
...Bertemu dengannya tentu mengobati sedikit kerinduan yang menumpuk di antara mereka....
...~Adeeva Khumairah...
...🌴🌴🌴...
Sepasang mata menatap menerawang ke depan. Pikirannya berputar dengan memikirkan ucapan sang sahabat kepadanya beberapa menit yang lalu. Dirinya terus terngiang-ngiang dengan ucapan Zelia hingga membuatnya hanya duduk diam tanpa mengindahkan keberadaan sosok pria yang duduk di sampingnya sedang mengemudikan mobil.
Apa benar aku mencintainya? Gumamnya pada dirinya sendiri.Â
Adeeva spontan menggeleng. Dia mengelak tentang perasaan aneh yang hadir dalam dirinya. Dia tak mungkin mencintai sosok pria menyebalkan yang ada di sampingnya ini.Â
"Ada apa?" tanya Reno yang sejak tadi mencuri pandang ke arah Adeeva. "Apa kamu pusing?"Â
"Nggak," sahut Adeeva dengan cepat. "Bisakah kita langsung pulang?"Â
Entah kenapa Adeeva tak mau berdekatan lebih jauh dengan Reno. Dia takut perasaannya tak bisa dikendalikan. Dirinya benar-benar tak mempercayai siapapun. Bahkan pada dirinya sendiri saja, dia masih bingung.Â
"Bisa. Tapi…" jeda Reno yang membuat Adeeva menoleh.
Wanita itu menunggu kelanjutan ucapan pria itu. Apa yang akan dia katakan ketika dirinya meminta pulang.
"Aku masih ingin mampir ke toko kue. Jadi gak papa, 'kan?"Â
"Iya."
Tak lama, Reno mulai membelokkan setir kemudinya ke sebuah toko roti terkenal disana. Dia segera memarkirkan kendaraannya dengan rapi.
"Kamu mau ikut?"Â
Melihat toko roti yang didatangi oleh Reno adalah toko roti langganannya. Akhirnya Adeeva mengangguk.
"Iya. Aku mau ikut," sahutnya lalu segera membuka pintu mobil dan menurunkan kakinya.
Keduanya berjalan berdampingan. Terlihat toko roti sangat padat akan pengunjung. Hal itu tentu membuat Adeeva menghela nafas lelah karena mereka pasti membutuhkan waktu untuk menunggu giliran.Â
"Lebih baik duduklah dulu, De."Â
Ucapan Reno membuat Adeeva mendongak. Dia menatap mata pria itu dengan lekat. Panggilan yang pria itu sematkan entah kenapa membuat jantungnya berdegup kencang.
Selama hidupnya, tak pernah ada yang memanggilnya dengan panggilan De. Kebanyakan keluarga maupun teman-temannya selalu memanggil kata terakhir dari namanya.Â
"Kenapa?"
"Apa maksudmu memanggilku dengan seperti itu?" tanya Adeeva menuntut.
"Hanya ingin berbeda saja," sahut Reno dengan mengedikkan bahunya tak acuh.Â
Berbeda?
Satu kata yang membuat Adeeva semakin dibuat bimbang. Sikap Reno yang tiba-tiba berubah dan tingkahnya yang tak semenyebalkan dulu. Semakin membuatnya dibuat tanda tanya.Â
Ada apa dengan pria itu sebenarnya?Â
Bukankah terakhir kali mereka bertemu, Reno tak sehangat ini.
__ADS_1
Tak mau dibuat pusing. Akhirnya Adeeva mengabaikan itu. Dia mengedarkan pandangan menatap beberapa pelanggan yang terlihat mengantri. Dia memang duduk didekat jendela dan tentu membuatnya bisa melihat seluruh pengunjung yang datang.
Hingga saat Adeeva mulai dilanda kebosanan. Tiba-tiba matanya menatap seseorang. Seseorang yang sangat ia kenali. Tanpa kata, perempuan itu lekas berdiri. Berjalan dengan cepat keluar dari restaurant lalu menarik lengan orang tersebut.Â
"Sia…" Perempuan itu membulatkan matanya.
Saat pandangannya bertemu dengan Adeeva.
"Kak adeeva."
"Fayola."Â
Keduanya serentak memanggil. Bibir mereka saling mengembangkan senyumannya. Tanpa kata, keduanya segera berpelukan melepaskan segala kerinduan di antara mereka.
"Kamu kemana saja, Yol?" tanya Adeeva dengan khawatir. "Kamu baik-baik saja, 'kan?"Â
Adeeva bertanya beruntun. Wajahnya benar-benar menunjukkan kekhawatiran yang mendalam pada gadis bernama Fayola.
"Aku baik-baik saja, Kak," sahut Fayola dengan tersenyum.Â
"Kamu ngapain disini? Terus Rein kemana?" tanya Adeeva celingukan mencari sosok adik dari Fayola.
Tiba-tiba wajah gadis itu berubah. Pandangan sendu sangat terlihat disana yang membuat Adeeva semakin penasaran.
"Fayola, jawab! Kemana Rein?" tanya Adeeva menuntut.
"Rein sakit, Kak. Dia…" Fayola tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Dia menunduk dengan menutup wajahnya yang menangis. Hal itu tentu membuat Adeeva yang masih terkejut akan kabar Rein segera memeluk tubuh gadis yang umurnya masih 22 tahun itu.Â
"Rein sakit apa?" tanyanya sambil mengelus punggung Fayola.Â
"Apa!" Adeeva terkejut bukan main.
Jantungnya terasa mencelos saat mengingat anak yang masih duduk di bangku SD itu harus bertaruh nyawa dengan sakitnya.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Adeeva dengan melepaskan pelukannya.
"Dia ada di rumah sakit. Kondisinya masih dipantau oleh Dokter."
"Lalu kamu selama ini ada dimana? Kenapa rumahmu sangat sepi?" tuntut Adeeva penuh penasaran.
Fayola adalah tetangga rumahnya. Gadis itu hanya hidup berdua dengan adiknya. Kehidupan mereka mungkin lebih kurang beruntung dari Adeeva. Fayola dan Rein sudah tak memiliki orang tua. Mereka yatim piatu sejak insiden kecelakaan.
Orang tua Fayola meninggal di tempat. Sedangkan Fayola dan Rein masih selamat. Sikap dan sifat Fayola yang hangat dan mudah bergaul, membuat Adeeva selalu senang bermain dengannya.
Walau usia mereka berbeda jauh. Adeeva yang kesepian dan Fayola yang hangat mampu membuat keduanya nyaman dengan pertemanan mereka.
"Jawab, Yol! Kamu kemana saja?"Â
"Aku…"Â
"De." Suara seorang pria yang sangat dia kenal membuat Adeeva berbalik.
Disana, dia melihat Reno tengah berjalan ke arahnya sambil membawa dua kotak berlogo toko roti tersebut.
"Siapa dia, Kak? Apa itu suami, Kakak?"Â
__ADS_1
"Eh." Pertanyaan Fayola membuat Adeeva dan Reno salah tingkah.Â
Keduanya saling mencuri pandang yang membuat siapapun yang melihatnya merasa gemas.
"Bener, 'kan?"Â
"Bukan," jawab Adeeva serius.Â
"Lalu?" goda Fayola sambil menaik turunkan alisnya. Â
"Ya hanya teman," ujar Deeva dengan mengelus tengkuknya yang gatal. "Ah iya, jangan mengelak! Selama ini kamu tinggal dimana?"Â
"Aku tinggal di…"Â
Sebelum Fayola meneruskan ucapannya. Suara seseorang kembali memanggil yang membuat ketiga orang itu sama-sama menoleh.Â
"Kak Gala," cicit Fayola yang terlihat tegang.
Adeeva terus menatap sosok pria yang mendekati Fayola. Dia seperti pernah melihat pria dihadapannya ini.Â
Tapi dimana yah.Â
"Tuan Manggala? " celetuk Reno yang membuat pemilik nama tersebut menoleh.
"Ya?" sahut Manggala sambil menatap Reno dengan intens."Anda…"Â
"Sekretaris Tuan Bara," sahut Reno mengingatkan rekan bisnis atasannya.
"Ya. Saya mengingat Anda."Â
Dua pria itu saling berjabat tangan. Namun, sesuatu mengusik pemikiran Adeeva. Nama Manggala membuatnya ingat akan pria yang berdiri di samping Fayola.Â
Seorang pemilik dari salah satu perusahaan ekstraktif yang bergerak di bidang pertambangan itu tentu sangat terkenal di dunia bisnis. Apalagi pernikahannya dengan seorang anak dari pemilik perusahaan industri membuat mereka semakin digadang-gadang sebagai pasangan gols.
Namun, sesuatu mengusik pikiran Adeeva. Bagaimana bisa Fayola bersama Tuan Manggala yang notabenenya memiliki istri.
"Ayo, Fayola! Kita pulang!" kata Manggala setelah berbicara basa basi dengan Reno.
"Ah iya. Kak Deeva, Fayola pulang dulu yah!" pamit gadis itu dengan wajah gugup.
Hal itu tentu membuat Adeeva curiga. Namun, dia tak bisa melakukan apapun karena disana masih ada Manggala.
"Baiklah. Hati-hati yah," kata Adeeva lalu memeluk gadis itu kembali.Â
"Pasti," sahut Fayola dengan mengangguk.
"Ini, kartu nama Kakak. Simpan dan jangan lupa hubungi Kakak yah," pinta Adeeva penuh harap. "Kakak juga pengen ketemu Rein."Â
Fayola mengangguk dan menerima kartu nama itu. Akhirnya Adeeva melambaikan tangannya saat mobil yang membawa gadis bernama Fayola yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri sudah berlalu dari hadapannya.
Namun, mata Adeeva masih terus tertuju sampai mobil itu tak terlihat.
Ada hubungan apa Fayola sebenarnya? Jangan katakan jika Fayola menjadi pelakor di rumah tangga Tuan Manggala, gumam Adeeva dalam hati.
~Bersambung
Bab ini berisi iklan, hehe. Siapa yang penasaran sama Kisah Fayola?
__ADS_1
Apa bab ini bikin kalian kepo?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.