
...Berani-beraninya dia mencuri hal paling penting dalam hidupku dengan wajah menyebalkannya itu. ...
...~Adeeva Khumairah...
...🌴🌴🌴...
Di dalam mobil, tempat dimana Adeeva dan Reno berada. Tak ada pembicaraan apapun. Keduanya seakan saling berlomba mengunci bibirnya karena tak tahu harus mengatakan apa.Â
Apa yang terjadi di antara keduanya ternyata berimbas sampai sebesar ini. Beberapa kali, Reno mencuri pandang ke arah Adeeva yang sedang menatap jalanan yang dilewati.Â
Pria itu sedang menata kata yang pas untuk mengatakan maaf sekali lagi. Momen yang pas ketika berdua harus digunakan sebaik mungkin. Namun, Reno yakin jika ini adalah rencana sahabatnya itu.Â
Reno yakin Bara tak memiliki urusan dengan Jonathan. Pria itu pasti sedang mengerjainya agar bisa membujuk dan meminta maaf pada sahabat istri bosnya itu.
"Va," panggil Reno yang sejak tadi tak tahan akan keterdiaman di dalam mobil.
Adeeva hanya melirik sekilas lalu kembali menatap ke depan. Dia menganggap Reno hanyalah angin lalu.Â
Namun, sebenarnya saat ini perempuan itu sedang mengatur kegugupannya. Dia bahkan tak mau semakin terpesona akan sosok Reno lebih jauh.Â
Entah kenapa melihat bagaimana Reno bekerja, membuatnya sedikit merubah cara pandangnya pada pria itu. Dibalik kejudesan dan kepedasan bibirnya, Reno memiliki sesuatu daya tarik sendiri ketika bersikap serius.
Ketampanan dan kegagahan dirinya seakan bertambah jika dalam mode begini.Â
"Adeeva," seru Reno kesal karena diabaikan.
"Apa sih!" ketusnya tanpa menoleh.
Reno mencoba meredam emosinya. Dia tak boleh marah-marah. Tujuannya adalah membawa Adeeva ke perusahaannya. Membantunya mengerjakan laporan yang belum selesai atas perintah atasan gilanya itu.
"Apa kau sudah menerima kotak dariku?" tanya Reno melirik wanita di sampingnya.
"Sudah," sahutnya dengan cuek.
"Apa kau suka?" tanya Reno dengan jantung terus berdegup kencang.
Jujur jika mengingat bagaimana dia harus datang ke salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli coklat mahal. Membuatnya sangat amat malu. Dirinya menjadi bahan ledekan oleh Bara karena pria itu menemaninya belanja.
__ADS_1
Bahkan apalagi ketika menulis surat ucapan. Isi dari kalimat yang tertera dari sana adalah ide gila dari Bara. Pria itu benar-benar membuat harga dirinya jatuh di hadapan Adeeva.Â
Gadis itu spontan menoleh. Dia menatap Reno yang sedang mencoba fokus dengan berbicara dan mengemudi mobilnya.
"Jangan pernah mengirimkan apapun lagi kepadaku! Mengerti?" sembur Adeeva dengan tegas. "Aku tak suka semuanya. Aku tak suka apapun yang berhubungan denganmu."
Akhirnya Adeeva mengeluarkan segalanya. Dirinya menampik sesuatu yang mulai terasa di hatinya. Dirinya tak mau berhubungan dengan seorang pria karena rasa trauma melihat bagaimana sahabatnya sendiri.Â
Jalan hidup Almeera dan pernikahannya membuat Adeeva merasa takut dengan sebuah hubungan yang serius. Dirinya tak mau jatuh seperti sahabatnya.Â
Ia tak sekuat itu!
"Aku tetap akan mengirimkan apapun sampai kau memaafkanku!" kata Reno balas menatap Adeeva saat lampu lalu lintas berwarna merah.Â
"Kenapa kau memaksa!" seru Adeeva kesal setengah mati.
"Aku tak memaksa. Anggap saja hadiah dariku," jawab Reno dengan enteng.
"Hadiah menurutmu! Jika itu hadiah, maka aku akan membuangnya setiap hari," ancam Adeeva dengan mata melotot.
"Jika kau tak suka buang saja. Yang terpenting aku akan melakukannya sampai kau memberikan maaf," kekeh Jonathan tak mau kalah.Â
Adeeva benar-benar kesal setengah mati. Sikap menyebalkan dalam diri Reno sudah kembali lagi. Wanita itu sampai mengepalkan kedua tangannya saat ia ingin menonjok wajah sekretaris suami sahabatnya. Â
"Kenapa diam?" tanya Reno meledek. "Apa kau merasa kalah dariku?"
"Jangan banyak berkhayal kau!" sembur Adeeva mendelik tak suka. "Aku akan membuatmu menyesal jika terus mengirimkan hadiah padaku."
Reno tak menggubris. Pria itu mengabaikan setiap umpatan dan ancaman yang keluar dari bibir Adeeva. Entah kenapa apapun yang wanita itu katakan, tak membuat Reno sakit hati.Â
Dia merasa ini mungkin balasannya. Balasan ketika ia memiliki mulut pedas dan tak memiliki perasaan pada siapapun.Â
"Kita lihat saja nanti!"Â
Setelah itu, Reno mulai membelokkan setir kemudi di pelataran perusahaan. Adeeva segera membuka seat beltnya saat mobil Reno sudah berhenti tepat di depan perusahaan. Saat dirinya hendak turun, sebuah tarikan di tangannya membuatnya terkejut.
Namun, belum hilang keterkejutannya. Sebuah benda kenyal yang menempel di antara bibir dan pipinya bagian bawah membuat matanya terbelalak.
Bahkan tanpa sadar tatapan keduanya saling menatap saat adegan tersebut. Hingga saat Adeeva mulai sadar akan posisinya. Dia segera mendorong tubuh Reno dan menampar pipi pria itu.
__ADS_1
"Kau!" seru Adeeva dengan marah. "Kau mengambil ciuman pertamaku!" teriaknya.
Bukannya takut. Reno malah tersenyum. Dia menatap wajah Adeeva yang terlihat memerah menahan amarah.
"Manis," ucapnya yang semakin membuat Adeeva mendelik tak suka.
"Jangan pernah muncul di depanku lagi. Aku benar-benar membencimu, Reno. Aku benci!"Â
Setelah mengatakan itu. Adeeva segera turun dari sana. Dia juga membanting pintu itu dengan kasar sambil berlalu dengan cepat.
Tujuannya hanya satu yaitu kamar mandi. Dirinya segera meletakkan tasnya dan membasuh wajahnya dengan air.Â
"Pria brengsek! Dia mencuri ciuman pertamaku!" serunya dengan kesal.
Jujur kali ini sebenarnya dia tak marah. Bahkan Adeeva sampai heran pada hatinya sendiri. Adegan yang mendadak itu malah membuat jantungnya tak karuan.
Bahkan ia menampar wajah Reno untuk menutupi hatinya yang terus berdebar kencang. Dia juga tak mau pria itu melihat pipinya yang merona malu. Hal yang sangat amat gila dia rasakan bukan.
Seharusnya dia bisa marah. Bahkan berteriak di hadapan pria itu. Namun, ini?Â
Ia hanya menampar dan mengancam Reno agar berhenti mengganggunya.Â
Adeeva memukul kepalanya. Dia benar-benar sudah terdoktrin akan pesona Reno. Dirinya tak boleh terus bersikap seperti ini. Jika itu terjadi, ia bisa membayangkan hal-hal yang tidak-tidak.
"Aku harus menjauh darinya setelah ini. Jika tidak! Aku yakin aku akan melanggar keinginanku untuk selamanya hidup sendiri."Â
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di dalam mobil. Tak henti-hentinya Reno memegang bekas bibirnya yang mencium Adeeva. Wajahnya bahkan memerah malu saat otaknya memutar ingatan ketika dengan berani ia mencium sahabat istri atasannya.
Hal gila yang pertama kalinya Reno lakukan. Mencium seorang perempuan dengan paksa hanya ingin menarik perhatian dan mendapatkan maafnya.
Dia benar-benar sudah menyerah. Tak tahu harus melakukan apalagi agar Adeeva mau datang ke perusahaannya lagi. Bahkan adegan nekat yang barusan ia perbuat, membuat Reno berharap semoga wanita itu tak bisa jauh dari dirinya.
"Aku bahkan sudah rela menjatuhkan harga diriku karenanya. Apa yang terjadi padaku?" katanya pada dirinya sendiri.Â
"Jangan katakan jika aku sudah jatuh cinta pada wanita pemarah itu!"
~Bersambung
__ADS_1
Ya emang dah cinta, Bang! tapi kamu menampiknya hahaha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.