
...Tujuan hidupku hanya satu saat ini. Membalas setiap air mata yang kuberikan pada anak dan istriku dengan kebahagiaan mereka....
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya liburan mereka hari ini dimulai menuju wisata paralayang yang berada di desa Pandesari, Pujon, Malang. Sebuah destinasi yang menunjukkan bagaimana indahnya kota malang dari atas bukit serta terdapat permainan yang disebut tandem paralayang atau terjun menggunakan parasut ditemani oleh orang-orang profesional.Â
Jalan menuju tempat ini memang berkelok. Namun, keindahan di setiap kanan kirinya selalu membuat Almeera tak hentinya membidikkan kamera yang terus menggantung di lehernya itu.Â
Udara dingin dan sejuk tentu sangat amat terasa di desa ini. Saat mobil mereka sudah terparkir rapi. Keempatnya segera menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di wisata ini.
Benar-benar luar biasa pemandangannya!
Almeera meregangkan kedua tangannya. Menghirup udara segar yang jarang sekali ia lakukan ketika ada di kota. Sejuknya yang masih alami serta suara kicauan burung sangat amat terdengar dan membuat pikiran mereka menjadi tenang.
"Ayo kita naik ke atas!" kata Bara kepada istri dan kedua anaknya.
Mereka segera berjalan berdampingan. Bara menggandeng tangan putrinya, Bia. Sedangkan Abraham menggenggam tangan mamanya. Benar-benar keluarga yang sangat amat bahagia bagi siapapun yang memandangnya.
"Berapa tiket, Pak?" tanya petugas tiket di sana.
"Empat," jawab Bara apa adanya.
"Enam puluh ribu," ucap petugas itu yang langsung dibayar oleh Bara.
Keempatnya segera berjalan bersama. Mereka bahkan melihat banyak sekali wisatawan yang datang mengunjungi tempat ini. Padahal jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi.Â
"Lebih ke atas, Pa. Abra kemarin lihat disini ada terjun pakai parasut itu," kata putra pertama mereka.
Almeera yang berjalan paling belakang suka sekali mengambil gambar tanpa suami dan anak-anaknya sadari. Dia ingin mengabadikan momen yang sangat amat spesial ini.Â
Suatu momen yang akan menjadi awal jalan mereka menempuh kebahagiaan lagi. Mencoba melupakan badai yang pernah menimpa mereka dan mulai merajut mimpi-mimpi yang belum pernah mereka alami.Â
"Itu, Pa!"Â
Akhirnya bersamaan dengan itu. Ternyata di bagian tandem terdapat beberapa orang yang bersiap terbang bersama orang-orang profesional. Putra pertama Bara dan Almeera itu melihat bagaimana antusiasnya mereka terjun dengan berteriak penuh kekaguman. Â
"Pa, Abang mau!" celetuk Abra yang membuat Almeera dan Bara menoleh.Â
"Naik itu?" tanya Almeera hati-hati.
__ADS_1
"Iya, Ma. Boleh?"Â
"Boleh."Â
Bara dan Almeera adalah tipe orang tua yang selalu mendukung keinginan dan kemauan anak-anaknya. Mereka tak pernah mengekang Abraham ataupun Bia.Â
Jika putranya sangat menyukai hal-hal yang berbau petualangan dan olahraga seperti skateboard serta basket. Sedangkan Bia, dia adalah anak yang suka dengan air.Â
Akhirnya Bara mulai membayar paket yang akan digunakan anaknya untuk melakukan uji adrenalin itu. Mereka tak merasa khawatir karena percaya bahwa orang-orang yang menemani anaknya adalah orang yang profesional.Â
"Nanti kamu naik kesini pakai motor bareng petugas disana yah! Papa udah urus semuanya."
"Makasih banyak, Pa. Papa adalah Papa terbaik yang Abraham punya."Â
Mata Bara berkaca-kaca. Entah kenapa jika dulu mendengar kata-kata ini adalah hal biasa. Berbeda dengan sekarang. Sepertinya karena kejadian dulu ia pernah mengecewakan anak dan istrinya. Kali ini ia bisa membuktikan pada anak-anaknya bahwa dia akan berusaha menjadi ayah yang bisa dibanggakan.Â
"Selamat terbang, Bang. Jangan lupa rekam nanti yah ketika di udara. Panggil nama Adik yang kencang banget!" pinta Bia yang langsung mendapatkan anggukkan kepala oleh abraham.
"Siap, Princessku."
...🌴🌴🌴...
"Bagaimana, Bang?" tanya Bia antusias saat kakaknya baru saja sampai.
"Seru," ucap Abraham dengan wajah puas yang sangat amat kentara. "Bener-bener menguji mental."Â
Kepala Abraham menggeleng. Hal itu tentu membuat Almeera menatapnya heran.
"Kenapa?"Â
"Abraham gak minat, Pa. Tadi cuma kepo aja," ujar Abraham apa adanya. "Mungkin kalau boleh, Abra pengen naik gunung."Â
Bara dan Almeera saling menatap. Mereka tersenyum seakan bisa mengetahui keinginan anaknya itu.Â
"Apa kamu ingin mendaki dengan Papa?"Â
"Apa Papa bisa?" tanya Abraham antusias.
Remaja itu mendekati sosok papanya. Dia ingin mendengar cerita Bara sejak masih muda.
"Dulu Papa sama Mama saat masih pacaran, sering daki bareng," cerita Bara memulai. "Pendakian pertama ke gunung yang ada di mojokerto yaitu Gunung penanggungan."Â
"Beneran?"Â
__ADS_1
"Ya. Waktu itu pertama kalinya Mama diijinin pergi sama Kakek," sahut Almeera ikut bercerita. "Mama inget banget, karena gak pernah olahraga. Perut sama kaki Mama sering kram tapi bukannya kapok, Mama malah ketagihan."Â
Bara dan Almeera membagikan ceritanya pada anak-anak mereka. Baik Abra maupun Bia saling mendengar dengan antusias. Bahkan sesekali mata mereka menatap kagum aksi kedua orang tuanya.
"Jadi boleh dong, kapan-kapan kita mendaki bersama?"Â
"Tentu. Papa sama Mama juga udah lama banget gak track lagi. Terakhir sebelum Mama hamil kamu, Nak," ujar Bara menunjuk putranya.
Akhirnya setelah lelah yang dirasakan oleh Abra mulai habis dan tenaga pria itu kembali pulih. Mereka segera melanjutkan wisata kedua yaitu omah kayu.Â
Sebuah wisata yang terdapat beberapa rumah dari kayu yang dibangun dengan begitu estetik. Ditambah pemandangan bukit dan kota malang yang terlihat semakin menambah keindahan siapapun yang mengambil potret disana.Â
Mereka berjalan dengan antusias. Bahkan Bia yang usianya masih 5 tahun benar-benar kuat berjalan sejak tadi. Anak itu tak merengek meminta digendong pada mama dan papanya.Â
"Ma ambil foto disini dong!" pinta Bia menarik tangan Abangnya agar ikut berfoto.
"Oke. Gaya yah!" pinta Meera mengarahkan kamera itu ke arah dua anak kesayangannya.
Suara bidikan kamera terdengar hingga akhirnya hasil tangkapan itu terlihat di layar yang menyala. Bia dan Abraham menatap berbinar. Jepretan mamanya benar-benar keren sekali.Â
"Sekarang Mama sama Papa," kata Abraham merebut kamera milik orang tuanya.
Mereka menarik tangan mama dan papanya agar bisa berfoto di salah satu tempat ter-estetik ini. Sebuah rumah kayu dengan pemandangan Kota Malang dari atas yang sangat cantik dipandang.
Bara dan Almeera tersenyum. Mereka saling mendekat dengan mata penuh cinta antara satu dengan yang lain. Tanpa sungkan, ayah dua anak itu menarik pinggang istrinya hingga menempel dengan tubuhnya.Â
Keduanya saling menatap hingga menjadi potret romantis yang langsung di abadikan oleh Abraham.
"Oke tahan ya, Ma, Pa. 1...2...3."Â
Bara dan Almeera kembali bergaya. Ibu dua anak itu melilitkan kedua tangannya di leher sang suami dengan Bara yang tersenyum pada istrinya.Â
Tanpa kata, Abraham kembali mengambil gambar itu tanpa sepengatahuan keduanya. Lalu Bara kembali bergerak. Dia memajukan bibirnya dan mencium dahi sang istri.Â
"Ah luar biasa, Pa!" pekik Abra antusias saat dia berhasil mengambil potret romantis ala orang tuanya.Â
"Terima kasih, Mas. Aku benar-benar bahagia," kata Almeera setelah suaminya melepaskan kecupan di dahinya.Â
"Sama-sama, Sayang. Semoga cerita kita akan terus berlanjut dan berakhir bahagia."Â
~Bersambung
Eh Tamat. Tamat gimana?
__ADS_1
Kaburr takut diamuk massa.
Jangan lupa tekan like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.