Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Welcome To The World Of Twins


__ADS_3


...Takdir Tuhan tak akan ada yang tahu kapan datangnya. Sebagai manusia kita hanya bisa menerimanya....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


Semua orang sama-sama memanjat doa. Tak henti-hentinya mereka menyebut nama Almeera di setiap untaian harapan yang mereka haturkan. Pertempuran langit kini mereka lakukan agar kondisi Almeera dan si kembar baik-baik saja. 


Pemikiran semua orang terpecah belah. Bagaimana keadaan Almeera, lalu keadaan si kembar dan juga perjalanan Bara yang menurut Reno sudah ada di bandara. 


Semua orang tentu bingung harus menjelaskan apa pada Bara. Pria itu pasti khawatir dan bingung dengan keadaan ini. Keadaan yang di pagi hari masih baik-baik saja. Bahkan Almeera dan Bia masih bermanja dengannya. Lalu tiba-tiba mendapatkan kabar ini. 


Mama Tari juga membawa cucunya untuk diperiksa. Dia tak mau Bia terjadi sesuatu hal yang buruk. Bocah itu tentu sedang ketakutan sekarang. Memikirkan bagaimana mamanya yang melindungi dirinya dari kecelakaan maut tersebut. 


"Biarkan pasien istirahat, Bu. Sepertinya dia masih merasa shock akan kejadian tadi, " Kata Dokter setelah memberikan obat tidur melalui suntikan di infus Bia. 


Mama Tari mengangguk. Dia juga menelpon pengasuh cucunya agar segera datang dan menemani Bia agar dirinya bisa menyusul ke ruang operasi. 


Pikiran seorang ibu itu tetap tertuju pada anaknya yang sedang berjuang dengan nyawanya sendiri. Dia sangat bangga pada Almeera yang rela menyelamatkan Bia disaat detik-detik kondisinya yang seperti ini. 


Ingin menyalahkan Bia, anak itu tetaplah anak kecil. Anak yang tidak tahu apapun dan hanya bisa merasa bahagia dengan caranya sendiri. 


"Tolong jaga Bia yah. Saya mau ke ruang operasi untuk menunggu kondisi Almeera," Pamit Mama Tari setelah pengasuh anaknya datang. 


"Iya, Bu."


Setelah mengatakan itu, Mama Tari segera beranjak pergi. Dia berjalan ke tempatnya yang semula hingga membuatnya bisa melihat sosok dua sahabatan putrinya ada disana. 


"Lia, Deeva!"


"Tante," Pekik keduanya lalu memeluk Mama Tari. 


"Tante kuat-kuat yah. Almeera pasti baik-baik saja," Kata Adeeva dengan yakin. 


"Tentu, Sayang. Putri Tante sangat kuat. Dia pasti bakalan baik-baik aja." 


Mama Tari mengajak Adeeva dan Zelia untuk duduk. Sedangkan Papa Darren dan Jonathan beranjak berdiri dan mondar-mandir. Mereka begitu khawatir kali ini. 


Dua orang itu benar-benar menunggu mukjizat yang Allah berikan kepada keluarga mereka. Tanpa semua orang tahu, jika seorang remaja pergi ke musholla rumah sakit. Dengan gontai dia mencuci wajah dan mengambil wudhu. 

__ADS_1


Remaja itu melakukannya dengan teratur disertai bayangan wajah ibunya menari-nari di pelupuk matanya. 


Dia sangat takut. Takut jika kehilangan sosok orang tua yang sangat dekat dengannya. Kehilangan sosok mama yang sangat menyayanginya dan sangat ia cintai. 


Dengan penuh hikmat, Abraham mulai jatuh bersujud di hadapan Tuhan. Dia meminta dalam setiap sholatnya untuk keselamatan mama dan adiknya di dalam ruang operasi. Permintaannya tak banyak. Dia hanya ingin mama dan adiknya selamat dan tak pergi meninggalkannya. 


"Abraham hanya mau Mama dan Adik sehat, Ya Allah. Selamatkan mereka karena Mama dan Adik adalah lentera kebahagiaan untukku, untuk Bia dan untuk Papa. Aamiin."


...🌴🌴🌴...


Sepertinya salah satu doa Allah dengarkan hingga tak lama suara tangisan bayi mulai terdengar. Tubuh semua orang menegak dengan saling tatap saat suara bayi terdengar begitu kencang. 


Ketakutan dalam diri mereka seakan sedikit berkurang saat mendengar suara buah hati Almeera dan Bara selamat. 


"Cucu kita, Pa!" Kata Mama Tari memeluk suaminya. 


Papa Dareen mengangguk. Pria paruh baya tersebut menghapus air matanya yang menetes karena terlalu terharu. 


Terharu akan kuasa Tuhan yang menyelamatkan cucunya. Hingga tangisan bayi kedua kembali terdengar. 


"Alhamdulillah."


Hingga tak lama menunggu suara pintu operasi terbuka dan keluarlah dia box bayi dari dalam ruang operasi. 


"Cucu kita, Pa!" Kata Mama Tari saat dua orang suster mendorong box bayi itu. 


"Sebentar, Sus. Apa boleh kita melihat sebentar?" 


Dua suster itu mengangguk. Baik Jonathan, Lia, Adeeva, Papa Darren dan Mama Tari mendekati dua box itu. Mereka melihat bagaimana wajah mungil bayi-bayi yang sangat menggemaskan. 


"Masya Allah, Pa. Lihat! Mereka sangat lucu sekali."


Papa Darren mengangguk. Dia bisa melihat bagaimana kondisi cucunya yang sangat sehat. 


"Apa mereka harus di inkubator, Sus?" 


"Tidak perlu, Pak. Usia kandungan pasien menurut dokter kandungan sudah memasuki bulan sembilan. Jadi mereka lahir dengan normal hanya saja mungkin belum waktunya kontraksi karena kejadian ini terjadi terlebih dahulu," Kata suster itu menjelaskan. 


"Apa mereka kembar laki-laki perempuan?"


"Iya, Pak. Betul."

__ADS_1


Mama Tari menatap dua cucunya penuh haru. Air matanya menetes ketika dia mengusap ruang kaca itu dengan penuh kesedihan.


"Doakan Mama kalian yang berjuang di dalam ya, Cucu-cucuku. Harapan kami tinggal kabar Mama kalian saja."


"Kami bawa bayi-bayi ini ke ruangan bayi dulu ya, Pak, Bu."


Setelah mengatakan itu. Dua suster itu melanjutkan langkahnya. Mereka membawa bayi Almeera dan Bara yang sangat sehat ke ruangan bayi. Meninggalkan keluarga yang masih dihantui rasa takut. 


"Mereka sangat mirip dengan Bara dan Almeera, Pa. Mereka sangat adil membagi gen keduanya."


Papa Darren mengangguk setuju. Mereka kembali menunggu. Menunggu kabar bagaimana kondisi Almeera yang masih setia di dalam sana. Entah apa yang terjadi, Tiba-tiba seorang suster keluar dari ruangan dan berlari dengan tergesa-gesa. 


"Ada apa, Pa. Kenapa suster tadi… " 


Tak berselang lama, keluar seorang suster lagi. Mereka membuat Mama Tari dan Papa Darren ketakutan. Apalagi ketika suster yang tadi keluar kembali membawa beberapa kantung berisi dokter. 


"Suster tunggu! Apa yang terjadi pada putri kami, Sus?" Tanya Mama Tari menahan suster tersebut. 


"Kondisi pasien kehilangan banyak darah, Bu. Pasien sedang kritis." 


Seakan ditikam seribu pisau. Tubuh Mama Tari merosot. Namun, dengan sigap Papa Darren yang berada di belakangnya menahan tubuh istrinya. 


Mama Tari benar-benar shock, takut dan terkejut. Air matanya kembali mengalir deras saat bayangan putrinya tiba-tiba hadir dalam benaknya. 


"Kamu gak boleh ninggalin Mama, Ra! Kamu harus selamat," Kata Mama Tari menangis di pelukan suaminya. "Lihat! Anak kalian sudah lahir dan butuh asimu, Sayang." 


Papa Darren tak bisa melakukan apapun. Dia sama sedihnya dengan sang istri. Rasa takut akan kejadian buruk yang terjadi menghantui pikirannya. 


Dia tak tahu harus mengatakan apa pada kedua cucunya dan menantunya jika terjadi sesuatu pada Almeera. Hingga tak lama, Abraham kembali dengan wajah yang lebih segar. 


Namun, matanya masih sembab dengan hidung memerah menandakan jika dia habis menangis dengan hebat. 


"Bagaimana Mama, Om?"tanya Abraham pada Jonathan yang sejak tadi hanya diam. 


" Adik-adikmu telah lahir," Kata Jonathan menepuk bahu keponakannya itu. "Tapi Mama kamu kehilangan banyak darah dan kritis."


~Bersambung


Aku jadi pakek tisu juga kan! hais ikutan mewek.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2