
...Aku tak mau melihat wajahnya lagi. Dia benar-benar menyebalkan dan membuatku muak untuk menghadapinya....
...~Adeeva Khumairah...
...🌴🌴🌴...
"Syukurin, hahaha." Reno memegang perutnya. Dia benar-benar puas setelah berhasil mengerjai wanita itu. "Jika kamu ingin mandi, lebih baik ke kamar mandi. Kenapa malah mandi disini?"Â
Dia menertawai penampilan Adeeva yang begitu berantakan. Wajah wanita itu masih terlihat begitu tegang. Mungkin efek dari semburan air yang tiba-tiba membuat dirinya terkejut bukan main.
"Kamu!" seru Adeeva menunjuk pria itu dengan kilat marah. "Ini pasti ulahmu, 'kan?"Â
"Kenapa menyalahkan aku?" tanya Reno setelah menetralkan tawanya. "Tanyakan langsung pada kran airnya! Mungkin dia sadar kalau kamu belum mandi. Jadi dimandikan!"Â
"Mulutmu!" seru Adeeva berjalan mendekati Reno.
Namun, belum sampai wanita itu meraih tangannya. Reno sudah menghindar dan berlari menghindari sosok Adeeva. Aksi kejar-kejaran itu tentu membuat kegaduhan hingga terdengar di telinga ketiga orang yang sedang berada di ruangan.Â
Mereka tentu segera keluar dari ruangan. Mata keduanya terbelalak tak percaya melihat pemandangan dua orang manusia yang sedang berlari kesana kemari.Â
"Gak kena, gak kena," pekik Reno saat di antara mereka di halangi kursi sofa yang ada disana.
Wajahnya begitu menyebalkan di mata Adeeva. Dia menjulurkan lidahnya sampai membuat sahabat Almeera itu kesal bukan main.
"Kemari, Kau! Akan kutendang pantatmu sampai mulutmu menjerit!" semprot Adeeva dengan tangan terkepal.
Aksi keduanya yang sangat seru. Tentu membuat Reno maupun Adeeva tak menyadari jika tingkah keduanya dilihat oleh tiga pasang mata.Â
Bahkan mereka tak berniat menghentikan kegilaan dua sekretaris yang biasa bertindak tegas dan perfeksionis. Saat ini, jika dilihat dua orang itu seperti anak kecil yang sedang berebut sesuatu. Saling menangkap dan mengejek untuk bisa meraih satu dengan yang lain.Â
Hingga tiba-tiba, suara deheman yang cukup kencang membuat keduanya mematung. Suara yang amat familiar dan dikenal tentu membuat Reno maupun Adeeva sama-sama berusaha menelan ludahnya paksa.
"Apa kalian kira ini taman bermain?" seru Bara sambil menahan tawa saat melihat dua orang itu yang terkejut dengan kehadirannya.Â
Adeeva dan Reno menunduk. Dua orang itu segera berbalik hingga kondisi keduanya bisa dilihat dengan jelas oleh Almeera.
Mata istri Bara itu terbelalak tak percaya. Apalagi saat melihat keadaan sahabatnya yang begitu mengenaskan.Â
"Apa yang terjadi, Va?" tanya Almeera khawatir.
Adeeva yang semula menunduk, perlahan mendongakkan kepalanya sedikit. Dia melirik Reno yang berdiri di sampingnya hingga kembali menatap ke arah Meera.
__ADS_1
"Maaf. Ini semua ulah Reno yang mengerjaiku," kata Adeeva menekankan nama Reno.Â
"Bagaimana bisa aku?" sahut Reno dengan cepat. "Aku tak melakukan apapun."Â
"Jika kau tak melakukan apapun. Kenapa kau mengatakan selamat kepadaku saat ingin mencuci gelas?" seru Adeeva dengan kesal. "Perkataanmu saja sudah menandakan bahwa kau tau keadaan kran yang rusak!"Â
Reno benar-benar tak bisa berkilah. Apa yang dikatakan oleh Adeeva memang benar. Dia berniat tak mengatakan kondisi kran itu untuk balas dendamnya pada sahabat istri bosnya.Â
"Jawab, hey! Kemana mulut julidmu itu?" seru Adeeva yang sudah kesal setengah mati dengan mata berkaca-kaca.Â
Perlahan nafas Adeeva memberat. Isakan kecil mulai terdengar saat dirinya sudah sangat kesal bukan main. Dirinya benar-benar tak menyangka memiliki partner yang sangat menyebalkan.Â
Apalagi ditambah di hari pertamanya dia harus basah kuyup seperti ini. Membuat gadis itu merasa menyesal telah menuruti bosnya Jonathan untuk bekerja disini.Â
"Kau memang pengecut, hiks!" Adeeva mulai terisak.
Badannya benar-benar sedang lelah memang. Pekerjaannya di perusahaan Almeera saja, membuat dia harus lembur beberapa hari ini. Ditambah hari ini dia membantu pekerjaan Reno, yang membuat tubuh dan pikirannya semakin melelahkan.
Jika sudah capek, maka mental dan batin mudah terganggu. Mereka bahkan gampang naik emosinya jika sudah dalam fase seperti ini. Mereka juga bisa merasa baper sendiri dengan keadaan yang dijalani.Â
Sedangkan, Reno. Mendengar isakan di mulut Adeeva membuat pria itu merasa bersalah. Apalagi saat dia memberanikan diri mengangkat wajahnya, bisa dia lihat bagaimana wajah Adeeva yang memerah karena tangannya yang menghapus air mata yang terus menetes.Â
Apa aku sepengecut itu? Gumam Reno dalam hati sambil menatap Almeera yang mulai mendekati sahabatnya.Â
Sepeninggalan dua wanita itu. Bara menatap Reno dengan tajam. Suami Meera itu tak menyangka jika tingkah sahabatnya bisa begitu kelewat batas. Apalagi sampai membuat partner barunya menangis.Â
"Apa yang Lo lakuin, Gilak!" umpat Bara kesal menunjuk sahabatnya itu.
Dia berjalan mendekati sosok Reno sambil menggendong Bia yang mulai mengantuk dalam gendongannya.Â
"Bagaimana bisa pakaian Adeeva basah?"Â tanya Bara tak habis pikir.
Jujur pria itu sendiri benar-benar terkejut dengan perubahan dalam diri Reno. Pria yang biasanya cuek dan jarang sekali berdekatan dengan seorang wanita. Tiba-tiba terlihat bercanda gurau sampai berlebihan.Â
Hal itu tentu membuat kepala Bara mulai bertanya-tanya. Bagaimana bisa sahabatnya itu berubah secepat ini?
"Gue sebenernya udah tau kalau tu kran rusak. Tapi karena gue kesel sama dia, gue diemin," ucap Reno dengan jujur.Â
Bara tak bisa menjawab. Dia hanya menghela nafas berat lalu berbalik.
"Kalau Adeeva gak mau datang ke perusahaan ini lagi, dan gak mau bantuan gue, Lo yang harus bujuk dia sampai mau!"Â
Setelah itu, Bara segera kembali ke ruangannya. Dia berjalan menuju pintu yang terhubung dengan ruangan rahasianya. Samar-sama telinga Bara bisa mendengar apa yang sedang istri dan sahabat istrinya bicarakan.Â
__ADS_1
"Pokoknya aku gak mau disini lagi besok, Ra! Aku mau kembali ke kantor kamu," seru Adeeva dengan seriusÂ
"Iya...iya. Besok kamu langsung ke kantor aja. Nanti aku yang akan mengatakan sama Mas Bara."Â
Hingga sebelum dua wanita itu mengetahui keberadaan dirinya. Bara segera duduk di sofa ruangannya dan menidurkan Bia yang mulai memejamkan mata.
...🌴🌴🌴...
"Bagaimana?" tanya Bara setelah melihat istrinya keluar dari dalam kamar mereka.Â
"Aku menemaninya dan membiarkan dia berceloteh mengeluarkan kekesalannya," kata Almeera lalu menyusul duduk di samping suaminya.Â
Perempuan itu menoleh. Dia mendapati anaknya yang sudah terbaring di atas sofa dengan nyaman. Lalu dia mengalihkan pandangannya dan menatap sang suami yang selalu menatapnya dengan lekat.Â
"Adeeva gak mau kesini lagi, Mas. Dia besok kembali ke perusahaan," kata Almeera mengutarakan keinginan sahabatnya. "Sepertinya dia benar-benar sangat kesal pada Reno."Â Â
Bara mengangguk setuju. Dia juga bisa menebak bahwa Adeeva pasti sudah sangat marah pada sahabatnya. Apalagi mengingat penjelasan Reno membuatnya ingin memukul kepala pria itu sendiri.Â
"Biarkan Reno yang akan membujuk Adeeva. Aku sudah mengatakan padanya, jika Adeeva sampai tak mau datang kesini. Maka dia yang harus bertanggung jawab."Â
Almeera terkekeh lalu saat dia hendak menjawab. Suara ponsel yang berbunyi membuat wanita itu menoleh.
"Siapa, Mas?" tanya Almeera saat Bara sudah memegang ponselnya.
"Dari pengacara kita, Sayang."
Bara segera mengangkat panggilan itu. Dia juga sangat penasaran ada apa pengacaranya menelpon dirinya di siang bolong seperti ini.
"Ya, Pak. Ada apa?"Â
"Maaf, Pak Bara. Apa Anda bisa datang ke kantor polisi?"Â
Kening Bara berkerut. Dia bisa mendengar suara pengacaranya yang seakan penuh keraguan.
"Bisa. Memangnya ada apa, Pak?" tanya Bara yang sangat penasaran.
"Lihatlah kondisi mantan istri, Pak Bara. Saat ini dia sangat memprihatinkan!"Â
~Bersambung
Kira-kira apa yang terjadi sama si Sarimi yah?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.
__ADS_1