
...Saling mengungkapkan perasaan yang sudah dipendam tentu membuat hati keduanya sama-sama bahagia....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Jika boleh jujur, beberapa hari tanpa mendengar celotehan pria itu dan godaannya lagi dengan muka menyebalkan, ada sesuatu yang mengusik hatinya sendiri. Sebuah perasaan yang tak bisa dijabarkan membuatnya entah dorongan dari mana membuatkan bekal makan siang untuknya.Â
Melihat wajah kelelahan pria itu dari jauh saja, membuat Adeeva tak tega. Ditambah saat dia mengetahui jika Reno bekerja sendirian, membuat Adeeva sangat amat tahu bagaimana lelahnya.Â
Apa yang Reno lakukan, pernah ia rasakan!
Saat Jonathan ataupun Almeera yang tak mau datang ke perusahaan, mau tak mau membuat pekerjaannya semakin bertambah. Belum di kantor, belum di perusahaan mampu membuat pikirannya sakit.Â
Hingga hal itulah yang membuatnya bisa memahami apa yang kini dirasakan oleh Reno sendirian.Â
"Deeva!" panggil suara itu lagi kedua kalinya dengan menepuk pundak wanita itu.
"Hah, ya?" Adeeva spontan beranjak berdiri.
Dia menelan ludahnya sendiri saat menyadari jika pria yang berdiri di depannya itu adalah atasannya, Jonathan.Â
"Ada apa, Deeva? Kenapa hari ini kamu tidak fokus?" tanya Jonathan menelisik raut wajah sekretarisnya.
"Maaf, Pak. Saya baik-baik aja," sahut Adeeva dengan menunduk.
"Apa Mama kamu sakit?"Â
"Tidak, Pak." Adeeva spontan menggeleng. "Mama saya sehat, alhamdulillah."Â
"Tapi kenapa pekerjaan kamu hari ini berantakan sekali," kata Jonathan apa adanya. "Apa kamu tahu, file yang kamu berikan padaku tadi, semuanya salah."Â
Adeeva meringis dalam hati. Begini ini jika dia bekerja tapi kepikiran pada Reno. Benar-benar otaknya tak bisa diajak bekerja sama kali ini.
"Lebih baik kamu pulang?"Â
Spontan ucapan Jonathan membuat Adeeva mendongak. Dia gelisah dan ketakutan.
"Apa Bapak memecat saya? Saya berjanji akan fokus, Pak. Tolong jangan pecat saya," pintanya penuh permohonan.Â
Jonathan geleng-geleng kepala. Siapa juga yang akan memecat Adeeva hanya karena masalah kecil seperti ini. Namun, melihat tingkahnya saja, membuat Jonathan tahu bahwa ada yang mengusik pikiran sekretarisnya ini.Â
__ADS_1
"Saya menyuruhmu pulang karena takut kamu sakit."
"Tapi…"Â
"Tidak ada tapi-tapian, Adeeva. Lebih baik kamu pulang dan besok kembali bekerja agar pikiranmu tenang."Â
Akhirnya Adeeva tak bisa memaksa bekerja memang. Kepalanya mengangguk dan menuruti bosnya untuk kembali ke rumah. Dia segera membereskan segala berkas dan laptop miliknya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Sekali lagi saya minta maaf ya, Pak."
"Iya, Deeva. Santai saja. Selama ini kamu sudah bekerja keras dan saya tahu kamu pasti butuh istirahat."
...🌴🌴🌴...
Saat sahabat Almeera itu baru saja keluar dari perusahaan. Dia segera memasuki mobilnya. Namun, entah dorongan dari mana.Â
Dia tak mau pulang ke rumah. Melainkan Adeeva membelokkan setirnya ke jalan yang menuju perusahaan milik suami sahabatnya. Dirinya benar-benar sudah tak bisa mengendalikan dirinya.Â
Berjauhan dengan Reno dan tanpa canda tawa pria itu beberapa hari ini. Adeeva merasakan sesuatu kekosongan dalam hatinya. Sesuatu yang tak bisa dan membuatnya gelisah setiap kali tak melihat wajah Reno.
Gila memang! Namun, sahabat Almeera itu menyadari bahwa dia sudah mengingkari janjinya pada diri sendiri. Dia benar-benar sudah jatuh ke dalam pesona Reno yang luar biasa.Â
"Apa yang sedang aku lakukan?" gumamnya pada dirinya sendiri.
Gelisah dalam hatinya mungkin akan terobati saat bisa mendengar senyuman, mata tajam, suara dan muka menyebalkan dari seorang Reno.
Ya Adeeva mulai keluar dari mobil. Dia memasuki perusahaan Bara yang langsung disambut oleh beberapa karyawan yang mengenalnya.
"Pak Bara tidak ada di tempat. Tapi Pak Reno ada," kata resepsionis itu yang membuat Adeeva mengangguk.
Setelah menaiki lift. Akhirnya pintu besi itu terbuka di depan lantai dimana tempat pria yang membuat pikirannya kacau itu berada.Â
Lantai dimana menjadi tempat pertemuan pertama mereka. Lantai dimana terdapat acara permusuhan itu hingga menimbulkan benih-benih cinta yang tak biasa.
Adeeva mulai melangkahkan kakinya. Dia menatap sekeliling hingga pandangannya jatuh ke arah pria yang tengah tertidur lelap di atas sofa yang ada di depan ruangan Bara.
Perempuan itu tentu melangkah dalam diam. Lalu dia perlahan berjongkok dan membenarkan roknya agar tak terlihat. Dipandanginya wajah Reno yang sangat amat terlihat jelas jika raut wajahnya begitu lelah.Â
Namun, pandangan Adeeva tiba-tiba jatuh pada sebuah kotak bekal yang ada di atas perut Reno. Kotak bekal yang ia berikan pada kurir untuk mengantarnya pada pria itu.
Entah kenapa melihat pemandangan ini, tanpa sadar membuat kedua bibir Adeeva tertarik ke atas. Dia perlahan mengusap rambutnya pelan lalu menghadiahi kecupan lembut di dahinya.
Entah dorongan dari mana. Namun, Adeeva benar-benar mau melakukan itu. Dia melakukan atas kemauan hatinya sendiri.
__ADS_1
"Aku akan membantumu."Â
Perlahan Adeeva meletakkan tasnya di atas meja. Lalu dia berjalan ke tempat kerja Reno dan melihat beberapa berkas milik pria itu.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Adeeva memahami file yang ada di tangannya. Lalu dengan cepat, jari jemari wanita itu mulai menari di atas keyboard. Mengerjakan dan mengetik file yang sudah ada di sana.Â
Hingga hampir dua jam lebih Adeeva menyelesaikan pekerjaan Reno. Perlahan pria yang sejak tadi tidur itu mulai bergerak. Dia menggeliatkan tubuhnya dengan tangan yang masih setia memegang kotak bekal dari wanita yang selalu memenuhi hatinya.
Saat matanya perlahan terbuka. Samar-samar ia melihat sosok yang baru saja hadir dalam mimpinya tengah duduk di depan laptop. Pria itu lekas menggosok matanya lagi lalu kemudian duduk.
Matanya terbelalak saat apa yang ia lihat adalah kenyataan. Wanita yang mampu membangkitkan semangatnya itu hadis disini.
"Udah bangun, Tukang Kebo?" sindir Adeeva saat menyadari Reno sudah beranjak berdiri.
"Deeva?"Â
Adeeva lekas menoleh. Dia terkejut saat tubuh Reno memeluknya hingga membuatnya hampir jatuh jika saja pria itu tak menahannya.
Pelukan itu sangat erat. Bahkan bisa dirasakan jika pelukan itu sebagai obat kerinduan di antara mereka.Â
"Reno…"Â
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja, Deeva. Aku merindukanmu."Â
Jantung perempuan itu berdegup kencang. Bahkan Adeeva merasakan pipinya memerah. Dia benar-benar tak tahu harus membalas apa. Namun, tiba-tiba ia memberanikan diri membalas pelukan Reno.Â
Sekretaris Bara itu tersenyum saat punggungnya merasa balasan dari wanita yang ia peluk ini. Sebuah perasaan yang tak bisa dijabarkan kini mereka coba katakan melalui sebuah perlakuan.
Baik Adeeva maupun Reno, keduanya sama-sama menikmati pelukan hangat ini. Pelukan yang membuat kedua jantung mereka tak beririrama dengan normal dengan bibir yang terus tersenyum.
"Aku merindukanmu juga, Ren," celetuk Adeeva yang membuat Reno melepas pelukannya.
"Coba katakan lagi!"Â
Pipi Adeeva bersemu merah saat Reno menatapnya dengan wajah bahagia.
"Aku merindukanmu juga."Â Â
~Bersambung
Ahhh bucin, 'kan Ren. Bucin kan lu!
Rasanya pen teriak liat keuwuwan ini.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya