
...Bahkan apapun resikonya jika untuk kebahagiaan adikku akan aku lakukan....
...~Jimmy Harrison...
...🌴🌴🌴...
Jemari lentik itu mulai bergerak menggeser layar ponsel miliknya. Dia segera menekan sebuah panggilan pada nomor yang sudah sejak lama tak dihubungi.
"Halo, J."
"Hai, R. Aku ingin meminta bantuanmu," kata Jimmy tanpa basa-basi.
"Bantuan apa yang kamu inginkan dariku?"Â
"Carikan aku sebuah nomor telepon atas nama Narumi Alkhansa. Gambar dirinya akan aku kirim kepadamu dan aku ingin hari ini kamu bisa mendapatkannya," ucap Jimmy dengan serius.
"Oke. Kirimkan dan aku akan menemukannya untukmu."Â
Akhirnya setelah panggilan itu terputus. Jimmy lekas mengirim apa yang dibutuhkan oleh temannya. Dirinya tak ingin menunda apapun. Bahkan walau malam semakin merayap, matanya begitu terjaga dengan banyak tugas yang dia selesaikan.Â
Kakak kedua dari Almeera itu ingin semuanya selesai dalam jangka waktu tak sampai satu minggu. Dia ingin memberikan kado terindah untuk ponakannya yang akan berulang tahun. Jimmy bisa yakin dengan berpisahnya Bara dan ****** itu, akan membuat Bia dan Abraham kembali senang seperti sedia kala.Â
Setelah itu dia mulai mengerjakan pekerjaan yang lain. Menyalin data video dan rekaman yang dia dapatkan lalu meletakkannya di beberapa flashdisk. Hingga hampir pukul dua malam, dirinya mulai meregangkan otot-ototnya.Â
Kling.
Wajahnya begitu berbinar saat apa yang dia inginkan, akhirnya sudah ditemukan. Segera pria itu mengirimkan pesan singkat pada seseorang dan mengirimnya.
"Aku yakin tidurmu tak akan tenang."Â
...🌴🌴🌴...
Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah ruang kamar. Terlihat seorang perempuan dengan tubuh gemetaran duduk di atas ranjang. Dirinya baru saja mendapatkan pesan ancaman hingga membuatnya tanpa sadar menjatuhkan ponsel miliknya.
Wanita itu yang tak lain adalah Narumi merasa jantungnya semakin sesak. Dia berusaha memberanikan diri mengambil benda pipih itu lagi dan membaca apakah pesan yang dia baca benar-benar nyata atau tidak.Â
+6282355×××××
Besok, temui aku di restoran yang sama sendirian. Jika kau menolak maka siap-siap videomu ini akan kuberikan pada Bara.
Jimmy.
__ADS_1
Kling.
Lalu bersamaan setelah pesan itu masuk. Terlihat sebuah video yang masih berputar dan membuat dirinya semakin penasaran. Jarinya segera menekan layar ponsel itu hingga dirinya terkejut bukan main.Â
Video panasnya bersama Adnan berada disana. Keduanya saat itu sedang bercumbu di depan pintu apartemen hingga melupakan banyaknya cctv yang ada disana.Â
"Bagaimana bisa pria itu memiliki video ini?" gumam Narumi dengan melempar ponselnya ke ranjang.
Dia menaikkan kedua kakinya lalu memeluknya dengan erat. Rasa ketakutan akan hilangnya semua harta yang dia dapatkan membuat pikirannya kalut. Dia tak mau jatuh miskin lagi. Dia tak mau dihina seperti dulu.
"Aku harus menemui pria itu sebelum dia menghancurkan semuanya. Aku yakin dia sama saja dengan pria lain. Otak mesum dan ************!"Â
Akhirnya malam itu, Narumi tak tidur sama sekali. Wanita itu benar-benar gelisah. Dia takut bila ancaman Jimmy benar-benar pria itu lakukan. Apalagi pria itu memiliki kartu AS miliknya dan semakin membuat Narumi tak berkutik.Â
Keesokan harinya, Narumi mulai merias diri. Dia memakai beberapa make up untuk menutupi kantung matanya yang hitam dan wajah yang lusu karena kurang tidur. Dirinya benar-benar terlihat mengerikan jika tak berias diri.Â
Dengan mengendarai mobilnya, Narumi mulai memecah padatnya jalan di siang hari. Dia menaikkan gas mobilnya ketika waktu terus berputar begitu cepat. Dirinya benar-benar tak mau terlambat karena Jimmy mengirimkan pesan lagi agar dirinya datang tepat waktu.
"Jika dia benar-benar hanya ingin tubuhku. Aku akan membunuhnya setelah selesai melayani nafsu bejatnya itu."Â
Setelah berkendara hampir satu jam. Akhirnya Narumi mulai memasuki restoran yang kemarin dia datangi untuk menemui sang suami. Dari kejauhan, dia bisa melihat punggung tegap pria yang kemarin baru ia temui.
"Telat lima menit," kata Jimmy saat kaki Narumi baru saja sampai di belakang pria itu.
"Duduk!" kata Jimmy tanpa menoleh.
Wanita itu segera mendudukkan dirinya di hadapan Jimmy. Dia tak berani mendongak sedikitpun saat pria itu menatapnya dari atas sampai bawah.
"Kemana pakaian murahanmu?" tanya Jimmy dengan pedas.
"Cepat katakan apa yang ingin kau inginkan dariku?" kata Narumi memberanikan diri menatap pria di hadapannya.
Dia berusaha menutupi ketakutannya dari Jimmy. Narumi berpikir jika dia galak, pria itu segera menyatakan keinginannya. Namun, ternyata pemikirannya salah.
Bukannya menjawab, Jimmy malah terkekeh.
"Kenapa kau terburu-buru? Takut, heh?" ledek Jimmy dengan menyilangkan kakinya.Â
"Aku tak takut padamu. Kau ingin uang?" tanya Narumi dengan mata melotot.
"Ustt, pelankan suaramu!" kata Jimmy dengan mata tajamnya. "Apa kau ingin semua orang tau keburukanmu?"Â
Narumi terkekeh. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada menandakan wanita itu tak takut.Â
__ADS_1
"Keburukan apa maksudmu, Tuan Jimmy?" tanya Narumi dengan senyum miring. "Apa yang kau punya semuanya palsu."Â
"Kau yakin?" seru Jimmy masih dengan tenang.Â
Pria itu segera meraih tab yang ia letakkan di atas meja lalu menyodorkan ke arah Narumi.
"Lihatlah! Aku yakin kau akan semakin terkejut."Â
Jimmy tersenyum mengejek. Pria itu menatap Narumi yang mulai mengambil tab yang dia serahkan lalu menghidupkannya. Matanya terbelalak saat melihat slide pertama berisi foto yang sudah Jimmy siapkan.
Ah pemandangan targetnya yang ketakutan adalah hal paling membuatnya candu. Lihatlah sekarang! Tubuh itu mulai gemetaran dengan wajah panik luar biasa.
"Ini semua palsu. Kau sudah memanipulasi semuanya!" seru Narumi dengan jantung berdegup kencang.Â
Jujur dia tak menyangka jika Jimmy bukanlah pria sembarangan. Bahkan pria itu mampu mendapatkan semuanya dalam kurun waktu 24 jam.Â
"Palsu?" ucap Jimmy dengan tangan terulur meraih tas milik Narumi yang ada di atas meja.
"Untuk apa kau mengambil tas…" jeda Narumi dengan mata terbelalak.
Jimmy mengangkat dua buah alat hitam yang baru saja ditariknya dari tas Narumi. Pria itu menunjukkan ke arah wajah istri kedua Bara hingga wanita itu semakin pucat pasi.
"Palsu menurutmu?" ejek Jimmy dengan tatapan merendahkan. "Perempuan sepertimu tidak ada yang palsu dalam hidupnya. Semua cara kau lakukan untuk mendapatkan apa yang sebenarnya bukan milikmu!"Â
"Bara milikku!"Â
"Bukan," sahut Jimmy dengan tenang.
"Dia suamiku!"
"Karena kau menjebaknya. Kau memintanya bertanggung jawab dengan mengatakan bahwa dia sudah mengambil keperawananmu."Â
"Dia memperkosaku!"Â
"Bara tak pernah memperkosamu!" seru Jimmy dengan tatapan tajam. "Dia tak pernah menyentuhmu sampai kalian sudah menikah."Â
Narumi semakin dibuat mati kutu. Dia tak percaya jika Jimmy benar-benar tahu semuanya. Bahkan apa yang dia sembunyikan selama ini, pria itu bisa mengetahuinya.Â
"Lebih baik menurutlah padaku, sebelum…" jeda Jimmy menatap wajah Narumi yang pucat. "Semua bukti ini aku serahkan pada kepolisian."Â
~Bersambung
Bang Jimmy sini, Bang. Ku peluk yah. Kamu itu emang penyelamat, uwuww.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author makin semangat ngetiknya.