
...Ketika kenangan buruk menimbulkan trauma maka hancurkan kenangan itu dengan kenangan indah yang pernah kita ukir....
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
"Cium aku, Mas!" pinta Almeera memohon.
Bara menelan ludahnya paksa. Ia tak percaya jika istrinya meminta untuk dicium. Jika melihat bibir seksi menggoda itu, Bara tentu akan langsung menyesapnya. Namun, mengingat trauma yang masih ada dalam diri istrinya, membuat kepala Bara menggeleng.
Dia tersenyum begitu tulus. Lalu mengusap kepala istrinya dengan lembut. Â
"Jangan memaksa keadaan yang belum bisa kamu tangani, Sayang," ucap Bara menenangkan. "Kita masih memiliki waktu banyak."Â
Mata Almeera berkaca-kaca. Dia tak menyangka suaminya masih bisa menahan. Bahkan tadi Almeera bisa melihat bagaimana suaminya itu bergairah.Â
"Aku…"Â
"Udah. Gak usah sedih," kata Bara menghibur. "Bagaimana kalau kita naik ke atas?"Â
Almeera mendongak. Dia menatap rumah pohon yang begitu kokoh berdiri di atas sana.
"Apa kayunya masih kuat?" tanya Almeera penuh keraguan.
"Ya. Dua rumah ini begitu dirawat, Sayang. Aku meminta orang untuk membersihkan dan menjaganya," kata Bara yang membuat Almeera menundukkan pandangannya.Â
"Serius?"Â
"Ya." Bara mengangguk. "Ayo kalau mau naik."Â
Akhirnya Almeera menerima ajakan suaminya. Toh walau dia memakai gamis, ia juga memakai celana panjang sebagai dalaman. Dengan pelan, Almeera memegang bagian pinggir tangga yang menggantung.Â
Lalu dengan pelan, dia mulai menaiki satu persatu tangga sampai akhirnya tubuhnya mendarat tepat di rumah pohon milik dirinya.Â
Ya, dua rumah itu terdapat nama mereka masing-masing. Dulu keluarga Bara membuatnya karena takut mereka melewati batas. Alhasil jadilah dua rumah berdampingan dengan warna dan desain yang sama.Â
Almeera segera merangkak pelan. Lalu dia membuka gembok yang tak dikunci dan segera memasuki rumah kayu tersebut. Lampu berwarna kuning Almeera nyalakan. Hingga akhirnya pemandangan yang ia lihat adalah foto-fotonya bersama Bara masih tertempel rapi disana.
Banyak kenangan di setiap foto tersebut dan tanpa sadar membuat bibir Almeera tersenyum.Â
__ADS_1
"Ternyata banyak sekali kenangan yang aku habiskan bersamamu, Mas Bara. Banyak kebaikan yang kamu berikan kepadaku sampai di titik ini," lirihnya dengan pandangan sendu. "Jadi jika waktu itu aku egois, apa aku dan anak-anak akan bahagia tanpamu?"Â
Tanpa Almeera sadari, Bara mulai menyusul istrinya. Dia merangkak memasuki rumah itu dan melihat istrinya duduk dengan menatap foto-foto yang terpajang di dinding rumah kayu.Â
"Sayang."
Almeera berjingkat kaget. Dia menolehkan kepalanya dan matanya langsung bertemu pandang dengan Bara.
"Ngelamunin apa hm?" tanya Bara dan mendudukkan dirinya di belakang sang istri.
Dia melingkarkan tangannya di perut Almeera. Hingga suasana yang terjadi membuat Almeera tak merasakan ketegangan dalam pelukan Bara.Â
"Aku rindu masa-masa ini, Mas," kata Almeera menunjuk setiap momen yang dipajang di sana. "Ini, waktu kita ke jogja dan mandi sungai."Â
Bara mengangguk. Dia masih ingat akan kenangan itu. Kenangan dimana mereka dengan sengaja menceburkan diri di sungai karena Bara mengganggu rumah lebah dan berakhir keduanya dikejar.Â
"Kamu benar. Semua itu hanya jadi kenangan sekarang. Kita gak bisa memutar waktunya kembali," ucap Bara sambil merapatkan tubuhnya dan menghirup aroma minyak wangi sang istri.
Merasakan bagaimana dada bidang Bara melekat di tubuhnya. Membuat jantung Almeera berdebar kencang. Dia mulai merasakan pikirannya akan kembali terbayang wajah Narumi. Namun, secepat kilat, dia menatap potret-potret itu lagi hingga suasana dalam dirinya benar-benar bisa dia hadapi.Â
"Tapi kita bisa menjejakkan kaki lagi kesana," lanjutnya yang membuat Almeera lekas menoleh.
Gerakan tiba-tiba itu, membuat hidung keduanya yang mancung tentu bertabrakan.Â
Hingga entah siapa yang memulai. Mata keduanya tertutup dengan wajah saling mendekat sampai bibir keduanya saling memagut.
Suasana yang diciptakan oleh Bara dengan kenangan potret yang manis. Membuat Almeera merasa dejavu dengan kenangan mereka.
Bibir keduanya semakin menyesap pelan. Saling menggigit hingga Almeera membukanya dan memberikan jalan lidah Bara untuk menjelajahi bibirnya.
Suara geraman dan cecapan tentu begitu terdengar. Bahkan tanpa sadar, tubuh Almeera sudah memutar dan dia mencengkram kaos yang dipakai oleh suaminya.
Ciuman yang semula lembut mulai menuntut. Bahkan posisi keduanya yang intim semakin membuat Bara dan Almeera lupa akan dimana mereka saat ini.Â
Suara lenguhan sedikit terdengar saat tangan Bara yang semula berada pinggang tiba-tiba merayap dan mencengkram bukittinggi Almeera.
"Mas!"Â Â
Lenguhan dari bibir Almeera membuat Bara tersadar. Dia segera melepaskan pagutan keduanya hingga mereka saling terengah-engah.Â
Ciuman yang menuntut dan tak ada keinginan melepaskan membuat mereka saling berburu dan kesulitan bernafas. Namun, saat ciuman itu terlepas, keduanya merasa membutuhkan oksigen hingga berebut dalam menarik nafasnya.
__ADS_1
Bara tersenyum. Dia bahagia saat istrinya mampu mengendalikan traumanya. Jujur Bara memang merasakan bagaimana tegangnya Almeera saat mereka ciuman pertama kali. Namun, perlahan tubuh itu mulai rileks saat keduanya mulai tenggelam akan hasrat yang sama.Â
"Terima kasih, Sayang. Bibir kamu masih tetap sama. Candu," bisik Bara sambil mengusap bibir Almeera yang basah dan sedikit bengkak.
Spontan ucapan Bara membuat pipi Almeera bersemu merah. Dia menunduk malu saat tatapan pria itu begitu bergairah kepadanya.
"Kita lanjutkan nanti malam jika kamu memang sudah siap. Tapi memastikan kamu nyaman, lebih baik menunggu pertemuan kedua kamu dengan psikiater."Â
Almeera benar-benar tak tahu harus mengatakan apa. Dia bahkan tak menyangka jika berada di rumah kayu membuat dirinya bisa berperang dengan dirinya sendiri.
Bahkan ketika bayangan Narumi datang, kenangan masa lalunya dengan Bara menepis semuanya.
"Ayo turun!" ajak Bara pada Almeera.Â
Almeera menganggukkan kepalanya. Mereka perlahan turun dan berjalan ke arah timur dengan bergandengan tangan.
"Apa kebun impian kita masih ada?" tanya Almeera menatap Bara.Â
Keduanya memang sudah lama sekali tak datang kesini. Mungkin bisa dibilang 4 tahun keduanya tak pernah mengunjungi rumah kayu dan kebun impian.
Hampir lima menit mereka berjalan. Dari jauh Almeera dapat melihat taman bunga miliknya. Sebuah tanah yang ditumbuhi bunga mawar dan putih yang terlihat tumbuh subur dan terawat.
Mata ibu dari dua anak itu berbinar. Bahkan tanpa sadar, Almeera berlari kecil menuju kebun yang di garis batas oleh pagar dari kayu.
"Kamu merawatnya dengan baik, Mas," kata Almeera menoleh ke belakang dimana Bara tertinggal olehnya.
"Tentu. Aku tau arti kebun ini sangat berarti untukmu," kata Bara lalu mendekati Almeera dan menarik pinggang wanita itu agar lebih dekat.
Tatapan keduanya dipenuhi tatapan cinta. Bahkan mereka saling memuji satu dengan yang lain. Tak ada dendam dari masa lalu yang terbawa saat ini. Tak ada cela untuk mengungkit kejadian masa lampau di antara keduanya.
Mereka benar-benar berdamai. Berdamai dengan semua masalah yang terjadi hingga membuat mereka ikhlas kembali menjalani hubungan rumah tangga yang hampir hancur.
"Kamu tau, Mas? Kenapa aku dulu memaksa membangun kebun ini?" tanya Almeera dan meletakkan kepalanya tepat di atas jantung Bara.
"Kenapa?"
"Karena aku ingin, cinta kita terus tumbuh seperti bunga ini. Dari tahun ke tahun sampai tuhan sendiri yang akan memisahkan kita."
~Bersambung
Kan kan author sendiri merasa ngontrak di novel sendiri. Perjalanan ke mars kapan berangkat?
__ADS_1
Rasanya baper sendiri.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.