
Baru saja Dara berniat mau mandi tapi sesaat kemudian ia mengurungkan niat nya lantaran ia ingat kalau ia tak mempunyai pakaian ganti.
Karna itulah Dara hanya mencuci muka saja.
Kemudian ia kembali menuju tempat nya berbaring tadi.
Faozan bingung melihat Dara sudah kembali..
Nggak mungkin ia mandi secepat itu.. fikir Faozan.
" Udah selesai mandi nya?." Faozan bertanya karna ia pun telah menghabiskan sarapan mya.
" Nggak jadi."' jawab nya singkat.
" Loh.. kenapa?.". Tanya Faozan tak mengerti.
" Nggak ada pakaian ganti.. jadi percuma juga aku mandi." ia mulai kesal sendiri.
" Iya juga sich.. aku hubungi Ayah sama Ibu dulu.. biar nanti saat mereka kemari mereka bisa bawakan baju ganti untuk kamu." Kata Faozan membujuk nya.
" Nggak usah.. kayak nya aku mau pulang aja hari ini."
" Kok gitu sich.. kamu kan masih dalam masa perawatan sayang." kata Faozan lembut.
" Tapi aku udah nggak betah disini." Dara mulai merengek.
Faozan menghampiri nya dan duduk disamping nya.
" Meskipun ada aku kamu tetap nggak betah?." tanya Faozan lagi sambil menatap wajah Dara dengan seulas senyum di bibir nya... " Atau justru kamu nggak betah karna ada aku?."
" Nggak bukan begitu.. tapi aku risih dengan keadaan ku saat ini.. keringatan dan juga bau obat."
" Hey." sambil berkata lembut Faozan menyentuh pelan pipi Dara.. dengan sangat lembut juga..
" Aku nggak peduli kamu bau obat kek.. bau keringat kek.. yg pasti aku tetap sayang kok ama kamu."
Dara melirik Faozan dengan tersenyum.
" Nah kalo tersenyum gini kan lebih Cantik." kali itu sambil berkata Faozan memencet hidung Dara.
" Iiih sakit tau." kata Dara manja sambil memegang hidung nya yg memerah itu.
" Oh.. attiit ya peceek ku." Goda Faozan lagi menirukan gaya anak kecil bicara.
Dara tertawa dibuat nya.. Faozan pun ikut tertawa.
Saat mereka sedang asyik tertawa bersama.. Suster datang dan membawakan sarapan serta obat untuk Dara.
" Selamat pagi Dara.". sapa suster itu ramah.
" Pagi sus." jawab Dara ramah.
" Nih sarapan nya.. di habisin ya Dara.. dan obat nya juga di minum." sambil menjelaskan dosis obat nya.
" Baik Sus."' Faozan yg menanggapi.
Sesaat sebelum pergi Suster itu melihat kalo selang infus sudah terlepas dari tangan Dara.
__ADS_1
" Kok selang infus nya lepas." Tanya Suster itu.. sambil ingin memasang kembali selang infus nya.
" Aku nggak perlu itu lagi Sus." kata Dara gesit.
Suster itu menatap Dara.
" Kenapa?."
" Karna aku udah sehat." Jawab Dara.
" Itu hanya perasaan kamu saja.. yg sebenar nya kamu itu masih lemah dan masih harus menggunakan ini.. biar kamu bisa pulih dengan cepat." Suster itu menjelas kan
Suster itu benar kondisi Dara memang masih sangat lemah.. hanya saja sikap keras kepala nya itu yg membuat nya merasa tak butuh di infus lagi.. padahal untuk berjalan saja badan nya masih gemetaran karna lemas.
" Tapi.." perkataan Dara terhenti karna Faozan yg mengambil alih pembicaraan.
" Pasang saja Sus.. tadi tak sengaja terlepas."
Suster pun hanya menurut saja dan memasang kembali selang infus itu di tangan kiri Dara.
Kemudian Suster itu pergi dari ruangan itu.
Dara menatap kesal Faozan yg menyuruh Suster itu memasang infus kembali.
Faozan tersenyum melihat reaksi Dara yg tak menyukai tindakan nya tadi.
Ia menghampiri Dara dan memegang kedua belah pipi Dara dengan kedua tangan nya.. mata nya lurus menatap mata gadis itu.
" Kamu marah ya?." tanya Faozan lembut.
" Ini semua demi kebaikan kamu loh.. Suster itu benar liat saja kondisi mu.. badan kamu masih begitu lemas.. aku bukan nya tak menyadari saat kamu jalan tadi badan kamu gemetaran gitu." ia menghentikan bicara nya karna Dara menoleh kearah lain tak menatap diri nya seperti tadi.
Dengan pelan Faozan menghela wajah Dara agar kembali menatap nya.
Dara pun tak melawan.
" Maaf kalo aku egois.. maaf pula kalo aku salah.. Aku hanya ingin yg terbaik buat kamu.. aku cuma ingin kamu segera pulih dan bisa pulang dari sini.. kamu nggak tau gimana rasa nya menunggu orang yg sedang sakit.. selain nggak tenang dan khawatir aku juga merasa takut." mata nya mulai memerah mengingat kembali hari dimana dia menunggu Dara yg sedang di Operasi.
Dara pun mulai paham.. dan mengerti apa itu rasa nya takut kehilangan.. ia pernah merasakan itu saat Ibu nya sakit.
" Maaf.". kata nya kemudian.
Faozan mulai tersenyum mendengar perkataan Dara.
" Kamu nggak marah lagi kan?."
Dara mengangguk..
" Sekarang ayo sarapan.". sambil berkata Faozan meraih semangkok bubur yg tadi di berikan Suster..
Kemudian dengan pelan ia mulai menyuapi Dara.
Tentu saja Dara tak akan menolak.. hati nya sangat bahagia bisa mendapat perhatian seperti ini dari Faozan.
Dia sendiri tak pernah membayangkan kalo Faozan akan bisa memanjakan nya seperti ini.. mengingat usia Faozan yg lebih muda dari nya.
Tak butuh waktu lama bubur nya pun sudah habis.. Faozan memberikan obat dan juga air minum.. meminta Dara meminum obat nya.. Dara pun tak membantah.
__ADS_1
Setelah itu dengan pelan Faozan membersih kan sisa makanan yg ada di bibir Dara dengan tisue yg memang terasedia disana.
Dara menatap Faozan yg menurut nya begitu manis hari itu.. dengan senyuman manis nya.
" Makasih ya."
Usai berkata Dara malah mencium pipi Faozan.
Yg membuat Faozan terkejut bukan main.. ia tak menyangka Dara akan mencium nya.
Dengan spontan Faozan memegang pipi nya yg masih terasa basah dan juga hangat.
Melihat reaksi Faozan.. Dara terkekeh sendiri..
Dan suara tawa Dara itulah yg menyadarkan Faozan.
" Tadi kamu bilang apa?.". ia bertanya mengenai perkataan Dara tadi yg sempat ia dengar namun tak begitu ia ingat lantaran kaget karna Dara tiba² mencium nya.
" Aku cuma bilang makasih."
" Harus nya aku yg bilang makasih."
" Kenapa?.". Dara bertanya dengan dahi berkerut.
" Karna kamu sudah memberiku kejutan yg luar biasa." jawab nya tersenyum.
" Ahahaa.". Dara tertawa.. " Itu nama nya Ciuman sayang."
" Masa."
" Iyalah.. emang kamu nggak tau ya?.. kalo ciuman sayang itu di pipi."
" Kalo di kening ciuman apa?."
" Kalo di kening nama nya ciuman Cinta."
" Kalo di bibir?.". Faozan malah makin bertanya.
" Kalo di bibir itu tentu saja nafsu."
" Kenapa bilang begitu."
" Kalo udah di bibir biasa nya bagi yg nggak kuat pasti berakhir.. ya kamu pasti tau lah maksud ku."
" Iya iya.. benar juga."'. Faozan mengangguk² kan kepalanya.
" Dan iya kamu tau nggak ciuman dimana yg paling panas?"
" Nggak emang nya dimana?."
" Di.. di.. di..di."
" Dimana?.". tanya Faozan tak sabar.
" Di knalpot lah.. kalo nggak percaya coba aja kamu cium knalpot motor yg habis berjalan."
" Dasar kamu ya." Faozan tertawa.. Dara juga tertawa.
__ADS_1