
...Wanita itu manusia penuh kepastian. Mereka tak suka digantungkan dan tak diberi kepastian....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Semua orang berkumpul di rumah Papa Darren dan Mama Tari. Pasangan suami istri yang tak lagi muda tersebut, meminta anak-anaknya ke rumahnya untuk mengumumkan kehamilan Almeera yang ketiga.
Wajah seorang ayah dari tiga orang anak yang sudah besar sangat amat terlihat begitu menyayangi anak-anaknya. Bahkan dengan segala antusiasnya, Papa Darren sampai menghubungi putra keduanya melalui pesan teks dan mengatakan bahwa adik kesayangan mereka sedang hamil.
"Sayang!" panggil Bara yang sudah tak tahan akan aksi istrinya.
Jujur baru kali ini Almeera hamil tapi pola makannya begitu luar biasa. Ketika hamil Abra dan Bia, Almeera sangat mabuk dan anti makan. Dia tak bisa makan nasi dan selalu memakan buah.Â
Namun, kehamilan sekarang sangat amat berbeda dari yang pertama dan kedua. Bahkan Bara sendiri mengakui jika istrinya sejak tadi tak berhenti makan. Dari yang kue kacang sampai salad pun, perempuan itu terus mengunyah.
"Ada apa, Mas?" sahut Almeera dengan mulut penuh dengan salad.
"Jangan makan terus. Nanti perut kamu sakit," ujar Bara menasehati.
Tiba-tiba ekspresi Almeera berubah. Wajah wanita itu berubah menjadi sedih dengan mata berkaca-kaca.
"Maksudku bukan melarangmu untuk makan, Sayang," kata Bara gelagapan.
Dia segera duduk di samping istrinya dan menarik bahu Meera agar menempel pada dirinya.
"Aku hanya takut perutmu sakit karena terlalu banyak makan."Â
"Tapi aku lapar, Mas," cicit Almeera apa adanya.
Dia sendiri sebenarnya tak mau doyan makan seperti ini. Namun, mau bagaimana lagi. Perut dan mulutnya seakan meminta dirinya untuk terus makan dan ngemil apapun yang ada di depannya.
"Apa kamu takut aku gendut dan jelek?"Â
Mata Bara membulat penuh. Dia tak suka dengan pernyataan istrinya itu. Ia tak pernah takut Almeera gendut ketika hamil. Istrinya itu berhak melakukan apapun, makan sebanyak apapun, gendut sebesar apapun.Â
Yang terpenting dalam diri Bara. Istri dan anaknya sehat terus, itu saja sudah cukup!
"Jangan pernah katakan apa yang sudah kamu tahu jawabannya, Sayang!" ujar Bara dengan tegas. "Segendut apapun kamu, aku tak akan berpaling. Kamu paham?"Â
Almeera mengangguk. Dia memeluk tubuh suaminya dengar erat. Entah kenapa aroma keringat Bara menjadi bau favoritnya sekarang.Â
__ADS_1
Sepertinya sikap manja Almeera masih sangat jelas terlihat ketika hamil. Dan itu adalah momen yang sangat ditunggu oleh Bara. Ketika hamil Bia, Bara sampai begitu kewalahan. Namun, dia tak pernah menolak ketika istrinya bergelayut kepadanya.Â
"Jadi Meera boleh makan lagi, 'kan?"Â
"Tentu. Makanlah apa yang kamu inginkan. Katakan padaku jika kamu ngidam sesuatu," kata Bara dengan serius dan mengambilkan kotak salad yang diletakkan istrinya di atas meja makan. "Apapun jika aku bisa dan ada. Pasti aku dapatkan, Sayang."Â
"Terima kasih, Mas."Â
Bara menemani istrinya itu makan. Hingga kedatangan Jonathan dan Kayla membuat ayah dari calon empat orang anak beranjak berdiri.
"Selamat ya, Bar! Sepertinya kamu memang tokcer daripada diriku," kata Jonathan sambil menepuk pundak adik iparnyaÂ
Bara terkekeh. Namun, dia juga memukul dadanya begitu bangga.
"Sejak dulu nagaku memang sangat manjur, Kak. Dia selalu berhasil menghasilkan kecebong yang baik," kata Bara dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Dasar sombong," cibir Jonathan menatap jengah. "Tapi boleh juga beri aku resep biar punyaku juga tokcer."Â
Bara benar-benar tak bisa menahan tawanya. Namun, tangannya tetap mengacungkan jempol menanggapi permintaan kakak iparnya.Â
"Baiklah. Nanti aku akan bagi resep pada, Kakak. Semoga berhasil oke," kata Bara dengan penuh harap.
"Ya tunggu istriku setelah melahirkan. Kalau sekarang mah, dia juga sedang merasakan ketokceran milikku."Â
"Oke, Bos. Kalau bisa buat anak sebanyak mungkin," bisik Bara dengan mengedipkan matanya.Â
"Ya gapapa. Banyak anak banyak rejeki. Eh…!" ujar Bara dengan santai. "Banyak anak juga, banyak cucu nanti."Â
"Dasar bodoh!"Â
...🌴🌴🌴...
"Meera ada panggilan untukmu, Nak," kata Papa Darren yang keluar dari ruang kerjanya.
Di tangannya sambil memegang benda pipih milik pria tua itu.Â
"Siapa, Pa?"Â
"Kakakmu," sahut Papa Darren dengan bahagia.
Menyebut kata kakak, Almeera sudah tahu siapa yang dimaksud. Wanita itu langsung menerima ponsel papanya dan berjalan menuju taman belakang.Â
Entah kenapa ibu hamil itu ingin mengatakan sesuatu yang lebih lama dan privasi dengan kakak keduanya itu. Toh, antara Almeera dan Jimmy sejak dulu tak pernah ada yang disembunyikan.
__ADS_1
"Hai, Adik kesayanganku," sapa Jimmy dengan wajah muncul di layar yang menyala. "Selamat atas kehamilan kembarmu, Sayang."Â
Mata Almeera berkaca-kaca. Dia sangat merindukan kakaknya ini. Dimana Jimmy berada, Almeera selalu mendoakan semoga kakaknya selalu sehat dan selamat.Â
"Kapan Kakak pulang?" tanya Almeera mengabaikan ucapan selamat kakaknya.
Dia ingin Jimmy pulang. Dia merindukan kakak keduanya itu. Ingin memeluknya dan bercerita banyak hal.
"Kakak belum bisa pulang akhir-akhir ini, Ra. Banyak kerjaan…"Â
"Jawabannya selalu banyak kerjaan. Banyak tugas dan misi," sela Almeera dengan menangis. "Apa Kakak tak pernah rindu padaku, Mama, Papa dan Kak Jo?"Â
Terlihat Jimmy menghela nafas berat dari seberang telepon. Dia juga menjadi ikut sedih melihat raut wajah adiknya yang tak bersahabat seperti sekarang ini.Â
"Kamu tau bagaimana pekerjaan Kakak, 'kan? Kakak tak bisa egois," ujar Jimmy penuh hati-hati.
"Menemui adik yang rindu pada kakaknya apa sebuah keegoisan?" seru Almeera menggebu-gebu.
Sepertinya kehamilan kembar ini selain membuat Meera menjadi manja dan doyan makan. Perempuan itu mudah terpancing emosi dan mood naik turun.Â
"Bukan seperti itu, Ra!"Â
"Apa Kakak juga tak ingin menemui Zelia?" tanya Almeera dan lagi-lagi menyela ucapan Jimmy. "Mamanya Zelia sakit, Kak."Â
"Apa!" sahut Jimmy dengan terkejut. "Tapi kenapa Zelia tak mengatakan apapun?"Â
"Apa seminggu ini Kakak bisa dihubungi?" sindir Almeera mengingatkan pria itu. "Nomor Kakak saja tidak aktif, bagaimana Zelia ingin memberikan kabar tentang mamanya."Â
Almeera bisa melihat raut wajah penyesalan dalam diri Jimmy. Namun, biarkan saja. Biar kakaknya menjadi sadar bahwa apa yang dilakukannya ini adalah salah.
"Maafkan Kakak, Ra. Kakak benar-benar sibuk," sahut Jimmy dengan pasrah.Â
"Aku takut Tante sakit karena memikirkan nasib Zelia yang belum menikah, Kak," kata Almeera mencurahkan kegundahan hatinya. "Reno dan Adeeva saja baru menikah."Â
"Serius?"Â
"Ya. Reno bukan pria main-main. Dia langsung melamar Adeeva tanpa mau berhubungan dengan tanpa kejelasan," kata Almeera dengan yakin. "Keduanya memang berpacaran awalnya. Namun, keseriusan Reno semakin naik tatkala ayah Adeeva hadir di antara mereka."
"Aku hanya tak mau Kakak dan Zelia saling menyakiti," lanjutnya setelah menghela nafas kasar. "Berikan kepastian pada Zelia jika Kakak memang serius. Jika tidak, maka biarkan dia bahagia dengan pria lain."
~Bersambung
Ah part ini bikin sedih. Yang kangen Bang Jim. Nih Abang muncul ya walau harus dalam keadaan begini.
__ADS_1
Yang tanya cerita ini tamat sampai Bang Jim dan Zel menikah. Sorry gak bisa kabulin. Soalnya cerita Bang Jim dan Zelia bakalan ada novelnya sendiri.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar aku semangat ngetiknya.