
Penerbangan selama hampir 4 jam benar benar cukup melelah kan bagi Dara.. Faozan & juga Ibu nya.
Belum lagi dari Bandara International Lombok menuju Desa Tapak siring butuh waktu yg kira kira hampir jam pula.
Makin membuat mereka tak hanya merasa lelah namun juga letih.
Itulah sebab nya sampai di rumah kakek nya Faozan.. mereka langsung istirahat karna memang hari sudah gelap.
Suara adzan subuh yg terdengar sayup sayup di telinga Dara membuat nya mulai membuka mata.
Setelah menormalkan penglihatan nya.. Dara mulai bangun dan duduk.. Mata nya menatap Faozan yg masih tertidur lelap.
“ Sayang bangun.. Waktu nya shalat subuh.” Dara mulai membangunkan Faozan.. dengan menggoyangkan pelan tubuh sang suami.
Faozan pun merasakan & mendengar nya.. Hingga dia mulai membuka mata nya.
Faozan mulai tersenyum menatap Dara yg kini ada di depan wajah nya.
Faozan mulai bangun & duduk mensejajarkan tubuh nya dengan Dara.
CUP..
Faozan mengecup lembut kening Dara.
“ Selamat pagi kesayangan.” sapa Faozan dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“ Morning to.. Ayo bangun & mandi lah setelah itu kita shalat subuh.” Tutur Dara.
Faozan hanya mengangguk.. Untuk kemudian dia melangkah menuju kamar mandi.
15 menit kemudian.. Faozan telah selesai mandi dan juga berwudhu.
Gantian Dara yg mandi & mengambil air wudhu.
Setelah itu mereka shalat subuh berjamaah.
__ADS_1
Usai shalat subuh Dara langsung membuat sarapan untuk semua orang.. Setelah itu mereka pun sarapan bersama.
Hari itu memang semua orang belum mulai aktifitas.. masing masing masih berada di rumah.
Yg pergi dari rumah hanya lah Ella.. karna dia harus sekolah.
Pagi hari sekitar jam 8 pagi.. ada beberapa tetangga datang untuk bersilaturahmi.
Namun ada yg membuat Dara merasa jengkel.. Ada sebagian orang yg mencibir mereka.
Entah apa kesalahan mereka hingga orang itu tega berkata demikian.
“ Jadi meski sudah lama menikah kalian belum punya anak.. aku fikir kalian sudah punya anak.” kata seorang tetangga yg kira kira berumur setengah baya itu.
“ Masalah anak itu tergantung Tuhan yg menentukan... kalian tak bisa menghakimi orang.” tegas Ibu nya Faozan yg merasa kesal.
“ Marni.. emang nya kamu nggak mau punya cucu gitu.” kata orang itu lagi.
“ Aku sudah punya cucu yaitu anak anak Vina.. dan mengenai masalah Dara & Faozan.. aku tidak peduli yg penting bagi ku.. mereka tetap rukun dan baik baik saja.” sahut Ibu lagi.
Namun saat mereka berbisik mengenai Ibu mertua nya dia tak bisa diam.
“ Tentu saja dia akan membela anak anak nya.. toh sekarang hanya anak anak nya yg peduli sama dia.. selama ini dia selalu sok kuasa.. anak anak diabaikan.. eh giliran udah tua gini baru nyusahin anak.” bisik orang yg tadi dengan salah satu tetangga yg lain nya lagi.
“ Jika kalian datang cuma buat menghina keluarga kami.. maka akan lebih baik jika kalian pergi.” tegas Dara tanpa basa basi lagi.
“ Keluarga kami tak mengundang kalian kan.. tapi kami berterima kasih jika kalian mau menjalin silaturahmi dengan keluarga kami.. bukan untuk menghina keluarga kami.. ya benar kami orang miskin yg tak punya apa apa.. tapi bukan berarti kalian bisa menghina begitu saja.. aku masih bisa diam.. jika yg kalian hina itu adalah aku.. tapi jika kalian berkata hal buruk tentang Ibu ku.. maka aku tak bisa tinggal diam.” Ketus Dara lagi.
Yg seketika membuat kedua orang itu bungkam.
Kemudian pandangan kurang suka kedua orang itu bergerak untuk meninggalkan kediaman keluarga Faozan itu.
Saat kedua wanita itu sudah berada diambang pintu keluar Dara mulai bicara lagi.
“ Ingat lah ini Bu.. kehidupan itu bagai roda.. kadang diatas dan kadang di bawah.. dan tak ada seorang pun yg mampu hidup di dunia ini tanpa bantuan orang lain.. sekaya apapun mereka mereka pasti pernah membutuh kan bantuan orang lain.. Camkan lah itu.”
__ADS_1
Mendengar hal itu dengan langkah yg makin lebar kedua orang itu langsung pergi.
“ Sabar ya Dara.. mereka berdua memang suka gibah.. tak pernah sadar dengan diri mereka sendiri.” Seseorang mencoba memberi pengertian pada Dara.
Dara hanya mengangguk.
Kemudian dia kembali mengobrol dengan para tetangga nya yg masih ada disana.
Setelah merasa cukup bersua.. para tetangga memutuskan untuk pulang.. karna memang hari sudah hampir sore..
Jam sudah menunjuk pukul 14 siang.
Setelah kepulangan mereka Dara memilih duduk sambil bermain ponsel nya di teras depan rumah nya.
Tak lama setelah Dara duduk.. Faozan menghampiri nya.
“ Ayo chatt an ama siapa tuh.. kayak nya serius banget?.” tanya Faozan setengah menggoda.
Dara menatap sang suami sambil tersenyum.
“ Ini loh.. aku cuma chatt ama teman teman.” jawab Dara apa ada nya.
“ Ow.. pantes aku diabaikan.” goda Faozan lagi.
“Kapan aku mengabaikan mu.” tanya Dara menanggapi serius perkataan suami nya itu.
“Ahaha.” Faozan tertawa.
“Serius amat sich Sayang.. aku cuma bercanda doank.” sambil berkata Faozan mencubit lembut pipi Dara.
“Dasar kamu ya.” sahut Dara sambil pura pura cemberut.
“Oh iya kamu mau ikut aku nggak?.” tanya Faozan mengalih pembicaraan.
“Kemana?.” tanya Dara penasaran.
__ADS_1
Kemana ya kira kira???