Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Reno Gerak Cepat!


__ADS_3


...Semua bisa kulakukan jika itu menyangkut kebahagiaanmu....


...~Reno Akmal alfayyadh...


...🌴🌴🌴...


Pagi-pagi sekali, Reno menyempatkan dirinya mengunjungi rumah sang kekasih. Entah kenapa sejak semalam, saat dia berada di balkon kamarnya. Kamar Adeeva terlihat begitu gelap. 


Hal itulah yang membuat pria itu dengan tekad kuat berdiri di balkon kamarnya dengan mata terus memandang lurus ke arah kamar sang kekasih. Saat pria itu baru saja melewati pagar rumah Adeeva, terlihat perempuan paruh baya yang sangat ia kenal baru saja keluar.


"Assalamualaikum, Bu," sapa Reno dengan senyuman tipis yang disematkan di bibirnya.


"Waalaikumsalam." 


"Bagaimana kabar, Ibu?" tanya Reno dengan penuh perhatian.


"Ibu merasa bersalah pada Adeeva," lirihnya sambil menatap ke arah samping rumah. "Sejak pagi ia berada di taman samping."


"Bolehkan Reno melihatnya, Bu?" 


Ibu Adeeva menoleh. Dia menganggukkan kepalanya seakan menyetujui agar Reno menemui putrinya itu. Dia berharap mungkin dengan keberadaan pria itu, mampu membuat anaknya kembali bahagia. 


"Lihatlah! Ibu berharap kamu bisa menjadi pendengar baiknya." 


Akhirnya Reno mulai berjalan ke arah samping rumah. Dari jauh, dia bisa melihat sosok wanita yang mampu menggetarkan hatinya tengah duduk tenang di kursi taman. 


Tubuhnya dibalut jaket hitam. Matanya menatap kosong ke depan sampai tak menyadari keberadaannya. Sepertinya pemikiran dan lamunannya mampu membuat mata Adeeva berkaca-kaca.


Dengan pelan, Reno mengelus pipi Adeeva. Menyadarkan wanita itu tentang keberadaannya.


Elusan itu berhasil!


Adeeva terusik akan lamunannya. Dia menoleh menatap wajah Reno dengan lemah. Mata wanita itu begitu bengkak dengan kantung mata menghitam yang menandakan jika Adeeva tak tidur dengan baik dan lebih banyak menangis.


Hati Reno benar-benar sedih. Dia mengusap air mata yang mengalir dari mata Adeeva dengan kepala mengangguk.


"Menangislah jika itu membuatmu membaik." 


Perkataan Reno seakan membuatnya tenang. Tanpa komando, Adeeva memeluk tubuh kekasih barunya dengan mata terpejam. Menikmati aroma pria itu, Adeeva merasakan kenyamanan dalam diri Reno.


Perlahan bahu itu bergetar dengan diiringi suara isakan yang membuat Reno mengelus punggung Adeeva dengan lembut.


Tak ada yang pria itu katakan. Dia hanya ingin kekasihnya menyampaikan apa yang saat ini tengah dirasakan. Dia ingin Adeeva tak menutupinya atau berusaha terlihat baik-baik saja. 

__ADS_1


"Apa Tuhan kurang memberikan ujian di dunia untukku? Diberikan Ayah yang kasar, dibesarkan tanpa kasih sayangnya lalu sekarang, aku mendengar sebuah kenyataan bahwa dia bukan ayah kandungku?"


Adeeva melampiaskan segalanya dipelukan Reno. Wanita itu bahkan sesekali memukul dada bidang pria itu dengan pelan.


"Apa aku dilahirkan hanya untuk disakiti? Apa aku dilahirkan hanya untuk menangis?" 


"Kamu salah!" kata Reno dengan pelan.


Dia melepaskan pelukan wanita itu. Menghapus semua air mata yang terus menetes lalu memberikan kecupan lembut di dahinya.


"Kamu adalah salah satu anak terhebat di dunia ini. Diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk melihat segala hal menyakitkan yang mampu membuatmu jauh lebih dewasa," jeda Reno dengan mata terus memandang lekat mata indah kekasihnya. "Kamu banyak mendapatkan pelajaran. Bagaimana caranya menghargai sosok ibu, pasangan dan mencoba menghindari perangai ayahmu, Sayang."


"Tapi perlakuan ayahku membuat hatiku sakit. Mentalku dihancurkan dan aku tak bisa memahami diriku sendiri." 


"Biarkan waktu yang membuatmu mengerti semuanya. Akan ada masa dimana kamu bisa mengambil hal baik dari semua hal yang sudah kamu jalani. Akan ada masa dimana masa sakit itu berakhir dan berakhir dengan tawa bahagia." 


"Apa aku bisa meraih kebahagiaan itu?" tanya Adeeva penuh tatapan putus asa.


Reno mengangguk. "Bisa. Kita akan meraihnya secara bersama-sama."


Adeeva bisa melihat kesungguhan di mata sang kekasih. Dia berusaha percaya pada apa yang dikatakan Reno kepadanya. Ia mencoba menaruh harapan besar pada pundak pria itu. Mencoba menepis segala trauma yang membuatnya tak bisa bangkit dari keterpurukan.


"Ayo sekarang kita masuk dan kamu harus sarapan. Setelah itu, aku akan menemani kamu tidur sebelum berangkat ke kantor."


Mata yang sejak semalam ternyata tak tidur, kini terpejam. Nafasnya terdengar teratur yang membuat Reno sedikit lebih lega. Setidaknya kekasihnya itu bisa merasakan waktu tidur walau hanya sebentar.


"Tidurlah, Sayang. Biarkan aku yang mengurus semuanya." 


Perlahan mata Reno berpindah ke arah rambut sang kekasih. Dia mengelusnya dengan pelan lalu mulai mencabutnya dengan cepat. Hal itu ternyata mampu membuat Adeeva menggeliat tapi tak terbangun. 


Setelah memastikan kekasihnya tak akan terbangun. Reno segera beranjak dari ranjang. Membenarkan selimutnya lalu segera keluar dari sana.


"Kalau ada apa-apa, Ibu hubungi saja Reno, 'yah?" pintanya dengan sungguh-sungguh.


"Iya, Nak."


"Reno berangkat dulu, Bu. Assalamualaikum." 


"Waalaikumsalam." 


Lalu tanpa kata pria itu segera memasuki mobilnya. Namun, sebelum dia melajukan kendaraan roda empat miliknya, Reno mengetikkan sesuatu di ponsel pintarnya.


Dia menghubungi seseorang yang bisa membuatnya mendapatkan rambut dari sosok pria yang membuat kekasihnya menangis semalaman.


"Aku akan membuktikan semuanya. Aku akan menutup mulut pria sialan itu agar tak bisa menyakiti hati Adeeva lagi." 

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


"Bagaimana?" tanya Reno pada seorang pria yang menjadi tangan kanannya atau bisa dibilang orang kepercayaan dirinya dan Bara.


Pria ini adalah seseorang yang bisa menyamar menjadi apapun. Seorang detektif yang biasa dipakai Reno ketika menangkap tikus kecil di perusahaan Bara atau untuk menjaga keberadaan Bara dari jauh.


"Ini, Bos." Pria itu menyerahkan sebuah klip putih berisi rambut dari pria yang sangat ia butuhkan.


"Bagaimana kau bisa mendapatkannya?" 


"Pria itu adalah pecandu narkoba dan kartu. Aku menyamar sebagai seorang pendatang baru dan mengajaknya bermain kartu," jeda pria itu sambil mengingat apa yang baru saja terjadi. "Ketika dia mabuk dan teler. Aku pura-pura mengantarnya pulang dan saat sampai di rumahnya, aku segera mencabutnya." 


"Kinerjamu bagus. Uangmu akan kutranfer sekarang juga!" 


Bibir pria itu tersenyum lebar. Dia menjabat tangan Reno dan mengangguk.


"Senang bekerjasama dengan Anda. Baik Bos Bara ataupun Anda, imbalannya selalu menggiurkan." 


Akhirnya Reno tak menunda apapun. Pria itu keluar sejenak dari perusahaan untuk menuju rumah sakit yang sangat dijaga ketat keamanannya. Dia memberikan sampel dua rambut itu, agar segera keluar hasilnya.


"Jaga keamanan hasil tes DNA ini. Jangan berikan kepada siapapun kecuali saya sendiri," kata Reni pada dua dokter di depannya.


"Baik, Pak Reno."


Reno akhirnya bisa sedikit lega. Dia segera kembali ke perusahaan dengan harapan yang membumbung tinggi. Tangannya mencengkram kuat setir kemudi dengan pandangan tajam mengarah ke depan.


"Aku pastikan ayahmu itu akan menyesali semua perbuatannya kepadamu dan ibumu." 


~Bersambung


Bang Ren, sini, Bang. Kamu gercep banget loh, yuhuu.


Buat yang tanya cerita Bang Jim, sabar yah. Aku gak bisa janjiin cerita itu ada disini. Tapi aku pastikan dimanapun Bang Jim berada, tetap gratis gak bayar koin.


Kalau cerita Manggala sama Fayola, aku usahain ada disini.


Kalau tanya kenapa aku ajuin ke yang lain?


Coba cek lencana authorku. Awalnya platinum lalu kemarin ganti gold tanpa alasan yang jelas.


Padahal bulan januari aku ngetik sampai 94.000 kata. Terus dianggep apa usahaku yang stay disini?


Sakit banget! tapi aku coba bertahan.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2