
...Bahagianya seorang istri ketika dia hamil dan mendapatkan limpahan perhatian dan kasih sayang dari suami serta keluarganya....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Kehadiran sepasang suami istri itu langsung dihadang oleh sosok Abraham yang masih mengenakan pakaian basket. Remaja muda itu berdiri di hadapan kedua orang tuanya.
Tatapannya yang tajam dan intens, membuat Almeera menelan ludahnya paksa. Entah kenapa dia takut sosok anak pertamanya tiba-tiba berubah pikiran dan menolak kehadiran adik kembarnya ini.
Namun, Abraham yang tiba-tiba berjongkok dan mengusap perut Almeera. Membuat hati ibu dua anak itu bergetar. Matanya semakin berkaca-kaca saat putranya mengatakan kata yang sangat berharga menurutnya.
"Selamat datang di keluarga kecil ini, Adik Kembar. Semoga sehat selalu dan bisa bertemu Abang dan Mbak Bia," ujarnya lalu diiringi ciuman yang begitu lambut di perut mamanya.
Hati Almeera yang sensitif tentu membuat air mata ibu hamil itu menetes. Dia tak menyangka jika putranya bisa seromantis ini.
"Terima kasih, Abang," balas Almeera dengan suara seraknya.
Anak remaja itu beranjak berdiri lalu memeluk ibunya dengan erat. Sejak dulu Abraham sangat berbeda dengan Bia. Jika adiknya begitu dekat dengan Bara maka Abraham kebalikannya.
Dia sangat menyayangi ibunya. Selalu bertukar cerita dengan Almeera dan hubungan keduanya begitu dekat. Tak ada batasan apapun antara anak dan ibu itu.Â
Baik Almeera maupun Abraham. Keduanya selalu ada di saat mereka saling membutuhkan. Almeera yang mendidik dan membesarkan Abraham penuh ketulusan membuat pria itu bisa mengerti cara menghargai seorang perempuan.Â
"Mama jangan pernah bersedih lagi. Mama harus selalu bahagia," ucap Abraham dengan serius.
"Iya. Mama akan selalu bahagia karena ada kalian di sekitar Mama," sahut Almeera lalu memeluk putranya lagi dan suaminya secara bersamaan.Â
Akhirnya drama keluarga kecil itu berakhir saat mendengar salam dari sepasang pengantin baru yang datang dari undangan Bara.Â
Ya, siapa lagi jika bukan Reno dan Adeeva. Mendapatkan kabar bahagia sekaligus undangan ke rumah bosnya, membuat Reno dengan semangat mengajak istrinya.
Kehebohan itu semakin menjadi tatkala Adeeva berlari kecil ke arah Almeera dan memeluk sahabatnya dengan erat.
"Akhirnya Bara dan Almerra junior hadir lagi di dalam perutmu," kata Adeeva dengan heboh.
Wanita berstatus istri Reno itu mencium pipi sahabatnya. Lalu dia melepaskan pelukan itu dan meminta izin untuk memegang perut Almeera.
"Peganglah dan doakan keponakan barumu ini," ujar Almeera dengan antusias.Â
Tangan Adeeva bergetar saat dia hendak mengusap perut yang di dalamnya terdapat sosok nyawa kecil yang sedang berkembang. Hatinya menjadi bergetar saat tangannya sudah mengusap permukaan rata itu. Ada sesuatu yang berbunga-bunga dalam dirinya. Seakan ia ingin merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan sahabatnya.Â
__ADS_1
"Semoga Adeeva dan Reno junior segera menyusul." Doa Almeera sambil mengusap balik perut Adeeva dengan lembut.Â
"Aamiin." Itu bukan suara Adeeva. Melainkan Reno yang benar-benar mengaminkan doa istri sahabatnya.Â
Pria itu benar-benar ingin istrinya segera hamil. Tak ada kata menunda untuk keduanya. Baik Reno ataupun Adeeva, pasangan suami istri itu ingin segera memiliki keturunan.Â
Perjalanan mereka bukan masih panjang. Umur keduanya sudah tak lagi muda. Mereka ingin segera memiliki buah hati sebelum umur mereka lebih dari 40 tahun.
"Semangat bener, Pak Suami!" cibir Bara menepuk pundak sahabatnya.
"Jelas dong! Aku juga pengen nyusul kamu dan Almeera."Â
"Emang junior punya Lo tokcer?" bisik Bara sambil menaikkan alisnya.
"Wah… Lo ngehina ninja gue?" seru Reno tak mau kalah."Â
"Ya, 'kan, gue tanya. Kalau punya gue jelas tokcer. Lah tu buktinya langsung jadi dua," ujarnya dengan bangga.
"Halah. Gue entar lagi juga pasti nyusul Lo. Lihat aja nanti!" kata Reno yang tak mau kalah.
"Gue tunggu saat itu tiba," ujar Bara dengan senyuman mengejek. "Biar gue tau, punya Lo beneran tokcer atau nggak!"Â
Pembicaraan antara dua lelaki yang saling membahas keperkasaan mereka akhirnya berakhir karena istri-istrinya sudah memanggil untuk segera ke ruang makan.Â
Suasana meja makan yang biasanya diisi oleh Bara dan Almeera serta anak-anaknya. Akhirnya kini mulai terisi hampir penuh. Ada Jonathan dan Kayla. Papa Darren dan Mama Tari. Lalu Almeera, Bara, Bia dan Abraham.Â
"Ada apa, Sayang?" tanya Bara yang bisa melihat kerisauan istrinya.Â
"Mas gak undang Zelia?" tanya Almeera dengan pandangan sedih.
Bara menghela nafas berat. Dia paling tak menyukai sesi hamil istrinya karena ini. Almeera mudah sekali perasaan ketika hamil. Mood ibu hamil satu ini bahkan naik turun yang membuat ayah dua anak itu khawatir.
"Aku sudah menelfon Zelia, Sayang. Tapi…" jeda Bara sambil menatap istrinya dengan lekat.
"Tapi kenapa, Mas?" tanya Almeera tak sabaran.
"Zelia harus menjaga mamanya. Papanya ada pekerjaan keluar kota yang mengharuskan Zelia mengganti peran papanya itu," ujar Bara menjelaskan alasan Zelia tak bisa kesini.
Ya, hubungan Bara yang dekat dengan sahabat istrinya. Membuat pria itu dengan mudah menghubungi Adeeva dan Zelia sendiri.
Saat menghubungi kekasih kakak iparnya. Bara bisa mendengar suara Zelia yang sedang sibuk melakukan sesuatu. Hingga wanita itu meminta maaf karena tak bisa datang membuat Bara sudah bisa menebak jika istrinya pasti merasa sedih.Â
"Jangan sedih," kata Bara mengelus kepala istrinya. "Besok kita bisa ke rumah Zelia sekaligus menjenguk mamanya."Â
__ADS_1
Almeera lekas mendongak. Dia menatap suaminya dengan lekat. "Beneran, Mas?"Â
"Ya. Aku serius, Sayang. Tapi kamu harus janji jangan banyak pikiran dan jangan sedih. Oke?"Â
"Oke, Mas."Â
Akhirnya acara makan malam itu dimulai dengan berdoa bersama. Setelah itu mereka semua mulai makan malam dengan wajah-wajah bahagia.Â
Dari sekian banyak orang. Yang paling heboh adalah tingkah dua calon ayah itu. Ya, Jonathan dan Bara terlihat bersemangat mengambilkan makanan untuk istrinya dan meletakkan di atas piring istri mereka.
"Mas, cukup!" ujar Kayla dengan menahan nafas. "Dia menatap piring miliknya yang sudah menggunung. "Ini kebanyakan, Mas."Â
"Nggak, Sayang. Kamu harus makan banyak," kata Jonathan dengan semangat. "Anak kita udah besar jadi pasti makannya lebih banyak." .
"Astaga!" Kayla menepuk keningnya.
Beginilah jika memiliki suami posesif seperti Jonathan. Sejak awal kehamilannya, pria itu sangat menjaga pola makan Kayla.
"Makan yang banyak, Sayang," kata Bara dengan semangat. "Anak kita ada dua. Jadi kamu harus membagi makanan ini menjadi tiga."Â
"Tiga?" ulang Almeera dengan kening berkerut.
"Iya tiga. Buat kamu dan si kembar," ucap Bara menjelaskan.
"Tapi gak harus sebanyak ini juga, Mas," kata Almeera dengan menatap makanannya dengan mata membelalak.
Dia memang lapar. Namun, sebanyak ini pun perutnya tak akan muat. Bukan nasinya sih yang banyak. Namun, sayur dan ikan serta buah yang disiapkan oleh Bara benar-benar membuat ibu dari calon empat anak itu menelan ludahnya ngeri.
Papa Darren dan Mama Tari yang melihat tingkah putra dan menantunya hanya terkekeh. Mereka merasa mengulang kejadian dia masa lalu ketika Mama Tari mengandung anak-anaknya.
"Melihat Bara dan Jonathan, aku jadi inget kamu, Pa," kata Mama Tari dengan tertawa kecil.
"Kenapa?" tanya Papa Darren pura-pura lupa.
"Posesif dan maksa aku buat makan banyak agar nutrisi anak-anak kita terjaga," ujar Mama Tari mengingat kehebohan suaminya.
"Para suami melakukan itu hanya untuk kebaikan istri dan anak-anaknya, Ma. Baik Papa, Jonathan atau Bara, ingin istri dan anak mereka yang sedang dalam perut selalu sehat dan baik-baik saja."Â
~Bersambung
Kalau ngetik part ini. Jadi inget pas makan keluarga dan waktu itu Mbak Merra lagi hamil anak ketiga. Mas Bara posesifnya gila banget haha.Â
Bayangin aja, sepiring nasinya dikit, lauknya banyak. Terus piring satunya buah-buahan. Belum segelas susu sama air putih. HAHA.
__ADS_1
Kabor takut Mas Bara marah aibnya dibuka, hihi.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.