
“Loh kenapa?” sela Faozan.
“Karna menjadi orang tua yg baik bukan dengan harus menuruti setiap kemauan anak nya... Menjadi orang tua yg baik adalah ketika kita sebagai orang tua selalu ada untuk anak anak nya.. Membimbing mereka menuju jalan yg benar.. Menegur & menasehati jika mereka keliru.. Memaafkan jika mereka salah dan yg terpenting mencurahkan kasih sayang kepada mereka.. mengajari mereka agar bisa jadi manusia yg selayak nya.. bukan memanjakan dengan materi atau apapun itu.. intinya ajarkan mereka hidup sesederhana mungkin.. Agar mereka mengerti akan susah nya mencari uang.. hingga mereka bisa bertanggung jawab serta menghargai orang lain.” sahut Dara.. itulah yg dia fikirkan.
“Nah denger tuh Zan istri mu.. dia benar benar bijak.” tambah sang kakek.
Faozan hanya mengangguk ngangguk saja.
Saat itu kebetulan Randy adik nya Faozan nongol.. Ternyata Randy juga tak menyukai Ayah nya.. Namun setelah dinasehati sang kakek akhir nya dia mengerti.
Kini hubungan semua nya telah membaik..
🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀
Sekitar jam 8 pagi waktu setempat.
Dara & Faozan tengah bersiap siap untuk pergi ke Mataram mengantar sang Ayah pulang kerumah nya.
Hari itu Dara izin untuk tidak masuk kerja lantaran ada urusan.. Dr.Farez pun memaklumi.
Jadi hari itu Dara & Faozan lah yg mengantar Ayah nya.
Saat di perjalanan Dara sengaja mampir di sebuah super market.. Membeli beberapa baju untuk anak perempuan kecil.. yg tak lain untuk adik nya Faozan dari Ibu yg lain.
Bahkan ada juga beberapa boneka.. Dara memang akan memberikan sebagian saja.. sebab dia juga harus memberikan baju n boneka untuk Ella & juga Adel.
Dara ingin adil terhadap semua nya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 4 jam.. Tiba lah mereka di Mataram.
Faozan menghentikan mobil nya tepat di depan sebuah rumah sederhana bercatkan warna biru tersebut dengan pagar yg terbuat dari bambu.
Tak lama setelah mobil terhenti.. terlihat seorang wanita yg kira berumur 38 tahunan.. keluar dari pintu rumah tersebut.
Disusul seorang gadis kecil yg berumur 6 tahunan.
Pandangan wanita itu tertuju pada sebuah Lamborghini yg kini terparkir cantik di depan rumah nya.
Yg membuat wanita itu heran suami nya yg keluar dari mobil tersebut.
Dengan tatapan tak menyangka wanita itu berjalan menghampiri sang suami yg kini sudah keluar dari dalam mobil tersebut.
Sementara Dara & Faozan masih berada di dalam mobil.
__ADS_1
Dara masih mengambil barang barang yg akan dia berikan untuk adik nya Faozan itu.. suka ataupun tidak.. Gadis kecil itu tetap lah adik nya Faozan.. Meski mereka berbeda Ibu akan tetapi Ayah mereka sama.. Yg artinya pula Faozan dan gadis kecil itu memiliki aliran darah yg sama.
Setelah mengambil barang barang nya.. Dara pun mulai turun.. Dan hal itu makin membuat Ibu tiri nya Faozan terbelalak.
Wanita itu pastilah sangat terkejut.. Suami nya pulang bersama seorang perempuan muda Cantik bahkan dengan sebuah mobil.
“Asalamualaikum.” Dara menyapa wanita itu ketika dia keluar dari mobil nya.. Bahkan dengan tersenyum manis.
Akan tetapi wanita itu justru terlihat tak menyukai Dara.
“Waalaikum sallam.” sahut wanita itu dengan setengah terpaksa.
“Siapa wanita ini Pak?.” Tanya Ibu tiri nya Faozan pada sang suami.
“Istriku.” Faozan yg menjawab pertanyaan nya.
“Faozan.” Ibu tiri nya Faozan berkata dengan setengah bergumam.. Sambil menatap Faozan.
“Ayo kita masuk nak.” Ajak ayah nya Faozan.
Dengan setengah ragu ragu.. Faozan & Dara mengikuti langkah Ayah nya untuk masuk kedalam rumah.
“Hy Dek.” Dara tak langsung masuk tapi ia menghentikan langkah nya saat dia berada di dekat gadis kecil itu.
Gadis kecil itu tersenyum.
“Ayo kak masuk.” Ajak Ditta pada Dara.. Bahkan sambil meraih tangan Dara dan menuntun nya masuk... Diikuti oleh Ibu nya.
Kemudian mereka pun duduk bersama di ruang tamu.
“Bikin minum Bu.” titah Ayah nya Faozan.
Kali itu Ibu tiri nya Faozan hanya menurut dia langsung kebelakang dan membuat minum.
10 menit kemudian Ibu tiri nya Faozan telah selesai dan membawa beberapa gelas teh hangat.
“Mari silahkan di minum.” tutur Ibu tiri nya Faozan... Sembari duduk bersama mereka.
“Faozan gimana kabar kamu nak?.” tanya Ibu tiri nya itu.
Tumben kali ini dia ramah.. bahkan senyum manis.
“Alhamdulillah baik Bi.” iya itulah Faozan.. Dia tak ingin memanggil wanita itu dengan Ibu.. akan tetapi Bibi.. jika kalian ingat bahkan pada suami ibu nya dulu Faozan juga hanya memanggil paman.
__ADS_1
“Kamu kok menikah nggak ngundang ngundang sich.” Tutur Ibu tiri nya lagi.
“Karna kami menikah di Prabumulih Bu.” Dara yg menjawab.
“Kenapa jauh sekali.” kata Ibu tiri nya lagi.
“Karna aku orang sana.” jawab Dara terus terang.
“Pak.. Kakak ini siapa?.” Ditta menyela.
Sebab dia benar benar tidak mengenal Dara & juga Faozan.
“Ditta.. Ini kak Ozan kakak kamu.. Dan ini kak Dara dia juga kakak kamu.” jelas Ayah nya pada Ditta.
“Asyik Aku punya kakak.” Kata nya girang.
“Lalu selama ini dimana mereka?.” tanya Ditta.
“Kakak ada kok di rumah kakak.. Kapan kapan Ditta main ya kerumah kakak.. Ada kakek disana.. ada kak Randy.. ada kak Ella juga.. bahkan kak Vina.. Adel dan Firman mereka pasti senang bertemu Ditta.” jelas Dara.
Gadis kecil yg bernama Ditta itu mengangguk senang.
“Oh iya nih.. Kakak punya sesuatu buat Ditta.” tutur Dara.
Ditta pun menghampiri nya.. Dara memberikan baju dan juga boneka untuk Ditta.
Tentu saja membuat Ditta melompat kegirangan.
“Terimakasih Dara.” tutur Ibu nya Ditta.
“Kenapa Ibu harus berterima kasih.. Ditta adalah anak dari Ayah mertuaku.. jadi suka ataupun tidak kenyataan tak bisa di ubah bahwa Ditta & Faozan itu adalah saudara.” tegas Dara.. Dia sengaja menekan kata saudara itu.. Agar ibu nya Ditta menyadari tidak seharus nya dia membedakan antara Faozan dan Ditta.. Sebab mereka adalah kakak beradik.
“Iya kamu benar sekali.. Dalam tubuh mereka mengalir darah yg sama.. Namun selama ini saya terlalu jahat.. Saya menikah Ayah dari mereka tapi tak bisa menerima anak anak nya.. Maaf kan saya Faozan.” Tutur Ibu tiri nya merasa bersalah selama ini sering bersikap kurang pantas pada Faozan.
“Lupakan lah semua itu Bibi.” sahut Faozan
“Jangan kan Bibi Ayah ku sendiri bahkan tak peduli pada ku jadi wajar saja lah.. Yg penting sekarang semua nya sudah membaik.” lanjut Faozan lagi.
“Iya karna itulah aku ingin meminta maaf pada mu.” tutur Ibu tiri nya Faozan lagi.
“Ozan udah maaf in kok Bu.” jawab Dara.
Faozan hanya mengangguk.
__ADS_1
Begitu lah.. Setelah sekian lama akhir nya perlahan lahan hubungan yg sempat terputus selama ini kian membaik.
Memang sudah seharus nya begitu.. Keluarga tetap lah keluarga seperti apapun mereka.. Tetap saja mereka adalah keluarga kita... Jadi hargailah keluarga mu selagi mereka masih ada.. sebab jika mereka sudah tak ada lagi didunia ini maka hanya kehampaan yg akan kita rasakan... Sebab keluarga adalah harta paling berharga dalam kehidupan setiap orang.