Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kejutan Besar


__ADS_3


...Keluarga adalah sumber kebahagiaan yang utama. Letak bahagia ada pada orang terdekat. Jika bersama mereka kamu merasa tanpa beban. Maka kamu berhasil membangun keluarga bahagia....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Tak terasa si kembar sudah memasuki usia 1 tahun. Dua bayi itu semakin terlihat menggemaskan. Badannya semakin berisi dengan pipi chubby yang membuat semua keluarga sangat suka mencubit pipi gembulnya. 


Baby Athaya dan Baby Athalla juga sudah pandai berjalan. Dua bayi itu bahkan sangat terlihat aktif. Bergerak kesana kemari. Tanpa mengenal rasa lelah sedikitpun.


Almeera dan Bara benar-benar orang tua yang sangat berarti untuk anaknya. Mereka selalu ada untuk empat anak yang sama-sama membutuhkan kasih sayang keduanya.


Baik Abraham yang mulai beranjak dewasa, Bia yang berumur 7 tahun bahkan si kembar yang 1 tahun, baik Bara maupun Almeera membagi rata waktu mereka. Bahkan jika bisa, mereka selalu melakukan semuanya secara bersama-sama agar tak timbul rasa iri pada hati setiap saudara kandung.


Hari ini adalah hari libur. Kegiatan Bara dan Almeera akan mengajak empat anaknya bermain bersama Baby Ane dan Baby Reyn. Mereka akan melakukan liburan bersama semua keluarga. 


Anak Jonathan dan Kayla yang berbeda bulan juga sudah pandai berlari kesana kemari. Bayi perempuan itu sangat terlihat cantik seperti Kayla. Kulitnya yang putih mulus hampir sama dengan Baby Thaya.


Sedangkan Baby Reyn. Bayi tampan itu juga sudah bisa berdiri dan mulai belajar berjalan. Walau belum sepenuhnya bisa berjalan dengan cepat. Bayi itu juga tumbuh dengan perhatian yang penuh dari Adeeva dan Reno.


Anak-anak itu sangat amat berharga di mata orang tuanya masing-masing. Kehadirannya sangat dinanti sekaligus menjadi anugerah bagi mereka semua.


"Mama!" panggil Bia yang duduk di depan bersama Abraham.


"Ya, Sayang?" sahut Almeera melongokkan kepalanya ke depan.


"Kita mau main kemana?" tanya Bia dengan penasaran. 


Jujur anak itu sangat ingin tahu. Dia penasaran karena sudah dua hari mamanya menyiapkan semuanya. Menyiapkan koper miliknya, membantu Abraham juga lalu menyiapkan milik adik kembarnya. 


"Kita mau main ke suatu tempat!" kata Almeera penuh teka teki.


Kening Bia berkerut. Dia menatap papanya yang sama menatapnya dengan tersenyum. 


"Kamu pasti akan senang nanti," balas Bara dengan mengedipkan salah satu matanya.


Anak itu akhirnya hanya bisa mengangkat bahunya acuh. Dia duduk dengan tenang di atas pangkuan abangnya karena Bia yang meminta duduk di depan. Sedangkan di kursi tengah, terdapat si kembar dan Almeera yang menjaganya.


Tak lama, di persimpangan jalan. Bara membunyikan klakson yang langsung dibalas oleh sebuah mobil yang sangat dikenali oleh Bia. Mata anak itu berbinar cerah saat kaca mobil itu diturunkan.


"Halo, Baby Ane. Kamu ikut juga yah?" kata Bia sedikit berteriak dengan bahagianya.


"Iya, Tante," sahutnya dengan suara khas anak kecil.


"Kakek sama Nenek ikut juga, Pa?" tanya Bia setelah kaca mobil itu dinaikkan.


Bara mengangguk. Dia mengusap kepala anaknya dengan sayang.


"Berarti kita liburan rame-rame?" 

__ADS_1


"Iya. Mbak Bia seneng?" tanya Bara penuh sayang.


"Seneng. Seneng banget!" 


Akhirnya perjalanan itu memakan waktu hampir dua jam kurang. Mereka yang berkendara dengan hati-hati karena membawa keluarga lengkap sekaligus menunggu kabar dari tiga mobil lagi yang berangkat duluan. 


Bara dan Almeera memang menyiapkan semua kejutan ini untuk anak-anaknya. Dia ingin mereka menghabiskan waktu dengan keluarga di hari libur dan menyegarkan pikiran dari penatnya kegiatan sehari-hari.


Tak lama, dua mobil itu mulai berhenti di depan sebuah rumah yang ada diantara perkebunan. Mereka segera turun dari sana dan tersenyum saat tiga mobil itu sudah sampai duluan.


"Ayo kita masuk!" ajak Bara pada anak-anaknya.


"Apa mereka sudah datang?" bisik Kayla yang menggendong Baby Ane di samping Almeera.


"Sudah, Kak." 


"Kapan kamu ke Bandara?" 


"Kemarin. Terus Mas Bara menyuruh supir dan pelayan serta suster yang merawat Abi untuk membantu menjaga kondisi Abinya agar stabil." 


Kayla tersenyum. Dia ikut bahagia saat diajak liburan ini. Jujur ide ini memang berasal dari Almeera dan Bara. Pasangan suami istri itu ingin mengumpulkan semua keluarganya. 


"Ini rumah siapa, Papa?" tanya Bia saat mereka berjalan menuju pintu utama.


"Rumah Papa." 


Bia membelalakkan matanya. Dia menatap papanya tak percaya.


"Untuk apa Papa berbohong?" tanya Bara sambil mengangkat alisnya. "Papa akan mengajakmu berkeliling nanti." 


Mereka mulai sampai di depan pintu. Saat Bia hendak mendorongnya. Pintu itu terbuka duluan dan muncullah wajah-wajah yang sangat Bia kenali.


"Surprise!"  


"Kakek, Nenek!" pekik Bia yang sama terkejut.


Anak itu segera berlari ke arah pria tua yang duduk di kursi roda. Dia memeluk sosok kakek yang sama-sama ia sayang seperti Kakek Darren.


"Kakek sudah sembuh?" 


Abi Hafidz tersenyum. Dia membalas pelukan cucunya yang sangat ia sayangi penuh kerinduan. 


Perawatan yang ia jalani selama ini akhirnya membawa hasil. Dia bisa berada disini berkat semangat hidupnya yang tinggi. 


"Sudah. Kakek sembuh berkat doa cucu-cucu Kakek!" kata Abi Hafidz dengan pelan.


Bia melepaskan pelukannya. Dia berpindah memeluk neneknya dan membiarkan Abang Abra bergantian memeluk kakeknya itu.


"Kapan Nenek datang? Kenapa gak kasih kabar sama Bia?" tanya anak itu dengan cerewet. 


"Kemarin. Papa sama Mama kamu yang jemput," jawab Ummi Mira dengan tersenyum.

__ADS_1


"Jadi Papa sama Mama kemarin yang bilang ada urusan…" 


"Iya. Urusan jemput Kakek sama Nenek!" sela Almeera yang membuat Bia cemberut. 


Anak itu merajuk karena tak diajak. Hal itu membuat Bara terkekeh dan menarik hidung mancungnya.


"Gak usah cemberut. Yang penting Kakek dan Nenek udah disini, 'kan?" kata Bara penuh perhatian. "Ayo masuk! Kasian Tante sama Mama kamu yang gendong adik-adik kamu tuh!" 


Akhirnya semua orang mulai masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Tak lama, muncul pasangan kekasih dengan membawa nampan di tangannya yang berisi minuman.


"Wah ada Tante Lia juga sama Om Jim!" pekik Bia dengan senang. 


Bia adalah anak yang ceria. Dia tak bisa menutupi keterkejutannya. Dia menatap satu persatu orang yang ada disana. Ada dua kakek, dua nenek, ada om dan tantenya. Ada sahabat papanya juga, Reno dan Tante Deeva dengan putranya.


Semuanya berkumpul bak keluarga besar tanpa membeda-bedakan apapun. 


"Kamu bagaimana izin keluarnya, Jim?" tanya Papa Darren pada putranya. 


"Ya aku izin, Pa. Mau liburan. Toh selama ini Jimmy gak pernah absen, 'kan?" 


Papa Darren mengangguk. Dia menepuk bahu anaknya karena Jimmy mulai sedikit berubah. Pria itu mulai mengutamakan keluarganya dan mau ikut berkumpul walau dia bekerja. Kehadiran Zelia benar-benar merubah Jimmy menjadi sosok yang lebih perasa dan pengertian. 


"Papa!" panggil Bia yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Jadi kalau kiita ngumpul semua. Kita bakalan tidur disini?" 


"Iya, Sayang," balas Bara dengan kepala mengangguk. 


"Yey." Bia berjingkrak bahagia. 


Dia bertepuk tangan akhirnya keinginannya untuk liburan beramai-ramai diwujudkan. 


"Tapi disini, ada apa emang?" tanyanya dengan penasaran.


"Ada rumah kayu," sahut Reno menyela.


"Ada kebun bunga," sahut Jimmy sambil mengedipkan matanya ke arah sang adik.


"Ada danau juga." 


"Wahhh!" Bia berbinar. Dia menatap mamanya dan tatapan mata penuh ketidak percayaan.


"Iya, Sayang. Semua itu ada disini dan nanti kita bisa berkeliling bersama." 


~Bersambung


Gak kerasa bakalan say good bye. Kalian mau ekstra part atau nggak nih?


Jawab dikomen yah.


Jangan lupa, klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya yah.

__ADS_1


__ADS_2