
...Aku tak bisa menyalahkan takdir. Meski sangat menyakitkan aku harus mampu menjalaninya. ...
...~Gibran Bara alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Seorang pria segera turun dengan tergesa-gesa. Dia sudah mengabaikan segala barang bawaannya. Dalam benaknya sekarang hanya ada bayang-bayang istri dan anak kembarnya.
Bara benar-benar takut. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa menjaga keduanya. Pekerjaannya yang banyak membuatnya harus meninggalkan istri yang seharusnya selalu ada di sampingnya.
Dan kini, dia sangat amat menyesal!!
Setelah bertanya pada administrasi, dimana ruangan pasien kecelakaan. Bara segera berlari menuju ruang operasi. Kedua tangannya terkepal kuat karena menahan tubuhnya yang bergetar.
Lututnya semakin lemas saat dia melihat sosok keluarganya yang berdiri di depan sana. Dia mengabaikan penampilannya yang acak-acakan. Yang terpenting sekarang ia harus bertemu almeera. Bertemu kekasih hatinya.
“Daddy. gimana istriku?” tanya Bara saat dia baru saja sampai di depan ruang operasi.
Nafasnya masih tak beraturan. Dia tak peduli jika tubuhnya lelah dan penat. Kepalanya bahkan terasa pusing karena dia belum makan.
“Almeera masih berada di dalam, Nak,” sahut Papa Darren pada menantunya.
“Apa dia baik-baik saja? lalu anak kami juga, bagaimana?” tanya Bara dengan cepat.
“Adik sudah lahir, Pa. tapi…” jeda Abra pada papanya.
Remaja itu berhadapan dengan sosok papanya. Bisa keduanya lihat jika di mata ayah dan anak itu saling memendam rasa kekhawatiran.
Khawatir pada sosok perempuan yang sama berarti untuk kehidupan mereka. Sosok perempuan yang sangat mereka sayangi dan cintai.
Sosok yang tak akan tergantikan oleh siapapun!
“Katakan, Abra! tapi apa?” tanya Bara tak sabaran.
“Kondisi Mama kritis. Dia juga mengalami pendarahan.”
Jantung Bara mencelos. Tubuh pria itu oleng dan hampir jatuh jika Papa Darren tak menangkapnya. Bara segera didudukkan di kursi tunggu dan punggungnya diusap oleh Papa Darren.
“Kuat, Nak! Anak-anakmu membutuhkanmu, sekarang,” kata Papa Darren pada menantunya.
Tatapan Bara begitu kosong. Namun, dia perlahan menatap wajah mertuanya. Kepalanya menggeleng seakan tak menyetujui perkataan Papa Darren.
__ADS_1
“Anak–anak membutuhkanku dan Almeera, Dad. Bukan Bara saja!” katanya menegaskan.
Zelia dan Adeeva hanya mampu menutup mulutnya karena tak kuasa melihat kondisi Bara. Pria itu seperti tak terima dengan kondisi istrinya sekarang.
Tak lama muncullah sosok Reno yang baru saja datang. Dia langsung memeluk tubuh istri yang sangat dirindukan. Pria itu juga sangat khawatir dengan istri bos sekaligus sahabatnya. Mangkanya dia langsung kesini setelah membereskan semuanya.
“Siapa ayah dari si kembar?” tanya seorang suster yang mendekati mereka.
“Saya, Sus,” jawab Bara dengan cepat.
“Mari ikut saya, Pak. Anak anda harus diadzani.”
Akhirnya Bara segera mengikuti langkah suster tersebut. Jantungnya sama berdegup kencang karena terlalu bahagia dengan kehadiran mereka. Namun, kebahagiaan itu masih terselimuti kesedihan karena kondisi Almeera.
"Ini anak-anak anda, Pak,” kata suster mengantarkan Bara ke tempat si kembar berada.
Mata pria it berkaca-kaca tatkala melihat duplikat dirinya dan Almeera ada disana. Bagaimana sosok mungil yang sangat mereka nanti akhirnya sudah terlahir di dunia.
Dengan pelan, Bara segera menerima tubuh anaknya. Dia membawanya duduk di kursi yang ada disana dengan air mata yang mulai mengalir.
Bara segera menarik nafasnya begitu dalam lalu mulai mengadzani anaknya itu. Suaranya terdengar serak dengan air mata yang terus mengalir. Bayang-bayang wajah istrinya begitu jelas terlihat.
Dia memeluk anaknya dengan erat sambil berusaha mengatur emosinya yang tak stabil.
Bukan ia tak terima akan kelahiran si kembar. Namun, wajahnya yang mengingatkan pada Almeera membuatnya ingin segera kembali ke ruang operasi.
Setelah selesai Diadzani, Bara segera mengembalikan anaknya, dia berhenti di dekat box bayi itu dan menatap dua malaikat kecilnya ini.
“Doakan Mama kalian ya, twins. Mama sedang berjuang untuk hidup,” kata Bara sebelum meninggalkan kedua anaknya.
Pria itu mulai berjalan dengan gontai. Pandanganya terlihat begitu pasrah dan menyesal. Bahkan berkali-kali Bara menabrak orang tanpa sengaja yang membuatnya dimaki dengan keras.
“Kalau jalan pake mata, Pak! Jangan melamun.”
Namun, Bara yang abai hanya diam dan meneruskan langkahnya. Dia tak peduli cacian semua orang yang terpenting saat ini adalah sosok istrinya.
Entah kenapa pikirannya saat ini mulai resah. Hingga saat dia berbelok, Bara bisa melihat mertuanya menangis.
Jantung bara mulai tak karuan. Dia mempercepat langkahnya hingga sebuah kalimat yang diucapkan oleh ibu mertuanya membuatnya seakan dejavu.
“Putriku gak mungkin meninggal, ‘kan, Dok? gak mungkin, ‘kan?”
Bara menggelengkan kepalanya. Dia tak percaya jika istrinya akan pergi secepat ini. Bara segera menerobos kerumunan semua orang dan berlari ke dalam ruangan operasi.
__ADS_1
“Jangan dilepas!” teriak Bara dengan amarah.
Pria itu segera menuju ke arah istrinya yang terbaring dengan wajah pucat yang membuat ketakutan bara semakin mendalam.
“Jangan tinggalkan aku, Sayang. Aku dan anak-anak sangat membutuhkanmu,” kata Bara dengan air mata menetes.
Pria itu menangkup wajah istrinya. Memberikan kecupan singkat di dahi dan seluruh wajah almeera dengan air mata yang membanjiri wajah cantiknya.
“Kamu gak bisa pergi tanpa aku, Ra. Kamu gak bisa pergi seperti ini,” kata Bara dengan mencengkram tangan istrinya.
Bara benar-benar hilang kendali. Pria itu menekan dada istrinya dengan kuat. Bahkan memberikan nafas buatan tanpa kenal lelah.
Penampakan ini tentu membuat semua orang yang disana meneteskan air mata. Mereka sangat bisa melihat cinta yang begitu besar yang dimiliki oleh Bara.
Pria itu bahkan membisikkan kalimat yang menurutnya bisa membangkitkan semangat dalam diri istrinya. Bara masih tak percaya istrinya pergi secepat ini.
Ini tak adil untuknya. Tak adil sama sekali.
Zelia dan Adeeva hanya bisa menangis hebat. Keduanya berpelukan mencoba saling menguatkan. Mereka tak mengira sahabatnya akan pergi secepat ini.
Kenangan dengan almeera tentu terlintas di wajah mereka. Bagaimana baiknya wanita itu. Bagaimana Almeera yang selalu ada untuk mereka.
Kesedihan juga mendera sepasang paruh baya itu. Mereka saling berpelukan dengan tangisan wanita paruh baya yang tak percaya akan kepergian putrinya.
“Almeera masih hidup, ‘kan, Pa? Dia gak bakal ninggalin kita ‘kan?”
Tak lama Bara mulai menatap suster yang ada disana. Dia meminta kedua bayinya dibawa kesini untuk didekatkan dengan sosok istrinya.
“Maaf, Pak. Tolong ikhlaskan istri, Anda. Istri anda sudah…” kata salah satu Dokter yang menangani bagian kepala Almeera.
“Jangan katakan kata laknat itu dari mulutmu. Kau bukan tuhan. Istriku belum meninggal” teriak Bara dengan wajah memerah.
“Kumohon, Suster. Bawa putra putriku kesini.”
Dokter kandungan yang membantu Almeera melahirkan akhirnya angkat bicara. Dia meminta perawatnya mengambil kedua bayi Bara dan Almeera untuk dibawa kesini.
“Bangun, Sayang. Sebentar lagi kamu akan mendengar bagaimana anak-anak kita akan menangis jika kamu pergi meninggalkan mereka.”
~Bersambung
Aku ngetik ini sambil mewek ya Allah.. Maafkan aku hiks.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar aku semangat ngetiknya.
__ADS_1