos ria. Bersamaan dengan itu, Jimmy dan Abraham yang baru saja sampai mengerutkan keningnya.


"Kalian sedang merencanakan sesuatu?" 


"Nggak." Bia dan Zelia spontan menjawab.


Keduanya segera ngeloyor pergi karena takut ditanya lebih banyak lagi oleh Jimmy. Mata Zelia mulai menatap barisan ayam disana. Ya, mereka ke tempat macam-macam daging.


"Pilih ini saja," kata Jimmy mengambilkan ayam yang masih utuh.


"No!" Zelia menolak. "Ambil yang udah tinggal dagingnya aja." 


"Ini aja!" ujar Jimmy ngeyel.


"Sayang, aku mau bikin nugget ayam bukan ayam bakar!" rengek Zelia menjelaskan. 


"Ya, 'kan, sama aja." 


Zelia hanya bisa mengelus dada. Dirinya sangat tahu jika kekasihnya ini pasti sedang mengerjai dirinya.


Mereka akhirnya berkeliling. Setelah mendapatkan ayam dan udang. Keempatnya segera menuju ke bagian sayur. 


"Kamu mau sayur sup, 'kan?" tanya Zelia menatap kekasihnya. 


"Apapun yang kamu masak, pasti aku makan."


Pipi Zelia bersemu merah. Walau kekasihnya mengatakan hal-hal yang menurutnya romantis dengan wajah datar. Namun, gadis itu merasa senang.


Dia bersyukur jika tawa Jimmy, senyumannya hanya dirinya lah yang bisa menikmati. Memiliki kekasih cuek dan dingin ternyata sebahagia itu. 


"Kalau aku memberi sianida, apa kamu masih mau memakannya?" Tantang Zelia dengan menaik turunkan alisnya mencoba menggoda. 


"Aku akan memakannya jika itu membuatmu bahagia." 


"Ah manis sekali," balas Zelia dengan pipi bersemu merah. "Rasanya ingin ku kecup itu bibir, kalau keseringan bikin jantungku frustasi." 


~Bersambung


Makin ngadi-ngadi pasangan ini, huaa. Meleyot sendiri aku.

__ADS_1


Woy pesawat ke mars 10 pagi. Ada yang mau ikut? rasanya ngontrak di novel sendiri.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author makin semangat ngetiknya.


__ADS_2