Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Keputusan Almeera


__ADS_3


...Jangankan bertemu dia lagi. Bahkan hal tersulit saja bisa aku lewati dengan mudah. ...


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


"Aku akan memberitahu dimana Almeera dan dua anakmu berada, tapi dengan syarat…" jeda Jonathan yang membuat kepala Bara mendongak. "CERAIKAN NARUMI SEKARANG!"


"Kamu gila!" seru Bara tak percaya.


"Ya aku gila. Bahkan aku bisa lebih gila jika menyangkut kebahagiaan adikku," seru Jonathan dengan suara lantangnya. 


Tak ada jawaban dari mulut Bara. Pria itu seakan tak tahu harus memutuskan apa. Saat ini dia sedang bimbang dan hatinya sedang khawatir dengan kondisi istri serta anaknya. Hal itu tentu membuatnya tak bisa berpikiran jernih. 


"Hanya kali ini, Kak. Tolong aku!" mohon Bara lagi dengan wajah kusut.


"Jika kamu tak bisa maka pergilah! Kedatanganmu disini, tidak diharapkan." 


...🌴🌴🌴...


Suara pecahan gelas terdengar santer di dekat kaki seorang Almeera. Tubuh wanita itu gemetaran dengan air mata mulai bertetesan ketika mendapatkan kabar dari papanya. Tubuhnya hampir oleng karena berita mengejutkan itu. Namun, bantuan pelayan di rumah Almeera yang baru, membuat tubuhnya ditopang oleh mereka. 


"Ibu baik-baik saja?" tanya mereka khawatir.


Salah satu dari dua wanita itu menyodorkan segelas air putih agar Almeera sedikit lebih tenang. Wajah wanita itu memucat dan ketakutan. Hingga setengah air gelas kandas dan masuk dalam perutnya. Almeera mulai menenangkan pikirannya.


Saat ini dirinya harus ke rumah sakit. Jika keadannya begini, sama aja membuatnya celaka. 


"Aku harus tenang jika ingin sampai di rumah sakit dengan selamat," gumamnya pelan dengan menghapus air matanya.


"Mbak jagain rumah yah. Saya mau ke rumah sakit," kata Almeera berpamitan pada dua pelayannya.


Perjalanan yang biasanya bisa ditempuh selama empat puluh lima menit akhirnya mulai molor. Keadaan jalanan yang padat, membuat istri dari Bara kesulitan untuk menaikkan laju mobilnya. Kekhawatiran itu semakin ada tatkala pesan yang dikirim pada papanya tak ada balasan.


"Tolong selamatkan putriku, Tuhan. Aku akan mengabulkan keinginan dia," ucap Almeera pada akhirnya.


Dia tak mau egois dan sampai membuat anaknya celaka. Dirinya mulai sadar jika ia tak berhak menghalangi pertemuan antara anak dan ayah. Mungkin hatinya masih merasa sakit tapi keadaan anaknya lebih penting dari segalanya.


Bukan perihal mengalah dan memendam kesakitan. Bukan perihal membawa anaknya main dan melupakan segalanya. Ini perihal anaknya yang merindukan sosok papa kandungnya. Hubungan mereka memang erat dan hal itu membuat ketergantungan antara satu dengan yang lainnya.


Setelah melewati kemacetan yang tinggi. Akhirnya mobil Almeera memasuki pelataran parkir rumah sakit. Kakinya lekas berlari dengan kencang menuju ruangan dimana anaknya berada. Di dalam otaknya saat ini, dia hanya mengingat kabar yang diberikan Darren padanya.

__ADS_1


"Bia panasnya semakin tinggi dan kejang-kejang." 


Beberapa kata yang dia dengar di telinganya spontan membuat tubuhnya mematung dan terkejut. Dampak yang dia lakukan bisa sebesar itu untuk anak perempuannya. 


"Gimana, Pa?" tanya Almeera dengan nafas memburu.


Dia melihat semua keluarganya ada di depan ruangan Bia. Mereka bahkan terlihat begitu khawatir pada kondisi anak kedua pasangan Bara dan Almeera.


"Dokter masih ada di dalam, Nak," kata Mama Tari sambil memeluk putrinya.


"Maafin Meera, Ma. Meera janji gak mau egois lagi. Meera bakalan nemuin Mas Bara sama Bia," kata Almeera dengan isak tangis yang terdengar.


"Kamu yakin?" tanya Mama Tari tak percaya.


Orang tua Almeera benar-benar terkejut dengan perkataan anaknya. Mereka tak menyangka jika putrinya berbesar hati dan kembali berjuang untuk cucunya.


Almeera mengangguk, "Aku gak mau menyesal, Ma. Hatiku bisa aku tutupi dengan baik tapi jika anakku sampai kenapa-napa. Rasa penyesalan akan terus merayap di hati Meera." 


Mama Tari mengangguk. Dia mencium dahi putrinya dengan lembut dan begitu kagum padanya. Sejak dulu, Meera selalu kuat. Bahkan wanita itu begitu mandiri dan tak mau merepotkan orang tuanya. Apalagi jika ada masalah, anaknya itu lebih sering memendamnya sendiri daripada menceritakan pada mereka.


"Mama bangga sama, Meera. Mama yakin lambat laun hati Meera akan semakin tangguh." 


Akhirnya setelah menunggu hampir setengah jam. Para dokter dan perawat mulai keluar dari ruangan. Spontan keluarga Bia langsung mendekat dan mencerca banyak pertanyaan yang ada dalam pikirannya. 


"Kami sudah berusaha, Dokter."


"Lakukan apa yang diminta pasien agar dia cepat sembuh. Sedari tadi saya tak henti-hentinya mendengar dia memanggil papanya." 


Lagi-lagi Almeera dipojokkan. Namun, kali ini dirinya lebih kuat. Ia tak merasa sakit hati atas ucapan sang dokter. Dirinya mulai memahami semuanya. Setelah kepergian pria bersneli putih itu, semua keluarga mulai masuk.


Mereka berjalan menuju ranjang dan melihat sosok Bia yang diberikan alat pernapasan di hidungnya. Keadaan putrinya semakin buruk dan hal itu membuat Almeera takut jika sesuatu hal terjadi pada putrinya.


"Aku akan menghubungi Mas Bara, Pa," kata Almeera dengan yakin.


"Sekarang?" tanya Darren dengan serius.


"Iya. Semakin aku menunda maka nyawa Bia akan terancam," lirihnya menatap mata papa dan mamanya.


"Kamu kuat, Nak. Kamu harus yakin disini ada Mama dan Papa yang selalu ada buat kamu." 


Setelah mendapatkan kekuatannya. Almeera berjalan keluar dari kamar rawat Bia. Dia mendudukkan dirinya disana dan mengambil ponsel yang ia letakkan di dalam tas. Tekadnya sudah bulat dan dirinya tak akan mundur.


Dia segera menggeser layar hidup itu dan mencari nama yang sangat ditunggu kehadirannya oleh Bia. Sebelum menekan tombol panggil, Almeera menarik nafasnya begitu dalam dan dihembuskan dengan kasar.

__ADS_1


"Kamu bisa, Ra. Yang lebih sulit saja kamu selalu bisa. Apalagi hanya bertemu karena keadaan Bia." 


Akhirnya jari itu mulai menekan panggilan. Nada mulai terdengar di telinga Almeera. Baru saja deringan pertama terdengar, dari seberang sana panggilan itu langsung diangkatnya. 


"Halo, Meera. Meera, Sayang. Kamu dimana? Kamu pergi kemana sekarang? Aku akan menjemputmu," kata Bara dari seberang telepon dengan tak sabaran. 


Almeera menghela nafas berat. Jika dulu, perhatian yang Bara curahkan merasa seperti dia adalah wanita satu-satunya yang dicintai. Namun, sekarang perkataan itu hanya menjadi angin lalu yang tak berarti baginya.


"Kamu dimana?" tanya Almeera to the point.


"Aku?" tanya balik Bara. 


Almeera bisa melihat nada keraguan dari mulut suaminya itu dan dirinya tahu ada dimana Bara saat ini.


"Rumah Narumi?" 


"Iya," sahut Bara dengan pelan.


Aku akan buat Narumi sadar, bahwa kamu lebih sayang Bia dan aku daripada dia, gumam Almeera dalam hati.


"Datanglah ke rumah sakit, SEKARANG!" ucap Almeera dengan suara penuh penekanan.


"Rumah sakit?" ulang Bara dengan nada khawatir. "Siapa yang sakit?" 


"Bia." 


"Rumah sakit mana?"


"Aku akan mengirimkan alamatnya melalui pesan," seru Almeera dengan cepat.


"Oke aku akan…" 


"Kalau kamu gak datang sekarang, selamanya kamu gak akan melihat aku dan anak-anak." 


~Bersambung


Woo Mbak Meera buat uler kepanasan, haha. Menurut kalian, Bara langsung ke rumah sakit atau tetep di rumah si uler?


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author makin semangat ngetiknya.


Jangan lupa follow instagram aku dan masuk grup whatshaap


__ADS_1


__ADS_2