Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Bertetangga


__ADS_3


...Tak bertemu setiap hari saja, hatiku tak aman. Apalagi jika harus bertetangga, sepertinya dokter jantung akan pindah di rumahku. ...


...~Adeeva Khumairah...


...🌴🌴🌴...


Kedatangan Adeeva dan Reno tentu membuat Ibu Adeeva beranjak berdiri. Dia sejak tadi menunggu anaknya yang tiba-tiba menghilang tanpa pamit.


"Ibu kenapa disini?" tanya Adeeva sambil memeluk ibunya yang ketakutan.


"Ibu nyariin kamu, Va. Kamu dari mana?" tanya Ibu Adeeva melepaskan pelukannya.


"Maaf, Bu. Deeva…" 


"Adeeva saya ajak untuk membeli roti, Tante. Maaf, saya tak pamit kepada Tante saat membawanya," kata Reno berjalan mendekat dan mencium punggung tangan wanita paruh baya di depannya ini. 


"Roti?" ulang Ibu Adeeva sambil menatap rentengan yang ada di tangan teman kerja putrinya.


"Ini buat, Tante," kata Reno memberikan kantong plastik berisi satu kotak berlabel toko roti.


"Eh gak perlu repot-repot, Nak Reno. Tante hanya khawatir sama Adeeva tadi. Mangkanya Tante nungguin dia disini," kata Ibu Adeeva mencoba menjelaskan karena takut Reno tersinggung. 


"Tidak apa-apa, Tante. Reno juga sadar kalau salah, asal bawa anak orang." 


"Yang penting dikembalikan tanpa lecet mah, gapapa. Ya, 'kan, Tante?" celetuk Almeera sambil memeluk ibu sahabatnya itu. 


"Kamu kira aku barang?" seru Adeeva memukul lengan sahabatnya. 


Reno dan Ibu Adeeva yang melihat pertengkaran dua sahabat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Walau keduanya sudah tak lagi muda, tapi pertemanan mereka selalu tetap muda. 


Seakan ketiganya benar-benar menolak tua! 


Akhirnya mereka segera masuk ke dalam rumah. Saat Almeera mengajak makan malam, Adeeva dan Reno menolak karena sudah kenyang. Akhirnya hanya Ibu Adeeva yang ikut Almeera ke meja makan menyusul yang lain.


Sedangkan Adeeva pergi ke kamar untuk membersihkan dirinya. Saat tangannya baru saja meletakkan tas yang menggantung di tubuhnya. Sebuah bunyi pesan membuatnya segera merogoh tasnya untuk mengambil benda pipih elektronik itu. 


Sebuah nomor tak dikenal membuat Adeeva segera membukanya.


+6285235××××××


Hai, Kak Deeva. Ini nomorku Fayola. Senang berjumpa denganmu lagi. Semoga ada waktu untuk bisa bersambung cerita.


Sudut bibir Adeeva melengkung ke atas. Namun, pikirannya kembali terusik saat bayang-bayang Fayola dan Manggala memenuhi kepalanya.


Adeeva menggeleng. Dia tak boleh suudzon pada orang. Berpikiran buruk tanpa bukti jatuhnya fitnah. 


"Aku tak berhak menilai seseorang hanya karena melihatnya saja tanpa ikut serta di dalamnya," ucapnya pada dirinya sendiri. 


Tak mau semakin menuduh Fayola. Adeeva segera berlalu menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum berkumpul bersama ibu dan teman-temannya.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


Saat Adeeva melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Terlihat disana keluarga Almeera berkumpul di tambah ada Ibunya dan Reno. 


Suara canda tawa tentu terdengar begitu jelas. Melihat pemandangan seperti ini, ada perasaan iri dan ingin. Dia iri melihat keluarga sahabatnya begitu beruntung. Adeeva juga ingin memiliki keluarga yang hangat, saling menjaga dan mengerti.  


Namun, kembali lagi, semua yang terjadi padanya sudah takdir dari Tuhan. Dimana dia dilahirkan, siapa orangnya, jodoh dan kematian semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani dan pasrah. 


"Assalamualaikum," salam Adeeva saat dirinya mulai sampai di ruang tamu lalu ikut mendudukkan dirinya di atas karpet yang digelar di lantai.


"Waalaikumsalam," sahut semua orang dengan serempak.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Mama Tari saat baru bisa menyapa sahabat putrinya.


"Baik, Tante."


"Alhamdulillah." Mama Tari mengangguk. 


Dia mengelus pundak sahabat putrinya dan tersenyum. 


"Yang sabar, Nak. Ujian itu datangnya dari siapapun dan kapanpun," ujar Mama Tari dengan pelan agar tak mengganggu pembicaraan para lelaki di sana. "Tak melihat itu keluarga, sahabat maupun teman. Bisa dari siapapun ujian itu tiba pada kita." 


"Iya, Tante. Adeeva sudah menerima semuanya. Walau terkadang yah, kalau lagi inget sakitnya banget." 


"Tante, tau," kata Mama Tari dengan lembut. "Kalau lagi sedih, nangis aja. Gak perlu ditahan!"


"Gak semua orang cengeng itu lemah. Terkadang orang kuat juga butuh istirahat."


Mata Adeeva berkaca-kaca. Dari dulu dia sangat menyukai nasehat Mama dan Papa dari orang tua sahabatnya. Baik Mama Tari maupun Papa Darren, mereka bukan tipikal orang tua yang suka menyalahkan anak-anaknya. 


"Terima kasih, Tante. Berkat semua nasehat yang Tante kasih, Adeeva bisa ada di titik ini."  


"Sama-sama. Sayang."


Setelah pembicaraan itu berakhir. Semua orang mulai menyantap roti yang dibeli oleh Reno. Setiap aroma dan lembutnya roti itu, mengundang pujian bagi peminatnya.


"Ini mah enak banget! Always rasanya gak pernah berubah!" kata Almeera setelah menghabiskan dua roti berisi selai coklat." 


Adeeva terkekeh. Dia menggelengkan kepalanya melihat tingkah ibu-ibu dua anak itu. 


"Kek bayi!" celetuk Adeeva yang membuat Almeera menjulurkan lidahnya. 


Rasa kehangatan keluarga, candaan kebahagiaan membuat Almeera bisa menempatkan dirinya. Ketika sedih, senang, bahagia, sakit ataupun menghibur, Almeera bisa melalui itu semua.


"Biarin!" 


Saat pembicaraan pada pria selesai. Papa Darren menoleh menatap sahabat putrinya. 


"Apa rencana Adeeva selanjutnya setelah ini?" tanya Papa Darren berusaha bersikap hangat. 


"Adeeva mau cari rumah, Om. Rumah yang jaraknya lebih dekat sama perusahaan," katanya dengan jujur.


Adeeva tak berpikir untuk menginap di rumah sahabatnya lebih lama. Dia bahkan bertekad bahwa besok harus mencari rumah untuknya dan sang ibu agar tak selalu merepotkan. 


"Terus? Ibu kamu bagaimana?" 

__ADS_1


"Ibu setuju, Om," sahutnya dengan menatap mata ibunya yang menatapnya balik. 


Papa Darren terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Dia menatap mata putrinya yang tengah menganggukkan kepalanya. 


"Begini, sebenarnya Om sama Tante pengen ajak kamu tinggal di rumah milik Om." 


"Maksudnya?" tanya Adeeva tak paham.


"Biarkan Mama saja, Pa," kata Mama Tari pada suaminya. "Begini, Nak." 


"Om sama Tante punya rumah kosong. Jaraknya ya deket sama perusahaan Almeera. Daripada kalian cari rumah, bagaimana kalau Adeeva sama Ibunya tinggal di rumah itu?" 


Adeeva masih diam. Dia mencerna permintaan dari ibu sahabatnya itu.


"Tapi maaf, Tante. Adeeva gak mau repotin semuanya."


Mama Tari menggeleng. "Om sama Tante gak merasa direpotkan kok. Malahan Tante berharap kalian bisa jagain rumah itu dengan baik." 


"Maaf, Mbak. Bukannya menolak rezeki. Tapi kami merasa malu," kata Ibu Adeeva bersuara. "Kalian sudah sangat baik. Menerima kami bahkan memberikan tempat tinggal semntara." 


"Jangan gitu, Mbak." Mama Tari menepuk pelan punggung tangan Ibu Adeeva. Dia memberikan senyuman setulus mungkin. "Aku sama Suami, dan Almeera juga benar-benar berharap kamu nerima rumah ini. "


"Ya, Va. Pliss tolong terima," kata Almeera mencoba merayu.


Adeeva masih diam. Dia hanya menatap ibunya yang sama-sama sedang menatapnya. Seperti mereka sedang saling mengatakan melalui tatapan mata.


"Kalau Adeeva masih malu. Bagaimana kalau Om dan Tante minta kalian merawat rumah itu. Ya daripada kosong dan rusak, lebih baik dihuni dan dirawat. Nanti Om bakalan kasih tips. Jadi anggap saja Adeeva kerja menjaga rumah Om?" 


Adeeva menatap Papa Darren dengan lekat. Lalu dia menatap ibunya lagi.


"Bagaimana, Bu?" tanya Adeeva pelan. 


"Gapapa. Toh itung-itung Ibu bekerja juga, 'kan?" 


Akhirnya Adeeva dan Ibunya menerima tawaran keluarga Almeera. Hal itu membuat semua orang merasa bersyukur. Niat ingin membantu secara ikhlas akhirnya berakhir dengan pekerjaan agar mereka menerima rumah itu. 


"Kalau ada apa-apa disana. Mbak sama Nak Deeva bisa panggil Reno," kata Mama Tari yang membuat Adeeva lekas menoleh.


"Kenapa harus dia, Tante?" tanya Adeeva bingung.


"Karena rumah itu dan rumah Reno sebelahan."


Apa! Matilah aku!


~Bersambung


Wahahaha gimana tom - jerry rumahnya sebelahan yah?


Bakalan ada adegan apa?


BTW Cerita Fayola sama Manggala itu buat novel baru ya guys.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat.

__ADS_1


__ADS_2