
...Tingkah lakunya memang dingin tapi jika menyangkut tentang arti perhatian. Dia bisa melakukan apapun sesuai dengan versinya....
...~Azzelia Qaireen...
...🌴🌴🌴...
Di tempat lain. Terlihat sebuah mobil baru saja memasuki sebuah rumah mewah. Suara klakson berbunyi, membuat seorang perempuan yang sejak tadi menunggu kedatangan seseorang segera keluar dari rumahnya.
Wajahnya tersenyum bahagia saat melihat sosok yang ia tunggu baru saja keluar dari mobil, dan tengah berjalan ke arahnya.
"Maaf aku terlambat," katanya sambil menarik pinggang sang kekasih lalu memberikan kecupan singkat di dahinya.Â
"Darimana?" tanya sang perempuan sambil meletakkan tangannya diatas dada yang terasa begitu keras.Â
"Bertemu teman agenku," katanya dengan merapikan rambut sang kekasih yang jatuh di depan wajahnya.Â
"Apa kita jadi makan, Kak Jim?"Â
"Tentu. Bukankah kamu juga ingin?" tanya balik Jimmy dengan mengingatkan kekasihnya.
Ya tadi pagi, Zelia menghubungi Jimmy jika ia ingin makan nasi goreng di kedai kesukaannya. Pria itu tentu langsung mengiyakan untuk menemaninya dengan syarat bahwa ia harus bekerja sebentar.
Zelia tak bertanya lagi. Mendengar kata bekerja, ia yakin jika ada sesuatu yang terjadi di dunia agen sang kekasih.
"Iya sih," sahut Zelia dengan pelan. "Tapi wajahmu begitu lelah, Kak."Â
Jimmy tersenyum tipis. Dia meraih tangan sang kekasih lalu menariknya dengan pelan. Ia membantu wanitanya duduk di kursi samping kemudi. Lalu segera memasangkan seatbelt itu di tubuh Zelia.
"Aku baik-baik saja. Ayo kita berangkat!"Â
Akhirnya Jimmy mulai duduk dengan tenang di kursi kemudi. Dia segera meninggalkan halaman rumah sang kekasih dan mulai fokus menyetir.
"Sayang," panggil Adeeva yang memiringkan tubuhnya agar bisa dengan leluasa menatap Jimmy.Â
"Hmmm?" sahut Jimmy menoleh sekilas lalu menatap ke depan.
"Kalau Kakak sudah berangkat ke markas. Apa kita masih bisa berkomunikasi?" tanya Adeeva penasaran.
Sejak kemarin dia ingin menanyakan ini. Namun, sebaik mungkin wanita itu selalu menahannya. Dia tak mau membuat kekasihnya merasa tersinggung.
"Tentu. Kita masih bisa bertukar kabar melalui pesan ataupun telepon," ucap Jimmy dengan yakin.
Pria itu menggenggam tangan kekasihnya. Menyalurkan kehangatan kulitnya di telapak tangan Zelia yang dingin.Â
"Tapi…" lanjut Jimmy menjeda ucapannya.
"Tapi apa?" desak Zelia penasaran.Â
"Jika nomorku tidak aktif, maka aku ada tugas penting dari komandan," ujar Jimmy menjelaskan. "Tapi kamu bisa percaya padaku. Aku tak akan mengkhianatimu."Â
Zelia menganggukkan kepalanya. Dia benar-benar yakin pada Jimmy. Pria itu tak akan menyakiti dan menghancurkan kepercayaan yang dirinya kasih.
__ADS_1
Akhirnya setelah melakukan perjalanan yang lumayan lama. Mobil Jimmy sampai di depan tempat favorit Zelia. Gadis itu segera turun diikuti oleh kakak dari Almeera.Â
"Bang, nasi goreng seafoodnya 2, sama es tehnya 2, yah!" kata Zelia memesan.
"Siap, Neng!"Â
Jimmy mengedarkan pandangannya. Dia melihat keadaan di sekitar kedai. Hingga sebuah tarikan di lengannya membuat Jimmy hanya bisa menurut.
Saat Zelia mulai mencari tempat duduk yang nyaman. Sebuah punggung yang sangat ia kenali membuatnya terdiam sejenak. Dia menatap sosok itu dari belakang yang membuatnya dilanda penasaran.
Tak ingin menebak-nebak, Zelia segera mendekati wanita itu. Menepuk pundaknya pelan hingga wajah yang tadi membelakanginya, menoleh.
"Deeva!"Â
"Zelia!"Â
Mata keduanya terbelalak. Mereka menatap tak percaya bisa bertemu di tempat favoritnya ini. Tanpa kata keduanya segera berdiri dan berpelukan erat.Â
Persahabatan mereka yang rekat, tentu membuat Zelia, Adeeva maupun Almeera selalu merasa senang ketika berjumpa tanpa sengaja.
"Kamu sama…" Perkataan Zelia terhenti saat melihat kekasihnya akrab dengan pria yang bersama Deeva.
"Siapa?" bisik Zelia mendesak.
"Dia adalah sekretaris Kak Bara."Â
"Hah?" Zelia menganga tak percaya.
Wanita itu melirik sejenak ke arah Reno dengan pandangan penuh curiga.
"Ceritanya panjang," sahut Deeva dengan cepat.
"Ayo duduk, Sayang!" kata Jimmy yang membuat Adeeva maupun Reno terperangah.Â
"Kak Jim, ini gak salah?" tanya Reno geleng-geleng kepala.Â
"Salah apa?" tanya Jimmy menatap Reno aneh.
"Kakak jadi bucin?"Â
"Entah." Jimmy mengedikkan bahunya tak acuh.Â
Namun, hal itu tentu membuat Reno bergidik ngeri dengan perubahan Jimmy. Pria yang biasanya cuek dan dingin. Kali ini terlihat lebih hangat pada lawan jenisnya.Â
Perubahan yang sangat amat kentara menurutnya. 11 12 seperti Bara sudah. Namun, pemandangan itu entah kenapa membuat Reno tanpa sadar melirik ke arah Adeeva.
"Kalian sudah makan?" tanya Zelia saat pesanannya datang.
"Udah, Zel," sahut Adeeva dengan cepat.
"Yaudah aku makan dulu yah."Â
...🌴🌴🌴...
__ADS_1
Setelah acara makan itu selesai. Adeeva mengajak Zelia sebentar. Dia ingin berbicara berdua dengan sahabatnya. Akhirnya kekasih Jimmy itu pun pamit pada sang kekasih. Meminta waktu untuknya berbicara dengan Deeva.
"Bagaimana?" tanya Adeeva yang menunggu di samping kedai.
Keduanya duduk di sebuah kursi yang disediakan di sana.
"Boleh kok," sahut Zelia dengan jujur.Â
"Kamu belum cerita sama aku. Bukankah itu kakak kedua Almeera?"Â
Zelia terkekeh. Dia tak percaya jika sahabatnya mengajak kesini, karena sedang menanyakan perihal hubungannya. Hubungan yang tanpa sengaja terjalin tentu membuat siapapun penasaran.
"Ya. Dia adalah Kakak Almeera."
Bibir Adeeva menganga tak percaya. Dia menggelengkan kepalanya agar tak merasa bingung.Â
Seingatnya, Jimmy adalah kakak Almeera yang jarang mereka temui. Bahkan bisa dibilang tak pernah keduanya tahu.
"Bagaimana bisa kalian jadian?"Â
"Jodoh!" kata Zelia dengan entengnya.Â
Benar bukan? Jika bukan karena jodoh. Mereka berdua tak akan bisa bersama. Tak akan bisa terjebak dalam perasaan yang sama dan situasi yang membahagiakan seperti sekarang.
"Sialan!" Adeeva memukul pundak sahabatnya.Â
Ternyata makin tua, sahabatnya itu makin ngadi-ngadi. Gaya bercandanya pun semakin luas.
"Semuanya berarti jodoh kalau berdua, gitu?" tanya Adeeva memancing emosi Zelia.
"Bukan gitu konsepnya, Tukiyem!" dengus Zelia kesal setengah mati.Â
"Terus?"Â
"Begini. Kalau namanya sudah jodoh, mau ketemu sehari, dua hari atau berapapun itu. Pasti bakalan ada pertemuan selanjutnya dengan perasaan aneh yang menghantui," kata Zelia menjelaskan.
"Aneh?"Â
Zelia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia lupa, jika dirinya dan Adeeva adalah jomblo akut sejak dulu.Â
"Apa kamu pernah merasakan debaran jantung ketika bersama Reno?" tanya Zelia penasaran.Â
Adeeva terdiam. Dia mengingat bagaimana keadaan dirinya ketika bersama Reno. Bukan hanya jantungnya saja yang tak aman. Dia selalu merasa gugup dan salah tingkah.
Apalagi ketika mata Reno memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia selalu merasa malu dengan pipi yang bersemu merah.Â
"Jujur padaku, Va!" desak Zelia meraih tangan sahabatnya.
Kepala Adeeva mengangguk. "Aku sering gugup dan deg degan kalau lagi bareng dia. Apa itu tandanya…"
"Ya," sahut Zelia dengan cepat. "Itu tandanya bahwa kamu mulai mencintainya."Â
~Bersambung
__ADS_1
Semoga Adeeva paham yah, haha. Belajar dari Zelia dulu biar jadi bucin, hehe.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.