Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Ketakutan Adnan


__ADS_3


...Seorang ibu adalah sosok yang memiliki ikatan batin paling kuat dengan anaknya. Seakan dia memiliki telepati tinggi dan bisa merasakan apa yang dirasakan buah hatinya. ...


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


"Bagaimana keadaan Bia sekarang, Mas? Apa ada kabar dari Kak Jimmy?" tanya Almeera dengan mata yang sangat sembab. 


Bara menggeleng. Dia menghapus air mata yang kembali turun di mata istrinya lalu meraih tubuh itu ke dalam pelukan.


"Mas yakin Bia anak kuat. Dia pasti baik-baik saja."


"Tapi aku takut, Mas. Aku takut Bia disana menangis sendirian," ujar Almeera dengan sesenggukan. 


Naluri ibu sangat kuat dengan anaknya. Dimanapun buah hatinya berada maka telepati itu pasti dirasakan. Almeera yakin jika anaknya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Hatinya gelisah dan jantung Meera terus berdegup kencang sejak tadi. 


"Kumohon hubungi Kak Jimmy, Mas. Minta dia bawa Bia secepatnya. Aku gak sanggup harus menunggu lagi," katanya dengan memohon. 


Bara mengangguk. Namun, saat pria itu hendak meraih ponselnya. Kehadiran keluarga Zelia membuat Almeera lekas berdiri.


"Tante." 


"Almeera," sahut Mama Zelia dengan derai air mata. "Bagaimana bisa terjadi, Nak?"


Almeera merasa bersalah. Zelia menjadi seperti ini karena menyelamatkan putrinya. Sahabatnya itu rela mengorbankan nyawanya hanya demi melawan penjahat-penjahat itu. 


"Duduk dulu, Om," kata Bara meminta orang tua Zelia untuk duduk. 


Dia takut jika kabar yang akan disampaikannya membuat mereka terkejut bukan main.


"Bagaimana kejadiannya bisa seperti ini?" tanya Papa Zelia pada Bara. 


"Sebenarnya tadi pagi, Zelia pamit bersama Bia ke taman. Putriku mengajaknya bermain disana karena memang ada taman bermain lengkap di taman dekat rumah," kata Bara memulai cerita. 


"Lalu?" 


"Menurut kesaksian orang di sana, saat Zelia membeli minuman tiba-tiba ada beberapa pria mendatangi Bia dan Zelia datang mencoba melawan." 


Bara tak menutupi apapun. Pria itu menceritakan apa yang dia ketahui. Bahkan Almeera juga menambahi hingga membuat Mama Zelia menangis kencang. 


"Maafkan Meera, Tante. Semua ini salah Meera," ucapnya dengan kembali menangis.


Mama Zelia menggeleng. Dia mengelus kepala sahabat putrinya itu dengan sayang.


"Ini sudah takdir, Nak. Bukan salah siapa-siapa." 

__ADS_1


Almeera menatap mata Mama Zelia. Dia tak menyangka kedua orang tua sahabatnya begitu bijaksana dalam menyikapi ini semua.


"Maafkan kami, Om. Kami benar-benar merasa bersalah." 


Papa Zelia menepuk pundak Bara. Dia memang hancur ketika mendapatkan kabar anak satu-satunya mengalami penusukan. Dia memang khawatir tapi masih mencoba berpikir sehat.


Semua orang tak bisa menentukan apa yang terjadi kedepannya. Mereka juga tak bisa menyalahkan takdir yang sudah Tuhan berikan. Apalagi ini adalah musibah yang tak diduga hingga membuat kedua orang tua Zelia berusaha lapang dada. 


"Om harap Zelia baik-baik saja," ucapnya dengan nada penuh harap.


"Aamiin."


...🌴🌴🌴...


Sudah hampir dua jam semenjak Jimmy mengirimkan pesan pada Adnan, tapi pria itu belum memberinya kabar. Dia benar-benar tak bisa menunggu lagi. Dia harus segera menyelamatkan keponakannya sebelum terjadi sesuatu yang lebih parah. 


Jimmy segera melangkah menuju ruangan dimana Narumi berada. Dia ingin melihat bagaimana keadaan wanita itu setelah tamparan yang ia berikan. Jimmy benar-benar tak memberikan ampun. Dia juga tak main-main dengan ucapannya. 


Melanggar maka tau akibatnya. 


Itulah semboyan yang selalu diterapkan oleh Jimmy. Apa yang sudah dijanjikan maka harus ditepati. Jika mereka berkhianat maka balasan yang setimpal harus mereka rasakan. 


Jimmy segera mendorong pintu itu hingga terlihat sosok Narumi yang meringkuk ketakutan.


"Sakit, hmm?" tanya Jimmy menyadarkan Narumi tentang keberadaannya.


"Takut, hee?" ejek Jimmy dengan terkekeh. 


"Pergi! Pergi kau!" teriak Narumi memundurkan langkahnya.


Jimmy tak lekas mundur. Dia malah semakin mendekat dengan sebuah ponsel yang ada digenggamannya. 


"Jangan...jangan!" seru Narumi dengan kepala menggeleng.


Wanita itu sepertinya mengalami ketakutan yang mendalam. Tamparan kuat yang dilakukan Jimmy seakan membekas di ingatannya. 


"Aghh sakit!" teriak Narumi saat Jimmy menjambak rambutnya.


"Baru sekarang kau takut padaku, hee?" bisiknya membuat Narumi semakin gemetaran. "Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." 


Narumi tak menjawab. Wanita itu meraih rambutnya yang sakit agar tak semakin ditarik kuat oleh Jimmy. 


"Cepat katakan pada kekasihmu untuk membawa Bia. Katakan!" bentak Bara mendekatkan ponsel miliknya di bibir Narumi.


"Adnan…" rintih Narumi dengan suara serak. "Cepat bawa Bia kemari. Aku takut." 


Jimmy terkekeh. Pemandangan seperti ini sangat membuatnya puas bukan main. Satu tangisan Bia, akan dibalas ribuan air mata oleh Narumi.

__ADS_1


Tangisan dan rintihan yang menyayat hati dari suara Bia. Tentu membuat Jimmy naik pitam. Apapun yang ada di sana, bisa didengar oleh pria itu dengan jelas. 


"Katakan pada kekasihmu itu, Rumi. Apa yang sudah aku lakukan," ucap Jimmy yang sengaja agar didengar oleh Adnan.


"Aku ditampar sampai bibirku berdarah, Sayang. Rambutku dijambak dan ini sangat sakit, aghh," ucap Narumi kesakitan saat jambakan itu semakin kuat. "Tolong bawa Bia sekarang! Tolong selamatkan aku." 


Jimmy lekas melepaskan jambakan itu. Dia mengirim voice note itu agar Adnan segera mengambil tindakan. Dia yakin pria itu pasti ketakutan luar biasa. Apalagi mendengar suara Narumi yang kesakitan, dia yakin pria bucin itu akan gila.


Kita lihat, seberapa menderitanya pria gila itu karena wanita bodoh ini, gumam Jimmy dalam hati.


...🌴🌴🌴...


Sebuah pesan suara yang baru dia dengar membuat Adnan terperanjat kaget. Dirinya kelabakan dengan kepanikan luar biasa. Pria itu lekas keluar dan mendekati Bia yang sejak tadi meringkuk di tempat yang sama. 


Pikirannya sudah tak memperdulikan apapun. Suara rintihan dan penjelasan yang dikatakan kekasihnya membuat Adnan hilang kewarasan. Pria itu benar-benar tak percaya jika ancaman yang diberikan padanya bukan candaan belaka.


"Mau kemana, Bos?" tanya seorang pria yang tadi bersikap baik pada Bia.


"Ayo bawa anak itu ke dalam mobil!" 


"Sekarang?" tanya pria itu dengan heran.


"Bodoh! Aku mengatakannya sekarang, berarti ya sekarang," sembur Adnan dengan amarah meledak.


Pria itu hanya mengangguk. Dia lekas berjalan mendekati Bia yang sepertinya tertidur. Saat pria itu memegang lengannya, mata pria itu terbelalak.


"Dia demam, Bos!" 


"Apa!" 


Adnan lekas mendekat. Dia memegang tubuh anak itu dan memeriksanya.


"Ya Tuhan. Bagaimana ini?" gumam Adnan dengan wajah panik.


"Cepat bawa ke dalam mobil! Awas! Jangan sampai dia terluka," ucap Adnan menunjuk pria itu. 


Mereka segera membawa Bia ke dalam mobil. Adnan meminta pemimpin penjahat itu menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dirinya benar-benar kacau saat ini. Bingung, gelisah dan takut menjadi satu. 


"Kita kemana, Bos?" tanya pria itu dengan tetap fokus ke depan.


"Kita ke alamat ini sekarang!" 


~Bersambung


Kira-kira apa yang bakal terjadi di pertemuan mereka yah? 


Apakah Bang Jim akan memberikan ampun ketika tahu Bia mulai demam?" 

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote oke. Biar author semangat ngetik buat kalian.


__ADS_2