Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kondisi Narumi


__ADS_3


...Selama kamu hidup di dunia. Maka apa yang kamu lakukan pasti ada balasannya....


...Hukum tabur tuai itu benar adanya. Jika tak di dunia maka akan ada balasan di akhirat....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Setelah panggilan dari pengacaranya terputus. Bara dan Almeera segera keluar dari ruangan. Ayah dua anak itu juga tak lupa menggendong Bia yang masih terlelap akan alam mimpinya.


"Gue titip Adeeva, Ren! Dia tidur di kamar pribadi gue. Jangan ganggu dia!" seru Bara kepada sahabatnya yang terlihat lesu duduk di kursi kerjanya.


Tentu Reno segera mengangguk. Sebenarnya dia juga sedang tak bersemangat untuk melakukan apapun. Perkataan dan air mata Adeeva membuat hati dan pikirannya terombang ambing.


Bagaimana suara isakan itu terdengar. Air mata yang dihapus dengan kasar sangat melekat di mata dan ingatannya.


"Ya. Aku tak akan mengganggunya," ujar Reno dengan menunduk karena malu dengan tingkahnya.


Akhirnya Bara dan Almeera lekas masuk ke dalam mobil. Mereka segera menuju ke kantor polisi untuk melihat keadaan seperti apa yang dikatakan oleh pengacaranya. 


Jujur Bara sebenarnya sudah malas berurusan dengan mantan istrinya. Bahkan jika boleh memilih lebih baik dirinya bermanja dengan sang istri di ruangannya daripada ke kantor polisi.


Namun, permintaan pengacaranya yang setengah memaksa membuat mereka akhirnya berada di sini. Di depan kantor polisi setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi. 


"Sini. Biar Mas yang gendong Bia," kata Bara tanpa kenal rasa lelah.


Walau usia putrinya sudah 5 tahun. Bara tak pernah capek ntuk menggendongnya. Apalagi ketika anak itu sudah terlelap seperti ini, membuat ayah dari dua anak itu begitu senang membawa Bia kemanapun. 


Almeera mengangguk. Dia segera melingkarkan tangannya di lengan sang suami lalu berjalan beriringan memasuki kantor polisi.


Saat pertama kali mereka menginjakkan kakinya di sini, panggilan dari pengacaranya membuat keduanya menoleh.


"Kenapa Bapak meminta saya datang kemari?" tanya Bara dengan wajah terlihat tak suka.


"Maaf, Pak Bara. Saya sangat mengerti jika Bapak tak mau menemui mantan istri, Bapak. Tapi kondisi Ibu Narumi sangat menyedihkan," kata pengacara itu yang membuat Bara dan Almeera saling menatap. 


Ayah Bia itu lekas mengedikkan bahunya tak acuh. Apapun keadaannya, dia benar-benar tak ingin bertemu perempuan itu lagi. 


"Saya mohon, Pak. Hanya sekali ini saja, Bapak dan Ibu menemui Bu Narumi," mohonnya yang semakin membuat Almeera penasaran.

__ADS_1


Entah kenapa perempuan itu merasa ada sesuatu yang buruk terjadi pada Narumi. Dia bisa melihat raut wajah khawatir dan kasihan di mata pengacara suaminya yang membuat Almeera memutuskan untuk bertemu mantan istri kedua suaminya.


"Ayo, Mas. Kita lihat dia," ajak Almeera yang membuat Bara menatap istrinya.


"Tapi, Sayang." 


"Hanya sekali, Mas. Hanya sekali saja," mohon Almeera dengan serius.


Almeera benar-benar tak memiliki dendam di hatinya untuk Narumi. Dia ingin sekali menemui mantan istri suaminya untuk melihat kondisi yang dikatakan oleh pengacaranya.


Akhirnya Bara tak bisa menolak. Dia menuruti keinginan istrinya untuk menjenguk Narumi. Mereka mulai berjalan mengikuti pengacara Bara. Hingga sampailah ketiganya di sebuah ruangan yang terdapat jeruji besi di beberapa bagian.


Almeera menatap takut ruangan ini. Jujur ini kali pertama untuknya datang ke tempat seperti ini. Tempat yang menurutnya sangat amat menakutkan dan dingin.


"Kemari, Pak, Bu," kata pengacara itu hingga membuat mereka melanjutkan langkah kakinya.


Sampai ketiganya berhenti di depan sebuah jeruji besi. Almeera lekas menutup mulutnya. Dia menatap kasihan pemandangan di depannya ini.


Sosok sahabat yang dulu pernah ia sayangi hingga mengkhianatinya terlihat begitu menyedihkan. Kedua kakinya yang tak ada, membuat Narumi hanya bisa duduk menyandar di lantai yang dingin. 


Penampilan wanita itu sangat berantakan. Apalagi matanya yang buta semakin membuat siapapun yang menatap merasa iba. Namun, bukan itu yang menjadi pokok permasalahan. Tetapi sikap yang wanita itu berikan membuat Bara dan Almeera tahu bagaimana keadaan Narumi yang sebenarnya.


"Hahaha." Suara tawa menggelegar terdengar di ruangan itu. 


"Mas Adnan! Kita bakalan kaya sebentar lagi," jeritnya dengan diiringi tawa menggelegar.


"Inilah yang ingin saya sampaikan kepada, Pak Bara. Kondisi tersangka benar-benar menyedihkan, Pak. Bu Narumi terkena gangguan jiwa," kata pengacara itu yang membuat Bara menelan ludahnya paksa. 


Jujur Bara tak merasa kasihan sedikitpun. Sepertinya hati pria itu telah mati rasa karena semua tingkah laku Narumi kepada keluarganya. Pria itu benar-benar tak merasa simpati sedikitpun. 


"Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanya Bara menatap pengacaranya.


"Jika Bapak mau, tersangka akan dirawat di rumah sakit jiwa dengan penjagaan ketat, Pak," kata pengacara menjelaskan. "Keadaan Bu Narumi sudah fatal, Pak. Terkadang dia mengamuk tak jelas." 


Baru saja pengacara itu selesai mengatakan ucapannya. Suara teriakan kencang membuat mereka yang ada di sana lekas menoleh. 


"Mati kau, Meera! Mati kau!" teriak Narumi dengan suara marah. "Kau merebut semua kebahagiaanku!" 


"Hahahaha." Tawa itu kembali terdengar. 


Almeera benar-benar tak percaya dengan suara jeritan Narumi.

__ADS_1


Sebegitu bencinya kah Narumi kepadanya?


Bahkan sampai tanpa sadar namanya terdoktrin ke alam bawah sadarnya dan membuat Narumi seperti ini!


Sedangkan Bara, melihat keterdiaman istrinya dia lekas menoleh. Ayah dua anak itu bisa melihat raut sedih di mata sang istri yang membuatnya merasa sangat bersalah.


"Sayang," panggil Bara yang membuat Almeera menoleh. "Jangan menangis." 


Namun, ternyata. Keheningan yang terjadi disana membuat suara Bara yang sedikit kencang terdengar di telinga Narumi. Perempuan itu sampai menatap kanan kiri untuk memastikan sesuatu. 


"Mas Bara!" panggil Narumi berteriak. "Kamu datang kesini, 'kan? Jenguk aku yah?" 


Bara lekas menggeleng. Meski dia tahu jika Narumi tak bisa melihat gelengannya. Hal itu tak membuatnya merasa goyah. 


"Mas aku tau kamu disini! Katakan sesuatu!" seru Narumi lalu mulai menyeret langkah pantatnya agar bisa mengesot di dekat jeruji besi.


Bara dan Almeera lekas memundurkan langkahnya. Mereka tak menyangka hanya mendengar suara Bara bisa membuat Narumi berteriak dan berjalan dengan mengesot. 


"Mas!" 


"Apa?" sahut Bara yang tak tahan dengan jeritannya. 


Sebenarnya pria itu enggan untuk menyahut. Namun, melihat mata Almeera yang menatapnya penuh harap membuatnya mau mengeluarkan suaranya. 


"Jangan tinggalkan aku, Mas," ucap Narumi mengulurkan tangannya. "Aku takut, hiks."


"Kau sudah bukan istriku, Rum!"


"Bedebah tengik! Kau tetap suamiku dan selamanya akan begitu," teriak Narumi lalu diiringi tawa yang keras. "Ah lebih tepatnya kau adalah atm berjalan!" 


Jantung Bara mencelos. Dia tak menyangka jika sikap yang terjadi pada mantan istri keduanya adalah buah dari apa yang selama ini dia tanam.


Ingatlah, jika kamu bersikap tentang kebaikan. Maka suatu hari nanti kebaikan itu akan menghampirimu dengan banyak tawa bahagia. Begitupun dengan sebaiknya. 


Jika yang kau tanam adalah keburukan. Maka sepandai-pandainya tupai melompat pasti ada jatuhnya.


"Kau terkejut, 'kan?" teriak Narumi sambil bahagia. "Kau hanyalah penghasilan uang untukku, Mas Bara. Kau ATM yang selalu memenuhi kebutuhanku."


~bersambung


Kira-kira ada yang puas liat Narumi jadi kek gini? Ya masukin RSJ aja deh!

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat updatenya yah.


__ADS_2