
...Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan utama seorang orang tua. Ketika anaknya belum mencapai titik kebahagiaan bersama pasangannya. Masih ada beban dalam pundak orang tua. Hal itulah yang membuat mereka hanya ingin putri mereka diberikan kejelasan sebuah hubungan yang pasti....
...~JBlack...
... 🌴🌴🌴...
Kedatangan Almeera dan Adeeva ke rumah sakit membuat ruangan tempat dimana Mama Zelia berada mulai ramai. Bahkan dua wanita hamil itu mengerubungi Zelia dan Mamanya untuk menyampaikan kabar bahagia ini.
"Jadi, kamu beneran hamil?" tanya Zelia menatap sahabatnya penuh haru.
Adeeva mengangguk. Hal itu membuat Zelia segera memeluk sahabatnya dengan erat. Dia benar-benar ikut bahagia dengan kebahagiaan sahabatnya ini.
Tak ada kata iri dalam hati Zelia. Gadis itu sangat mengerti akan apa yang sudah Tuhan ciptakan dan gariskan untuk para hambanya. Dimana setelah ada hujan pasti ada pelangi walau sekejap.
"Selamat, Li. Semoga kamu dan keponakanku diberi kesehatan," kata Zelia tulus mendoakannya.
Kekasih Jimmy itu mengusap perut rata Adeeva. Entah kenapa hal seperti ini membuat hatinya bergetar. Seakan dia merasakan sesuatu yang mengganjal dalam dirinya.
Entah rasa ingin tahu bagaimana jadi wanita hamil. Entah karena ia ingin segera menikah.
Dua hal itu terus membayangi dirinya sampai saat ini. Namun, saat mengingat lagi penjelasan kekasihnya. Zelia mulai mengerti.
Jimmy memang jarang memegang ponsel jika waktunya tak begitu longgar sekali. Jimny juga tak pernah membawa ponsel keluarganya dan sering meninggalkan benda pipih itu di kamarnya.
Namun, apapun keadaannya. Zelia sudah diberikan penjelasan oleh Jimmy. Pria itu menceritakan semua pekerjaannya dengan pelan sampai dirinya mengerti.
"Ini…" jeda Almeera dengan mata membulat penuh.
Di sudut ruangan terdapat sebuah ransel yang ternyata milik kekasihnya itu. Ya, Jimmy memang belum pulang. Pria itu menemani Zelia di rumah sakit sampai saat ini. Namun, pria itu memang sedang pergi keluar sebentar untuk membeli makanan bersama papanya.
"Ya. Ini ransel milik Kak Jim," kata Zelia dengan jujur.
"Apa!" Almeera membulatkan matanya. "Kemana dia, Li?"
Almeera benar-benar tak percaya jika kakaknya ada disini. Pria itu bahkan belum memberikan kabar kepadanya atau keluarganya jika ia pulang.
"Kak Jim lagi beli makanan bareng Papa," ujarnya menjelaskan.
Bersamaan dengan itu. Pintu ruangan Mama Zelia kembali terbuka dan muncullah sosok yang ditunggu. Bukan hanya Almeera yang terkejut. Namun, Jimmy juga tak kalah kagetnya.
Pria itu menatap sosok adik dan adik iparnya yang menatapnya balik.
"Kakak," panggil Almeera dengan tangisan yang sudah pecah.
__ADS_1
Wanita hamil itu segera berjalan ke arah Jimmy lalu memeluk kakak kandungnya. Rasa rindu pada pria itu begitu membuncah. Entah bawaan hamil atau memang Jimmy yang sudah lama sekali tak ada kabar hingga membuatnya sangat amat merindukannya.
"Kakak jahat! Kakak gak bilang kalau pulang," pekik Almeera dengan memukul punggung kakaknya.
Jimmy tersenyum. Dia mengeratkan pelukannya pada adiknya itu. Pria itu tak menyangka jika akan bertemu dengan Almeera disini. Sebenarnya ia memiliki rencana untuk pulang ke rumahnya hari ini saat mama dari kekasihnya diizinkan pulang.
"Maaf," lirih Jimmy dengan pelan. "Maaf udah bikin Meera marah sama Kakak."
Ya pria itu menyesal. Dia tahu diri jika adiknya marah demi kebahagiaan dan kebaikannya. Almeera benar-benar membuatnya sadar jika selama ini ia salah.
Salah menelantarkan kekasihnya. Salah telah membuat wanitanya menangis. Lalu salah karena telah mengkhianati janjinya sendiri.
"Jangan pernah mengulanginya, oke?"
"Oke."
Setelah pelukan itu terlepas. Jimmy membawa makanan itu ke arah meja yang ada di sana. Zelia mengerutkan keningnya saat tak mendapati sosok ayahnya di sana.
"Kemana Papa, Kak?" tanya Zelia saat Jimmy mendudukkan dirinya di samping Zelia.
"Papa masih ke ruangan dokter sebentar," ujar Jimmy dengan jujur.
Zelia hanya mengangguk. Dia segera berjalan ke ranjang mamanya lagi untuk menyuapi Mama Zelia yang belum sarapan.
"Ayo, Ma!" ujarnya dengan mulai mengambil semangkuk bubur yang sudah disiapkan oleh rumah sakit.
Mama Zelia mengangguk. Dia juga semangat untuk hidup. Keinginan untuk menemani suami dan putrinya hingga Zelia menikah dan memiliki anak, sangat besar dalam dirinya.
Dia benar-benar memiliki semangat hidup yang tinggi. Semangat demi anaknya yang terus takut jika dia meninggalkan Papa Zelia dan dirinya.
"Mama akan berjuang untuk kalian. Untuk Zelia, untuk Papa dan untuk anak-anak Mama yang lain," katanya dengan tulus dan pelan.
Almeera dan Zelia berkaca-kaca. Dia tak menyangka jika sosok yang sangat ia sayangi dan hormati seperti ibunya sendiri harus melawan sakit yang begitu luar biasa ganas.
Selama ini Mama Zelia tak pernah terlihat seperti orang sakit. Kebaikan hatinya dan keramahannya membuat Almeera dan Adeeva selalu merasa nyaman.
"Harus, Ma. Harus," kata Zelia mengangguk. "Mama harus semangat berjuang yah. Zelia masih disini belum menikah. Zelia ingin mama ikut melihat Zelia pakai gaun pengantin dan bergandengan tangan dengan suami Lia."
Mama Zelia mengangguk. Dia akan menuruti semua keinginan anaknya. Keinginan anak yang selama ini ia perjuangkan, ia sayangi setengah mati karena hanya satu-satunya yang ia punya di dunia ini.
Tak ada saudara untuk Zelia. Tak ada adik atau kakak untuk anaknya itu. Memiliki Zelia seorang adalah mukjizat dari Tuhan yang sangat ia syukuri kala itu.
Sedangkan Almeera dan Adeeva benar-benar takjub akan semangat Mama Zelia. Mereka tak menyangka jika wanita tua itu menahan sakitnya seorang diri demi kebaikan putrinya.
"Iya, Nak."
__ADS_1
...🌴🌴🌴...
Akhirnya Almeera, Adeeva, Reno dan Bara pulang ketika sudah menghabiskan waktu di ruangan ini sampai sore hari. Zelia pun sudah terbaring tidur karena lelah di atas sofa panjang yang ada di sana. Sedangkan Papa Zelia pulang sebentar karena ada pekerjaan yang dikerjakan di rumah.
Akhirnya hanya ada Jimmy seorang yang belum tertidur. Pria itu menatap laptop di pangkuannya hingga pergerakan di atas ranjang membuatnya beranjak.
"Ada apa, Ma?" tanya sopan membantu Mama Zelia duduk.
"Boleh Mama bicara berdua sama kamu?" ujar Mama Zelia dengan pelan.
"Tentu," sahut Jimmy lalu membantu mama dari kekasihnya untuk bersandar lalu dia mengambil kursi untuk duduk di sampingnya.
Mama Zelia terlihat menghela nafas pelan. Dia mengulurkan tangannya untuk memegang dan menggenggam tangan kekasih putrinya ini.
"Mama hanya ingin tanya. Apa kamu serius dengan putri Mama?" tanya Mama Zelia dengan tatapan lembutnya.
"Iya, Ma. Aku serius," sahut Jimny dengan jujur.
Di dasar hatinya yang terdalam. Pria itu benar-benar serius akan hubungan ini. Dia sangat mencintai Zelia sampai detik ini. Bahkan cintanya terus berkembang hingga membuatnya ada disini ketika Jimmy menyadari bahwa ia salah.
"Jika kamu serius. Berikan kepastian pada putri Mama. Jangan gantungkan perasaannya lagi. Dia adalah anak gadis yang umurnya sudah cukup untuk menikah," kata Mama Zelia untuk menatap wajah kekasih putrinya.
"Iya, Ma. Maafkan Jimmy yang membuat Zelia menunggu," sahut Jimmy dengan hati yang tersentuh.
"Mama sudah memaafkanmu. Mama hanyalah seorang orang tua yang ingin melihat anaknya bahagia di ujung usia," jeda Mama Zelia dengan penuh harap. "Mama juga merasa kasihan melihat Zelia yang hanya tinggal seorang diri belum menikah. Dua sahabatnya sudah memiliki pasangan bahkan sedang hamil."
Jimmy mengangguk. Dia mengerti akan hal itu. Tadi saja melihat kekasihnya yang hanya seorang gadis sendiri membuat sesuai di dalam hatinya terusik.
"Kalau kamu gak bisa kasih kepastian pada Zelia. Berikan dia kejelasan hubungan, Nak. Tinggalkan putri Mama agar dia bisa menikah dengan pria lain."
~Bersambung
Yang ngamuk sama Bang Jim. Sabarlah, dia makin ngadi-ngadi bikin esmosi di novelnya sendiri nanti haha.
Perlu diingat! gak bakal ada pengulangan bab di novel baru Jimmy Zelia, Syakir Humai atau Manggala Fayola di novel mereka.
Mereka akan berdiri sendiri di novelnya sendiri tanpa campur aduk disini.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.
Jangan lupa juga ikutan GIVE AWAY MININGOLD GUYS.
NIH
__ADS_1
KERJAINNYA LEWAT INSTAGRAM YAH!!