Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Menggoda


__ADS_3


...Tingkahnya memang menggemaskan. Namun, semua hal yang ada pada dirinya, aku sangat menyukainya....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


Pembicaraan keduanya berhenti tatkala Almeera sudah tak tahan untuk memakan makanan yang ia ambil. Zelia bisa melihat dari ekspresi sahabatnya itu, hingga membuatnya meminta Almeera untuk makan.


"Pelan-pelan, Ra! Kamu makan kayak orang kesetanan," ucap Zelia sambil tertawa. 


Almeera mendelik tak suka. Namun, mulutnya tetap mengunyah seakan apa yang dikatakan oleh sahabatnya hanyalah angin lalu. 


"Aku bener-bener lapar, Li. Gaktau kenapa pengennya ngunyah mulu," ucap Almeera saat berhasil menelan kunyahan yang ada di mulutnya.


"Ya gapapa dong! Anggap aja namanya bahagia jadi semua bisa masuk." 


"Nah betul!" sahut Meera mengacungkan jempolnya.


Akhirnya mereka meneruskan makanannya. Setelah selesai, dua sahabat itu segera berjalan menuju pelaminan yang dimana, disana ada sosok sahabat mereka.


Suara heboh tentu membuat Reno dan Bara serta Bia dan Abraham yang ikut hanya geleng-geleng kepala. 


"Lo harus terbiasa karena kebiasaan seperti ini akan terjadi ketika mereka bertemu," bisik Bara yang membuat Reno menggaruk tengkuknya yang tak gatal. 


"Apa mereka bisa seheboh ini?"


"Bukan hanya seheboh ini tapi bisa lebih gila, Om!" Itu bukan suara Bara melainkan suara Abraham yang ikut berkomentar.


"Nah tuh! Anak gue aja tau," ucap Bara sambil terkekeh.


Berbeda dengan para perempuan. Mereka bergantian saling memeluk. Zelia yang jarang sekali berkumpul dengan mereka tentu menjadi rindu kebersamaan.


Saat ini gadis itu memang sangat sibuk sekali. Selain merawat mamanya, dia juga mulai fokus mengembangkan salonnya. Ya, Zelia berhasil membangun 1 cabang salon miliknya lagi.


Suatu pencapaian yang sangat luar biasa bukan.


Dibalik itu semua, terdapat sosok yang selalu mensupport dirinya. Dia adalah Jimmy. Sosok pria yang melakukan LDR dengannya. Sosok pria yang selalu menjadi tempat curhatnya walau ya hubungan keduanya harus terhalang jarak.


Berkomunikasi hanya melalui ponsel. Entah itu berupa pesan teks, suara atau mengobrol di telepon. Hal itulah yang hanya bisa dilakukan keduanya untuk melepas rasa rindu yang menyergap di antara mereka. 


"Selamat ya. Aku doain semoga pernikahan kalian berdua langgeng, sampai kakek nenek. Terus, sampai punya anak banyak." Doa Zelia yang langsung diaminkan oleh Reno.


"Kamu kira aku peternak anak?" dengus Adeeva yang kesal.

__ADS_1


"Bukan peternak tapi perkembang biakan kan melalui perutmu," ejek Zelia yang membuat Adeeva melototkan matanya.


"Awas aja ya! Aku bilangin Kak Jim biar kamu bisa hamil sepuluh anak." 


"Sepuluh anak mah, sabii lah. Aku sama Kak Jim udah sama-sama pengen punya anak banyak," sahut Zelia apa adanya.


Memang apa yang dikatakan oleh Zelia sebuah kebenaran. Keduanya pernah membahas tentang jumlah anak dan baik Jimmy maupun Zelia, keduanya ingin memiliki keturunan yang banyak.


Alasannya ya, agar rumah lebih ramai.


Lalu, Zelia yang hanya anak tunggal bisa memahami bagaimana tidak enaknya hanya memiliki satu anak.


"Ya ya. Kalian sekarang boleh lah bilang kek gitu. Nanti kalau udah hamil sama melahirkan. Aku yakin pemikiran kalian akan berubah," ujar Almeera sambil terkekeh.


Sebagai suhu di antara kedua sahabatnya. Almeera sangat tahu betul. Dia dulu dengan Bara juga seperti mereka. Ketika membicarakan anak, pasti meminta anak banyak.


Namun, jika Meera sudah hamil. Bara selalu merasa kasihan dan tak tega lalu mengatakan bahwa anak tiga atau empat sudah cukup.


"Emangnya kenapa, Ra?" tanya keduanya serentak bersamaan.


"Ya. Nikmatin saja deh nikmatnya. Aku yakin kalian bakal ngerti sendiri." 


Adeeva dan Zelia hanya bisa memberengut. Sahabatnya itu selalu mengatakan hal seperti itu jika menyangkut pelajaran kehidupan. Namun, mereka berdua selalu bisa mengambil hikmah dibalik apa yang dikatakan oleh Almeera.


"Yang pasti, jangan pernah membantah apa yang Reno katakan, Va. Selagi perintahnya baik, kamu wajib menurutinya. Insya allah kalau kita menjadi istri yang patuh dan taat, maka surga ada di depanmu."


"Aamiin."


Setelah mereka turun. Almeera kembali berjalan menuju stan cemilan. Disana, terdapat salad buah yang ditempatkan dalam mangkuk. Hal itu tentu membuat Almeera tanpa sadar menjilat bibirnya sendiri karena tak sabar merasakan perpaduan mayonaise dan keju yang melezatkan. 


"Kamu beneran gak kenyang, Sayang?" tanya Bara benar-benar terkejut dengan tingkah istrinya.


"Ini yang terakhir, Mas. Aku lihat mayonaise bikin ngiler," ujar Almeera memohon.


Ah, melihat wajahnya yang tak kalah lucu dari Bia. Selalu berhasil membujuk Bara.


"Yang penting jangan banyak-banyak. Kamu dari tadi ngunyah mulu. Aku takut perutmu akan sakit jika kekenyangan." Nasehat Bara yang langsung mendapatkan anggukan kepala Almeera. 


...🌴🌴🌴...


Malam semakin larut. Almeera segera memasuki kamarnya setelah menidurkan Bia dan mengecek putranya. Entah kenapa, ibu dua anak itu ingin sekali berada dalam pelukan suaminya malam ini. 


Namun, wajah Almeera berubah memberengut saat melihat Bara sedang duduk di sofa dengan laptop ada di pangkuannya. Sepertinya pria itu sedang mengerjakan pekerjaan penting.


Almeera tentu langsung menghentakkan kedua kakinya. Dia mendudukkan dirinya di samping sang suami dengan kasar. Berniat agar pergerakan itu menyadarkan Bara.

__ADS_1


Namun, Almeera sangat mengenal betul sifat suaminya. Bara jika sudah fokus pada pekerjaannya. Maka suara apapun atau pergerakan apapun tak akan digubrisnya.


"Mas," rengek Meera sambil bergelayut manja di lengan Bara.


"Hmm?" sahut Bara tanpa menoleh.


"Mas…" 


Ah, jika sudah begini. Alarm ancaman membuat Bara menoleh.


"Ada apa, Sayang?" tanya Bara sambil meletakkan laptopnya di atas meja.


"Kalau sudah malam jangan kerja terus. Uangmu juga gak bakal habis," ujar Almeera dengan bibir mencebik.


Bara tersenyum. Dia melingkarkan tangannya di bahu sang istri lalu menarik tubuh itu agar semakin mendekat.


Almeera yang diperlakukan seperti itu tentu menjadi nyaman. Wanita itu bahkan sampai meletakkan wajahnya di ceruk leher Bara hingga membuat pria itu gelisah.


"Sayang," ucap Bara saat istrinya terus mendusel.


"Hmm?" 


"Jangan seperti ini!" 


Almeera menjauhkan wajahnya. Matanya berkaca-kaca saat mendengar penolakan suaminya itu. 


"Sayang maksudku…" kata Bara mulai gelagapan. "Aku tak bermaksud menolakmu tapi barusan gerakanmu membuat nagaku berontak, Sayang."


"Aku memang sengaja," cicit Almeera dengan malu-malu.  


"Ah, apa, Sayang? Coba ulangi lagi?" 


Bara menatap istrinya berbinar. Dia merasa bahagia saat melihat istrinya mengatakan hal yang sangat ia inginkan sekarang.


"Aku pengen, Mas," ujar Meera dengan mendekatkan tubuhnya di tubuh Bara.


Dia mengendus bahu keringat Bara yang menurutnya sangat amat menenangkan. Hal itu tentu membuat Bara bahagia. Dia segera bergerak lalu menyelipkan tangan di kaki dan leher istrinya.


"Kamu gak bisa mundur lagi, Sayang. Aku tak akan mengampunimu malam ini." 


~Bersambung


...Ini mah memang kelakuan pengantin baru aja kalah woy, haha....


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Agar Author semangatt ngetiknya

__ADS_1


__ADS_2