
...Membuka luka lama sama seperti menyiram air jeruk di atas luka itu....
...~Almeera Azzalia Shanum...
...🌴🌴🌴...
"Jadi kamu sudah tau sejak lama?" tanya Zelia tak percaya.
Almeera mengangguk. Dia menghapus air mata yang menetes ketika harus mengulang kejadian di masa lalu. Kejadian untuk pertama kalinya masalah datang pada keduanya. Kejadian yang menjadi awal mula parasit hadir di antara mereka.
"Lalu kenapa kamu mengizinkan Kak Bara menikahi Narumi jika itu membuatmu sakit?" seru Adeeva tak habis pikir.
Dua wanita itu tentu menunggu jawaban Almeera. Keduanya benar-benar tak tahu apa yang saat itu ada dipikiran sahabatnya. Hingga dengan mudahnya Almeera mengizinkan suaminya untuk menikah lagi meski harus menyakiti hatinya.
"Katakan, Ra!"Â
"Karena aku pernah mencium aroma minyak wangi wanita lain di pakaian Mas Bara dan bekas kissmark di lehernya."Â
"Apa!" Adeeva dan Zelia terbelalak.
Keduanya terpekik terkejut setengah mati. Menurutnya ini benar-benar hal gila yang membuat Adeeva dan Zelia tak percaya. Mereka adalah saksi, ya saksi bagaimana Bara mencintai Almeera. Bagaimana hubungan keduanya dulu sampai ada di titik pernikahan.Â
Sebuah perjalanan yang sangat panjang yang dilalui oleh Almeera dan Bara secara bersama-sama. Mereka saling menggenggam, berbagi, percaya dan selalu ada disaat suka maupun duka. Bahkan dulu, Adeeva dan Zelia sempat ingin memiliki suami seperti Bara suatu hari nanti.Â
"Kamu melihatnya secara langsung?"Â
Pemikiran Almeera kembali berputar, dia begitu mengingat kenangan paling menyakitkan selama hidupnya. Saat itu, Meera baru saja masuk ke dalam kamar dan bersamaan dengan Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada.
Jantung Meera mencelos. Tubuhnya bergetar ketika melihat sesuatu di leher suaminya. Begitupun dengan Bara. Pria itu sama terkejutnya ketika menyadari istrinya kembali ke kamar sebelum dirinya memakai pakaian. Bara tak bisa menutupi kekhilafan yang dia lakukan.Â
Sebuah kesalahan yang diliputi hawa nafsu hingga membuatnya terjerumus dalam zina dosa besar.
"Mas," panggilnya dengan air mata mengalir di sudut matanya. "Sejauh itu?" tanyanya tak kuat berpura-pura tegar.
"Aku bisa jelasin, Ra."
"Kamu mau jelasin apa, Mas!" teriak Meera berjalan ke arah suaminya. "Apa yang mau kamu jelasin sama aku?"Â
Meera memukul dada Bara dengan kuat. Dia melampiaskan segala kesakitan dengan pukulan itu. Meera tak bodoh dengan mengartikan apa arti kissmark tersebut.Â
"Berhenti, Meera!" Bara menangkap kedua tangan Meera dan menghempaskannya. "Seharusnya kamu dengerin aku dulu."
__ADS_1
Meera mendongak. Dia balas menatap mata sang suami penuh kekecewaan.
"Apa yang mau kamu jelasin sama aku, Mas? Apa yang mau kamu katakan lagi sama aku?" tanyanya dengan air mata yang berhamburan di wajah cantiknya.
Pria itu terdiam. Sungguh mendengar suara pilu istrinya saja, Bara merasa sakit hati.
Tapi kenapa lagi-lagi kamu menyakitinya, Bar?
Apakah semua cinta dan kasih sayang Meera tak berarti lagi untukmu?
Almeera tertawa getir. Dia mengusap air matanya hingga pandangan keduanya saling bertemu.
"Apakah kamu ingin menjelaskan jika kamu lebih memilih jajan pada seorang pelacur daripada istrimu ini."
"Meera!" Murka Bara dengan teriakan kencang.
Jika ada yang mendengar, pasti orang bisa tahu bahwa mereka sedang tak baik-baik saja. Namun, untung saja, kamar Bara dan Meera memiliki dinding kedap suara. Hingga teriakan seperti apapun, tak akan ada yang mendengar.
"Kenapa, Mas? Kamu gak terima kalau selingkuhan kamu, aku panggil seorang pelacur?"Â
Plak.Â
Rasa panas langsung menjalar di sekujur pipinya. Hingga dia merasakan sesuatu basah di sudut bibirnya dan ternyata, darah!
Dia tak menangis lagi. Namun, kekecewaan semakin bercokol dan membuatnya hampir menyerah. Tapi, bayangan wajah Bia lagi-lagi muncul membuat Meera dipaksa untuk kuat demi buah hatinya.
"Maafkan aku, Ra. Aku...aku…"
"Gak perlu minta maaf, Mas. Aku tau jawaban apa yang ingin kamu katakan. Tamparan ini sudah membuktikan bila pelacur itu lebih berharga daripada anak dan istrimu ini."
"Dia bukan pelacur, Ra. Dia adalah sahabatmu, Narumi."
"Ya dia adalah sahabatku, dan dia juga yang merebut suami serta ayah dari anakku-anakku."
"Terserah, yang terpenting! Jangan pernah panggil dia pelacur lagi!"Â
"Lalu aku harus memanggilnya apa, Mas? Panggilan apa yang cocok untuk wanita perebut suami orang?" tanya Meera dengan suara tegas.
Dua orang yang dulunya saling mencintai. Sekarang saling bertatapan sengit dengan kekecewaan dan kemarahan di kedua mata mereka. Tak ada lagi keramahan dan kehangatan di rumah tangga mereka. Tak ada lagi keromantisan dan ketentraman seperti sebelumnya.
"Kamu harus memanggil namanya dengan benar. Panggil dia Narumi!"Â
"Kenapa aku harus memanggilnya dengan nama itu?" tanya Meera semakin berani menatap bola mata Bara.Â
__ADS_1
"Karena aku akan menikahi Narumi dan dia akan menjadi adik madumu."
"Pria biadab! Aku benar-benar kecewa, Ra. Aku kecewa pernah mengidolakannya," kata Zelia setelah mendengar cerita Almeera.
"Lalu kamu!" Adeeva mendekat. Dia meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya dengan erat. "Kenapa masih bertahan dengan pria bodoh itu?"Â
"Karena aku mencintainya, Va."Â
"Bullshit! Tak ada namanya cinta jika saling menyakiti, Ra," seru Zelia tak terima. "Buka matamu lebar-lebar."
Almeera menghela nafas berat. Dia menyandarkan punggungnya yang terasa sakit.
"Aku tidak bisa," cicit Almeera pelan yang masih didengar oleh kedua sahabatnya.
"Why?"
"Bia. Bia adalah anak yang paling dekat dengan Papanya. Jika aku berpisah sekarang? Bagaimana keadaan mental putriku, hah?" tanya Almeera dengan mengangkat salah satu alisnya.
"Kalau kamu bertahan, mental kamu yang hancur, Ra."Â
"Aku tau," lirihnya sambil menunduk. "Setidaknya biarkan aku berusaha berjuang dan membuktikan bahwa istri pertama tak selamanya kalah dengan pelakor."Â
Zelia dan Adeeva menatap kagum. Keduanya benar-benar tak tahu hati apa yang dimiliki sahabatnya itu. Almeera adalah sosok satu dari seribu perempuan yang mampu memaafkan kesalahan suaminya sendiri. Dia juga perempuan yang tak mudah menyerah.Â
"Jika kamu kalah?"Â
"Maka aku yang akan pergi dan membawa Abraham dan Bia bersamaku. Aku akan mengikhlaskan semuanya, dan memberikannya pada Narumi jika sudah melewati batas."Â
Mata Almeera terpejam. Hatinya memang sakit dan lelah. Namun, dia belum bisa menyerah karena keadaan ini. Dia harus memastikan sesuatu. Ya, memastikan jika sahabat atau adik madunya benar-benar mencintai suaminya.Â
"Aku takut kamu yang akan tersakiti paling banyak, Ra," lirih Adeeva dengan mata berkaca-kaca.Â
"Hatiku sudah hancur, Va. Udah gak berbentuk," sahut Almeera dengan memaksakan senyum. Lebih tepatnya miris akan keadaan dirinya.
"Bahkan lihatlah sekarang! Kak Bara tak menyusul dan berniat membujukmu," seru Zelia dengan kesal.Â
Menjadi pertama tapi di nomor duakan, bukan sekali untukku. Bahkan Mas Bara selalu mengutamakan Narumi di atas segala-segalanya, gumam Almeera dalam hati.Â
~Bersambung
Hemm tau, 'kan, sekarang? Kenapa Almeera izinin suaminya di madu. Banyak kenyataan sebelum mereka menikah yang masih belum kebongkar.
Pelan-pelan aja. Kita nikmatin alurnya. Toh yang diminta Noveltoon alurnya, 'kan? Jadi sabar. Pasti bakal ada hukum tabur tuai.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.