
...Kebahagiaan itu tak mahal harganya. Hanya berkumpul bersama keluarga dan sahabatnya, itu sudah menjadi waktu yang cukup untuk membahagiakan hati semua orang....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Hadirnya Baby Ane tentu menjadi teman bermain Bia. Gadis kecil itu sangat menyayangi Baby Ane dengan tulus. Ditambah Abraham, putra pertama Bara dan Almeera juga sama antusiasnya menyambut kedatangan personil baru di keluarga mereka. Membuatnya keduanya terus menempel pada putri Jonathan itu.Â
"Udah jangan diuyel-uyel mulu. Ntar abis pipi anak Om," kata Jonathan menepis tangan Abra yang sejak tadi bergerak bermain dengan hidung dan pipi Baby Ane.
"Ishh. Mana ada pipi abis. Abra gak makan kok!" serunya mendelik kesal.
Jonathan hanya tertawa. Dia sangat suka menjahili putra pertama adiknya itu. Abraham adalah sosok yang sangat susah diajak bercanda. Sikapnya hampir sama dengan Bara.
Kaku di luar dan hangat di dalam!
"Minta sama Mama Meera sana adik!"Â
"Udah punya. Belum lahir aja!" celetuk Bia yang tiba-tiba menyahut.
Bocah itu berdiri. Berkacak pinggang dengan menunjuk saudara mamanya itu.
"Awas aja kalau adik Bia sama Abang Abra lahir. Om Jo gak boleh pegang adik kembar!" serunya penuh perintah.Â
"Yaudah. Ntar Om culik adik kembar," goda Jonathan dengan menjulurkan lidahnya.Â
"Coba aja kalau berani. Aku aduin sama Om Jim."Â
"Om Jim gak ada, wlekk!" seru Jonathan semakin semangat menggoda. "Om Jim kerja."
"Ya Bia telpon nanti. Biar pulang!"Â
"Gak bakal pulang. Nomornya juga pasti mati," kata Jonathan semakin bersemangat.
Wajah Bia memerah. Dia kesal setengah mati. Bia selalu kalah bicara jika dengan Jonathan hingga membuat bibirnya mulai kincep. Matanya berkaca-kaca siap menumpahkan tangisan.
"Mama! Om Jo nakal!" teriak Bia kencang sampai mengejutkan Ane yang sedang di pangkunya.Â
"Kakak!" pekik Almeera dari dalam.
Ya, saat ini mereka sedang ada di rumah Papa Darren dan Mama Tari. Pasangan suami istri tua itu, meminta anak-anak dan menantunya untuk tinggal di rumah mereka.Â
Yang pertama, dengan alasan Kayla yang baru melahirkan. Dia butuh teman merawat dan menemani Ane. Sedangkan alasan kedua, mereka mengatakan akan menjaga Almeera yang hamil kembar.Â
__ADS_1
Jika sudah begitu, baik Jonathan maupun Bara tak bisa menolak. Keduanya sangat tahu betul jika itu alasan mereka saja. Alasan orang tua yang kesepian di rumahnya sendiri hingga membuat mereka ingin anak-anaknya berkumpul.Â
"Suka banget sih, gangguin anak aku!" seru Almeera memukul lengan kakaknya.
"Gara-gara anakmu juga nih. Ane nangis," kata Jonathan dengan memasang wajah menyebalkan.Â
Bia langsung minta gendong Almeera. Namun, Abraham dengan sigap menahannya.
"Di perut Mama ada adik, Bia. Sini gendong Abang!"Â
Akhirnya Bia mau. Gadis kecil itu digendong oleh abangnya penuh sayang. Tubuh Abra yang tinggi dan berotot membuatnya terlihat seperti bocah SMP bukan umurnya.Â
Almeera yang melihat Ane tak kunjung diam. Akhirnya mencoba mengambilnya dari gendongan sang kakak. Dia membawa putri gumus itu ke depan dengan menggendongnya begitu pelan.Â
"Kakak Bia teriak-teriak ya, Nak. Bangunin Adik Ane yah. Maaf yah," kata Almeera dengan pelan.
Dia terus menggendongnya kesana dan kemari hingga ya, berhasil. Tangisannya mulai berhenti dan matanya kini terpejam. Sepertinya bayi yang usianya belum sebulan tersebut sangat mengantuk hingga dia cepat tidurnya.Â
"Bawa Ane ke kamar, Kak. Dia sudah mengantuk sejak tadi tapi Kakak gak tau."Â
Jonathan perlahan menerima tubuh anaknya lagi. Tak lupa dia mencuri kecupan di dahi adiknya Meera dengan sayang.Â
"Makasih udah bantuin Ane buat tidur. Kamu juga istirahat yah. Jan capek-capek," kata Jonathan lalu pamit menuju kamarnya.Â
Kehamilan kembar membuatnya gampang lelah. Dia tak bisa melakukan kegiatan lebih banyak karena akan menimbulkan kram di perutnya.Â
"Kapan adik lahir, Ma?" tanya Bia sambil menempelkan telinganya di perut Almeera.
"Kurang lima bulan lagi, Sayang. Kenapa?"Â
"Lima bulan itu lama, Ma?" tanya Bia sambil menatap mamanya.
"Lima bulan itu sama dengan 20 minggu. Jadi minggunya nunggu 20 kali baru deh, adik Bia lahir."Â
Bia mengangguk. Almeera jadi mengerti jika anaknya pasti paham akan ucapannya karena tak ada pertanyaan yang tersemat dari bibirnya.Â
"Doain Mama sama Adik yah. Semoga Mama dan Adik selamat sampai lahiran."Â
"Pasti, Ma. Abang sama Adik selalu minta sama Tuhan. Minta keselamatan Adik Bayi, kesehatan mama dan Adik juga," kata Abra menanggapi.
"Terima kasih. Kalian memang anak-anak Mama dan Papa yang terbaik."Â
...🌴🌴🌴...
Sore mulai menyapa kembali. Dari luar rumah, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah orang tua Almeera. Sepasang suami istri terlihat turun dari sana lalu bergandengan tangan.
__ADS_1
Di tangan sang pria, terdapat bingkisan besar yang terlihat berat. Keduanya segera membunyikan bel rumah untuk memberitahu kedatangan mereka.
"Adeeva!" panggil Almeera yang ternyata membuka pintunya.
Keduanya segera berpelukan lalu istri Bara itu mengajak sahabatnya dan sahabat suaminya untuk masuk. Keduanya memang baru kesini karena Adeeva adalah salah satu ibu hamil yang mabuk parah.
Dia tak bisa kemana-mana. Bahkan Jonathan memberikan cuti pada sekretarisnya karena ia juga memiliki sekretaris yang lain.
Suami Kayla itu meminta Adeeva beristirahat sampai kandungannya kuat untuk diajak bekerja. Bagaimanapun pria itu tak akan memecat Adeeva, dia akan memberikan waktu lebar pada sahabat adiknya karena memang kinerja istri Reno tak pernah mengecewakan.
Reno memang meminta pada Jonathan agar istrinya berhenti bekerja. Namun, sosok pria yang baru saja memiliki seorang anak itu, meminta pada Reno agar mengizinkan istrinya kerja dari rumah.Â
"Kemana yang lain, Ra?" tanya Adeeva saat mereka baru saja duduk.Â
"Baby Ane masih dipakein baju. Dia baru selesai mandi. Sebentar!" pamitnya lalu segera masuk ke dalam.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Almeera kembali datang ke ruang tamu bersama Mama Tari yang menggendong cucunya.Â
"Ane kedatangan tamu loh! Ada Tante Deeva sama Om Reno!" kata Almeera mengajak Baby Ane bicara.
Mata bayi itu memang terbuka. Dia menggerakkan tangan dan kakinya seakan mengerti ucapan Almeera.Â
"Assalamualaikum, Shalehahnya Pak Jonathan," kata Adeeva berkenalan.Â
Dia mengusap pipi Ane lalu bergantian mengusap perutnya yang sedikit menonjol.
Kamu pasti gak sabar, 'kan, Va?" tebak Almeera terkekeh. "Aku juga gitu. Liat Baby Ane, jadi gak sabar cepet lahiran."Â
Adeeva mengangguk. Dia meminta izin menggendong Baby Ane dan Mama Tari membantunya.Â
Dengan pelan, tubuh mungil itu sudah ada dalam dekapan Adeeva. Ibu hamil yang sedang hamil hampir 3 bulan itu terlihat begitu nyaman.
"Belajar gendong bayi sendiri ya," goda Mama Tari tersenyum.
"Iya, Ma. Bener banget. Berasa bayangin gendong anak sendiri."Â
"Sebentar lagi, Va. Sebentar lagi kita bakal bisa ngerasain gendong anak kita sendiri juga," ujar Almeera dengan tak kalah antusiasnya.
~Bersambung
Aw para bumil hadir. Next bab, bakalan muncul Zelia kali yah.Â
Jadi merasa takut kalau detik-detik tamat. Gak siap buat pisah hiks.Â
JANGAN LUPA KLIK LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH. BIAR AUTHOR SEMANGAT NGETIKNYA.Â
__ADS_1