
Faozan pulang mengantar Defano sekolah.. ia masuk ke dalam rumah.. tapi di lihat nya Dara belum juga keliatan.. padahal janji dengan Dokter Alex hari ini Dara harus ke RS untuk membuka perban.
" Apa dia masih belum bangun?." Faozan bertanya sendiri.
Setelah itu.. Faozan memutuskan untuk melihat ke kamar Dara.. sebab mumpung belum terlalu terik ia harus segera berangkat ke RS.
Dengan pelan Faozan mencoba membuka pintu kamar Dara.. yg ternyata memang tak terkunci.
Begitu pintu nya terbuka.. Faozan melihat Dara masih tidur dengan lelap nya.
Faozan mengambil nafas dalam.
" Astaga.. Anak mama ini masih belum bangun."' Gumam nya sendiri.
Kemudian dengan pelan ia mendekati Dara.. untuk membangun kan nya.
Sesaat Faozan hanya berdiam diri sambil menatap Dara.
Wajah yg sangat imut dan terlihat polos saat ia sedang tertidur pulas.
" Sayang bangun." Faozan berkata sambil menggoyangkan pelan tubuh Dara.
Gadis itu hanya mengeliat sambil berkata.
" Bentar lagi Bu.. masih ngantuk." fikir nya sang Ibu yg membangun kan.. padahal jauh beda.. suara perempuan dan laki².
Mendengar hal itu Faozan menghela nafas dalam.
" Dasar manja." gumam nya.
Kemudian sekali lagi ia mencoba membangun kan Dara.
" Ra bangun.. kita harus ke RS." sama seperti tadi sambil menggoyangkan tubuh Dara dengan pelan.
Kali itu Dara bukan nya merespon malah menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh nya.. sampai kepala ia tenggelam kan dalam selimut.
" Ini orang tidur atau pingsan sich." Oceh nya sendiri.
Lalu Faozan segera menarik selimut itu dan menjauh kan nya dari tubuh Dara.
Untung Dara memakai baju tidur yg benar² memutup tubuh nya.. coba kalo ia memakai linggrie misal nya.. bahaya donk.
Namun meski selimut nya sudah di tarik sekali pun..Dara tetap tak membuka mata nya.
Faozan menggeleng² kan kepala nya.. ia tak tau harus bagai mana cara agar Dara cepat bangun.
Faozan duduk di sebelah Dara yg tengah tertidur itu.
Mata nya menatap wajah imut gadis itu.. sampai mata nya tertuju pada bibir merah nan sexy Dara.
Maka di ***** nya bibir itu dengan spontan.
Dan tentu saja hal itu membuat Dara terbangun.
Dara membuka mata nya dan dia sangat terkejut mendapati Faozan sudah ada disana dan ia merasakan betul bahwa seseorang tadi mencium nya.
Dan itu artinya Faozan yg melakukan nya.
Faozan menatap Dara dengan tersenyum.
" Kamu kelewatan.. ngapain coba.." Dara tak ingin melanjutkan bicara nya.. karna ia tampak malu jika ingat hal itu.
" Ngapain apa?." Tanya Faozan menggoda nya.
" Nggak ada." jawab nya canggung.
" Ow.. jangan² yg kamu maksud itu ngapain aku cium kamu ya." Faozan berkata sambil tersenyum meledek.
Dara hanya mengerucutkan bibir nya dan memutar² nya pelan.. dengan lirikan mata yg terlihat mendelik.
Melihat reaksi Dara yg hanya diam.. Faozan mencoba bicara lagi.
" Aku cium kamu habis nya kamu nggak mau bangun tadi.. padahal kita harus ke RS hari ini buat buka perban kamu.. ini udah jam berapa loh."
" Iya iya.. kamu bawell juga ya jadi orang." Dara menanggapi sambil beranjak turun dari ranjang nya untuk menuju kamar mandi... " Ya udah aku mandi dulu."
Dara melangkah melewati Faozan yg masih duduk di tepi ranjang nya.
__ADS_1
Sekilas ia mencubit lembut pipi Faozan..
Faozan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.
15 menit kemudian Dara selesai mandi dan kembali ke kamar nya.. di lihat nya Faozan telah pergi dari ruangan itu.
Ia segera mengganti baju nya.. memoles sedikit bedak.. memulas bibir dengan lipstik yg tipis.. dan tak lupa juga pake pencil Alis.. hanya riasan sederhana.. namun itu cukup membuat nya makin terlihat Cantik dan Anggun.
Terakhir ia menyemprotkan sedikit parfume ke seluruh tubuh nya.
Parfume aroma melati kesukaan nya.
Kemudia Ia meraih tas sandang yg biasa ia bawa buat berpergian sama teman² nya.. inti nya tas santai.
Karna kepala sebagian masih terbalut perban.. hari itu Dara tak memakai hijab... ia juga tak menguncir rambut nya.. hanya tergerai saja.
Dara hanya memakai jeans ketat warna biru muda.. dan atasan yg cocok dipadu padan kan dengan jeans nya itu... dengan jam tangan yg di pakai di pergelangan tangan kiri nya.. hari itu Dara sengaja memilih jam tangan yg warna nya sama seperti jeans nya warna biru muda.. dengan tali model jelly.
Terlihat jelas bohay nya.. namun tak terlalu mengumbar aurat.
Setelah merasa cukup pas barulah ia keluar dari kamar nya dan menemui Faozan yg telah menunggu nya di ruang tengah.
" Ayo." Ajak nya begitu berada di dekat Faozan.
Faozan menoleh.. dan beberapa detik ia pernah menatap Dara yg begitu rapi dan Cantik.. selama ini ia hanya melihat Dara dengan pakaian biasa aja alias santai.. bahkan sering hanya baju tidur doank.
" Ada apa kok liatin nya gitu amat.. apa ada yg salah." Kata Dara yg merasa heran dengan reaksi Faozan.
" Nnng.. nggak ada.. hanya saja kamu terlihat Cantik banget."'
" Hsssst.. Pagi² udah lebay aja." sahut nya.
" Siapa yg lebay."
" Kamu lah... emang ada orang lain disini?. nggak kan."
" Kamu salah besar kalo mikir nya aku lebay.. aku nggak lebay.. aku hanya mengatakan apa yg aku lihat."
" Ehehehe.. manis sekali." kata nya jengkel.. " Ya udah ayo.". Ajak nya lagi.
" Kamu nggak sarapan dulu?." Tanya Faozan yg menyadari kalo Dara belum sarapan.
" Aku udah sarapan tadi.. bareng Ayah.. Ibu dan Defano.". jawab Faozan apa ada nya.
" Oh.. ya udah kalo gitu aku sarapan dulu ya."
" Iya.. atau mau aku suapin."
" Nggak makasih.. yg ada ntar kamu minta upah lagi." Dara berkata setengah bercanda.
Faozan tertawa pelan..
Kemudian Dara melangkah ke ruang makan.. dan mulai sarapan.
Usai sarapan mereka pergi ke RS untuk membuka perban di kepala Dara.
Sepanjang perjalanan menuju RS mereka terus saja berbincang.
Hingga tiba di RS mereka langsung menemui Dokter Alex dan membuka perban nya.
Setelah perban nya di buka.. Dokter Alex menyaran kan agar Dara melakukan Rontgen lagi.. Dara pun setuju.
Dan Alhamdulillah hasil nya baik.. Dara benar² sudah sehat.
" Kita langsung pulang atau kemana nih?." Tanya Faozan saat mereka sudah ada di parkiran RS.
" Gimana kalo kita ke pasar dulu." sahut Dara.
" Pasar?... Rame nggak?." Tanya Faozan yg membuat Dara seketika langsung tertawa.
" Yg nama nya pasar udah pasti rame."
" Nggak ah males aku kalo harus sempit² an di pasar."
" Nggak serame itu kok.. kan bukan mau lebaran.. kalo mau lebaran iya."
" Baik lah kalo begitu ayo." Faozan setuju.
__ADS_1
Akhir nya mereka berdua memutuskan pergi ke pasar.
Pertama Dara belanja alat kosmetik.. okelah.. tapi selanjut nya Dara sengaja mau ngerjain Faozan dengan mengajak nya membeli kebutuhan rumah.. Seperti lauk pauk.. sayur mayur bahkan buah² an.
Dan semua itu Dara suruh Faozan yg membawa nya.
Sampai ada seseorang yg berbisik melihat hal itu.
" Eeh liat tuh suami yg sayang istri sampe belanja aja di teminin." bisik orang itu setengah meledek.
Dara hanya berusaha menyembunyikan tawa.
Faozan juga hanya cuex.. pura² tak mendengar.. ia tak ambil pusing orang nya.. selama itu tak mengganggu nya dia tak masalah.
Lagian menurut nya nggak salah jika ia menemani Dara buat belanja.. toh belanja keperluan rumah tangga itu bukan cuma tugas perempuan bahkan lelaki juga bisa.
Terutama karna selama ini Faozan sering melakukan nya entah itu dengan adik nya atau dengan kakak perempuan nya yg telah menikah.
Jadi sudah bukan hal aneh lagi bagi nya.
" Gedok.. emang nya kamu nggak malu ya kau ajak belanja keperluan rumah tadi.". Dara bertanya saat mereka dalam perjalanan pulang.
" Nggak ngapain malu.. kamu kan tau sendiri.. aku sudah sering belanja seperti ini.. kadang buat kebutuhan di rumah.. kadang juga menemani kak Vina.. jadi aku udah biasa lagi pula ngapain mesrti malu.. kita bukan mencuri hanya belanja." Jawab nya tegas.
" Iya sih.. cuma kebanyakan cowok itu malu kalo diajak kepasar apa lagi sampe beli keperluan rumah." Tutur Dara lagi.
" Bagi aku mah nggak.. apa lagi belanja nya ama kamu."
" Iiih Dasar." Dara mencubit pinggang Faozan.
Yg membuat Faozan berteriak.
" Awww.. sakit tau." tegas nya sekilas ia menoleh untuk menatap Dara.
" Biarin." sahut Dara tertawa pelan.
Begitulah.. mereka terus bicara hingga sampai di rumah.
Tiba di rumah Dara berniat untuk masak buat makan siang mereka.. melihat Dara yg mau masak.. Faozan pun juga membantu nya.
" kamu mau masak apa sayang?." tanya Faozan.
" Buat Ayah & ibu aku goreng in ayam juga sambal balado.. cuma yg aku bingung kamu mau makan apa?."
" Apa ajalah."
" Sambel tempe mau?.". tanya Dara.
" Wiiih.. itu yg lebih enak tuh."
" Ya udah aku masak sambel tempe aja buat kamu."
" Aku bantuin ya."
" Boleh." Sahut Dara sambil memotong kecil² tempe tersebut.
" Lalu apa yg harus aku lakukan?." tanya Faozan.
" Kamu bikin bumbu nya ya.. aku pengen liat kata nya kamu jago bikin sambel tempe."
" Baiklah." Faozan pun mengambil Cabe merah.. Cabe rawit.. bawang merah.. bawang putih.. tomat.. gula merah dan garam serta mecin.
Setelah mengupas bawang.. Faozan mencuci cabe nya.
" Eh Cobek nya mana?." Tanya Faozan yg membuat Dara tertawa.
" Emang kamu mau ngulek nya?.. kalo aku mah ogah."
" Iya aku udah biasa kali."
" Nggak mau pake yg praktis aja.. dengan blender misal nya." kata Dara lagi.
" Oh iya lupa aku.. kalo kalian pasti punya blender.. nggak kayak di rumah kakek mesti ngulek dulu."
" Udah nggak usah banyak cerita.. ambil blender nya terus kerjain tugas mu."
Faozan pun hanya menurut.. setelah itu dia sendiri yg ingin memasak sambel tempe nya.. bahkan dia juga memasak sayur bayem.
__ADS_1
Dan saat makan siang.. kedua orang tua Dara sempat memuji masakan Faozan.. kata nya cukup enak.
Faozan merasa senang karna semua orang menyukai masakan nya.