Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Perpisahan


__ADS_3


...Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Entah itu perpisahan manis atau akan terdapat luka di antara keduanya....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Mata Adeeva memerah menatap kekasihnya yang sedang mengendarai mobil. Di belakang, Ibu Adeeva sama halnya, berdiam diri seakan merenungi kejadian yang baru saja terjadi.


Perkataan yang keluar dari mulut Reno serta bukti kertas yang dilemparkan olehnya membuat Adeeva serta Ibu Adeeva sama-sama penasaran. 


"Kenapa?" tanya Reno saat merasa diperhatikan.


Adeeva menelan ludahnya paksa. Dia merasa bingung harus memulainya darimana.


"Apa kamu penasaran dengan isi kertas itu?" tanya Reno menatap kekasihnya sejenak.


Adeeva lekas mengangguk. Meski jantungnya terus berdegup kencang dengan ketakutan yang besar. Namun, tetap saja dia ingin melihat apa isi kalimat yang tertulis disana. 


"Bukalah dashboard itu!" 


Adeeva segera membuka dashboard mobilnya dengan perasaan tak karuan. Dia mengambil amplop putih berlogo sebuah nama rumah sakit yang dia kenal.


Tangannya mulai gemetaran. Namun, rasa ingin tahunya melebihi ketakutan dalam dirinya sendiri. Dengan pelan dia mulai membuka amplop itu lalu mengeluarkan isinya.


Dia membuka tiap lipatan dengan tangan yang mulai berkeringat dingin. Hingga logo rumah sakit pun mulai terlihat. Dengan pelan, Adeeva membaca keseluruhan isinya hingga dibagian akhirnya, tangisannya pecah.


Hal itu tentu membuat Ibu Adeeva yang sama penasarannya sedikit memajukan tubuhnya. 


"Ada apa, Nak? Kenapa kamu menangis?" tanya Ibu Adeeva mengelus punggung putrinya.


Adeeva menoleh ke belakang. Tanpa menjawab dia menyerahkan lebar hasil Tes DNA nya pada ibunya. 


"Jadi Adeeva bukan anak haram, Bu?" tanyanya dengan pandangan masih tak percaya.


"Bukan. Bukan, Sayang." 


Adeeva bersyukur. Ketakutannya akhirnya sudah berujung. Dirinya merasa lebih tenang saat mengetahui siapa ayah kandungnya. Namun, mengingat semua perlakuan ayahnya, membuat Adeeva tak mau menemui pria tua itu lagi.


"Ren!" 


"Ya?" 


"Aku…" 

__ADS_1


"Gak perlu berterima kasih," sela Reno dengan cepat. 


Dia mengambil tangan kekasihnya dan menggenggamnya dengan erat. 


"Semua itu aku lakuin demi kamu," kata Reno menjelaskan. "Jangan pernah menangis lagi seperti kemarin. Jangan pernah putus asa sebelum aku bertindak. Ceritakan semuanya kepadaku karena aku siap mendengarnya." 


Kedua sudut bibir Adeeva tertarik melengkung ke atas. Dia sangat amat bahagia hari ini. Akhirnya segala keraguan dan ketakutannya tertepis begitu sempurna. Segala hal yang membuatnya takut menghadapi kenyataan ternyata bisa dibasmi oleh kekasihnya sendiri. 


"Maafkan aku. Mulai sekarang, aku akan berusaha membagi apapun denganmu, Ren!"


"Pintar," ujar Reno dengan bahagia. "Kalau senyum begini baru pacar aku." 


"Kalau kemarin, emang bukan pacar kamu?" dengus Adeeva dengan kesal.


"Bukan tapi…" jeda Reno yang membuat Adeeva menunggu kekasihnya ini. "Calon istriku."


Ahhh! 


Adeeva merasa melayang. Perutnya seperti terdapat banyak kupu-kupu terbang. Gombalan kekasihnya ini memang receh tapi entah kenapa untuk pria sekelas Reno yang jutek, bisa menggombal seperti ini saja sudah membuat hatinya berkedut tak karuan. 


Hingga deheman seseorang dari kursi tengah menyadarkan keduanya. Jika di dalam mobil ini bukan hanya ada mereka. Melainkan ada sosok perempuan yang tak lain adalah ibu dari Adeeva sendiri.


"Jangan cuma ngegombal terus. Buktikan dengan datangi ibu dan segera siapkan tanggal pernikahan," sindir Ibu Adeeva yang membuat pasangan kekasih tersebut menganga tak percaya.


...🌴🌴🌴...


Sejak pagi, Almeera sudah merapikan semua pakaian miliknya, suami dan anak-anak. Semua itu ia lakukan dengan bantuan Humaira. Beberapa pernak pernik oleh-oleh khas malang, makanan keringnya juga seperti kripik apel, nangka dan beberapa makanan khas lainnya tentu memenuhi satu koper kosong yang disiapkan oleh ibu dua anak tersebut. 


"Oleh-olehnya banyak banget, Mbak," celetuk Humaira saat koper itu sudah tertutup rapat. 


Almeera terkekeh. Kepalanya mengangguk membenarkan. "Keluargaku dan Mas Bara banyak. Terus sahabat-sahabatku juga."


"Wah. Pasti keluarga Mbak sangat ramai." 


"Tentu saja, Hum. Bahkan kalau semuanya berkumpul, suara mereka seperti pasar malam," kata Meera membayangkan aksi kedua kakak dan orang tuanya yang sama-sama bobrok ketika bersama. 


Humaira tanpa sadar tersenyum. Namun, hatinya memiliki rasa iri juga pada kehidupan Almeera. Dia hanya iri karena kehidupannya sangat jauh berbeda dengan wanita di depannya ini.


Hingga tanpa sadar, terlalu banyak mengingat kenangan bersama ibu dan adiknya membuat air mata Humaira mengalir. 


"Kamu kenapa, Hum?" tanya Almeera yang tak mendengar suara gadis hamil itu. 


"Eh gakpapa, Mbak," sahut Humai dengan cepat. "Aku cuma inget mama dan adikku."


"Temui mereka, Hum."

__ADS_1


"Mamaku sudah tiada, Mbak. Sedangkan Adikku sedang sakit keras," ucapnya dengan menundukkan pandangannya.


"Innalillahi wainna ilaihi raji'un. Maafkan aku, Hum."


"Gakpapa, Mbak. Itu sudah lama."


Almeera menatap iba. Ia tak tahu sekuat apa hati wanita di depannya ini. Ditelantarkan Syakir, tak dianggap dan sekarang Almeera baru tahu bahwa Humaira tak memiliki orang tua. 


Sungguh kehidupan yang jauh dari dirinya. Namun, melihat bagaimana Humaira menjalani hidup. Tak melawan takdir dan putus asa. Hal itu sudah menjadi poin luar biasa Humaira di mata Almeera.


"Kamu adalah wanita pilihan. Istri pilihan sekaligus ibu pilihan untuk anakmu," kata Almeera dengan yakin. "Jangan pernah putus asa menjadi baik. Selagi kamu sanggup teruslah bersikap baik tapi jika kamu lelah maka tinggalkan." 


Akhirnya pembicaraan mereka berakhir saat Bara mulai memasuki kamar dan mengatakan bahwa mobilnya sudah siap. Humaira membantu wanita yang menjadi sosok temannya beberapa minggu disini. 


Mereka mulai turun ke bawah dengan Humaira yang merasa sedih. Entah kenapa dia merasa kebersamaannya dengan Almeera membuat rumah ini sedikit lebih hidup. Jika mereka pulang maka ia akan kembali ke kehidupan semula.


Tangisan, sakit dan penyiksaan yang membuat dirinya begitu tertekan!


"Ayo, Hum. Kamu ikut mengantar kami, 'kan?" 


"Itu, Ra. Dia…" 


"Kumohon, Kir. Bukankah ini hari terakhir aku disini," ujar Almeera penuh permohonan. 


Syakir membuang wajahnya lalu tiba-tiba tatapannya langsung bertatapan dengan Bara. Pria itu mendelik seakan Syakir harus menyetujui permintaan istrinya. 


"Boleh. Ajaklah dia, Ra!" 


Wajah Almeera begitu sumringah. Akhirnya mereka segera berangkat menuju Bandara Abdurrahman Shaleh karena waktu terus berputar. 


Setelah hampir empat puluh lima menit perjalanan dari Tumpang ke Pakis. Akhirnya mereka telah sampai di bandara. Almeera, Bara, Bia dan Abraham segera keluar diikuti Syakir dan Humaira.


Dua orang itu mengantar sampai ke dalam hingga bersamaan suara pengumuman pesawat yang akan dinaiki Almeera telah terdengar.


"Baiklah. Akhirnya kita akan berpisah sampai disini," kata Almeera menatap wajah Humaira dengan perasaan sedih. "Aku sangat bahagia mengenalmu. Bolehkah aku menganggapmu sebagai adikku?" 


"Tentu saja boleh, Mbak," sahut Humaira mengangguk.


Dua wanita itu akhirnya berpelukan. Momen seperti inilah yang paling ditakutkan. Perpisahan ketika pertemuan sudah hadir di antara keduanya. Hal yang paling tidak mereka sukai. 


"Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku," bisik Almeera yang mendapatkan anggukan kepala Humaira. "Aku akan menunggumu di Jakarta jika kamu sudah mengambil keputusan yang tepat." 


~Bersambung


Wah hmmm Mbak Meera bener-bener bantu Humaira, 'kan!

__ADS_1


Jangan menganggap dirimu sendirian Hum. Ada Author yang baik hati disini, haha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2