
...Kedatangannya yang tak terduga ternyata mampu membunuh rasa rinduku yang sudah memuncak dan menumbuhkan rasa percaya diriku kembali....
...~Azzelia Qaireen...
...🌴🌴🌴...
Pelukan itu benar-benar terasa menghangatkan. Rasa rindu yang semula bergejolak. Rasa menyerah yang begitu memuncak. Seketika terhempas hanya dengan menatap wajah tampan yang selalu dirindukan setiap malam.
Aroma tubuhnya yang maskulin akhirnya bisa dia cium lagi. Dada bidang yang sangat nyaman mampu membuatnya ingin berlama-lama berada dalam pelukan sang kekasih.
"Kemana saja selama ini kamu, Kak?" seru Zelia memukul punggung Jimmy dengan tangannya.Â
Pelukan keduanya belum lepas. Bahkan seakan baik Zelia maupun Jimmy tak mau melepaskan pelukan mereka.Â
"Maafkan aku. Aku benar-benar memiliki tugas untuk memata-matai seseorang," ujar Jimmy dengan serius.
"Kamu dimana, Li?" teriak Papa Zelia dari dalam.
Pria tua itu memang menyuruh anaknya untuk membuang sampah di tong sampah depan ruangan. Namun, tak mendapati anaknya kembali tentu membuatnya khawatir.
"Sebentar, Pa," balas Zelia sama berteriak.
Akhirnya dengan tak ikhlas keduanya melepaskan pelukannya. Belum sepenuhnya terlepas sih karena tangan Jimmy masih melingkar di pinggang kekasihnya.Â
Tatapan keduanya saling beradu. Mereka seakan menyelami mata keduanya yang sama-sama memancarkan cinta begitu besar.
"I miss you," bisik Jimmy lalu mencium dahi kekasihnya dan menahannya sebentar.Â
Hati Zelia bergetar. Dia tak menyangka jika perasaan Jimmy masih tetap sama kepadanya. Bahkan ketakutan yang selama ini ia pikirkan, semuanya tak terjadi.
"I miss you too, Kak," balasnya dengan mata terpejam. "Jangan ulangi lagi seperti kemarin. Aku hampir menyerah dengan hubungan ini."Â
"Jangan katakan itu lagi!" seru Jimmy menggeleng. "Aku benar-benar menyesal telah menghilang dan tak memberikan kabar kepadamu, Sayang."Â
Zelia masih diam. Namun, tangannya ia letakkan di atas jantung Jimmy dan mengusapnya.
"Apakah namaku masih ada disetiap detak jantung, Kakak?" tanya Zelia dengan serius.Â
"Selalu ada dan tak akan pernah tergantikan!" jawab Jimmy tanpa ragu.
"Apa cinta Kakak masih tetap sama kepadaku?" tanya Zelia ingin tahu.
"Sama. Bahkan selalu semakin berkembang cintaku ini," jawab Jimmy dengan yakin. "Aku hanya belum bisa beradaptasi dengan situasi baru, Sayang. Sebelumnya aku tak pernah berpacaran. Aku selalu fokus pada pekerjaan. Jadi, kemarin aku melupakanmu karena pekerjaanku yang banyak dan belum terbiasa."Â
Zelia tersenyum. Dia meneteskan air matanya dan segera menghapusnya.
__ADS_1
"Jangan menangisi pria sepertiku. Aku tak berhak mendapatkan tangisanmu," ujar Jimmy dengan menghapus sisa-sisa air mata kekasihnya.Â
"Maafkan aku," ujar Zelia dengan suara seraknya. "Aku hampir menyerah dengan hubungan kita, karena aku berpikir Kak Jim sudah bosan kepadaku."Â
"Bagaimana bisa?" tanya Jimmy dengan heran.Â
"Aku berpikir Kakak menghilang agar aku bosan dengan tak ada kabarnya, Kak Jim. Aku pikir ada wanita lain yang mampu menarik perhatian Kakak dariku. Aku berpikir…"Â
Perkataan Zelia langsung terhenti saat bibir Jimmy membungkam bibir kekasihnya. Gadis itu benar-benar membulatkan matanya tak percaya akan aksi kekasihnya ini.Â
Aksi gila yang dilakukan di rumah sakit tanpa memikirkan jika mungkin ada CCTV di sana.
"Kakak gila ya!" seru Zelia memukul dada kekasihnya. "Kalau ada kamera bagaimana?"Â
Wanita itu mengedarkan pandangannya. Dia mencoba mencari CCTV yang mungkin terpasang di sana.
"Bodo! Yang penting bibir cerewet ini bisa diam!"Â
"Huh! Aku cerewet juga karena kamu suka ilang kayak Valak!" seru Zelia mendelik sebal.Â
"Dan Valak ini yang berhasil membuat hatimu gak karuan, 'kan?" goda Jimmy sambil memainkan alisnya.
"Pede!" ujar Zelia lalu segera menarik tangan suaminya. "Lebih baik temui orang tuaku daripada kamu makin macem-macem disini!"Â
"Aku hanya minta satu macam, Sayang!" balas Jimmy sambil mengikuti langkah kekasihnya untuk masuk ke ruangan calon mertuanya.
"Diamlah dan jangan bicara yang aneh-aneh lagi, Tuan Mesum!" kata Zelia sebelum keduanya akhirnya masuk ke dalam ruangan Mama Zelia.
Senyumanya mengembang saat melihat raut wajah putrinya tak lagi sedih. Bahkan wajahnya yang buram sudah berubah dengan rona kemerahan yang menandakan bahwa anak itu sedang malu.Â
"Udah pulang, 'kan, kekasih yang dirindukan?" ledek Papa Zelia yang membuat gadis itu merengsek ke pelukan papanya.
"Papa," rengeknya dengan malu-malu.
"Uring-uringan kayak orang gak punya semangat hidup. Ternyata gara-gara kangen sama sang pacar."
"Ih, Papa! Malu," sungut Zelia merengut.
Jimmy hanya terkekeh. Melihat kekasihnya manja kepada papanya membuat pria itu merasa senang. Jimmy sangat tahu kekasihnya adalah anak tunggal kesayangan. Hingga wajar bila Papa dan Mama Zelia sangat memanjakan putrinya.
Namun, kekasihnya bukanlah gadis manja yang hanya menadah uang saja. Gadis itu sudah bisa membangun usahanya sendiri dengan uang yang ia punya.
"Apa kabar, Pa?" tanya Jimmy sambil mencium punggung tangan Papa Zelia.
"Baik. Kamu sendiri bagaimana?"Â
"Alhamdulillah baik, Pa," ujar Jimmy laly pandangannya menatap ke arah ibu dari kekasihnya. "Mama bagaimana?"Â
__ADS_1
Papa Zelia terlihat menghela nafas berat. Dia menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Kami sudah pasrah pada Tuhan." Itu bukan jawaban dari Papa Zelia. Melainkan dari gadis muda yang sudah meneteskan matanya.
Membahas sakit mamanya selalu membuat sudut hatinya sakit. Dia ingin marah, berontak tapi ini adalah ketetapan Tuhan. Semua sudah digariskan dan ia hanya bisa menerima.
"Lia bakalan semangatin Mama buat sembuh tapi bagian terburuknya, Lia harus siap menerima hasil akhir."
"Putriku," lirih Papa Zelia memeluk anaknya.Â
Yang dikatakan putrinya memang benar. Dia mampu menyemangati istrinya supaya sembuh. Namun, mengingat ucapan dokter, membuatnya siap tak siap, harus menerima hasil akhir yang akan berakhir membahagiakan atau kehilangan.
"Zelia gak sanggup, Pa."Â
Jimmy menatap kekasihnya dengan sedih. Matanya berair melihat bagaimana rapuhnya wanita yang ia cintai itu. Apa yang dikatakan adiknya memang benar.Â
Cintanya itu sedang rapuh saat ini. Bahkan baru kali ini, Jimmy melihat Zelia selemah ini selama mereka kenal. Melihat Jimmy yang seperti sungkan, membuat Papa Zelia segera melepaskan pelukan pada putrinya.
"Papa titip Mama sebentar yah. Papa mau beli kopi."
"Mau Jimmy temani, Pa?"Â
Papa Zelia menggeleng. "Papa titip Zelia dan Istri Papa yah."Â
"Baik."Â
Setelah kepergian Papa Zelia. Jimmy segera pindah ke samping kekasihnya. Hal itu tentu membuatnya dengan mudah menarik Zelia ke dalam pelukannya.Â
Rasa bersalahnya semakin besar tatkala ia tahu bagaimana keadaan kekasihnya secara langsung.
"Maafkan aku yang selama ini egois. Aku benar-benar mengabaikanmu sampai tak tahu keadaanmu yang sebenarnya."Â
Zelia mendongak. Dia menatap kekasihnya yang juga sedang menatapnya.
"Kak Jim mau berjanji sama Lia?"Â
"Untuk?" tanya Jimmy sambil mengusap kepala kekasihnya.
"Untuk selalu mengabari Lia apapun keadaannya? Hanya satu pesan saja setiap hari. Yang penting ada kabar buat Lia dari, Kak Jim?"Â
Hati Jimmy mencelos. Melihat kekasihnya mengemis seperti ini saja membuatnya gagal menjadi seorang pria sejati.
Pria yang seharusnya bisa menjaga janjinya malah ia ingkari sendiri.
"Aku tak bisa berjanji tapi aku akan berusaha menepatinya, Sayang."
~Bersambung
__ADS_1
Awas aja ampek modus. Inget ada sosok si misterius yang kasih sapu tangan, haha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.