Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Hasil Tes DNA


__ADS_3


...Sejak aku berani mengutarakan perasaanku padamu maka sejak itu aku sudah bertekad untuk menjagamu sekuat hatiku....


...~Reno Akmal alfayyadh...


...🌴🌴🌴...


Seorang pria tampan terlihat berlari dengan memakai pakaian piyama yang masih melekat indah di tubuhnya. Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi saat dia mendapatkan telepon dadakan dari rumah sakit.


Lebih tepatnya teman kenalannya menghubungi dia sepagi ini karena hasil tes DNA sudah keluar. Tepat 12 hari dengan hari ini tes itu akhirnya bisa ia baca dan ia umumkan pada kekasih dan calon mertuanya. 


Reno tak bisa memakai hak miliknya. Meminta dokter untuk mempercepat hasil tes DNA keluar. Bagaimanapun untuk tes ini memang biasanya bisa keluar menunggu 2-4 minggu.


Tanpa mengindahkan penampilannya. Dengan hanya memakai sandal jepit dia segera memasuki mobilnya. Rambutnya yang awut-awutan sudah tak menjadi fokusnya.


Terpenting untuknya sekarang adalah bisa ke rumah sakit dengan cepat.


Suasana pagi tentu membuat kendaraan tak banyak yang berlalu lalang. Hanya butuh waktu lima belas menit akhirnya kendaraan Reno terparkir rapi di sana. Dia segera berlari dengan cepat menuju ruangan laboratorium dimana temannya menunggu.


"Gila. Aku menyetir seperti orang kesetanan dan sekarang berlari seperti atlet," gumamnya sambil berkacak pinggang dan mengatur nafasnya.


Tiba-tiba seorang pria memakai pakaian dokter mendekatinya.


"Ren!" 


"Yah. Gimana?" tanya Reno tak sabaran.


"Ini hasilnya." Pria itu menyerahkan sebuah amplop putih pada Reno.


Dengan tak sabar pria itu segera membuka amplop dan lipatan kertas itu. Matanya membulat penuh dengan air mata yang siap tumpah saat membaca deretan kalimat yang ada tertuang di sana. 


Hingga sebuah kata paling bawah menjadi bukti yang sangat ia tunggu selama 12 hari dan membuat tangannya terkepal kuat.


"Aku yakin kali ini pria brengsek itu akan menyesal seumur hidupnya." 


...🌴🌴🌴...


Di sebuah rumah terlihat dua orang paruh baya sedang berebut seorang anak yang sejak tadi hanya diam. 


Gadis itu terlihat begitu pasrah dengan hidupnya kali ini. Pandangannya kosong saat tangannya ditarik oleh sosok yang sangat ia harapkan kasih sayangnya. 


"Lepas! Mau kau apakan putriku!" teriak seorang perempuan paruh baya yang menarik tangan anaknya mencoba menahan.


"Lepaskan dia, Wanita Bodoh! Akan kujual gadis ini untuk membalas biaya yang selama ini aku keluarkan untuknya," serunya dengan kilat marah.


"Apa yang kau keluarkan untuk putriku, hah! Selama ini putriku sekolah dari uangku sendiri. Uangku bekerja dengan jerih payahku!" seru wanita itu tak mau kalah. 


Pria itu akhirnya melepas tarikan tangannya yang membuat dua wanita berbeda usia itu terjatuh di lantai.

__ADS_1


"Dasar merepotkan!" dengus pria tua itu dengan berkacak pinggang. "Kau lupa atau pura-pura lupa, Bodoh!" 


"Apa maksudmu!"


"Heee. Wanita tak tahu diuntung ya seperti kau ini!" sindir pria itu penuh jijik.


"Jangan berbelit. Pergi dari rumah kami!" 


"Aku akan pergi dengan membawa anakmu!" ujarnya menyeringai.


"Jangan mimpi!" 


"Dia harus membayar uang yang sudah keluargaku keluarkan untuk kelahirannya. Kau lahir dengan uang keluargaku!" 


Perasaan ibu anak satu itu mencelos. Dia memegang dadanya yang nyeri saat mendengar penjelasan mantan suaminya ini. 


Apa pria itu tak memiliki hati?


Setega itu dengan anak yang tak tahu apa-apa tentang semua ini.


Kelahirannya saja menjadi masalah untuk dirinya sendiri.


"Kau!" 


"Apa! Kau mengelak hee! Tidak ada yang bisa kau lakukan sekarang! Dia akan kubawa!" 


"Aku tak segan-segan untuk membunuhnya jika kau tak menurut, ******!" ancamnya penuh murka. "Ayo, Deeva!"


Adeeva seperti manusia tanpa jiwa. Dia bahkan tak menolak ketika tubuhnya ditarik dan dibawa. Seakan dia sudah pasrah akan apa yang terjadi pada dirinya setelah ini. 


Hingga saat tubuh ayah dan anak itu hampir sampai di pintu rumah. Seorang pria datang menghadang mereka dengan kilatan marah di matanya.


"Ohh pahlawan datang," ejek ayah Adeeva dengan pandangan menghina.


"Lepaskan tangan kekasihku dari tangan kotormu itu!" seru Reno menunjuk ayah Adeeva.


"Jangan ikut campur urusanku, Kau! Minggir dan biarkan aku membawa putriku sekarang." 


"Putrimu? Apa kau mengakuinya saat kau hanya butuh dia?" tanya Reno dengan tangan benar-benar gatal ingin memukulnya.


"Jangan banyak bicara. Minggir!" Ayah Adeeva menarik lengan Reno.


Namun, bukannya beranjak. Pria itu menahan tarikan itu hingga tubuhnya tetap berdiri kokoh di pintu utama. Dia tak akan membiarkan kekasihnya dibawa kemanapun. Dia tak akan memberikan celah pria tua ini membawa wanita yang sangat dicintainya itu. 


"Kau!" seru ayah Adeeva dengan marah. "Aku akan membunuhmu!" 


Pria tua itu melepaskan tangannya dari lengan Adeeva. Lalu terjadilah perkelahian antara ayah Adeeva dan Reno. Dua pria itu tak ada yang saling mengalah. Keduanya sama-sama saling memukul dengan brutal.


Hingga Reno yang sudah lelah. Langsung menarik tangan pria tua itu ke belakang dan menjegal kakinya hingga Ayah Adeeva tak bisa berkutik. 

__ADS_1


"Lepas!" 


"Aku akan melepasmu jika kau tak menyakiti kekasihku!"


"Dalam mimpimu!"


Reno menggelengkan kepalanya. Dia tak percaya jika ada seorang ayah yang seperti pria tua ini. Sosok ayah yang seharusnya mengasihi anaknya, memberikan kasih sayang dengan utuh malah tak mengakuinya.


"Apa kau tau sesuatu?" jeda Reno dengan sengaja. "Siapa Ayah Adeeva sebenarnya?"


"Aku tak peduli dia ayah siapa. Ayah Gigolo, ayah pengemis atau siapapun aku tak peduli!" teriak pria tua itu dengan berusaha terlepas dari lilitan tangan Reno. 


"Mulutmu memang harus ditampar oleh kenyataan!" 


"Apa maksudmu?" seru Ayah Adeeva menoleh ke arah Reno.


Sahabat Bara itu melepaskan lilitan tangannya hingga Ayah Adeeva terjatuh telungkup di lantai. Pria tua itu berusaha berdiri lalu dia menatap Reno yang sedang memegang amplop putih di tangannya.


"Aku berharap setelah ini kau tak menyesal dengan semua kata-kata busukmu itu, Ayah Brengsek!" umpat Reno sudah tak bisa menahan amarahnya.


Dia segera melempar amplop itu ke wajah Ayah Adeeva. Rasa hormat pada dirinya untuk calon mertuanya ini benar-benar tak ada. Rasa simpati untuknya pun sudah hilang. 


Reno hanya ingin menyelamatkan kekasihnya itu. Dia segera menghampiri Adeeva dan memeluknya dengan erat.


"Sayang. Ini aku," bisik Reno yang membuat Adeeva mulai tersadar akan ketidak pasrahannya.


Harum minyak wangi yang tercium hidungnya membuat ia mengenal siapa sosok pria yang memeluknya itu. Sosok yang selalu menguatkannya sekaligus melindunginya. 


"Terima kasih sudah melindungiku!" 


"Ayo kita pergi!" 


Reno segera membawa kekasih dan ibu kekasihnya keluar dari saja. Dia meninggalkan Ayah Adeeva yang terfokus pada surat di tangannya.


Kalimat tiap kalimat yang tertulis di kertas putih itu ia baca keseluruhan. Hingga di ujung kalimat sesuatu yang menghantam kenyataan membuatnya melepaskan kertas itu tanpa sadar. 


Matanya membulat penuh dengan pandangan kosong saat membaca satu fakta yang ia dapatkan. Fakta yang sangat menyakiti hatinya saat membayangkan apa yang sudah selama ini dia lakukan. 


Tersadar akan suara mesin mobil membuat Ayah Adeeva berbalik dan mencoba mengejar mobil milik Reno. Namun, pria muda itu tak menggubris sosok Ayah Adeeva lagi.


"Putriku! Adeeva, kau putri kandung Ayah."  


~Bersambung


Kalau sekarang baru nyesel, 'kan?


Hadeh dasarnya orang tua ngeyel ya begini. 


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2