Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Almeera VS Jimmy 2


__ADS_3


...Memiliki suami dan anak-anak yang sangat menyayangi kita adalah suatu hal yang sangat amat luar biasa dan aku, adalah wanita yang beruntung itu....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


"Apa maksudmu, Ra? Kamu mau Kakak melepaskan Zelia, begitu?" tanya Jimmy tak percaya akan pernyataan adiknya.


"Ya," sahut Almeera dengan yakin. "Kakakku saja tak bisa memberi kepastian pada seorang wanita." 


"Itu juga bukan karena keinginanku, Ra. Ini karena keadaan yang memaksa," sahut Jimmy penuh frustasi.


"Setidaknya berikan kepastian, Kak. Zelia kepikiran Kakak dan Mamanya terus. Dia begitu tertekan sekarang. Dia takut kehilangan mama dan kekasihnya." 


Almeera mencurahkan segalanya. Dia hanya ingin kakaknya sadar pada perasaan sahabatnya. Biarkan saja Almeera dibilang egois. Namun, bukankah kenyataannya memang seperti itu. 


Zelia saat ini dalam keadaan yang tak baik-baik saja. Wanita itu begitu khawatir dengan kondisi mamanya sekaligus rindu pada kekasihnya yang belum memberikan kabar.


"Kenapa diam?" seru Almeera dengan kekesalannya. "Aku yakin Kakak bingung, 'kan?" 


Jimmy menunduk. Dia menghela nafas berat seakan ada batu yang menimpa hatinya.


Di satu sisi ia ingin pulang. Namun, disisi lain, apa yang dia gapai saat ini dan dijalankan adalah cita-citanya sejak kecil. 


"Maafin Kakak, Ra," lirihnya penuh sesal. 


"Bukan padaku Kakak harus meminta maaf," kata Almeera dengan serius. "Tapi pada Zelia." 


"Dia adalah wanita penyabar. Dia selalu menuruti semua yang kakak mau. Dia adalah satu wanita yang setia dan tak pernah aneh-aneh. Bahkan wanita karir yang seharusnya bisa menghabiskan kekayaan orang tuanya. Namun, dia memilih bekerja dan membangun salon." 


"Kamu benar," sahut Jimmy dengan cepat.


Hal itulah yang membuat Jimmy menambatkan hatinya pada Zelia. Perempuan mandiri, baik, sayang orang tua, tak manja ataupun jijikan dan satu lagi. Penyayang anak-anak.


"Apa Kakak tau, jika Zelia sudah membuka cabang salon miliknya?" tanya Almeera penasaran.


Entah kenapa dia ingin tau seberapa jauh hubungan keduanya. Seberapa jauh mereka berkomunikasi sampai detik ini.


"Serius?" 


"Jadi Kakak gak tau?" tanya Almeera tak percaya. "Almeera lupa jika ponsel Kakak memang tak aktif. Lalu ini…" 

__ADS_1


Almeera menatap ponsel papanya untuk mengecek siapa yang dihubungi oleh papanya itu sampai bisa memanggil kakak keduanya.


"Komandan Fred?"


"Ya. Dia komandan Kakak," kata Jimmy menjawab.


"Aku kira ini nomor Kakak." 


"Kakak akan mengaktifkan ponsel sebentar lagi," ujar Jimmy dengan yakin.


"Aku hanya mengingatkan itu saja, Kak. Jangan pernah bermain api jika tak mau terbakar. Jangan memulai suatu hubungan jika Kakak tak bisa bertanggung jawab," ujar Almeera dengan serius. "Zelia adalah anak semata wayang. Orang tuanya hanya memiliki Zelia seorang. Pasti mereka juga ingin anaknya bahagia di tangan orang yang tepat." 


"Aku tau, Ra. Aku tau," sahut Jimmy dengan menunduk.


"Bicaralah pada Zelia mengenai hubungan kalian. Aku berharap dan yakin Kakak bisa menghadapi ini dengan kepala dingin. Aku mencintaimu, Kak. Love you," ujar Almeera mengakhiri panggilannya.


Setelah panggilan itu mati. Almeera meletakkan ponselnya di atas kursi taman. Dia menarik nafasnya begitu dalam untuk membuang emosinya yang memuncak.


Ibu hamil itu sadar bahwa dia sudah marah-marah. Dia yakin anak dalam kandungannya juga ikut merasakan. Namun, jujur dia ingin kakaknya mengambil keputusan.


Dia tak mau hubungan Jimmy dan Zelia seperti ini. Tanpa kepastian dan kejelasan sampai kapan keduanya ada di hubungan mengambang.


Pacaran itu bukan hubungan jelas yah!


Bisa saja orang pacaran lama tapi nikahnya dengan siapa. 


Di dunia nyata problematik seperti itu banyak. Siapa yang berpacaran dengan siapa yang menikah. Almeera tak mau hal itu terjadi pada dua orang yang sangat dia sayangi.


Baik Zelia ataupun Jimmy, adalah dua orang yang sangat ia cintai. Tak ada batasan apapun karena dia sahabat ataupun dia kakak. Almeera akan ada dipihak kakaknya. Itu adalah salah. 


Istri Bara itu akan ada di pihak netral. Pihak tengah di antara keduanya. Tak condong ke yang satu ataupun membela yang lain. 


"Sayang! Kenapa masih disini?" tanya Bara yang sejak tadi mencari keberadaan istrinya.


Almeera yang sejak tadi memejamkan matanya sambil menatap ke arah langit akhirnya membuka mata. Disana, dia bisa melihat sosok suaminya yang juga sedang menatapnya. 


"Ada apa?" tanya Bara yang meminta duduk di samping istrinya. 


Pria itu akhirnya melingkarkan tangannya pada bahu Almeera. Lalu menarik tubuh istri yang sangat dia sayangi ke dalam pelukan hangatnya.


"Aku sudah menceritakan segala kegundahanku pada Kak Jim, Mas," cerita Almeera dengan pelan. "Aku mengatakan semuanya."


Bara masih terdiam. Dia ingin istrinya menceritakan apa yang mengganjal dalam dirinya. Apalagi dalam keadaan hamil begini, Bara tak mau istrinya tertekan atau memikirkan hal-hal yang berat.

__ADS_1


"Aku ingin dia memberikan kepastian pada Zelia. Setidaknya berikan komunikasi yang pasti disaat sahabatku sedang down seperti ini." 


Bara perlahan mengelus punggung istrinya saat mendengar cerita Almeera yang menggebu. Ayah dari Bia dan Abraham itu sangat tahu betul istrinya sedang emosi dan dia ingin Almeera meluapkan itu semua agar hatinya lebih tenang.


"Aku tak mau Kakak egois. Aku tak mau mereka saling menyakiti, Mas. Jika memang Kakak serius. Berikan kepastian pada Zelia. Jika tidak, biarkan Zelia bahagia dengan pria lain." 


Almeera merasa lega sekali. Sudah bercerita pada suaminya dengan melampiaskan segala kemarahannya. 


"Aku tau kamu ingin Kak Jim sadar jika selama ini dia sibuk dengan pekerjaannya, Sayang," kata Bara mulai berbicara. "Tapi kita juga harus memahami kesulitannya. Aku yakin dia juga tak mau seperti ini terus. Apalagi umurnya yang sudah tua," kata Bara dengan pelan.


"Biarkan Kak Jim menyelesaikan semuanya, Sayang. Berikan support saja pada dia. Aku yakin dia tak akan mengambil keputusan yang salah. Oke?"


"Oke, Mas," sahut Almeera dengan mengangguk.


"Bagus," ujar Bara lalu mencium pucuk kepala istrinya. "Ingat jangan terlalu stress atau marah-marah karena di dalam perutmu ini ada Bara dan Almeera junior." 


Almeera terkekeh. Dia mengelus perutnya yang masih rata dengan perasaan sayang.


"Maafkan Mama yang sudah mengomel ya, Nak. Mama benar-benar gemas dengan Om kalian," ujar Meera dengan tersenyum.


"Kami pasti memaafkan Mama," balas Bara dengan suara khas anak kecil. 


Almeera terkekeh. Apalagi ketika Bara menurunkan kepalanya lalu mencium perut Almeera dari luar.


"Papa akan terus ingetin Mama biar gak emosian, oke," bisik Bara dengan mengusap perut Almeera penuh sayang. "Kalian baik-baik disana. Papa, Mama, Mbak Bia dan Abang Abra akan sabar menunggu kehadiran kalian berdua." 


Almeera bahagia. Dia bersyukur memiliki suami seperti Gibran Bara Alkahfi. Pria yang mau belajar dari kesalahannya di masa lalu. Pria yang sangat jarang sekali sadar akan kesalahannya di jaman yang sekarang. 


Pria seperti Bara adalah satu dari seribu pria di dunia ini. Pria yang sadar sebelum penyesalan datang. Pria yang sadar sebelum kehilangan semuanya. 


"Ayo kita masuk, Sayang. Aku tak mau kamu dan si kembar kedinginan," ajak Bara lalu menarik Almeera dan menggandeng tangannya agar masuk ke dalam rumah. "Abra juga katanya mau menyapa calon adiknya, Sayang. Dia baru saja pulang sekolah karena masih latihan basket tadi." 


"Aku berharap dia menerima adik kembarnya ini."


"Pasti, Sayang." 


~Bersambung


Kesel sama Bang Jim. Tapi baper sama tingkah Bara. Astaga!


Ini authornya emang bener-bener mainin perasaan kalian kan? haiss.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2