Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Makna Tersirat


__ADS_3


...Seorang istri bukan hanya menemani suaminya ketika bahagia. Melainkan dia harus siap dengan keadaan baik buruknya. Dia bisa menjadi sosok lemah sekaligus sosok kuat. Istri juga bertugas meluruskan tabiat suaminya yang salah. Begitulah arti sebuah pernikahan untukku. Bukan hanya menerima tapi kita juga harus memberi....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Sinar matahari mulai menyingsing dari timur. Udara sejuk di pagi hari menembus kaca jendela di setiap rumah sakit. Pemandangan daun bergerak terkena semilir angin terlihat begitu menenangkan. Kejadian menyeramkan yang terjadi semalam tentu masih terngiang jelas di pikiran semua orang.


Kejadian tiap kejadian yang terjadi hanya karena kesalahan dari keegoisan Narumi. Namun, bagi seorang pria yang memiliki dua orang anak. Sejak semalam dia menyalahkan dirinya sendiri.


Merenungi kesalahannya. Lebih banyak diam dan menyendiri tentu membuat Almeera yang melihat merasa tidak tenang.


"Mas," panggil Almeera saat suaminya berdiri di dekat kaca jendela ruangan Bia.


Sejak semalam pria itu hanya tidur beberapa menit. Entah kenapa ketika dia mencoba memejamkan mata, bayangan dimana dulu dia begitu bahagia menikahi Narumi, semakin membuatnya menyesal.


Wajah putranya yang marah kepadanya, wajah kecewa putrinya dan kesedihan pada Almeera, berputar seperti kaset rusak di dalam pikirannya. 


"Mas," panggil Almeera lagi saat Bara tak menjawab.


Dia mengelus lengan sang suami hingga pria itu berjingkat kaget.


"Kenapa?" tanya Bara yang sadar akan posisi istrinya.


"Mas mikirin apa?" tanya Almeera balik dan menatap wajah Bara yang seperti banyak masalah dipikirkan. 


Pria itu menggeleng. Dia berusaha tersenyum walau sangat terlihat jika dipaksakan. 


"Aku hanya memikirkan Bia, Sayang," katanya berkilah. 


"Jangan berbohong padaku," ucap Almeera dengan serius. "Bukankah Mas sudah berjanji untuk saling terbuka di antara kita?" 


Bara menarik nafasnya begitu dalam lalu membuangnya dengan kasar. Dia tak tahu harus memulai dari mana mengatakan pada Almeera. Bara merasa malu pada istrinya itu. Segala hal yang dia lakukan, segala kesalahan yang dia ciptakan, masih mendapatkan maaf dari Almeera.


Wanita yang menjadi istri pertamanya, wanita yang dia lukai hatinya. Mampu memberi kesempatan kedua dari kesalahannya yang besar. 

__ADS_1


"Mas," panggil Almeera lagi saat Bara kembali melamun. "Lebih baik Mas duduk dulu." 


Almeera menarik tangan suaminya lalu mengambilkannya sebotol air minum. Dia segera menyerahkan pada Bara dan diterima oleh pria itu. 


Tiga kali tegukan air itu membasahi tenggorokannya. Bara merasa sedikit lega. Dia menghembuskan nafasnya kasar lalu meletakkan botol itu kembali. 


"Ra."


"Ya, Mas?" sahut Meera menatap wajah Bara. 


Kini pasangan suami istri itu saling berhadapan. Mata mereka beradu pandang seakan saling menyelami satu dengan yang lain. 


"Apa kamu beneran maafin, Mas? Kesalahan yang sudah Mas lakukan, segala dosa yang mas berikan sama kamu. Itu sangat besar," lirih Bara di akhir kalimat. 


Dia menundukkan kepalanya sejenak. Berusaha menetralkan jantungnya yang terus berdegup kencang menunggu tanggapan istrinya. 


"Mas pernah memukulmu, pernah menyakitimu dan anak-anak. Mas bahkan pernah tidur dengan wanita lain," lanjutnya dengan mata memerah menahan air mata yang menetes. "Itu semua kesalahan fatal, Ra. Mas yakin jauh di lubuk hatimu, kamu masih merasa sakit." 


Almeera sejak tadi hanya diam. Dia mendengar segala keluh kesah yang dikeluarkan oleh suaminya dan menunggu hati Bara menjadi tenang.


Apa yang dikatakan oleh pria itu memang benar. Rasa sakit yang Bara torehkan terlalu banyak kepadanya dan kedua anak mereka. Hal-hal menyakitkan itu tentu masih terngiang di kepalanya. Namun, untuk sampai di titik ini bukanlah hal yang mudah. 


"Apa kamu yakin ingin bertahan dengan suami seperti Mas ini?" tanya Bara menatap lekat bola mata istrinya.


"Apa yang harus membuatku tidak yakin?" tanya Almeera dengan tersenyum. "Kita menikah bukan satu tahun, Mas. Tapi belasan tahun." 


Almeera menjeda ucapannya. Dia mengusap pipi suaminya hingga hati Bara berdesir dengan hebat. 


"Apa aku harus melupakan semua kebaikanmu hanya karena satu kesalahan?" Almeera menggeleng. Dia menggenggam tangan suaminya dan menciumnya dengan lembut. "Tugas istri bukan hanya menemani suaminya ketika bahagia. Tugas istri bukan hanya melahirkan keturunan di keluarganya." 


Bara masih diam. Bahkan matanya mulai berkaca-kaca mendengar segala kata yang keluar dari mulut istrinya. 


"Tapi istri juga harus menemani suaminya ketika berduka. Dia juga harus meluruskan sesuatu yang salah di dalam diri suaminya. Mencoba adalah satu hal utama. Berusaha adalah jalan terbaik. Ketika semua itu sudah dilakukan maka pasrah adalah jalan terakhir. Sampai akhirnya kamu menyadari kesalahanmu sendiri dan mulai merubahnya menjadi versi yang terbaik. Itu semua sudah lebih dari cukup untukku." 


Tanpa sadar air mata Bara mengalir. Dia tak menyangka ada sosok wanita seperti Almeera di dunia ini. Wanita yang mampu bertahan ketika dirinya salah. Wanita yang mampu menyadarkan dirinya bahwa apa yang ia lakukan tidak benar. 


"Jangan terus merasa bersalah, Mas. Jadilah manusia yang mau menatap masa lalu sebagai pelajaran dan menata masa depan agar menjadi lebih baik."

__ADS_1


"Terima kasih. Terima kasih atas kesempatan ini, Ra. Aku tak akan menyia-nyiakannya lagi." 


Almeera mengangguk. Dia menatap wajah suaminya yang tak lagi muram seperti tadi. Pancaran mata yang sangat ia sukai sejak pertemuan mereka semakin membuatnya jatuh cinta pada pria yang menjadi suaminya ini.


"Aku suka bola matamu, Mas. Sejak dulu sebelum kita pacaran sampai sekarang, bagian tubuhmu yang selalu membuatku jatuh cinta adalah mata indahmu." 


Bara tersenyum. Dia menarik hidung Almeera hingga meninggalkan bekas merah. 


"Apa kamu ingin memiliki bola mata sepertiku?" 


"Ya."


"Baiklah. Aku bisa memberikannya untukmu," sahut Bara dengan tenang.


"Mas." Almeera menepuk lengan Bara. 


Perkataan pria itu benar-benar tak masuk akal. 


"Mana bisa bola mata diberikan padaku?" 


"Ya bisa. Tinggal di operasi, 'kan?" tanya Bara dengan mengangkat satu alisnya menggoda.


"Jangan ngawur. Itu tidak akan pernah terjadi," ujar Almeera dengan bibir mengerucut. "Cukup melihat matamu setiap hari. Itu sudah menjadi kebahagiaan untukku?" 


"Ya. Aku hanya mengatakannya, 'kan? Tapi jika suatu hari nanti itu terjadi. Aku dengan ikhlas memberikan mataku ini untukmu." 


"Mas…" Almeera mendelik tak suka. Dia benar-benar merasa merinding dengan ucapan Bara kali ini. "Jangan pernah berpikiran untuk meninggalkanku dan anak-anak lagi. Apapun alasannya hanya Tuhan yang akan memisahkan kita. Janji?" 


"Hidup dan mati tak bisa dijanjikan, Sayang. Yang harus kamu ingat hanya satu, aku benar-benar bahagia bisa menjadi suamimu." 


~Bersambung


Perlu diingat, persepsi semua orang tentang pernikahan, poligami itu berbeda yah. Baik Mbak Meera, aku, kalian kita gak ada yang sama.


Cerita hidup kek Mbak Meera banyak di masyarakat. Bahkan banyak yang mau bertahan sama suaminya meski tau udah selingkuh. Kalau gak percaya, coba baca komentar di atas-atasnya.


Ada beberapa IRT yang komen dan menceritakan kisah hidupnya. Jadi novel ini isinya bukan hayalan semata. Wanita itu kuat dengan versinya masing-masing.

__ADS_1


Yang pasti. dimana kebahagiaanmu berada maka kejarlah sampai dapat.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar aku semangat ngetiknya.


__ADS_2