Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kondisi Drop


__ADS_3


...Cinta pertamaku di dunia ini adalah sosok mama dan papa. Jika aku kehilangan salah satu dari mereka. Maka sama saja dengan lentera di hidupku menjadi meredup....


...~Azzelia Qaireen...


...🌴🌴🌴...


"Mama," lirih seorang gadis yang duduk sambil memegang tangan ibunya. 


Perempuan muda itu meneteskan air mata menatap keadaan wanita yang melahirkannya semakin melemah. Matanya begitu sembab karena terlalu banyak menangis.


"Mama harus sembuh," lirih Zelia dengan pelan. 


Dia meletakkan kepalanya di atas ranjang dengan tubuh duduk di lantai kamar. Tangannya menggenggam tangan mamanya sambil mengusapnya begitu pelan.


Tak lama, suara pintu kamar yang terbuka membuat gadis itu mendongak.


"Papa!" panggil Zelia dengan mata berbinar.


"Maafkan Papa yang meninggalkan kalian berdua," kata Papa Zelia penuh sesal.


Gadis itu menggeleng. Dia menghapus air matanya dengan kasar dan memaksakan senyuman.


"Papa pergi untuk bekerja. Jadi Zelia dan Mama pasti setia menunggu, Papa," ujarnya dengan yakin.


Pria yang masih berpakaian begitu resmi itu segera mendatangi sosok istrinya. Papa Zelia mencium pipi istrinya kemudian berbisik lirih di telinganya.


"Papa pulang, Ma," ujar Papa Zelia dengan pelan. "Apa Mama menunggu Papa?" 


Ajaib!


Mendengar suara Papa Zelia. Mata yang semula tertutup mulai bergerak terbuka. Walau penglihatannya buram. Namun, wanita tua itu mengangguk. 


"Makasih Papa udah mau pulang dengan selamat," balasnya dengan suara begitu pelan.


"Mama juga harus tepati janji, Mama. Mama harus sembuh," kata Papa Zelia penuh harap.


Terlihat Mama Zelia membuka dan menutup matanya. Pandangan perempuan itu mulai gelisah dengan nafas yang terdengar berat.


Situasi yang menakutkan ini membuat Zelia berteriak memanggil suster yang disewanya untuk mengecek kondisi mamanya di rumah. 


"Suster...suster!" teriak Zelia dengan linangan air mata.


Wanita yang berpakaian serba putih itu segera masuk ke dalam kamar orang tua Zelia. Dia segera meminta Zelia menghubungi ambulans sedangkan dirinya memasang tabung oksigen yang memang ada disana. 


"Jangan tinggalin Zelia, Ma. Zelia masih butuh, Mama!" kata Zelia memeluk mamanya.


Akhirnya suara ambulans mulai terdengar. Para perawat yang datang segera membawa tubuh perempuan tua yang lemah itu ke dalam mobil ambulans.

__ADS_1


Tak henti-hentinya air mata Zelia menetes saat melihat pintu ambulans mulai tertutup rapat.


"Saya akan mengikuti dari belakang," kata Papa Zelia dengan cepat.


"Papa, Mama, Pa!" cicit Zelia dalam pelukan papanya.


"Doakan Mama sehat, Sayang," ujar Papa Zelia dengan mengusap punggung putrinya. "Ayo kita ikuti, Mama." 


Zelia dan papanya segera memasuki mobil. Dengan cepat pria tua yang duduk di kursi kemudian mengikuti mobil dengan sirine yang menyala kencang.


Zelia hanya mampu mengusap wajahnya kasar. Matanya memandang kosong ke arah depan dimana ambulans yang membawa tubuh mamanya terlihat.


"Jangan ambil Mamaku, Tuhan. Aku belum bisa membahagiakannya." Doa Zelia dengan hati yang terasa sakit.


Akhirnya perjalanan menuju rumah sakit begitu cepat karena memang sirine ambulans terus dibunyikan. Zelia dan papanya segera turun dari kendaraan. Mereka mengikuti brankar Mama Zelia yang didorong oleh tiga orang perawat agar segera ditangani.


Air mata gadis itu terus menetes begitu deras. Dia menggelengkan kepalanya dengan pikiran buruk yang memenuhi otaknya.


Dia tak mau mamanya pergi! 


Dia belum siap jika mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya berdua.


Sungguh Zelia sangat menyayangi mamanya. Hubungan mereka yang dekat membuat Zelia selalu menceritakan apa yang dia rasakan pada wanita yang sudah melahirkannya. 


"Tenanglah, Sayang. Percayalah mama akan kembali sehat," kata Papa Zelia berusaha menenangkan.


Papa Zelia hanya mampu mendekap tubuh anaknya yang memberontak. Dia sangat tahu betul bagaimana perasaan putrinya saat ini. Ketakutan keduanya tentu sama-sama dirasakan.


Hanya bedanya, jika Papa Zelia berusaha kuat di depan putrinya karena ia tahu hanya mereka berdua lah yang saling menyemangati. Jika yang satu lemah, maka yang satunya harus mensupport.


Jika Zelia yang terpuruk. Maka Papa Zelia berusaha kuat dan menerima bahwa keadaan istrinya kian melemah. 


"Jangan jadikan permintaan mamamu sebagai beban, Nak. Jangan!" kata Papa Zelia dengan suara seraknya.


Pria tua itu menahan tangisnya. Kondisi istrinya yang mengkhawatirkan, lalu ditambah keadaan anaknya yang sama-sama kacau.


"Mama hanya mau yang terbaik buat, Lia. Mama sama Papa hanya ingin Lia bahagia." 


Zelia melepaskan pelukannya. Dia mendongak menatap wajah tua pria yang menjadi cinta pertamanya di dunia ini. Pria yang sangat menyayanginya dan tak pernah mengatakan hal kasar sedikitpun. 


Pria yang begitu mendidiknya dengan penuh kasih sayang serta selalu mencintai dirinya dan mamanya dengan baik. 


"Makasih, Pa. Makasih untuk waktu yang selalu Papa berikan buat Lia." 


"Tak ada kata terima kasih untuk setiap waktu yang Papa berikan. Kamu dan mamamu adalah satu tujuan hidup papa di dunia ini. Melihat kalian bahagia, maka Papa juga jauh ikut bahagia." 


Pembicaraan mereka berakhir dengan ponsel Zelia yang berdering. Wanita itu menghapus air matanya lalu mengambil benda pipih yang ia letakkan di saku celananya.


Nama sahabatnya tertera jelas di layar ponselnya yang hidup. 

__ADS_1


Ternyata takdir memang tak ada yang tahu. Ketika Zelia berniat menghubungi sahabatnya. Ternyata ikatan batin mereka begitu kuat. Hingga akhirnya gadis itu segera mengangkat panggilan dari Almeera karena tak mau wanita itu menunggu terlalu lama.


...🌴🌴🌴...


Di tempat lain.


Gelas yang dipegangnya tanpa sadar terlepas hingga jatuh berkeping-keping. Kabar yang dia dengar dari telepon membuat jantungnya berdegup kencang.


Tubuhnya begitu kaku dengan mata membelalak tak percaya. Dia tak bisa mengatakan apapun. Sampai tubuhnya digoyang oleh sang suami hingga membuatnya sadar dari keterkejutannya.


"Kamu kenapa, Meera! Ya Allah!" pekik seorang pria dengan menurunkan tubuhnya lalu menjauhkan pecahan kaca yang menempel di kaki sang istri.


"Kamu sedang apa? Kenapa gelas ini bisa jatuh?" tanya Bara dengan khawatir.


Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Almeera. Hingga hal itu semakin membuat ayah dari calon empat anak segera beranjak berdiri.


"Kenapa?" tanya Bara lebih lembut.


"Mamanya Zelia, Mas. Dia..dia…" Almeera tergagap. Dia mengusap air matanya yang mengalir tanpa pamit. 


"Kenapa, hmm?" 


Bara benar-benar mengambil suara paling rendah. Dia tak mau istrinya merasa dimarahi hingga membuatnya tetap diam.


Jujur Papa Bia itu sangat takut saat mendengar pecahan gelas yang sangat jelas ia dengar. Bahkan tanpa memikirkan pekerjaannya, dia meletakkan laptopnya di atas meja lalu berlari ke sumber suara. 


"Mas…" ucap Almeera yang berusaha menerima kabar itu dengan lapang dada.


"Tenang, Sayang. Ingat! Ada anak kita disini," ujar Bara mencoba mengingatkan istrinya.


Almeera menghela nafas berat. Dia menatap suaminya dengan intens dengan air mata yang terus mengalir.  


"Mamanya Zelia drop, Mas. Dia dibawa ke rumah sakit." 


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," balas Bara yang sama-sama terkejut. 


"Ayo kita menjenguknya, Mas. Ayo!" 


"Kamu bersiaplah, Sayang. Ganti pakaian!" pinta Bara mengusap pipi sang istri yang basah karena air mata.


"Iya. Jangan lupa hubungi Kak Jim dan minta dia pulang!" 


~Bersambung


Bab ini bikin emosi tingkat dewa. Nangis, takut jadi satu. huftt.


Maaf baru update yah. Ayahku dan anakku dari tadi siang sakit. Barusan masih anter mereka periksa. Mangkanya updatenya telat.


Jangan lupa tekan like, komen dan vote. Biar author jadi semangat.

__ADS_1


__ADS_2