Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Ekstra Bab 1


__ADS_3


...Percayalah adanya anak di antara kita bukan untuk penguat sebuah hubungan. Melainkan sebagai pengingat bahwa di antara kita sudah ada sosok yang menjadi tanggung jawab seorang orang tua. ...


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


Tak terasa waktu berputar dengan cepat. Saat ini si kembar sudah berusia empat tahun. Dua bocah itu sangat aktif sekali berbeda dengan kakaknya. Tingkah kedua bocah itu seakan tidak ada habisnya. 


Dimanapun mereka berada. Pasti akan membuat kehebohan. Seperti saat ini, di siang terik di hari libur. Semua orang tengah menikmati quality time bersama.


Begitupun dengan keluarga Bara. Mereka saat ini berada di taman belakang di rumah yang dulu dibeli oleh Almeera sendiri. Keluarga kecil itu memang sudah pindah dari rumah Papa Darren. Mereka berenam akhirnya bisa tinggal sendiri dan membangun keluarga yang bahagia. 


"Thalla, pelan-pelan, Sayang! Nanti jatuh," kata Almeera saat dua bocah kembar itu sedang bermain sepeda.


Baik Athalla maupun Athaya, keduanya sangat suka olahraga yang menggerakkan kaki tersebut. Tak ada kata sehari bisa lepas dari sepeda kesayangan keduanya itu. Mereka pasti akan ada waktu untuk memainkan sepedanya meski di dalam rumah. 


"Okey, Mama," sahut Athalla dengan kepala mengangguk.


Berbeda dengan sang Abang. Athaya sangat mengebut naik sepedanya. Dia bahkan mengayuhnya hingga cepat sampai tak menyadari jika di depannya ada sebuah pot bunga kesayangan Papanya karena terlalu bercanda dengan Athalla.


Hingga ya, sepertinya nasib buruk terjadi pada bunga itu. Tak lama, suara pecahan mulai terdengar membuat mereka yang sedang duduk di atas kursi taman segera menoleh.


"Bungaku!" seru Bara dengan beranjak berdiri.


Dia menatap nanar bunga yang ia beli begitu mahal. Bunga dengan kreasi yang indah yang Bara dapatkan dari pameran.


Matanya menatap sedih ke arah tanaman yang sudah tak berbentuk tersebut. Dia segera beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah bunga dan anaknya yang masih terduduk jatuh disana. 


Athaya spontan berdiri walau pantatnya sakit. Dia menundukkan kepalanya karena takut papanya marah. Athaya sangat tahu betul bunga yang dirusak olehnya adalah bunga yang masih baru dibeli oleh papanya. Hal itu tentu membuatnya merasa bersalah.


"Maaf, Papa. Athaya nakal!" ujarnya sambil menarik kedua telinganya dan satu kakinya lagi. 


Jujur melihat bagaimana takutnya Thaya, membuat Almeera yang hanya diam menahan tawanya. Dia tidak menyangka putrinya sangat takut pada papanya itu. Dari wajahnya yang kaku dan tubuh mungil itu gemetaran. Almeera bisa merasakan bagaimana takutnya sang anak. 


Namun, Almeera tak ingin membuat Thaya manja. Dia ingin anak itu bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan. Dia ingin anaknya bisa berinisiatif sendiri untuk meminta maaf.


"Papa!" rengeknya mengabaikan lututnya yang sakit. 

__ADS_1


Anak itu hendak memeluk kaki papanya karena takut dengan respon Bara yang hanya diam. Namun, saat Thaya hampir mencapai kaki Bara. Sebuah tangan mengangkat tubuh itu hingga berada dalam gendongan Bara. 


"Sakit?" tanya Bara dengan nada rendahnya.


Jujur pria itu juga sejak tadi menahan tawanya. Hatinya memang sedih dan tak ikhlas melihat kondisi bunganya. Namun, ketakutan dalam diri putrinya yang keempat tentu membuat hatinya jauh lebih sakit.


Tingkah laku Bara yang bisa menempatkan kondisi dimana bercanda dan serius. Membuat 4 anaknya semua takut pada ketegasan papanya sendiri. Mereka tidak ada yang bertindak semena-mena pada orang tuanya jika kesalahan ada dalam diri mereka.  


Athaya mulai mengangguk. Dia menunjukkan siku dan lututnya yang memar dan memerah karena jatuhnya lumayan keras.


"Ayo ke Mama! Kita obati luka, Adik Thaya!" ajak Bara sambil berjalan ke arah istrinya. 


"Tapi, Papa!" kata Thaya menahan langkah kaki Bara. "Bunga Papa, Thaya rusakin." 


Kepala mungil itu menunduk. Tangannya saling bertaut karena takut papanya marah kepadanya. 


"Athaya minta maaf." 


Bara tersenyum. Dia menatap putrinya dengan bangga. Ajaran yang selalu dirinya dan sang istri ajarkan ternyata diikuti oleh anak-anaknya. 


"Iya. Papa maafin," kata Bara lalu mencium dahi Athaya. "Lain kali hati-hati. Papa takut kamu yang ketimpa sama pot besa itu. Oke?" 


Akhirnya Bara menyerahkan Athaya pada istrinya. Lalu Almeera mengajak anaknya ke dalam rumah untuk mengobati lukanya. Kemudian Bara berbalik dan menghela nafas berat melihat kekacauan yang dilakukan oleh putri keempatnya itu.


"Memang aku tak berjodoh merawat bunga," katanya sepelan mungkin sebelum mengajak ketiga anaknya yang lain masuk ke dalam rumah. 


...🌴🌴🌴...


Almeera benar-benar langsung membersihkan dan mengobati luka putrinya. Bibir mungil itu mengaduh kesakitan saat rasa perih bisa ia rasakan. 


"Lain kali pelan-pelan, Sayang. Begini jadinya kalau Thaya ngebut dan gak hati-hati," kata Almeera setelah selesai mengobati luka Athaya. 


Kepala kecil itu mengangguk. Dia mengakui bahwa dirinya salah. Maka dari itu Athaya tak menjawab apapun ketika dinasehati oleh mama dan papanya.


"Athaya janji bakalan pelan-pelan, Ma. Maaf," lirihnya dengan takut.


"Mama maafin," sahut Almeera lalu menghadiahkan satu ciuman di pipi putrinya. "Mau ikut Mama buat puding coklat, hmm?" 


Kepala yang mulanya menunduk kini terangkat dengan cepat. Athaya segera manggut-manggut karena pudding adalah makanan favoritnya dan membuatnya adalah salah satu hal yang paling ia suka.

__ADS_1


Ya meski 90% dia hanya mengacaukan tapi Almeera tak pernah marah. 


Dengan pelan, istri Bara menggendong anaknya yang berusia 4 tahun tersebut. Dia membawanya ke dapur lalu mendudukkan Athaya di atas meja dimana tempat biasa ia membuat adonan bahan yang akan dimasak. 


Dengan semangat anak itu mengambil toples gula dan meletakkannya di antara kakinya. Kemudian tak lama, muncullah Athalla yang memasuki dapur hingga membuat Athaya menoleh.


"Thalla, aku mau buat puding!" kata Athaya memamerkan pada saudara kembarnya.


"Ikut!" ujarnya lalu berjalan ke arah adik kembarnya dengan cepat. 


"Nggak!" seru Athaya marah. "Pergi pergi! Thaya mau sama Mama aja!" 


"Athalla ikut!" seru anak laki-laki itu dengan keras.


"Nggak!" tolak Athaya.


Perdebatan itu membuat Almeera geleng-geleng kepala. Pertengkaran Ini bukan hanya sekali dua kali tapi setiap hari. Perbedaan yang signifikan dengan masa kecil abang dan mbaknya.


Mungkin karena mereka kembar, maka sikapnya seperti ini. Sampai suara benda jatuh membuat Almeera menoleh. 


"Astagfirullah!" kata Almeera kaget melihat penampilan putranya yang kacau.


Entah apa yang terjadi. Toples gula yang memang dibuka oleh Athaya tadi, isinya sudah tumpah ke seluruh tubuh Athalla. Hal itu membuat penampilan anak laki-lakinya sangat lucu dan hampir membuat Almeera tertawa. 


Kegaduhan itu juga membuat Bara yang hendak menyusul istrinya segera mempercepat langkah kakinya. Matanya sama terbelalak melihat kekacauan yang ada disana. 


"Mama!" ujarnya dengan menatap Athaya marah. "Thaya nakal!"


Tingkah mereka berdua membuat Almeera dan Bara saling menatap. Mereka menggelengkan kepalanya pasrah melihat bagaimana si kembar yang selalu berbuat ulah.


"Ini anakmu, Mas. Mereka mirip kamu banget, bar-bar!" 


Bara membulatkan matanya. Dia tak mau menjadi satu-satunya tersangka. Bara segera menunjuk perut Almeera lalu mengatakan sebuah kata-kata yang membuat pria itu benar-benar bergelar omes.


"Mereka bukan anakku saja, Sayang. Aku membuatnya dengan lembah basahmu. Jadi ini ini anak kita berdua!" 


~Bersambung


Hahaha ibu-ibu selalu gitu, 'kan? Kalau anaknya dah buat kacau, pasti bilang anak bapak. Ngaku ngaku! 

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat buat kasih bonchap.


__ADS_2