
...Senyuman miliknya masih tetap sama. Bahkan dekik itu begitu mengingatkanku tentang kenangan kita di masa lalu....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
“Aku ingin memberikan pelajaran untuknya, bahwa perginya aku dan anak-anak akan berdampak besar untuk dia.”
“Kamu benar, Ra. Bara butuh sesuatu untuk membuka matanya,” sahut Jonathan membenarkan.
“Jadi Kakak mau membantuku?” tanya Almeera penuh harap.
“Tentu. Aku akan menghubungi orang Developer untukmu.” Setelah mengatakan itu Jonathan beranjak berdiri.
Dia berlalu ke arah meja kerjanya dan segera meraih ponsel yang sejak tadi berada disana. Tangannya dengan cepat menggeser layar ponsel dan mencari nomor seseorang yang terlintas di pikirannya.
Almeera hanya menatapnya dalam diam. Dia melihat bagaimana kakaknya sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang. Kepalanya berputar, dia membayangkan bagaimana jika tak memiliki Kakak seperti Jonathan. Apakah dia sanggup melawan pahitnya dunia sendirian?
Maka, dari itu, disinilah Almeera belajar bersyukur. Dia tak pernah mengeluh sedikitpun. Menurutnya, apa yang selama ini dia dapatkan, tak sebanding dengan ujian yang Allah berikan kepadanya.
“Oke. Sampai jumpa.”
Setelah panggilan itu terputus. Jonathan berbalik dia mengacungkan jempolnya yang membuat sudut bibir Meera terangkat ke atas.
"Ayo kita berangkat!"
"Yok." Almeera berdiri lalu dia berjalan menuju posisi anaknya yang sedang berdiri di dekat rak buku. "Ayo, Sayang."
"Kita mau kemana, Ma?" Tanya Bia dengan menggandeng tangan mamanya.
"Makan di luar." Itu bukan suara Almeera. Melainkan Jonathan yang menjawab sekaligus meraih Bia dalam gendongannya.
"Wahh, asyik. Bia lapar, Om Tampan," ucap Bia sambil mengelus perutnya.
"Ah ponakan Om yang cantik ini, lapar, 'yah?" Goda Jonathan karena ekspresi ponakannya begitu lucu.
Bia mengangguk dengan pipi menggembung. Bocah berumur 4 tahun itu sepertinya pura-pura merajuk.
"Gimana kalau kita makan es krim, nanti?"
"Mama, boleh Bia makan es krim?" Tanyanya pada sang Mama yang berada di belakang tubuh Jonathan.
"Boleh. Tapi ingat! 1 cone saja, oke?"
"Oke."
Akhirnya ketiga orang itu segera memasuki mobil milik Jonathan. Dengan hati-hati, kakak dari Almeera mengemudikan mobilnya menuju restoran yang menjadi pertemuannya dengan orang Developer. Entah kenapa dia tak mau menunda lagi. Jonathan benar-benar mendukung segala hal yang dilakukan adiknya.
Paling tidak, apa yang dilakukan Almeera, merupakan hal positif bagi mereka. Jonathan hanya ingin yang terbaik untuk sang adik. Dia tak akan ikut campur atau menyuruhnya bercerai. Walau dalam hati, dia tak ikhlas melihat Almeera yang diduakan dan tersakiti terus menerus.
"Kamu ingin mencari rumah yang seperti apa, Ra?" Tanya Jonathan sambil matanya menatap ke depan.
"Aku ingin rumah yang ada kolam renangnya, Kak. Lalu ada taman dan lapangan basket di dekatnya," kata Almeera dengan jujur.
"Itu rumah impianmu dan anak-anak?"
"Iya." Almeera mengangguk. "Bia suka sekali berenang dan Abraham, dia sering izin untuk bermain basket dan skateboard."
__ADS_1
"Kamu sudah memikirkan semuanya, 'yah?"
"Tentu," kata Almeera dengan helaan nafas berat. "Aku bukan hanya membawa diriku saja, Kak. Melainkan kedua anakku juga."
Jonathan menoleh. Saat ini lampu lalu lintas berwarna merah. Jadi dia bisa melihat ekspresi adiknya yang duduk di kursi penumpang.
"Bagaimana jika sewaktu-waktu Bara ingin menemui kedua anaknya?"
"Aku akan mengizinkannya, Kak," kata Almeera dengan yakin. "Bagaimanapun buruknya Mas Bara, dia tetap ayah dari Bia dan Abraham."
...🌴🌴🌴...
Setelah hampir tiga puluh menit perjalanan mereka. Akhirnya mobil mulai memasuki parkiran restoran. Ketiganya segera turun dengan Bia yang bergandengan tangan dengan Jonathan.
"Aku ke kamar mandi dulu ya, Kak. Aku udah nahan dari tadi," tanya Almeera dengan mengernyitkan alisnya.
"Oke. Aku tunggu ya."
Almeera akhirnya segera menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Dia tak mau membuat orang yang menunggu mereka terlalu lama menanti kehadirannya.
Dengan langkah pasti, Almeera keluar dari kamar mandi. Lalu matanya meneliti mencari posisi sang Kakak. Sebuah lambaian tangan dari putrinya membuat Almeera mengangguk dan membalas lambaian tangan itu.
Dia bisa melihat dua punggung tegap berdiri di depan kakaknya dan membelakangi dirinya. Semakin mendekat, aroma seseorang yang begitu dia kenal tercium di hidungnya.
Harum ini, kenapa seperti mengingatkanku pada dia, gumam Almeera dalam hati.
Saat Almeera baru saja sampai atau lebih tepatnya berdiri di belakang dua punggung itu. Jonathan lekas mengenalkannya.
"Oh iya. Ini dia, Adikku Almeera yang akan mencari rumah."
Spontan ucapan Jonathan membuat dua pria yang sejak tadi membelakangi Almeera lekas berbalik. Kedua mata itu saling menatap dengan rasa terkejut begitu kentara. Bahkan istri dari Bara tak menyangka jika harum yang dia cium ternyata benar milik pria itu.
"Kak Fadly." Jantung Almeera berdegup kencang.
Matanya terbelalak tak menyangka akan bertemu dengan pria di depannya. Pria yang sudah lama hilang kabar itu benar-benar berubah drastis.
Fadly, kakak senior di sekolah Almeera saat dia SMA dulu. Dia adalah seseorang yang dekat dengan adik dari Jonathan. Keduanya dulu sering menghabiskan waktu bersama ketika jam pulang sekolah berakhir.
Pria dengan pakaian rapi itu sungguh sangat berubah. Tubuh Fadly semakin kekar dengan rahang yang tegas. Pundak yang dulu sering menjadi sandarannya, terlihat semakin kokoh dan lebar. Hal itu tentu membuat Almeera menyadari jika Kak Fadly sangat berubah drastis.
"Kalian saling kenal?" Tanya Jonathan yang membuat tatapan keduanya terputus.
Astagfirullah. Maafkan mataku yang sudah mengagumi ciptaanmu ini, Tuhan.
"Iya, Kak. Kak Fadly….ah itu Tuan Fadly ini kakak seniorku saat SMA," sahut Almeera dengan canggung.
Dia segera berjalan mendekati kakaknya lalu duduk tepat di samping Jonathan.
"Bagus kalau kalian saling kenal. Jadi, Kakak gak perlu khawatir lagi nyari rumah buat kamu," ujar Jonathan dengan nada bercanda.
"Apa kabar, Num?"
"Baik, Kak Fadly. Alhamdulillah. Kakak sendiri apa kabar?" Tanya Almeera setelah mencari posisi yang nyaman.
"Aku baik, seperti yang kamu lihat."
Tanpa keduanya sadari. Jonathan sejak tadi melirik komunikasi dua-duanya. Ada senyuman tipis di bibirnya saat melihat bagaimana cara Fadly menatap adiknya itu.
"Ini anaknya…."
__ADS_1
"Aku," sahut Almeera saat Fadly menunjuk Bia.
Ternyata Shanum sudah menikah, gumam Fadly dalam hati.
Ada setitik rasa kecewa di wajahnya. Namun, sebisa mungkin pria itu menutupinya dari siapapun.
"Ayo kenalan, Nak," kata Almeera pada Bia.
"Halo, Om. Namaku, Bia," sapanya dengan mencium punggung tangan Fadly.
"Halo, Cantik. Nama Om, Fadly."
"Om tampan, tapi masih lebih tampan om aku," katanya yang tentu mengundang tawa mereka semua.
Almeera tak menyangka putrinya akan mengatakan hal itu. Tapi ya begitulah Bia. Sosok putrinya berbeda sekali dengan Abraham yang pendiam. Putri dari Almeera dan Bara ini lebih ke mudah akrab pada orang baru.
"Terima kasih," sahut Fadly dengan senyuman manis yang menampilkan dekik pipi di keduanya. "Jadi yang akan cari rumah itu kamu, Num?"
"Iya, Kak." Almeera mengangguk dengan cepat.
"Tadi Tuan Jonathan sudah mengatakan rumah yang ingin kamu tempati. Ada kolam renang, taman, lapangan basket dan skateboard. Betul?"
"Iya. Kedua anakku sangat menyukai itu. Jadi aku ingin mereka tak terlalu jauh jika ingin bermain," kata Almeera menjelaskan.
"Jadi anak kamu dua?"
"Iya, Kak."
Fadly mengangguk lalu dia berbicara pada rekan di sampingnya begitu serius. Entah apa yang mereka bicarakan sampai senior Almeera itu mengangguk dan menatap pada tiga orang di hadapannya itu.
"Aku akan berusaha mencarikan rumah yang sesuai dengan keinginanmu, Num," kata Fadly dengan diiringi senyuman yang begitu manis jika dilihat.
Ya tuhan, senyuman itu masih tetap sama. Bahkan dekik di pipinya semakin terlihat.
"Terima kasih. Aku tunggu kabar itu, Kak."
"Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" Tanya Fadly dengan pandangan gugup. "Lebih tepatnya untuk memudahkan berkomunikasi jika rumah yang kamu cari sudah didapatkan."
"Ah iya boleh. Kemarikan ponsel, Kakak. Aku akan mengetiknya."
~Bersambung
Aku yakin kalian pada senyum-senyum, 'kan? Bahagia 'kan? Meera ketemu sama masa lalu, hahaha.
Mau kenalan dulu, selamat datang buat pembaca yang baru bergabung di cerita HTS. Salam kenal dari aku yang gak jelas ini. Hehehe.
Semoga kalian suka ya dan menikmati alur yang semrawut nyesek, gedeg, kesel dan pen nendang, hehe.
Jangan lupa follow instagram @myname_jblack
biar kalian tau aku update atau nggak.
Kalau udah baca, tekan like, komen dan vote biar author semangat updatenya.
Jangan minta crazy update dulu yah. Soalnya aku ngetik dua novel. Mampir juga di judul The Billionaire Twins Baby. Novel itu mau tamat.
Mampir juga di karya temanku berbagi cinta.
__ADS_1