
...Kehangatan ranjang adalah satu faktor yang paling mempengaruhi sebuah hubungan rumah tangga. Jika mereka sama-sama puas. Maka tak akan ada orang ketiga yang mampu masuk di antara keduanya....
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Tak henti-hentinya Almeera, Bia dan Abra tertawa melihat wajah papa mereka yang baru keluar dari wahana rumah hantu. Bahkan pria itu sedang berbicara dengan salah satu petugas di sana karena lagi-lagi Bara memukul hantu yang ada di dalam rumah hantu tersebut.
Almeera tak menyangka jika yang diceritakan mertuanya adalah sebuah kebenaran. Kebenaran jika suaminya sangat takut menaiki wahana tersebut.
"Papa baik-baik aja, 'kan?" tanya Almeera penuh perhatian.Â
Wajah Bara terlihat pucat. Pria itu duduk dengan lesu di kursi yang tersedia disana. Entah kenapa rasa bahagia telah mengerjai suaminya tergantikan rasa kasihan.
Melihat bagaimana Bara ketakutan membuat rasa lembutnya mulai keluar.Â
"Maafin Mama ya, Pa. Gara-gara Mama…"Â
"Ust." Bara menggeleng.
Pria itu menggenggam tangan istrinya. Dia tak mau Almeera merasa bersalah. Toh apa yang dia takutkan sudah terlewati dengan sempurna. Keinginan anaknya akhirnya bisa dikabulkan meski harus melalui perjuangan yang panjang.Â
"Jangan katakan apapun. Mas baik-baik saja. Yang terpenting kamu dan anak-anak bahagia. Itu semua sudah cukup."Â
Akhirnya mereka kembali meneruskan perjalanan. Bara perlahan melupakan kejadian yang baru saja terjadi di hidupnya. Memasuki rumah hantu demi keinginan calon anak-anaknya.
Luar biasa memang! Almeera saja mengakui itu.Â
Mereka benar-benar menghabiskan waktunya di taman bermain. Segala wahana yang bisa dinaiki oleh Bia dan Abra mereka naiki. Bahkan seakan bocah lima tahun itu tak memiliki rasa takut.
Trauma yang dulu pernah dirasakan oleh Bia, seakan sudah hilang tergantikan dengan rasa kepo menjadi keberaniannya. Bocah itu mengeksplorasi segalanya hingga membuat Bara kagum.Â
Dia tak percaya melihat anaknya seberani itu naik wahana yang menguji adrenalin. Abraham yang notabenenya anak pemberani juga. Akhirnya mendukung aksi sang adik. Dia selalu menemani Bia yang ingin menaiki wahana yang dia inginkan.Â
"Sekali lagi makasih ya, Mas. Udah mau bawa kita kesini," kata Almeera saat keduanya menunggu kehadiran anak-anak mereka. Â
Bara duduk di kursi dengan tangan menggenggam tangan Almeera. Pasangan suami istri itu terlihat begitu bucin hingga membuat mereka yang melihatnya menjadi iri.Â
"Sama-sama, Sayang. Demi Bia, Abra dan kamu. Aku rela melakukan apapun. Tapi…"Â
__ADS_1
"Tapi?" seru Almeera yang mulai kepo dengan keinginan suaminya.
"Tapi jatah nanti malam harus kamu berikan," bisik Bara di telinga Almeera.Â
Tubuh Almeera menegang. Dia merasa inti tubuhnya berkedut saat suaminya membahas tentang hal sensitif. Inilah yang paling ia tak suka ketika hamil.
Sesuatu dalam dirinya dengan mudah dipancing dan membuatnya ingin sesuatu yang lebih.Â
"Ya, Sayang? 3 ronde," ujar Bara lalu meniup telinga Almeera sampai membuka hatinya berdesir.Â
Ah bisa gila aku! Suamiku benar-benar otak omes, gerutu Almeera saat dia mulai menginginkan sesuatu di dekat suaminya.
"Jangan pengen sekarang. Disini gak ada tempat aman," bisik Bara lagi seakan tahu pemikiran Almeera.Â
Bumil itu membulatkan matanya. Dia menoleh sampai wajah mereka berdekatan.
"Otak omes banget sih!" seru Almeera dengan wajah memerah malu. "Kalau kamu bahas itu mulu. Nanti malam gak ada jatah lagi."Â
"Ah jangan dong, Sayang!" rengek Bara yang mulai merayu.
"Mangkanya diam. Jangan membahas hal itu lagi."
...🌴🌴🌴...
Dia menjadi sadar bahwa selama ini telah mengurung mereka di rumah. Dengan alasan! Semua demi kebaikan ibu dan adik-adik mereka.
"Kalian mandi air hangat, terus segera sholat dan tidur. Oke?" kata Almeera sambil mengantar kepergian anak-anak mereka menuju kamar.Â
Bia yang masih ada pengasuh tentu membuat Almeera tak terlalu capek. Dia menuruti kemauan suaminya untuk dibantu oleh pengasuh dalam merawat Bia. Bara tak mau istrinya kelelahan.
Setelah mengantar semua anak-anaknya. Almeera segera berjalan menuju kamarnya. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang. Beberapa hari ini memang Bara dan Almeera jarang bersentuhan karena pekerjaan Bara yang banyak.
Maka dari itu, setelah libur beberapa hari. Akhirnya disinilah Almeera berada. Di depan pintu kamarnya dengan sosok sang suami yang menunggu kehadirannya.
Pikirannya mulai terbayang hal apa yang terjadi selama ini. Almeera sangat tahu tabiat suaminya. Bara akan menjadi harimau ganas ketika lama tak berhubungan badan.Â
Ibu hamil itu akhirnya mulai memberanikan dirinya untuk masuk. Seberapa lama dia menunggu disini. Nanti akan sama-sama berakhir di atas ranjang.
Akhirnya Almeera segera membuka pintu itu. Tatapan pertama yang ia lihat, ruangan itu temaram. Hal itu membuat Almeera segera masuk ke dalam.Â
Sebelum dia berhasil menutup pintu utama. Tangannya sudah ditarik oleh seseorang yang bersembunyi di balik pintu kamarnya.Â
__ADS_1
Saat Almeera hendak menjerit. Sebuah serangan di bibirnya membuat perempuan itu melebarkan matanya. Ia tak menyangka jika suaminya lah yang menarik tangannya.
Bahkan saat ini pria itu dengan gila melahap rakus bibirnya dengan nikmat. Almeera yang tak mampu menolak kenikmatan yang suaminya berikan, segera membalas pergerakan Bara.Â
Tubuh Almeera disandarkan di dinding dengan salah satu kakinya dipegang oleh Bara. Wanita itu dengan tubuh menggeliat berusaha mengusap naga Bara di balik celananya.
Ah pasangan suami istri sama-sama ganas. Tangannya sama-sama lincah. Bergerak, menyusuri sambil membuka satu persatu pakaian mereka hingga tubuh keduanya mulai polos.
Bara dengan segala hasratnya mulai menggendong tubuh istrinya bak koala. Dia menyandarkan punggung Meera ke dinding lalu dia menahannya dengan tubuhnya.
Bara ingin sesuatu hal gila. Hal gila dengan memasukkan naga itu ke dalam lembah basah dalam kondisi berdiri. Dengan sekali hentakan, Almeera menjerit penuh nikmat.
Naga itu berhasil menyelinap ke lembah basahnya hingga membuat matanya terpejam. Dia merasa milik suaminya ini semakin besar atau miliknya yang mengecil.
"Katakan jika kamu lelah, Sayang! Aku tak akan berhenti karena aku juga menginginkanmu," kata Bara dengan tubuh mulai bergerak.Â
Pria itu dengan lembut membajak lembahnya. Gerakan dari pelan ke cepat dia lakukan berulang kali hingga membuat Almeera meledak terlebih dahulu.
"Mas! Jangan menggodaku!" seru Almeera yang kesal karena suaminya menyerang di dua titik.
Area bawah dan dua bukit kembarnya Bara serang bersama-sama. Perlahan pria itu melepaskan naganya. Dia menurunkan Almeera dan membalik tubuhnya.
Dia angkat salah satu kakinya dan mulai memasukkannya lagi dari belakang. Posisi seperti ini membuat Almeera merasa puas dengan kegiatan ranjang mereka yang bervariasi.
Baik Bara maupun Almeera keduanya sama-sama berusaha membuat pasangan mereka merasa puas. Keduanya akhirnya mengejar puncak kenikmatan saat milik Bara mulai berkedut.
"Sayang!" pekik keduanya bersamaan dengan tangan saling menggenggam kuat.
Tubuh mereka meledak hebat dengan nafas terengah-engah menandakan bagaimana hebatnya pergulatan keduanya yang baru saja terjadi.Â
Bara dengan pelan mengecup leher istrinya yang terbuka dengan gerakan begitu seksi.
"Aku masih menginginkanmu, Sayang. Aku tak akan memberikan ampun!"Â
~Bersambung
Gak tanggung jawab. Cari Pak suami yah, haha. Udah panas makin panas disini!
Kaborrr.
Jangan lupa klik like dulu, komen sama vote sebelum cari pak suami sama istri, haha.
__ADS_1