
Tiba di rumah pun.. kedua orang tua Dara terus berusaha untuk membantu memulihkan ingatan Dara.
Begitu juga dengan Faozan apa saja yg ia lakukan sama Dara di rumah itu sudah ia ceritakan semua.
Namun hasil nya masih sama... bahkan fhoto² nya bersama Dara di pasar malam.. termasuk undangan pernikahan mereka.. kado² Aniversarry juga tak lupa ia tunjukan berharap sedikit saja Dara akan ingat tentang nya.
Namun seperti nya.. Tuhan masih ingin menguji mereka lebih banyak lagi.. hingga tak satu pun terlintas dalam ingatan Dara kenangan yg ia lalui selama 2 tahun terakhir ini.
Tetapi hal itu tak membuat nya putus asa.. Faozan percaya cepat atau lambat Dara akan mengingat nya kembali.
Seperti yg terjadi malam itu.. saat itu Dara tengah duduk di teras depan rumah nya.
Faozan yg melihat itu langsung menghampiri nya.
" Kok belum tidur sayang." tanya Faozan.. sambil duduk di depan Dara dengan menyulut sebatang rokok.
Dara mengibas ngibaskan tangan nya karna merasa sesak oleh asap rokok Faozan.
" Bisa nggak kamu berhenti ngerokok.. atau se nggak nya jangan di depan ku.. aku paling anti yg nama nya asap rokok." ketus Dara.
" Oh iya maaf." Faozan mematikan rokok nya.
Kemudian ia tersenyum menatap Dara.
" Ada apa?." tanya Dara ketus.. ia sama sekali tak pernah bicara lembut pada Faozan.. jangan kan bersikap hangat.
" Aku jadi ingat sesuatu." jawab Faozan santai.
" Apaan?." Tanya Dara lagi.
" Kata² kamu dulu."
" Apa yg ku katakan." tanya Dara tak sabar.
" Dulu kamu pernah menyuruhku memilih antara kamu dan rokok." tutur Faozan apa ada nya.
" Lalu kamu pasti pilih rokok kan." Sahut Dara.
" Nggak.. waktu itu aku bilang.. aku nggak bisa milih salah satu nya."
" Kenapa?."
" Karna kedua mempunyai arti yg sama dalam hidup ku.. aku nggak akan sanggup hidup tanpa mu dan juga rokok."
" Nggak masuk akal." ketus nya lagi.
__ADS_1
" Jika kamu di suruh memilih antara Ibu & Ayah mu.. maka siapa yg akan kamu pilih?." tanya Faozan.
" Kedua nya lah.. kan mereka orang tuaku."
" Begitu juga dengan ku.. aku nggak bisa memilih salah satu dari kamu & rokok."
" Oke terserah kamu sajalah.. dan iya jika kamu sendiri jika di suruh memilih antara Ibu & Ayah mu maka siapa yg akan kamu pilih?.". tanya Dara pada Faozan.
" Nggak ada." jawab Faozan seada nya.
" Kenapa?." Dara bertanya bingung.. ia tak ingat apapun tentang Faozan.
" Karna sejak kecil kedua ortu ku nggak peduli pada ku... hanya kakek & nenek yg membesarkan ku."
" Oh.. maaf aku nggak ingat apapun tentang kamu." tutur Dara merasa tak enak hati.
" Iya nggak apa² kok aku ngerti."
" Oh iya.. bisa nggak kamu cerita gimana dulu saat kita baru kenal.. lalu kita pacaran dan seterus nya." pinta Dara.
"Baiklah."
" Kita dulu hanyalah orang asing.. kita cuma kenal lewat socmed.. tepat nya di grup WA.. tuh yg ada di hp kamu."
Tak satupun yg ia ingat siapa² anggota grup nya itu.. hingga ia bertanya pada Faozan.
" Diantara mereka tak satupun yg aku kenal.. menurut mu apakah aku dekat dengan mereka semua?." Tanya Dara seada nya.
" Iya.. bisa dibilang semua anggota grup sangat dekat dengan mu.. karna kamu termasuk salah satu admin disana.. kamu juga yg paling ramah diantara admin yg lain.. itulah mengapa dulu aku sangat mengagumi mu."
" Oh iya.. terus." Dara mulai tersenyum mendengar cerita Faozan.
" Lalu setiap hari aku selalu chatt kamu.. ya meski usia kamu lebih tua dari aku tapi aku tak merasa takut buat chatt kamu.. karna kamu orang nya asyik.. kamu sering bercanda dengan ku awal² kita kenal dulu." Faozan mencoba mencerritakan dari awal kisah mereka.
" Owah.. emang umur kamu berapa?." Tanya Dara yg tak ingat berapa umur Faozan.
" 19 tahun."
" Dan aku sendiri berapa?."
" 22 tahun sayang."
" Berarti aku lebih tua darimu.. tapi kamu kok mau sich menikah dengan ku?."
Pertanyaan Dara membuat Faozan tertawa.
__ADS_1
" Kok malah ketawa sich?." Dara bertanya heran.
" Pertanyaan yg sama dengan yg kamu tanyakan saat dulu aku menyatakan perasaan pada mu." kata Faozan dengan sabar nya.
" Lalu apa jawabanmu dulu dan sekarang?."
" Jawaban dulu dan sekarang tetap sama.. yaitu karna menurutku Cinta itu tak kenal usia.. dan aku suka sikap dewasa mu yg selalu bisa menasehatiku dan membimbingku untuk menjadi yg lebih baik." jawab Faozan dengan tersenyum lembut.
" Apa yg membuat mu mencintai ku?."
" Cinta tak butuh alasan Sayang." kata Faozan sambil mencoba menyentuh lembut pipi Dara.
Dara hanya diam dengan perbuatan Faozan.
Fikiran nya ingin menolak keras tapi hati nya tidak.
Melihat Dara yg hanya diam.. tanpa penolakan Faozan mulai bertanya.
" Kenapa kamu nggak marah saat aku menyentuh mu.. padahal bagi mu saat ini aku hanyalah orang asing yg sama sekali tak kamu kenal?." tanya Faozan terus terang.
" Entahlah.. aku sendiri tak mengerti dengan diriku.. sebenar nya fikiran ku sungguh tak menyukai saat kamu menyentuhku.. bahkan jangan kan menyentuh.. aku bahkan tak menyukai saat kamu manggil aku sayang.. tapi tidak dengan hati ku.. hati ku malah merasa nyaman dengan sentuhan dan panggilan itu." Dara menanggapi seada nya.. iya itulah yg ia rasakan.
Faozan tersenyum lembut mendengar nya.
" Mungkin benar kata² mu dulu."
" Apa yg ku katakan."
" Dulu saat aku marah lantaran kamu nggak ada kabar semalaman karna faktor sinyal yg nggak ada.. saat itu aku bilang pada mu kalo kamu telah melupakan aku..."
" Aku nggak akan pernah melupakan mu... kecuali kalo aku ini amnesia.. tapi kamu tenang aja meski aku melupakan mu.. tapi cinta ku akan tetap untuk mu." Dara menyela bicara Faozan gesit.. tak tau mengapa kata² itu terlontar sendiri dari mulut nya..
Faozan hanya terperangah mendengar perkataan Dara.. ia juga tak menyangka kata² yg sama keluar dari mulut Dara.
" Apakah benar seperti itu yg ku katakan?." tanya Dara kemudian.
" Iya benar.. kata² yg sama.. & dari orang yg sama." sahut Faozan tersenyum lagi.. " Tapi dari mana kamu bisa tau semua itu?."
" Entahlah.. aku hanya bicara apa saja yg keluar dari mulut ku."
" Semoga ini menjadi pertanda baik untuk hubungan kita."
Dara hanya mengangguk saja.. karna sebenar nya ia belum bisa menerima hubungan nya dengan lelaki itu.. yg ia fikirkan hanya tentang Satya.. tapi Dara ingin memberi kesempatan pada Faozan.
Barangkali saja dengan ia bertanya² tentang masa lalunya pada Faozan.. ia akan mengingat nya kembali.
__ADS_1