
...Keinginan yang sudah menjadi obsesi akan berubah menjadi senjata paling berbahaya jika tak sesuai dengan ekspektasi dirinya sendiri. ...
...~JBlack ...
...🌴🌴🌴...
Reno terduduk lesu. Wajahnya terlihat begitu berantakan. Pria itu menyugar rambutnya ke belakang dan kembali memasuki ruang kerja Bara. Tak ada semangat lagi di wajahnya. Dia benar-benar frustasi menatap kepergian Adeeva yang pergi meninggalkannya dengan membawa kekesalan yang mendalam.
"Apa yang harus aku katakan pada Bara dan Almeera?" serunya pada dirinya sendiri. "Aku yakin Bara akan memarahiku setelah ini."
Akhirnya Reno pasrah akan apa yang terjadi kedepannya. Dia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya daripada memikirkan hal yang tidak penting. Biarlah untuk urusan Adeeva, dia serahkan pada Tuhan.
Jika memang dia diminta menyusul wanita itu ke perusahaan Almeera, maka akan ia lakukan. Bukan karena dia mencintai Adeeva. Melainkan ia sadar bahwa apa yang dirinya lakukan dan katakan sudah sangat menyakiti hati Adeeva terlalu dalam.
...🌴🌴🌴...
Setelah dari kantor polisi. Bara membawa kedua wanita kesayangannya ke sekolah sang putra. Mereka akan menjemput Abraham yang baru saja pulang sekolah.
Kegiatan basket yang ditekuni oleh putra pertama mereka, sering membuat Abraham pulang melebihi waktu yang semestinya. Namun, hak itu tak membuatnya melalaikan kegiatan belajarnya setiap malam. Antara akademis dan non akademis selalu diseimbangkan oleh putra dari pasangan Almeera dan Bara.
"Mama sama Papa dari mana?" tanya Abraham yang baru saja masuk ke dalam mobil.
Pakaian anak itu sudah berganti dengan kaos basket. Bahkan peluh memenuhi seluruh tubuhnya yang semakin bertambah usia semakin terbentuk.
Otot-otot di tubuh Abraham memang mulai tumbuh. Maka tak khayal jika anak yang masih duduk di bangku 2 smp itu sudah terlihat seperti anak SMA. Memiliki pistur tubuh tinggi, dada bidang dan ototnya yang kuat.
"Dari kantor polisi, Bang," sahut Almeera yang membuat Abraham menghentikan aktifitasnya.
"Ngapain?" tanyanya memajukan tubuhnya ke depan.
"Melihat kondisi Tante Narumi." Perkataan yang muncul dari bibir mamanya membuat Abraham lekas menoleh pada sang papa.
Abraham menatap lekat wajah papanya seakan meminta jawaban atas pernyataan dari mamanya.
__ADS_1
"Pengacara Papa tadi menelpon meminta Mama dan Papa melihat kondisinya. Saat kesana, dia ternyata mengalami gangguan jiwa," kata Abraham mulai menjelaskan pada anaknya dengan jujur.
Tak ada yang ditutupi oleh ayah dari dua anak itu. Dirinya benar-benar menceritakan bagaimana kondisi Narumi saat ini dan keputusan apa yang diambil oleh Almeera.
Abraham tak menjawab sedikitpun. Remaja itu benar-benar mendengar semua yang diceritakan oleh papanya. Hingga kepalanya manggut-manggut ketika penjelasan itu berakhir.
"Apa Mama percaya sama wanita itu?" tanya Abraham setelah Bara selesai bercerita. "Dia pandai bermain drama, Ma. Bahkan wajahnya itu hanya untuk topeng kejahatannya."
Almeera menghela nafas berat. Dia memang sempat berpikir seperti anaknya. Namun, kondisi Narumi yang benar-benar buruk dan tak terkendali membuatnya yakin bahwa wanita itu tak lagi bercanda atau drama.
"Mama percaya," sahut Almeera yang membuat Abraham menatap mamanya tak percaya. "Jangan suudzon sama orang, Bang."
"Abang gak suudzon, Ma. Tapi kenyataannya memang begitu. Dia banyak melakukan kesalahan pada keluarga kita."
Almeera mengangguk. Dia lekas menoleh ke belakang agar wajahnya bisa berhadapan langsung dengan putranya.
"Jangan pernah menilai seseorang dari masa lalunya, Nak," nasehat Almeera dengan lembut. "Urusan dia drama atau memang benar, kita hanya bisa mendoakannya."
Abraham hanya bisa menghela nafas lelah. Apa yang dikatakan mamanya memang benar. Dia sendiri belum melihat secara langsung kondisi mantan istri papanya. Namun, meski dia diajak menjenguk, Abraham akan menolaknya.
"Mama benar," sahut Abraham lalu menyandarkan punggungnya di sandaran mobil. "Tapi aku mendoakan semoga dia benar-benar gila. Agar dia tak bisa menjahati orang lagi jika sudah seperti itu kondisinya."
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di kantor polisi. Sepeninggalan Bara dan Almeera. Pengacaranya segera mengurus segalanya. Dia mengajukan permintaan pada pihak kepolisian untuk membawa tersangka bernama Narumi ke RSJ.
Permintaan itu semakin disetujui ketika amukan Narumi semakin menjadi. Bahkan perempuan itu sampai menjedotkan dahinya di jeruji besi hingga memar mulai muncul disana.
"Aghhhh," jeritnya dengan air mata yang mengalir. "Dia telah mengambil semuanya. Dia juga sudah mengambil semua uangku!"
Tiba-tiba Narumi bertepuk tangan. Perempuan itu tertawa tak jelas yang semakin mengundang rasa takut bagi siapapun yang melihatnya. Mereka benar-benar khawatir jika Narumi akan melakukan hal lebih gila dengan pikiran yang tak sehat.
"Hahaha Mas Adnan, kita akan memiliki bayi sebentar lagi," kata Narumi dengan terkekeh. "Kenapa Mas Adnan gak pulang-pulang? Perutku berisi anak kita."
Perubahan sikapnya sangat terlihat jelas. Kadang tertawa, kadang menangis, kadang berteriak dan kadang marah-marah. Semua itu tentu dilihat langsung dari kamera CCTV yang ada di sana.
__ADS_1
Pengacara Bara benar-benar ingin melihat apakah keadaan tersangka yang dilaporkan oleh kliennya memang benar adanya. Dia tak mau Narumi lolos dan membuat Bara kecewa pada kinerjanya.
"Pihak RSJ sedang menuju kesini, Pak," kata pengacara Bara pada polisi yang memegang berkas yang dia bawa.
"Ya. Saya sudah menyiapkan pengawas dan pengawal untuk menjaga tersangka selama di rawat di rumah sakit."
"Terima kasih banyak, Pak. Saya benar-benar berterima kasih banyak," kata pengacara itu sebelum dia keluar dari ruangan.
Narumi segera dimasukkan ke dalam ambulans. Dia juga diikuti oleh 3 orang polisi untuk mengikuti proses perpindahan wanita itu sampai dirawat di RSJ.
Setelah semua urusan berkas selesai diurus. Narumi diletakkan di dalam sebuah ruang rawat. Dia dibaringkan dengan lembut lalu diselimuti dengan baik. Setelah perawat itu pergi, ruangan kembali sepi.
Narumi menatap ke atas. Dia tak bisa melihat memang. Namun, pikirannya mulai berpikir kemana-mana. Mengulang segala kejadian yang terjadi pada dirinya hingga menimbulkan banyak kesakitan pada orang yang mencintainya dengan tulus.
"Aku sudah kehilangan semuanya. Kekasihku, uang dan sekarang pria yang mencintaiku dengan tulus," kata Narumi dengan mencengkram sprei begitu erat.
Terbayang dengan jelas bagaimana dulu Adnan memanjakannya. Menuruti segala keinginannya walau gaji seorang dokter harus dia berikan kepada Narumi seorang.
Pria itu tak pernah marah. Bahkan Adnan tak pernah mengomel meski Narumi merupakan wanita yang boros. Suara manja pria itu saat ini terdengar jelas. Seakan pria itu sedang ada di sampingnya.
"Jangan lupa makan, Sayang."
"Ingat! Kalau ada apa-apa hubungi aku!"
"Pulang dari rumah sakit, aku akan membawakanmu oleh-oleh."
"Ingat! Jangan terlalu banyak makan coklat. Perutmu selalu tak enak setelah memakannya."
Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepalanya. Narumi memegang kepalanya. Dia memukulnya begitu keras saat kalimat itu tak mau pergi dari pikirannya.
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku, Adnanku!" jerit Narumi dengan histeris. "Aku ingin menyusulmu daripada harus hidup disini sendirian."
~Bersambung
Hiyaa ya wis pergio, Mi, Sarimi! aku ya wes kesel sama idupmu iki. Huh, kesel banget malah!
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.