Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Si Mungil Reyndra Yazid


__ADS_3


...Kehadiran anak di antara kita tentu merubah segala hal kebiasaan yang tak pernah ada menjadi ada....


...~Adeeva Khumairah...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya kondisi Adeeva yang membaik dengan cepat. Wanita itu juga tak ada gejala kelainan apapun. Keesokan harinya dia diizinkan pulang oleh dokter. Kedua orang tua baru itu terlihat begitu antusias saat bisa membawa anak mereka pulang ke rumah.


Ibu Adeeva yang menunggu di rumah mereka, tentu menyambut kehadiran anak dan cucunya dengan bahagia. Wanita paruh baya itu tentu diminta menunggu di rumah oleh Reno karena takut ibu mertuanya sakit.


Kondisi fisik ibu Adeeva yang lemah membuatnya rentan terserang penyakit. Maka dari itu, Reno yang sudah menganggap ibu mertuanya sebagai ibunya sendiri memintanya untuk diam di rumah.


Suara mobil yang baru saja berhenti di depan rumah. Membuat Ibu Adeeva segera keluar. Dia menyambut antusias anaknya yang turun dari mobil dengan diikuti seorang perawat dari kursi tengah dengan bayi yang berada di gendongannya.


"Ini cucu, Ibu?" tanya Ibu Adeeva dengan mata berkaca-kaca.


Dia mengusap kepala cucu pertamanya itu. Lalu mulai menggendong bayi laki-laki itu dengan penuh kehati-hatian. 


"Ayo, Bu. Kita masuk!" 


Ibu Adeeva mengangguk. Mereka segera masuk dengan Adeeva yang dituntun oleh suaminya. 


"Masya allah, Nak. Wajahmu sama dengan potret papamu waktu kecil," kata Ibu Adeeva yang membuat Adeeva mendongak.


"Ibu tau darimana foto Reno?" 


"Kok Reno? Panggil Mas atau Papa sekarang, Sayang," kata Ibu Adeeva menasehati.


Adeeva meringis. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa bingung. Jujur ia tak pernah memanggil Reno selain Sayang atau Ayank. Ia seperti merasa lucu jika memanggil suaminya dengan kata 'Mas.' 


"Tapi, Bu…"


"Gak ada tapi-tapian. Sekarang ada anakmu yang akan mengikuti cara bicaramu. Jadi hati-hati saat berbicara. Mengerti?" 


Adeeva mengangguk. Bagaimanapun ia juga mengerti jika ibunya menasehati ini karena memang dirinya yang salah. 


Ibu Adeeva mengalihkan pandangannya. Dia menatap sosok wanita yang baru saja ia lihat mengenakan seragam perawat. 


"Ini siapa, Nak?" tanya Ibu Adeeva pada putri dan menantunya.


"Oh ini perawat rumah sakit yang Reno sewa, Bu. Buat kasih tau dan ajarin Reno sama Adeeva tentang si kecil." 


"Kalian benar-benar sudah menyiapkan semuanya," kata Ibu Adeeva menatap Adeeva dan Reno dengan bangga.

__ADS_1


Reno yang berdiri tak jauh dari mertuanya lekas mendekat. Dia memeluk wanita paruh baya itu dengan perasaan sayang.


Dia benar-benar menyayangi Ibu Adeeva seperti ibunya sendiri. Keberadaan wanita paruh baya itu bersama mereka bahkan menjadikan keduanya belajar begitu banyak.  


Belajar bagaimana menjalin sebuah rumah tangga, menjadi seorang suami dan istri yang baik. Ibu Adeeva tak pernah malu untuk menasehati keduanya. 


Dia langsung menegur jika perlakuan keduanya salah. Meski pada anaknya sendiri, jika Adeeva salah maka akan dinasehati. 


"Assalamualaikum, Ibu. Saya Wina. Perawat sementara bayi Pak Reno dan Bu Adeeva." 


Ibu Adeeva tersenyum. Dia menatap wanita di depannya ini yang umurnya jauh lebih muda dari Adeeva. Namun, tak ada pikiran buruk apapun dalam diri wanita itu karena melihat Wina yang sangat sopan. 


"Semoga kamu betah sama tingkah mereka berdua yah," canda Ibu Adeeva yang membuat Wina menahan tawanya.


"Kamu bisa ke kamar, Wina. Kamu akan diantar oleh si mbak yang mengurus dapur." 


Akhirnya sepeninggalan Wina. Ibu Adeeva kembali menatap cucunya. Dia mengusap hidung mancung itu dan mencium pipi cucunya.


"Sehat selalu ya, Sayang. Semoga jadi anak yang shaleh dan berguna di masa depan." 


"Aamiin," sahut Adeeva dan Reno bersamaan.


"Oh iya. Nama cucu ibu ini siapa? Jangan bilang kalian belum siapin nama untuknya?" tanya Ibu Adeeva pada menantu dan putrinya. 


"Mas Reno yang akan memberikan nama, Bu." 


Reno membelalakkan matanya tak percaya istrinya memanggil namanya dengan panggilan yang berbeda. Pipinya terasa memerah ketika telinganya terngiang-ngiang suara istrinya itu.


"Ren!" panggil Ibu Adeeva yang mengejutkan pria itu dari lamunannya.


"Ah iya, Bu," sahut Reno sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal. 


Istrinya memang pandai membuatnya salah tingkah. Hingga hanya sebuah panggilan saja membuat degup jantungnya tak beraturan. 


"Kamu sudah siapkan nama?" 


"Iya, Bu. Sudah kok. Reno sudah menyiapkan nama yang insya allah berkah untuknya," kata Reno dengan serius.


Pria itu menatap wajah anaknya. Dia mengusap kepala yang tertutupi kupluk bayi itu dengan lantunan doa yang dipanjatkan dalam hati. 


"Namanya, Reyndra Yazid."


Adeeva tersenyum. Dia memang sejak dulu tak pernah bertanya perihal nama anaknya. Dia yakin jika suaminya pasti sudah menyiapkan sebuah nama yang baik untuk anak pertama mereka.


"Baby Reyn cucu Oma." 

__ADS_1


Tubuh bayi mungil itu mulai menggeliat. Sepertinya ia mulai merasa tak nyaman. Akhirnya Ibu Adeeva segera menyerahkan pada anaknya agar membawa Baby Reyn segera dibawa ke kamar.


"Istirahatlah dulu. Ibu akan membuatkan makanan untukmu," kata Ibu Adeeva mengelus kepala putrinya.


"Adeeva mau membantu, Ibu."


Wanita paruh baya itu menggeleng. Dia tak mau merepotkan putrinya yang baru saja selesai melahirkan.


"Temani Baby Reyn ke kamar bersama Reno. Mama bisa kok masak buat kalian." 


Adeeva menatap penuh haru. Dia meraih tangan ibunya dan menciumnya penuh perasaan. Tangan inilah yang selalu ada untuknya. Menghapus air matanya. Menguatkan jiwanya dalam keadaan suka maupun duka. 


Keduanya segera membawa Baby Reyn ke kamar. Saat Adeeva hendak mendorong pintu kamarnya. Reno menarik tangan istrinya menuju kamar tepat samping kamar mereka.


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Adeeva yang mulai membiasakan dirinya.


Meski masih merasa geli. Wanita itu mencoba untuk mengucapkannya.


"Bukalah, Sayang!" 


Adeeva menatap suaminya dengan jiwa yang penuh penasaran. Dia segera mendorong pintu kamar itu lalu menghidupkan lampu kamar. 


Mata Adeeva terbelalak. Dia menatap tak percaya ruangan yang setahu dirinya sebuah kamar sekarang berganti dengan kamar bayi.


Ranjang yang besar sudah berganti dengan box bayi besar. Lalu disudut ruangan terdapat lemari baru yang baru saja ia lihat.


Adeeva menggendong putranya dengan menepuk pantatnya pelan. Lalu dia sambil berjalan mengelilingi ruangan itu. Wajahnya penuh kagum. Ruangan ini benar-benar disulap tanpa sepengetahuannya. 


"Ini semua kamu yang siapin?" tanya Adeeva menatap suaminya.


"Kamu suka?" tanya balik Reno tanpa menjawab. "Kamu suka, Cinta?" 


Adeeva mengangguk. Dia memejamkan matanya saat suaminya mencium pipi, mata dan bibirnya dengan lembut.


"Aku suka banget, Mas," balas Adeeva menatap wajah suaminya yang ada di dekatnya. "Kamar ini begitu luar biasa. Tapi kamar ini pasti menghabiskan banyak uang." 


Reno tersenyum. Adeeva adalah perempuan yang sangat berbeda. Dia bersyukur memiliki istri seperti ini.


"Jangan memikirkan itu, Sayang. Apapun untuk kamu dan Reyn. Aku akan berjuang kerasa mewujudkannya."


~Bersambung


Bang Ren, sini deh. Kamu kok limited edition sih.


BTW HTS juga mau tamat kok. Aku paham kalau ini bab dah banyak. Ya tapi mbok sabar gak mungkin aku loncat tamatin ntr bikin jomplang alurnya.

__ADS_1


__ADS_2