
...Anak adalah sebuah hadiah. Bukan hal mudah diberikan wewenang menjadi seorang orang tua. Kita harus bisa mendidik dan mengajarkan mereka agar menjadi sosok yang baik dan berguna di masa depannya....
...~Adeeva Khumairah...
...🌴🌴🌴...
"Jangan menangis, Sayang. Ini hari bahagia kita," kata Reno sambil menghapus wajah istrinya.
"Kamu juga. Jangan menangis," ujar Adeeva dengan pelan.
Dia begitu merasa dicintai dan disayangi oleh Reno. Bagaimana pria itu memperlakukannya. Bagaimana pria itu memberikan segalanya kepadanya membuat Adeeva paham bahwa hidupnya adalah hidup Reno.
Perhatian keduanya teralihkan saat dokter mengangkat bayi itu dan meletakkan di atas dada Adeeva. Pasangan orang tua baru itu, menatap anak mereka dengan perasaan haru.Â
"Selamat ya, Pak, Bu. Bayi Anda seorang laki-laki."Â
Adeeva dan Reno saling memandang. Mereka tak mempermasalahkan apa jenis kelamin anak pertama mereka. Mau itu laki-laki atau perempuan keduanya akan menerima.Â
Baik Reno dan Adeeva menganggap anak adalah sebuah hadiah terindah dari Allah. Hadiah yang tak bisa ia hasilkan sesuai apa kemauan mereka.Â
Mereka terlahir dari takdir Allah. Kehadirannya adalah bukti kuasa Allah yang tak ternilai.
"Langsung di adzani ya, Pak!"
Reno dengan baik mulai mendekatkan bibirnya di telinga anaknya. Lalu dia mulai mengumandangkan adzan dengan suaranya yang merdu dan hal itu membuat Adeev menangis.
Setelah semaunya selesai, perlahan mata mereka memandang sosok duplikat Reno. Sosok mungil yang sedang mencari sumber minumnya terlihat begitu lucu. Reno dengan berani mengusap kepala anaknya yang mulai melahap puncak dada istrinya.
Bayi itu terlihat kesusahan tapi tak menyerah. Dia berusaha meminumnya walau memang terlihat susah.
"Dia sangat lucu, Yank," kata Adeeva dengan tersenyum.
Rasa lelah yang ia rasakan. Rasa sakit yang sudah ia lewati rasanya terbayarkan saat mendengar tangisan, serta saat menatap wajah mungil itu terlahir dengan selamat.
Bayi mungil itu berhasil dikeluarkan dari perutnya dengan penuh perjuangan. Perjuangan yang membuatnya mengingat sosok ibunya. Sosok yang sudah disiksa dan disia-siakan oleh ibunya itu membuatnya merasakan sakit.
Bagaimana sosok ibunya bisa sabar selama ini. Bisa menahan segala kesakitan saat ada di depannya. Sampai ia bisa memberontak dan membawa ibunya bersama dirinya.
"Kami bersihkan dulu bayinya ya, Pak, Bu," kata seorang suster saat melihat bayi itu melepas asinya.
__ADS_1
Adeeva dan Reno mengangguk. Kemudian suami Adeeva itu mengikuti langkah suster dan melihat bagaimana anaknya dibersihkan. Pria itu bahkan izin untuk mengambil potret anaknya pada sang dokter.
Dengan bahagia ayah baru itu mengambil potret anaknya. Perasaan bahagia, bangga dan senang campur aduk menjadi satu. Hari ini adalah hari yang bersejarah. Hari dimana status mereka mulai berganti sebagai orang tua dari seorang anak keturunan pertama mereka.
Reno tersenyum lebar. Anaknya sudah dibersihkan dengan baik. Wajah mungil itu terlihat begitu menggemaskan. Bibirnya berkecap-kecap seakan mencari sumber minumnya.Â
Dia segera mendekatkan wajahnya ke wajah sang putra lalu mulai memotret wajah keduanya.
Cekrek!
Reno melihat hasil bidikan kamera ponselnya. Dia tersenyum lalu dengan bangga mengirim gambar itu di grup gila yang berisi dirinya, Bara dan Reno.
Bahkan pria itu menulis caption yang benar-benar gila.
Pict send.
Hasil dari kecebongku lahir dengan nyata.Â
...🌴🌴🌴...
Di sebuah kamar yang begitu luas. Terlihat enam orang manusia sedang berkumpul dan duduk di atas karpet yang ada di bawah. Mereka sedang bermain bersama dengan dua bayi mungil yang usianya sudah menginjak satu bulan.Â
"Jangan, Adik. Tangan kamu kotor," kata Bia menjauhkan ibu jari Thaya dari bibirnya.
Baby Thaya memang suka menyesap jari-jari tangannya. Hal itu tentu membuat Almeera selalu menjaga kebersihan tangan putrinya.Â
Suara Bia yang tak mengizinkan dan menjauhkan ibu jari Thaya membuat bayi mungil itu kesal dan mulai menangis. Hal itu membuat Bara terkekeh. Dia segera mencium perut anaknya hingga membuat bayi itu tak jadi menangis dan malah tertawa.
Kebiasaan ini memang menjadi kebiasaan Bara. Pria itu selalu mengusap wajahnya di perut Thaya karena anaknya selalu suka diperlakukan seperti itu.Â
"Gak diizinin ya sama Mbak Bia. Mbak Bia nakal ya, Sayang?" tanya Bara sambil menatap wajah putrinya lalu mencium pipinya.Â
"Yang nakal Adik Thaya. Dia mau makan tangannya, Papa!"Â
Saat Bara hendak menjawab. Suara notifikasi pesan di ponselnya membuat pria itu beranjak duduk. Dia segera meraih benda pipih yang ia letakkan di meja dekat tempatnya duduk lalu segera menggeser layar yang menunjukkan foto keluarganya.Â
Pria itu terkejut melihat dua notif pesan di grup sahabatnya. Dia segera membukanya hingga matanya terbelalak.
"Sayang!" pekik Bara menepuk pantat istrinya yang ada di dekatnya.
Almeera yang sedang berbaring di atas karpet dengan menonton putranya bermain game tentu lekas menoleh.Â
__ADS_1
"Ada apa, Mas?" tanya Almeera dengan heran.
Ibu dari empat anak itu lekas duduk ketika Bara menyodorkan ponselnya. Dia segera menerimanya dan melihat apa yang membuat suaminya kaget.Â
"Masya allah, Mas. Ini Adeeva lahiran?" tanya Almeera dengan tangan semakin memperjelas wajah bayi mungil di samping sahabat suaminya.
"Iya, Sayang. Lihat aja caption dia, nih!"Â
Almeera terkekeh. Dia ikut bahagia akan kebahagiaan sahabatnya itu. Akhirnya Adeeva yang dulu trauma akan seorang pria, takut akan pernikahan kini bisa menjejaki apa yang ia takuti sendiri.
Bahkan keduanya saling bersatu memerangi trauma dalam diri Adeeva dan membuat wanita itu bisa lepas dari ketakutannya.Â
"Ini wajahnya mah, Reno banget!" ujar Almeera dengan meneliti setiap pahatan anak sahabatnya.
"Kamu bener, Sayang. Ini mukanya Reno banget tapi semoga otaknya macem ibunya aja."Â
"Hust!" Almeera menepuk pundak suaminya.Â
Bisa-bisanya Bara mengatakan hal seperti itu. Apa pria itu tak sadar jika selama ini tingkah mereka itu sama. Ditambah pikiran omes yang ada dalam otak Reno adalah hasil berguru pada suami Almeera itu.
"Kamu sama aja kayak Reno," kata Almeera sambil menjulurkan lidahnya.
"Apanya yang sama, hm?" bisik Bara dengan pelan tepat di telinganya istrinya.Â
Pria itu bahkan dengan berani menjulurkan lidahnya dan menggigit telinga Almeera setelah melirik keadaan anak-anaknya yang sibuk dengan kelakuannya sendiri.
"Mas!" pekik Almeera dengan tubuh gemetar.
Dua insan itu sama-sama merasakan desiran hebat. Wajar saja sudah satu bulan mereka tak melakukannya karena masa nifas. Bahkan Almeera sampai harus membantu suaminya mengeluarkan calon-calon masa depannya dengan menggunakan tangan dan mulutnya agar pria itu tak sakit kepala.Â
"Ini sudah satu bulan, Sayang. Aku tak mendapatkan jatahku. Apa masih lama masa nifasmu?" tanya Bara dengan suara pelannya.
Almeera geleng-geleng kepala. Suaminya ini seperti baru memiliki seorang anak saja.
"Kalau kamu tanya terus dan godain aku kayak tadi. Masa nifasnya bakalan aku mundurin biar makin lama!"Â
~Bersambung
Hahahaha ada gak kelakukan pak suami yang kayak Mas Bara?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Btw bang syakir sama Humai belum ada balesan email dari NT hiks.
__ADS_1