
...Wanita yang sudah berani merebut suami orang, maka dia adalah sosok yang tak memiliki rasa malu....
...~Almeera Azzelia Shanum....
...🌴🌴🌴...
"Papa gak lupa, 'kan, sama ulang tahun Adek?" tanya bocah perempuan yang sedang duduk di samping papanya.Â
Saat ini ketiganya sedang berada di meja makan. Beberapa hari Bara tinggal disini, baru kali ini dia bisa ikut bergabung bersama istri dan anak-anaknya. Biasanya, Bara akan berangkat sepagi mungkin karena pekerjaannya yang menumpuk.Â
Ya, waktunya terbuang di perusahaan. Bara sampai tak memiliki kesempatan ke rumah Narumi. Bahkan dirinya baru sadar jika ulang tahun anaknya sebentar lagi.
"Papa gak lupa, 'kan?"Â
"Dia pasti lupa, Bia," celetuk suara remaja yang baru saja bergabung di meja makan.
Perkataan itu tentu membuat tiga pasang mata menatap ke arah wajah yang begitu sama dengan Bara.Â
"Bener, 'kan?" tebak Abraham dengan wajah tak acuh.
Meski kehadiran papanya sangat membahagiakan dirinya. Abraham masih menyimpan amarah pada papanya. Dia belum sepenuhnya percaya pada Bara. Bahkan rasa kecewa dalam dirinya masih sangat besar.Â
Bara menghela nafas berat. Dia menatap sosok putrinya yang sudah berkaca-kaca.Â
"Papa inget kok, Sayang. Lusa Papa pasti datang," kata Bara dengan yakin.
"Papa beneran yah? Papa janji bakalan dateng dan nepatin permintaan Bia."
Bara mengangguk. Dia mencium dahi putrinya hingga membuat Abraham memalingkan wajahnya. Remaja itu hanya ingin papanya sadar. Dia ingin papanya menepati semua janji yang sudah dia katakan.Â
Abraham ingin sosok papanya mempertanggung jawabkan semuanya. Dia harus berjuang mendapatkan kepercayaan mama dan dirinya lagi. Bagaimanapun, sosok paling tersakiti di sini adalah dirinya.Â
Anak adalah korban utama pertengkaran orang tuanya. Anak adalah sosok yang mampu menutupi segala luka dengan sebuah senyuman. Memang sekuat itu seorang anak. Dia mampu bertahan demi orang yang dia cintai dan mampu mengalah untuk orang yang sangat dia sayangi.Â
"Jangan dimasukkan hati, Mas. Abraham masih…"Â
"Semua yang dikatakan putra kita memang benar, Ra. Aku hampir lupa karena pekerjaanku yang padat," kata Bara penuh sesal.
Almeera mampu menangkap penyesalan di mata suaminya. Namun, dirinya tak bisa melakukan apapun. Apa yang dikatakan putranya memang menyakitkan tapi itulah kebenarannya.Â
"Bersabarlah, Mas. Buktikan pada Abra bahwa kamu bisa menjadi ayah yang membanggakan untuknya," kata Almeera menyemangati.Â
"Makasih, Ra. Makasih udah mau bertahan sama aku. Kamu benar-benar wanita hebat," ucap Bara begitu jujur.
Almeera tersenyum tulus, "Demi kebahagiaan Bia dan Abraham, aku rela melakukan apapun."Â
__ADS_1
...🌴🌴🌴...
Di tempat lain lebih tepatnya di rumah Narumi. Wanita itu sudah uring-uringan beberapa hari ini. Panggilannya tak dijawab sedikitpun oleh suaminya. Bahkan pesan yang dikirim, tak ada satupun yang dibalas. Pria itu benar-benar menghilang dan tak berjejak.Â
Hingga hanya satu orang yang mampu dia datangi saat ini. Istri pertama suaminya. Ya, Almeera adalah kunci utama keberadaan Bara. Dia harus menemui kakak madunya itu.Â
Sebelum berangkat, Narumi segera membersihkan dirinya. Dia tak mau wajahnya yang kacau terlihat di mata Almeera. Dirinya harus membuktikan bahwa dia lebih bahagia dari perempuan itu. Dia harus selalu berada di atas Almeera.Â
"Aku tak mau berada di bawahmu, Almeera Azzelia Shanum. Semuanya harus menjadi milikku dan ada di bawahku," kata Narumi sambil tersenyum licik.Â
Dia memberikan polesan merah di bibirnya sebagai sentuhan akhir.
"Perfect." Pujinya saat selesai make up.
Dia segera memakai beberapa perhiasannya. Setelah itu Narumi mulai meninggalkan rumahnya dan menuju perusahaan Almeera. Ini adalah kedua kalinya dia datang. Dirinya tak mau dipermalukan lagi.Â
Kali ini, Narumi yang harus menang. Kali ini tak boleh dia kalah lagi dari Almeera. Dirinya benar-benar sudah tak sabar untuk bertemu setelah sekian lama.
Akhirnya setelah mendapatkan izin dari resepsionis. Narumi bisa menginjakkan kakinya ke lantai dimana ruangan Almeera berada. Disana, dua wanita berdiri menyambutnya.Â
"Bu Almeera sudah menunggu di dalam," kata Adeeva dengan pura-pura ramah.Â
Tanpa terima kasih. Narumi hanya mengibaskan rambutnya lalu bergegas memasuki ruangan kakak madunya. Matanya menatap perempuan yang tengah berdiri di dekat jendela besar.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Almeera dengan sinis.Â
Almeera terkekeh. Dia begitu lucu dengan perkataan adik madunya itu.
"Darimana kata itu kau dapatkan, hee," ejek Almeera dengan tangan terlipat di depan dada. "Aku istri sah secara agama dan hukum. Tak ada kata menyembunyikan untuk suaminya sendiri."
"Cih. Jangan lupakan kalau aku juga sah secara hukum dan negara, Meera."Â
Almeera mengangguk, "Aku tak akan lupa. Bahkan selalu mengingatnya."Â
Ibu dua anak itu mendekati Narumi. Dia menatap tajam wanita yang menurutnya tak memiliki urat malu itu.
"Untuk apa status sama, jika ternyata suamimu lebih betah bersamaku," kata Almeera dengan senyum miring. "Betul bukan?"Â
"Kau!" Narumi hendak menampar.
Namun, dengan tangkas Almeera menangkapnya dan memelintir ke belakang hingga tubuhnya berada tepat di belakang Narumi.Â
"Jangan lewati batasmu, Adik Maduku," bisik Almeera dengan mencengkram tangan Narumi lebih kuat.Â
"Awww, sakit! Lepasin!" seru Narumi dengan mencoba melepas cengkraman itu.Â
"Dasar lemah." Almeera dengan kasar mendorong tubuh itu hingga hampir menabrak pintu ruangannya.
__ADS_1
"Ups." Almeera menutup mulutnya sambil menahan tawa. "Kurang sedikit lagi sampai itu muka nempel ke pintu."Â
Nafas Narumi memburu. Wanita itu membalikkan tubuhnya dan menatap marah ke arah Almeera.
"Jangan tunjukkan muka jelekmu itu padaku, Rumi. Rasanya aku ingin muntah!"Â
"Kau! Katakan pada Bara untuk adil padaku," serunya tanpa malu.
"Punya mulut, 'kan? Punya tangan? Tanya sendiri dong!" seru Almeera dengan wajah tengilnya. "Oh aku hampir lupa. Pesan dan teleponmu saja diabaikan."Â
"Aku yakin itu pasti ulahmu."Â
"Untuk apa aku membuat ulah? Tanpa tanganku sendiri, suamiku akan tau mana rumah yang sebenarnya," kata Almeera dengan tegasÂ
"Kau!"Â
"Ustt." Almeera menggeleng. "Jangan lupa taruhan kita, Narumi. Kau kalah! Kau, sudah KALAH."Â
Almeera menegaskan ucapan yang baru saja dia katakan. "Kau kalah dalam taruhan yang kau buat sendiri. Bara lebih memilih aku dan anak-anaknya. Jadi…"Â
"Tinggalkan suamiku dan pergilah dari kehidupan kami!"Â
Almeera menunjuk wajah Narumi. Mata wanita itu berubah tajam pertanda bahwa perkataannya tak main-main. Taruhan yang dimulai oleh Narumi sudah dimenangkan Almeera. Suaminya benar-benar berada di rumahnya.
Dia lebih memilih bersama kedua anak-anaknya daripada Narumi. Bahkan sedikitpun, saat di rumah Almeera, Bara tak pernah memegang ponselnya. Itu saja sudah menjadi bukti bahwa Bara lebih memilih dirinya.
"Kau kalah. Kau kalah taruhan!" ulang Almeera dengan tegas.Â
Narumi mengepalkan tangannya. "Aku belum kalah. Aku belum kalah, Almeera!"Â
Wanita itu berteriak. Dia meraih tasnya dan berjalan mendekati Almeera.Â
"Narumi tak pernah kalah dari siapapun. Aku akan buktikan bahwa Bara akan bersamaku dan meninggalkan kalian."Â
Almeera menanggapinya dengan tertawa. Dia tak menyangka jika perempuan di depannya ini benar-benar tak punya urat malu. Sudah jelas wanita itu kalah taruhan tapi tak mau mengakuinya.Â
"Apapun yang kau katakan, semuanya percuma. Hanya aku disini pemenangnya, Rumi. Kau…" jeda Almeera menunjuk wajah adik madunya. "KALAH."Â
~Bersambung
Masih inget, 'kan? Sama taruhan mereka berdua. Udah tau kalah masih ngelak juga. Huh rasanya pen ku remet mukamu, Sarimi. Hihihi.
BTW aku mau ucapain terima kasih sama noveltoon. Udah ganti bajunya Mas Bara dan Mbak Meera. Covernya cantik banget, 'kan?
Terima kasih banyak ini juga berkat dukungan kalian semua para pembaca HTS.
__ADS_1
jangan lupa selalu support aku melalui klik like, komen atau vote yah. Biar author semangat updatenya.