Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Dilamar


__ADS_3


...Mengenang kenangan di masa lalu terkadang membuat kebahagiaan sendiri bagi pemiliknya. ...


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya perjalanan menuju Kota Yogyakarta berakhir dengan selamat. Keempatnya segera menuju ke sebuah desa dimana kenangan Almeera dan Bara begitu melekat indah.


Tempat dimana sangat jauh dengan perkotaan. Udaranya sangat amat segar karena belum ada polusi udara yang mencemarinya. Sawah-sawah masih ada di kanan kirinya. Kebun dan sungai masih terlihat banyak aktivitas disana. Suasana benar-benar masih sangat kental akan kesederhanaannya. 


Saat ini, terlihat sepasang tangan tengah saling menggenggam. Keduanya sedang menikmati senja sore di pinggiran sawah dengan begitu mesra. Mereka benar-benar begitu natural dan dipaksa akan keadaan keduanya.


Baik Bara maupun Almeera, mereka memang pasangan yang selalu romantis dimanapun itu. Seakan tak ada waktu luang untuk keduanya tak merasakan bucin bersama-sama.


"Apa kamu bahagia?" tanya Bara sambil menatap wajah istrinya yang terlihat sedikit memerah karena senja.


Kepala itu mengangguk. Dia membalas menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta.


"Sangat, Mas. Desa ini masih menjadi tempat favoritku sepanjang hidup," ujar Almeera dengan jujur. 


"Sama," sahut Bara dengan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. "Desa ini mengajarkanku bagaimana mencintaimu. Desa ini menjadi bukti bagaimana cinta kita terus tumbuh dan berkembang." 


"Semoga suatu hari nanti kita bisa menua disini atau tidak di Malang, Mas. Aku ingin hidup tua tanpa adanya debu dan polisi. Aku ingin kedamaian," kata Almeera yang membuat Bara menoleh.


"Kamu mengatakan apa, Ra? Jangan aneh-aneh yah!" seru Bara tak suka.


"Aku hanya mengatakan keinginanku nanti di masa tua." 


Bara berpindah ke belakang istrinya. Dia memeluk tubuh Almeera dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak. 


"Dimanapun kamu berada. Aku akan ikut dan menemanimu, Sayang." 


Almeera mengangguk. Dia memegang tangan Bara yang memeluknya dengan mata memandang ke depan. Mereka benar-benar menikmati senja yang begitu indah dengan harapan bahwa semoga tak ada lagi badai yang akan menerpa keduanya setelah ini.  


Akhirnya perlahan matahari mulai berganti bulan. Malam kembali menyapa dengan begitu cepat. Suasana jangkrik mulai terdengar merdu. Hawa dingin mulai terasa menusuk kulit saat mereka sedang berada di depan sebuah rumah dan sedang menyiapkan bakaran.


"Kita mau bakar apa aja, Pa?" tanya Bia yang asyik duduk di dekat Papanya.


"Jagung, Sayang," sahut Bara dengan memasukkan arang di tempat bakaran. 


"Cuma jagung aja?" tanya Bia lagi dengan kepo. "Gak ada sosis, Pa?" 


Bara lekas menoleh. Dia menatap putrinya yang menunggu jawaban. 

__ADS_1


"Bia mau sosis?" tanya Bara penuh perhatian.


Kepala kecil itu mengangguk, "Kalau ada sih, Pa." 


"Sebentar." 


Bara akhirnya beranjak berdiri. Dia berjalan menuju ke arah istrinya yang sedang mengupas kulit jagung satu per satu. Wanita itu memang sedang berbincang dengan seorang wanita paruh baya yang ditugaskan menjaga rumah ini dan membersihkannya.


"Ada apa?" 


"Bia mau sosis katanya. Ada?" tanya Bara pada istrinya.


"Neng Bia mau sosis, Tuan?" 


"Iya. Ada, Bu?"


"Ada. Sebentar saya ambilkan." 


Wajah Bara akhirnya begitu sumringah. Dia menatap anaknya yang berjarak beberapa langkah dari dirinya. Sebuah acungan jempol Bara berikan yang membuat Bia berjingkrak bahagia. 


Akhirnya mereka mulai mengipasi jagung dan sosis dengan semangat. Sedangkan Almeera dia memberikan olesan margarin saat jagung dan sosis itu dibolak-balik oleh Bara. 


Suara canda tawa tentu sangat amat terdengar di sana yang membuat siapapun pasti sangat tahu bahwa mereka adalah keluarga bahagia.


"Ayo, Pa! Semangat kipasnya!" teriak Bia begitu heboh.


"Bu, sungai tempat kita dulu bermain. Apa masih ada?" tanya Bara pada wanita paruh baya di dekatnya.


Kepala ibu itu mengangguk. "Ada, Tuan. Airnya juga lagi bersih. Kalau musim hujan biasanya airnya akan keruh."


"Besok antarkan kami kesana ya, Bu. Rasanya saya hampir lupa lewat jalan mana."


"Baik, Tuan." 


...🌴🌴🌴...


Sedangkan di tempat lain.


Lebih tepatnya di sebuah apartemen yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perusahaan milik Bara. Terlihat tiga orang manusia baru saja selesai dengan kegiatan makan malam. 


Malam ini Reno memang mengajak kekasih dan ibu kekasihnya kesini karena tak mau Ayah Adeeva akan menemui keduanya dan bersimpuh sujud setelah mengetahui kebenarannya.


Reno ingin memberikan pelajaran pada pria tua itu. Pria tua yang tak berpikir untuk Tes DNA kepada putrinya. Malah yang ada dia menyiksa dan memukuli istri dan putrinya dengan kejam dan meninggalkan trauma yang mendalam.


Benar-benar seorang Ayah yang tak memiliki hati nurani, menurut Reno.

__ADS_1


"Ibu ke kamar dulu yah. Ibu mengantuk," pamit Ibu Adeeva saat mereka selesai makan malam.


"Iya, Bu," sahut Adeeva dengan patuh. "Tidak perlu dibersihkan. Biar Adeeva sendiri." 


"Nanti Adeeva…" 


"Gakpapa, Bu. Ibu ke kamar aja," pintanya lalu segera mengantarkan ibunya ke salah satu kamar yang ada di sana.


Apartemen Reno memang memiliki dua kamar. Ini adalah apartement hasil tabungannya sendiri. Dia selalu membeli sesuatu untuk kehidupannya di masa depan.


Entah menikah atau tidak. Dulu Reno selalu menyiapkan semuanya dengan matang. Rumahnya sudah ada. Apartemen juga ada. Lalu saham di perusahaan milik Reno. Dia juga punya walau hanya 10%. Namun, itu saja berkat bantuan Bara juga ia bisa memiliki saham di perusahaan. 


"Ayo aku bantuin!" kata Reno mulai membantu membawakan piring kotor ke wastafel. 


Setelah meletakkannya dan membiarkan kekasihnya membersihkan. Reno mengambil lap meja dan mulai membersihkan meja makannya.


Pria itu benar-benar begitu lihai dan membuat Adeeva tersenyum tanpa sadar. Pria yang begitu mandiri dan tak menye-menye semakin membuat hatinya berdebar kencang.


Hingga saat sekretaris Jonathan itu mulai asyik dengan kegiatannya. Sebuah tangan melingkar erat di perutnya yang membuat Adeeva terkejut bukan main.


"Ngagetin aja!" dengus Adeeva memukul lengan kekasihnya dengan lengannya yang tak kotor.


Reno terkekeh. Dia meletakkan dagunya di pundak sang kekasih dan melihat bagaimana tangan lentik itu dengan cepat bergerak kesana kemari.


"Apa kamu sudah tenang?" bisik Reno pada kekasihnya.


"Iya. Aku udah mulai merasa lega," sahut Adeeva dengan yakin.


Reno tersenyum. Dia mencuri satu ciuman di pipi kekasihnya yang membuat mata Adeeva membulat penuh. Dia tak menyangka jika kekasihnya itu nekat menciumnya disini ketika sudah tahu ada ibunya.


Adeeva berbalik. Dia menatap kekasihnya dengan tajam.


"Kalau ibu melihat bagaimana? Bisa langsung dinikahkan kata," kata Adeeva pada kekasihnya.


"Ya gapapa. Tidak perlu menunggu Ibu," sahut Reno dengan entengnya.


"Maksudmu, Ren?" tanya Adeeva tak percaya.


"Maukah kamu menikah denganku, Deeva?" 


~Bersambung


Kira-kira Adeeva mau gak yah?


Kalau ada typo bilang yah. Bab ini belum kurevisi.

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2