Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Malaikat Kecil


__ADS_3


...Aku tak menyangka jika hadiah dari Tuhan telah berada di antara kami berdua....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


Almeera benar-benar semakin dibuat penasaran dengan tubuhnya. Dia bolak balik ke kamar mandi untuk buang air sekaligus mengecek pembalutnya. Ya, darah itu benar-benar tak keluar lagi. Pembalutnya masih bersih seakan darah yang keluar hanya tadi di ****** ********.


Kekalutan yang terjadi pada Almeera membuat wanita itu tak sadar jika Bara sudah pulang. Pria itu memasuki kamarnya dan tak mendapati sosok istrinya segera meletakkan tasnya di atas sofa. 


Tanpa kata, Bara berjalan menuju walk in closeth. Namun, istrinya tak ada di sana. Akhirnya Bara mengetuk pintu kamar mandi lalu membukanya saat tak mendapatkan jawaban.


"Sayang." Bara menyentuh pundak istrinya yang membuat Almeera berjingkat kaget.


"Ya Allah, Mas. Ngagetin banget sih!" ujar Almeera memukul lengan suaminya.


"Kamu ngelamun sih. Sampai gak sadar Mas panggil-panggil," ujar Bara lalu menatap tangan istrinya yang sedang memegang ****** *****.


"Kenapa?" tanya Bara dengan khawatir.


"Aku tadi pagi bilang, 'kan? Kalau Meera lagi halangan. Mangkanya Mas siapin pembalut."


"Iya, terus?" tanya Bara dengan tak sabar.


"Sampai sore ini. Darahnya gak keluar lagi, Mas. Seakan darah itu cuma keluar tadi itu di celana dalamku," kata Almeera menunjukkan pembalut yang ia pakai. "Aku udah telat dua minggu. Seharusnya hari ini lagi deres-deresnya." 


"Mungkin belum waktunya aja, Sayang. Kamu juga pernah bilang, 'kan? Kalau hari keduamu baru darahnya keluar deras," kata Bara menirukan ucapan istrinya. 


"Iya sih. Tapi ini gak seperti biasanya," ujar Almeera penuh keraguan.


"Apa kita periksa aja?" tawar Bara yang juga khawatirnya pada sang istri.


"Apa Mas gak repot?" 


Mata Bara menajam. Dia menatap istrinya seakan bingung dengan pertanyaan Meera barusan. 


"Gak ada kata repot untuk mengantar istri sendiri, Sayang. Jangan pernah berpikiran seperti itu sama, Mas. Kamu paham!" 


"Iya, Mas. Maaf Meera salah. Meera cuma gak mau pekerjaan Mas terganggu," balas Meera menjelaskan. "Apa Mas udah pulang?" 


Akhirnya Almeera kembali memakai celana dan pembalutnya itu. Dia takut jika darahnya tiba-tiba saja keluar.


"Sudah, Sayang. Mas kan sudah janji bakalan pulang cepet," sahut Bara sambil mendudukkan dirinya di sofa kamar.


Almeera menatap jam dinding di kamarnya. Jarum jam masih menunjukkan pukul tiga sore. Yang menandakan bahwa suaminya benar-benar menepati perkataannya.

__ADS_1


"Kamu ganti baju aja dulu, Sayang. Ayo kita periksa. Mas jadi khawatir," ajak Bara sambil mengelus kepala istrinya. 


Bukannya mendengarkan perkataan suaminya. Mata Almeera malah tertuju pada bibir Bara. Entah kenapa ketika melihat Bara berbicara. Bibir itu terkesan seksi dan candu untuknya. Hingga membuat ibu dua anak itu segera mencium Bara tanpa aba-aba.


Ayah dua anak itu yang mendapatkan serangan fajar pun sama terkejutnya. Dia tak menyangka istrinya menciumnya terlebih dahulu.


"Sayang!" gumam Bara tatkala tangan Almeera berhasil mengeluarkan naga miliknya dari sangkar. "Kamu…" 


Bara menahan nafasnya. Dia sampai membelalakkan matanya tatkala dengan mudahnya Almeera mengelus miliknya dengan kulitnya yang halus.


Ayah dua anak itu benar-benar dibuat melayang. Apalagi ketika istrinya dengan pintar memijat miliknya menggunakan tangan. Namun, rasanya ada yang kurang. Bara ingin sekali merasuki lembah basahnya itu tapi dia ingat bahwa dia harus membawa istrinya periksa.


"Sayang cukup! Kamu harus periksa dulu," kata Bara yang menghentikan kegiatan tangan Almeera.


"Aku masih pengen, Mas," ujarnya merengek.


Bara menelan ludahnya saat Almeera mulai menjulurkan lidahnya ke arah sang naga. Pria itu menahan nafasnya saat bibir basah itu mulai melahap naga tegak miliknya.


Almeera benar-benar memanjakan naga suaminya. Bahkan Bara sampai pasrah kepada istrinya apa saja yang mau wanita itu lakukan. 


"Lebih cepat, Sayang," kata Bara dengan suara serak saat dirinya mulai merasakan sesuatu hendak melesak dari naganya.


Almeera benar-benar memaju mundurkan kepalanya. Dia berputar dan menggerakkan lidahnya dengan lihai. Entah kenapa ia ingin sekali melakukan ini bersama suaminya.


Tubuhnya seakan menjadi candu ketika bersentuhan dengan Bara. Hingga saat mereka berdekatan dan sedang berdua. Mereka selalu ingin melakukan hal-hal intim untuk menghangat keduanya.


"Sayang!" jerit Bara ketika dia berhasil meledak dengan hebat.


"Sudah, Sayang?" tanya Bara yang menanyakan keinginan istrinya.


"Aku ingin Mas ada di bukit kembarku," ujar Almeera meminta.


Bara segera menarik pinggang istrinya hingga duduk di atas pangkuan menghadapnya. Kaki Almeera terbuka memang dan dengan lihai tangan Bara melepas pakaian istrinya itu.


"Kamu mau ini hmm?" tanya Bara mulai meremas bukit itu.


Pria itu menatap lapar benda kesayangannya. Menatap dengan gairah yang sama hingga akhirnya bibir Bara mulai haus seperti bayi.


Dengan kuat pria itu menyesapnya. Membuat Almeera blingsatan dengan tubuh yang bergerak. Seakan menggesekkan naga dan lembah dari luarnya saja.


Bara benar-benar menyesap dengan kuat. Memakan dua puncak bukit itu dengan semangat dan meninggalkan tanda merah di sana. 


Almeera bahkan sampai memaju mundurkan lembahnya seakan mereka sedang berpacu cepat. Hingga saat dirinya hampir sampai. Akhirnya suara laknat miliknya keluar bersamaan dengan ledakan hebat di inti tubuhnya. 


"Puas, Sayang?" tanya Bara mengelus punggung istrinya yang polos. 


"Iya, Mas," sahut Meera dengan wajah lelahnya.

__ADS_1


"Ayo kita mandi bersama dan segera ke dokter," kata Bara menggendong Almeera seperti koala dan keduanya mandi bersama.


...🌴🌴🌴...


"Bagaimana kalau ternyata aku ada penyakit, Mas?" tanya Almeera saat mereka berdua mengantri di depan poli kandungan.


"Jangan berbicara yang buruk, Sayang. Kamu baik-baik saja dan aku jamin itu!" ujar Bara yang tak suka perkataan istrinya.


"Aku hanya takut saja," lirih Almeera dengan suara seraknya.


Bara hanya bisa menghela nafas pelan. Dia menarik istrinya ke dalam pelukan dan tak mengindahkan tatapan semua orang yang tertuju kepada mereka berdua. 


"Apapun hasilnya. Kamu harus tau bahwa aku akan selalu berada di sampingmu. Kamu mengerti?" 


"Iya, Mas." 


"Nyonya Gibran Bara Alkahfi?" 


"Saya, Dok," sahut Meera dengan cepat.


Akhirnya sepasang suami istri memasuki ruangan kandungan tempat mereka akan berpisah.


"Apa ada keluhan, Nyonya Kahfi?" tanya Dokter Kandungan yang sudah menjadi langganan Almeera sejak mengandung Abra. 


Ibu dua anak itu akhirnya menceritakan kondisinya. Tak ada satu hal pun yang ditutupi hingga membuat dokter mengetahui kondisinya.


"Silahkan berbaring. Saya akan memeriksanya," kata Dokter dengan ramah. 


Akhirnya Almeera mulai membaringkan tubuhnya. Suster membantu menutupi bagian bawah Almeera dengan selimut karena perempuan itu memang mengenakan gamis. Mereka akan melakukan usg untuk melihat apakah dugaan dokter benar atau salah.


"Apa ada penyakit serius, Dok?" tanya Almeera saat dokter mulai menggerakkan alat usg di atas perutnya.


Bara juga tak kalah khawatirnya. Pria itu menunggu istrinya tepat di samping Almeera sambil memegang tangannya.


"Kalian lihat titik itu," tunjuk Dokter pada sebuah titik yang terlihat di layar monitor.


"Itu…" jeda Bara dengan pandangan terbelalak.


Dia menatap dokter dan istrinya bergantian seakan tau maksud dari titik itu.


"Apa...apa…" Bara merasa kesusahan untuk mengatakan hal membahagiakan itu. 


Hingga kepala Dokter itu mengangguk dengan senyuman lebar.


"Selamat atas kehamilan ketiga Anda, Nyonya Kahfi. Titik itu adalah calon buah hati kalian." 


~Bersambung

__ADS_1


Wahhh emak-emak yang komen bener-bener pinter. Tau aja kalau Mbak Meera lagi hamidun.


Ayo bagi rasa bahagia dengan like, komen dan vote yah. Biar author makin semangat namatin woyy!


__ADS_2