
...Setiap kata yang sudah disusun rapi di memori otakku langsung terhempas pergi saat sudah berhadapan dengannya....
...~Reno Akmal alfayyadh...
...🌴🌴🌴...
Sepanjang perjalanan menuju kantor Almeera. Reno benar-benar dilanda kebingungan. Dirinya tak tahu apa yang harus dilakukan agar Adeeva tak marah lagi padanya.Â
Semua yang ia rencanakan di otaknya tiba-tiba hilang tak berbekas. Seakan setiap jalan yang dia lewati, melupakan segala rencana yang ia susun untuk dilakukannya jika bertemu dengan Adeeva.
Reno meletakkan kepalanya di atas setir kemudi. Saat mobilnya berhenti di lampu merah. Dirinya menghela nafas berat. Mencoba menghilangkan keresahan yang bersarang di otaknya.
"Kamu pasti bisa, Ren! Kamu harus bisa!" ucapnya menyemangati dirinya sendiri.Â
Perlahan dia melajukan mobilnya lagi. Hingga saat dirinya hampir sampai di perusahaan milik istri sahabatnya. Sebuah toko bunga menarik perhatian Reno. Pria itu segera menepikan mobilnya. Turun dari sana dan mendekati sebuah toko yang lumayan besar.
"Cari apa, Tuan?" tanya seorang pelayan dengan sopan.
"Saya mau cari bunga untuk perempuan yang sedang merajuk. Apa ada?" tanya Reno sambil menggaruk lehernya yang tak gatal.
Dia benar-benar tak tahu apa yang dilakukannya ini benar atau tidak. Yang pasti, dia berusaha merayu dan mengambil hati Adeeva melalui cara-cara yang didapatkan dari ponsel pintarnya.
Maklum saja!
Pria jomblo ini, hidupnya hanya terfokus dengan pekerjaan. Dia tak pernah memikirkan menikah atau hidup dengan wanita. Pria itu seakan sudah sangat malas berhadapan dengan perempuan yang menurutnya sangat merepotkan.Â
Bekerja di perusahaan dengan beberapa karyawan laki-laki ataupun perempuan. Membuatnya hampir mengenali seorang perempuan itu jika bangsa mereka sangat melelahkan, merepotkan, cerewet dan ribet.
Jika bukan karena Bara. Ia tak akan ada disini. Tak akan datang ke toko bunga dan bertindak konyol dengan membeli salah satu dari beberapa kuncup bunga indah yang terpajang.Â
"Apa untuk kekasih, Tuan?" tanya pelayan wanita itu dengan wajah memerah menahan malu.
Bibir pelayan itu menahan senyum. Dia benar-benar terpesona dan kagum dengan tingkah Reno yang menurutnya sangat amat romantis.
"Ah ya. Apa ada?" tanya Reno dengan pasrah.
Dirinya tak tahu harus menjawab apa. Menanyakan hal panjang lebar atau menceritakan pribadinya bukanlah tipe Reno sekali. Dirinya tak suka diusik apalagi dicari tahu secara paksa.Â
"Apa Tuan tahu, bunga apa yang menjadi kesukaannya?" tanya pelayan itu mencoba mencarikan Reno solusi.Â
__ADS_1
Bagaimana aku bisa tau? Aku bukan bapak atau ibunya, yang harus tahu hal pribadi seperti itu, gumam Reno dalam hati dengan hati yang dongkol.Â
"Tidak."Â
"Yah. Kesukaan kekasih sendiri kok gak tau sih, Tuan?" dumel pelayan itu yang membuat Reno semakin mengusap lehernya.
"Ya. Pokoknya carikan yang bagus dan cocok aja, Mbak!" pinta Reno final.
Pelayan itu mengangguk. Perlahan dia masuk ke dalam toko. Entah apa yang dilakukan membuat Reno hanya menatapnya datar. Â
Pria itu memalingkan pandangannya. Menatap bunga-bunga yang dijejer disana dengan pandangan yang sulit diartikan. Ini adalah pengalaman pertamanya dia datang disini. Membeli sebuah bunga untuk seorang perempuan.
Benar-benar hal luar biasa bukan?Â
"Bagaimana jika bunga tulip saja. Bunga tulip melambangkan maaf dan kasih sayang," kata pelayan itu menjelaskan ketika dia kembali ke posisi Reno.
Dengan menurut, Reno menganggukkan kepalanya. Tak ada pilihan lagi. Dirinya juga tak berpengalaman dalam hal pilih memilih bunga.Â
"Berikan aku kertas ucapan di sana. Agar aku bisa menulisnya sendiri," kata Reno sebelum pelayan itu kembali masuk.
Akhirnya setelah hampir lima belas menit menunggu. Tanpa kata Reno segera membayar bunga itu dan membawanya ke dalam mobil.
Dia segera meluncur dengan cepat. Mengendarai mobilnya menuju perusahaan yang sudah sangat dekat dengan toko bunga itu. Segera dia membelokkan setir kemudinya dan memasuki area perusahaan.
"Jika bukan karena Bara, aku pasti sedang mengerjakan tugas," keluhnya sambil mengambil bunga itu dan membawanya keluar. "Benar-benar memalukan."Â
Reno menghembuskan nafas kasar. Tak henti-hentinya mulut itu berkicau dengan suara pelan. Bahkan ketika dia berjalan menuju resepsionis, semua pasang mata karyawan wanita yang ada disana langsung tertuju padanya.Â
Reno merasa risih. Dia paling tak suka dipandang dengan begitu intens.Â
"Ibu Adeeva ada, Pak," kata Resepsionis itu dengan ramah.
Akhirnya Reno segera melewati tatapan lapar para wanita disana. Tak bisa dibohongi, Reno yang hanya tangan kanan Bara, memang memiliki wajah tampan. Pria itu memiliki pesona yang sama kuatnya dengan Bara. Meski satu kekurangannya, dia tetap berstatus jomblo.
Saat kakinya baru saja menginjakkan ruangan dimana Adeeva berada. Dari jauh, pria itu sudah bisa melihat sosok yang ia cari sedang duduk dengan menatap sebuah laptop.Â
Pandangannya yang fokus, membuat Adeeva tak menyadari jika Reno sedang berjalan mendekat. Hingga saat jarak keduanya berdekatan dan suara ketukan sepatu yang mengenai meja kerja Adeeva. Membuat perempuan itu lekas mendongakkan kepalanya.
"Kau!" ucap Adeeva dengan mata terbelalak.Â
Dia menatap tak percaya ke arah Reno. Meneliti pria itu dari atas sampai bawah untuk mengetes apakah pria itu nyata ada di hadapannya.Â
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa ada disini?" sentak Adeeva saat menyadari jika pria itu benar-benar Reno.Â
Pria yang membuatnya kesal setengah mati. Pria yang tak ingin dia lihat wajahnya dan tak bertemu lagi. Dirinya benar-benar masih menyimpan dendam. Dendam karena tingkah pria itu yang sangat menyebalkan dengan bibir yang pedas.Â
Sedangkan Reno. Pria itu seakan kesusahan untuk mengeluarkan suaranya. Seakan apa yang ada di otaknya hilang saat melihat wajah Adeeva yang memerah menahan amarah.Â
Tanpa kata, dia menyodorkan bunga itu. Membuat Adeeva menatapnya dengan heran.
"Apa maksudmu?" pekik Deeva dengan kesal. "Kenapa kau ada disini? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tak mau bertemu denganmu lagi!"Â
Sahabat Almeera benar-benar mengeluarkan segala keresahan hatinya. Apa yang memenuhi pikirannya ia keluarkan.Â
"Maaf," kata Reno secara frontal.Â
Dia hanya bisa mengatakan satu kata itu saja. Seakan melihat wajah Adeeva saat ini membuatnya tak sanggup berkata apapun lagi.Â
Sedangkan Deeva, perempuan itu menatap tak percaya saat sebuah kalimat sakral keluar dari mulut pria itu. Kata yang sangat susah dimaafkan oleh seseorang ketika melakukan kesalahan.Â
Namun, hal itu tetap tak membuatnya luluh. Adeeva segera beranjak dari tempatnya tanpa menerima bunga tersebut.
"Jika kau kesini hanya untuk berbasa basi. Lebih baik silahkan pergi dari sini, Pak Reno! Pekerjaan saya masih sangat banyak." Usir Adeeva dengan gamblang.Â
Wanita itu menunjuk pintu lift di ujung sana. Dia benar-benar menatap tangan kanan Bara dengan tajam. Seakan bunga tulip yang dibawanya tidak membuat dirinya terpancing.Â
"Deeva!"Â
"Saya mohon pergi dari sini!" pintanya penuh permohonan.Â
Reno tak bisa melakukan apapun. Dia hanya bisa pasrah saat Adeeva tak mau mendengarkan permintaannya lagi. Akhirnya dia segera meletakkan bunga itu di atas meja kerja Adeeva lalu segera pergi dari sana.Â
"Bawa bunga itu dari meja kerjaku!" seru Adeeva dengan marah.Â
Reno tak menggubris. Dia berjalan terus ke arah lift. Hingga saat dirinya hendak masuk. Reno menoleh sejenak ke belakang.
"Aku membelinya khusus untukmu dan datang kesini berniat meminta maaf. Jika kau tak mau dan tak suka dengan bunganya. Buang saja!"Â
~Bersambung
Aku seneng kalau lagi kucing-kucingan gini. Rasanya nyali Reni menciut haha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.
__ADS_1