
Suara adzan subuh berkumandang.. dengan perlahan Dara mulai membuka mata nya.
Di lihat nya kesamping kanan.. Faozan masih tertidur lelap.
Dara menatap wajah suami nya tersebut dengan tersenyum sendiri.
" Saat tidur kamu terlihat sangat manis.. tapi giliran udah bangun apa lagi saat marah.. huuuh benar benar menjengkel kan.. tapi mengapa aku bisa sangat sayang ya pada nya." Dara bergumam dalam hati.
CUP..
Dara mengecup kening Faozan... tentu saja karna merasakan sentuhan Faozan langsung membuka mata nya.
Dara tersenyum lembut menatap sang suami.. Faozan juga membalas dengan senyum yg sama.
" Selamat pagi suamiku." sapa Dara.
" Pagi juga kesayangan." sambil berkata Faozan mulai bangun & duduk berhadapan dengan Dara... Kemudian di raih nya wajah Dara.
CUP.
Faozan juga mengecup lembut kening istri nya.
" Udah waktu nya subuh ya." kata Faozan kemudian.
" Iya." sahut Dara singkat.
" Ya udah kamu mandilah duluan setelah itu aku." tutur Faozan lagi.
" Kamu aja yg duluan.. sebab jika aku yg duluan yg ada ntar setelah aku tinggal kamu ke kamar mandi kamu malah tidur lagi." jawab Dara
" Ehehe.. kali ini nggak sayang.. udah sana mandi lah."
Dara pun hanya menurut... ia melangkah ke kamar mandi & mandi serta mengambil air wudhu.
20 menit kemudian Dara telah selesai mandi & berwudhu..
Ia pun kembali ke kamar.. dan benar saja saat ia kembali ke kamar Faozan masih bangun tidak tidur seperti biasa nya.
Melihat Dara telah selesai mandi.. Faozan pun segera meninggalkan ruangan itu menuju kamar mandi.
Selesai mandi dan berwudhu.. kedua nya melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Usai shalat.. Dara segera membereskan peralatan shalat mereka dan menyimpan nya di tempat semula.
Sementara Faozan kembali duduk di tepi ranjang tempat tidur mereka.
Dara pun menghampiri nya.
" Sayang.. hari ini kamu ada kegiatan nggak?." Dara mulai bertanya.
" Belum.. Besok atau lusa baru aku akan mulai ke kebun." jawab Faozan seada nya.. " Kenapa emang nya?."
" Nggak apa apa.. cuma aku mau kamu ikut aku hari ini." kata Dara.
__ADS_1
Faozan mengernyitkan dahi nya.. karna ia tak tahu Dara akan mengajak nya kemana.
" Kemana?." akhir nya Faozan bertanya terus terang.
" Kantor Polisi.. menemui Kak Aldy."
" Buat apa?." Faozan bertanya penasaran.
" Aku ingin mencabut tututan ku pada Satya..."
" Kenapa?." Faozan merebut pembicaraan gesit.
" Aku rasa.. dua minggu sudah cukup untuk dia merasakan dingin nya sel penjara.. Aku akan mencoba memaaf kan nya.. barang kali saja dengan memaaf kan nya... pintu hati nya akan terbuka dan mencoba ikhlas merelakan ku bersamamu."
Faozan hanya terdiam mendengar perkataan Dara... ia tak tahu.. apa kah benar memaaf kan Satya.. atau justru lebih berbahaya lagi.
" Apa kamu yakin kalo Satya bisa mengikhlaskan mu?.". Tanya Faozan ragu ragu.
" Insya Allah sayang.. aku cuma nggak mau kita mengawali hidup baru kita ini dengan menyakiti orang lain." jawab Dara seada nya.
" Baiklah kita lihat saja."
Karna Faozan setuju untuk mencabut tututan terhadap Satya.
Hari itu Dara & Faozan mendatangi kantor Polisi dimana Satya masih ditahan.
Dara & Faozan langsung menemui Aldy dan mengatakan niat nya.
Dara juga berpesan agar secepat nya Satya bisa di bebaskan.
Tak butuh waktu lama bagi Aldy untuk memenuhi keinginan adik sepupu nya itu.
Jam 16 sore.. Satya sudah di izin kan pulang.
Saat itu Satya tengah duduk termangu memandangi kotor nya dinding penjara itu.. tiba tiba datang lah seorang sipir yg menghampiri pintu sel di bagian dia di kurung.
Sipir tersebut membuka gembok sel tersebut.. dan saat itulah Satya benar benar kaget melihat nya.
Hingga Satya spontan langsung berdiri.
" Saudara Satya.. Anda boleh pulang." Kata sipir itu.. yg membuat Satya langsung membulat kan mata nya dengan tersenyum lebar.
" Anda tidak bercanda kan." tanya Satya yg memastikan pendengaran nya tidak salah.
" Tidak.. Saudara boleh pulang." sipir itupun mempersilahkan Satya keluar dan meminta Satya untuk menemui Aldy.
Satya pun mulai melangkah dengan bebas nya berjalan menuju tempat dimana Aldy berada.
" Pak Aldy." panggil formal Satya.
" Satya.. kamu di bebaskan.. karna pihak penuntut sudah mencabut tuntutan nya terhadap mu." Tegas Aldy juga sama formal nya.
" Baiklah terimakasih." Sahut Satya penuh kegembiraan.
__ADS_1
Setelah menanda tangani beberapa berkas Satya pun di perbolehkan pulang.
Begitu Satya berada di luar kantor Polisi.. Satya melihat kedua orang tua nya yg sudah berdiri menantikan nya.
Dengan berlarian kecil Satya menghampiri kedua orang tua nya.. dan memeluk mereka dengan air mata bahagia.
" Mama.. papa aku kangen kalian." tutur Satya lirih.
" Iya nak.. kami juga merindukan mu.. semoga ini menjadi pelajaran untuk mu agar kamu tak berbuat jahat lagi." Kata sang Ayah.
Satya mengangguk sambil menundukan kepala nya.. mata nya mulai berkaca kaca.. mengingat perbuatan jahat nya.
Karna ke egoisan nya.. gadis yg ia cintai nyaris kehilangan nyawa nya.
Betapa bodoh dan jahat nya dia.. harus nya jika dia benar benar mencintai Dara.. dia berusaha agar Dara bahagia.. bukan malah menyakiti apa lagi mencelakai dan ingin merenggut nyawa nya.
" Ya Allah... betapa kotor nya hamba mu ini.. hamba telah melakukan hal yg sangat jahat Ya Allah.. tolong ampuni segala dosa dosa hamba & maaf kan semua kesalahan hamba mu yg bodoh ini Ya Allah." Satya berkata dalam hati.. air mata penyesalan mengalir di pipi nya.
Satya yg tadi hanya menunduk karna menyesal.. langsung mendongak saat mendengar seseorang memanggil nya.
" Sat." panggil Dara.
Satya hafal betul suara siapa itu.. hingga lekas lekas Satya menepis air mata nya.. untuk menatap Dara.. seorang gadis yg sangat dicintai nya.. namun juga tak mungkin ia miliki.
Dara kembali datang kesana bersama Faozan.. saat mendapatkan telpon dari Aldy yg mengatakan Satya sudah bebas dan akan segera pulang.
Satya menghampiri Dara.. Sekilas Satya menatap Faozan saat ia mendekati Dara.. namun Faozan masih tampak tenang.
Satya bersujud di kaki Dara.. yg membuat Dara seketika langsung kaget.
" Maaf kan aku Ra." Kata Satya yg bersimpuh di kaki Dara.. " Karna aku kamu sudah banyak menderita.. aku bodoh.. aku egois.. aku juga jahat.. hanya karna aku merasa sakit hati atas penolakan mu.. aku menjadi gelap mata.. harus nya jika benar aku mencintai mu.. maka aku harus membuat mu bahagia.. bukan malah menyakiti mu... apa lagi berniat menghabisi mu... maaf karna obsesi ku untuk memiliki mu.. kamu jadi menderita." Satya berkata penuh penyesalan.. sampai air mata nya menetes di kaki putih Dara.
Dara men jongkok dan meraih kedua lengan Satya.. untuk meminta nya berdiri.
Satya pun berdiri sesuai kemauan Dara.
" Sudah lah Sat.. aku sudah melupakan semua itu.. dan aku juga sudah memaaf kan mu sebelum kamu meminta nya.. aku tau kamu bukan orang yg jahat.. kamu hanya khilaf..& itupun karna rasa sakit yg kamu dapat kan dari ku... aku juga minta maaf Sat karna aku tak bisa bersamamu.. aku memang pernah mencintai mu.. tapi itu dulu.. saat ini kita hanya teman tak lebih & tak kurang.. maka sebagai teman aku akan selalu berdo'a untuk mu.. semoga secepat nya kamu mendapatkan pengganti ku." Sahut Dara panjang lebar.
" Dara benar Sat.. belajar lah dari masa lalu.. jangan sampai kamu terjatuh ke lobang yg sama." Faozan menambahi bicara Dara.. " Dan iya ingat lah selalu kata kata ini.. Apa yg kau tanam itulah yg kau tuai.. yg artinya.. apapun yg kamu perbuat sesuatu saat kamu pasti akan mendapat kan hasil dari perbuatan mu.. maka jika kamu berbuat baik sudah pasti hasil nya baik juga.. namun jika kamu berbuat sebalik nya.. maka yg akan kamu dapat kan lebih buruk lagi." Sambil berkata Faozan menepuk pelan pundak Satya.
Satya langsung memeluk Faozan.
" Terimakasih." Ucap Satya.. lalu ia melepaskan pelukan nya.
" Aku ikhlaskan Dara untuk mu.. jangan pernah sakiti diri nya meski hanya seujung kuku saja.. jika tidak maka kamu akan kehilangan diri nya dan kamu juga akan menyesal seperti ku." pesan Satya pada Faozan.
Faozan hanya mengangguk dan tersenyum.
Setelah itu Dara & Faozan pamit pulang.. meninggalkan Satya bersama kedua orang tua nya.
Perasaan mereka sungguh lega melihat Satya yg telah berubah.
Dara & Faozan berharap semoga di awal kehidupan baru mereka ini.. mereka bisa merasakan kebahagiaan.
__ADS_1