Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Cerai atau Tidak?


__ADS_3


...Janji tetaplah janji dan harus ditepati. Seorang pria tangguh adalah pria yang bisa menepati janjinya sendiri di hadapan wanita yang dia cintai....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


"Jangan berbohong lagi, Rumi! Aku sudah mengetahui semuanya dan hari ini, detik ini, aku ingin kita bercerai!"


"Nggak. Aku nggak mau kita bercerai. Aku nggak pernah berbohong kepadamu, Mas!" sentak Rumi yang semakin membuat Bara geram. 


Pria itu menggertakkan giginya. Dia mencengkram pergelangan kiri Narumi hingga membuat wanita itu kesakitan.


"Lepasin, Mas! Sakit," pekik Narumi dengan mencoba melepas cengkraman tangan itu.


"Apa kamu tau! Gara-gara jebakanmu itu, aku harus menampar istriku sendiri, hah!" seru Bara dengan dada bergemuruh. "Karena kamu, aku harus mengkhianati kepercayaan istriku!" 


"Itu bukan kesalahanku saja. Mas Bara juga yang mau." 


Sebuah tamparan mendarat di pipi Narumi hingga wajahnya menoleh. Bara sudah tak tahan akan cercaan dari istri keduanya ini. Dia benar-benar berusaha menahan amarahnya sejak tadi. Namun, sepertinya Narumi tak bisa diajak berbicara dengan baik.


"Meski aku mau! Kalau kamu tak menjebakku, aku pasti tak akan menikahimu!" seru Bara dengan tatapan tajamnya. 


"Jangan munafik deh, Mas! Sekarang kamu melimpahkan semuanya sama aku! Dari dulu kemana aja, hah! Kemana!" teriak Rumi dengan amarah yang tertahan.


Wanita itu seperti lepas kendali. Dia benar-benar bingung dan takut ketika melihat sosok Bara yang berbeda dari biasanya. Apalagi ketika mengetahui jika suaminya itu sudah tau tentang jebakan dia dan Adnan membuatnya mulai gemetaran.


Dia takut semuanya terbongkar. Dia takut Bara tahu tentang Adnan. Jika itu benar, maka tamatlah riwayatnya sekarang.


"Aku tak mau berbasa-basi denganmu lagi, Rumi! Aku Gibran Bara Alkahfi…."


"Nggak!" Narumi menggelengkan kepalanya.


Dia tak mau mendengar ucapan Bara selanjutnya. Dirinya mengerti apa yang akan pria itu katakan kepadanya.  


"Aku…" 


"Nggak, Mas. Nggak!" Narumi berlari keluar rumah.


Wanita itu seperti kesetanan dan menjerit mengatakan bahwa dia tak mau diceraikan. Tentu hal itu membuat Bara mengikuti Narumi.


"Berhenti, Rumi!" teriak Bara berlari mencoba mengejar.


"Nggak. Aku gak mau bercerai. Gak mau!" seru Narumi dengan terengah-engah.


Wanita itu menghentikan laju larinya. Dia membalikkan tubuhnya menatap Bara yang juga sedang mengatur nafasnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" seru Bara kesal bukan main.


"Aku gak mau cerai sama kamu!" seru Narumi tanpa peduli sekitar.


Wanita itu melangkahkan kakinya mundur. Dia bahkan tak takut jika dibelakang tubuhnya tepat jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan.


Hal itu tentu membuat Bara panik bukan main. Dia menatap Narumi yang seakan tak mengerti jika situasi ini membahayakan.

__ADS_1


"Kemari, Rumi! Berhenti!" seru Bara mulai frustasi.


"Nggak."


"Jalan raya, Rumi! Kemari!" seru Bara dengan melangkahkan kakinya ke depan.


Dia benar-benar khawatir. Bukan karena perasaan ataupun rasa cinta. Melainkan ini adalah rasa kemanusiaan yang ada dalam diri Bara.


"Aku lebih baik mati daripada harus bercerai denganmu, Mas!" 


Bara menggeleng. Dia mengulurkan tangannya dengan tatapan memohon. 


"Kemari! Apa kamu ingin mati sia-sia?" 


"Ya. Lebih baik aku mati daripada aku hidup tapi bercerai denganmu!" 


Bara mulai memutar otaknya. Dia menatap jalan raya yang pagi ini benar-benar ramai. Bahkan banyak kendaraan roda empat yang melaju kencang tanpa aturan. 


"Oke. Fine. Kemarilah!" 


Bara semakin mengulurkan tangannya. 


"Nggak. Mas berbohong!" 


"Aku serius, Rumi! Kemarilah!" Bara masih mengulurkan tangannya.


Narumi menyipitkan mata. Dia menatap wajah suaminya dengan pandangan lekat. Wanita itu seakan berusaha membaca pikiran suaminya sekarang. Namun, wajah Bara yang datar membuatnya sedikit kesulitan. 


"Ayo, Rumi!" 


Narumi menerima uluran tangan itu. Bibirnya tersenyum saat dia berpikir jika Bara benar-benar tak akan menceraikannya. Namun, sedetik kemudian senyuman itu hilang saat genggaman tangan itu berpindah menjadi cengkraman yang lebih kuat di lengannya.


"Aku bukan lelaki bodoh lagi seperti yang kamu lakukan dulu padaku!" bisik Bara dengan suara datarnya. "Mungkin dulu, kamu berhasil mengelabuhiku, tapi sekarang! Jangan bermimpi, Rumi!" 


"Mas, kamu!" Narumi terbelalak.


Dia menatap tak percaya ke arah suaminya. Narumi tak habis pikir Bara sudah berubah. Pria itu tak mudah dirayu lagi dan takut akan ancamannya.


"Lepasin, Mas!" seru Narumi mulai meronta. 


"Tidak akan!" Bara mulai menyeret tangan istrinya.


Namun, Narumi yang terus bergerak, membuat Bara sangat geram dan tak sabar. 


"Sepertinya kamu memang sudah tak bisa diberitahu, Rumi!" 


"Apa maksudmu, Mas?" seru Narumi dengan tatapan tajamnya.


"Aku Gibran Bara Alkahfi, hari ini aku jatuhkan talak tiga padamu, Narumi Alkhansa. Mulai hari ini kita sudah bukan suami istri lagi!"


Bersamaan dengan itu, Bara lekas melepas cengkraman tangannya. Pria itu menjauh dari tubuh Narumi yang masih terkejut dengan ucapannya barusan. 


"Nggak, Mas! Nggak!" Narumi histeris. 


"Kita sudah bukan suami istri lagi, Rumi. Maafkan aku yang selama ini belum bisa menjadi suami baik untukmu," kata Bara dengan tatapan datarnya. "Aku akan urus surat perceraian kita dan rumah itu, akan menjadi milikmu sebagai permintaan maafku." 

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Bara berbalik. Dia mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Narumi. Namun, tak lama dia menghentikan langkahnya ketika suara teriakan wanita yang beberapa detik lalu menjadi mantan istri memanggil namanya.


"Mas Bara!" 


Bara berbalik. Matanya terbelalak saat melihat posisi Narumi yang sudah ada di pinggir jalan.


"Apa kamu sudah gila! Mau apa kamu, Rumi!" teriak Bara mendekat.


"Aku sudah gila, Mas! Aku memang gila!"


"Minggir!"


"Nggak! Karena kamu menceraikan aku. Lebih baik aku mati. Kalau aku mati, aku yakin kamu akan dihantui rasa bersalah!" 


Jantung Bara mencelos. Bagaimanapun dia adalah manusia biasa. Memiliki belas kasihan dan rasa iba secara bersamaan.


"Jangan!" 


"Selamat tinggal, Mas! Aku akan membuatmu dihantui rasa penyesalan!" 


Setelah mengatakan itu, Narumi berlari ke arah sebuah mobil yang melaju ke arahnya. Sekali gerakan, brak! 


Tubuh wanita itu terhantam mobil itu dan berguling dijalan. Pemandangan itu tentu membuat beberapa pejalan kaki berteriak histeris. 


Begitupun dengan Bara. Wajah pria itu pucat pasi saat melihat aksi nekat yang dilakukan mantan istrinya. Dia benar-benar tak percaya jika Narumi melakukan bunuh diri di depannya.


"Rumi!" teriak Bara saat dirinya mulai tersadar.


Mobil yang menabrak Narumi melaju kencang. Orang itu seakan kabur dan membuat Bara berteriak meminta tolong siapapun mengejarnya. 


Namun, bukan itu masalah utamanya sekarang. Bara segera berlari menuju sosok mantan istrinya yang tergeletak di tengah jalan. Tubuh Narumi mulai mengeluarkan darah dan membuat Bara semakin diliputi rasa ketakutan.


Saat dirinya hendak menyentuh tubuh Narumi, sebuah suara pria yang memanggilnya membuat Bara mengedarkan pandangannya. Hingga tatapannya terhenti saat melihat sosok pria yang beberapa hari ini tak bertemu dengannya. 


"Kak Jimmy!" 


~Bersambung


Siapa yang suudzon sama Mas Bara kemarin? hayooo!


Sampai ada yang bilang ceritaku berbelit-belit.


Jujur bab kemarin siang itu udah 1300 kata. Biasanya 1 bab itu 1000 kata. Mangkanya aku potong dan masukin bab sini karena isinya terlalu banyak.


Bukan karena mau muter-muter. Tapi gakpapa mungkin itu spontanitas karena kalian juga pengen Mas Bara cepet cerai sama Narumi.


Oh iya.


Author mau ucapin "Selamat Tahun Baru" untuk pembaca author yang setia. Semoga tahun 2022 menjadikan kita pribadi yang lebih baik lagi, lebih bermanfaat untuk orang disekitar kita. Aamiin.


BTW Jangan lupa, baca bab jam 14.00 tepat waktu yah. Karena bakalan ada give away pulsa untuk 5 orang pemenang. S&K berlaku tapi dikit kok.


Salam sayang dari aku.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.

__ADS_1


__ADS_2