
Setiba nya di rumah.. Dara langsung menuju kamar untuk berganti pakaian kemudian langsung mandi.
Sementara Faozan hanya duduk di ruang tengah.. bercerita pada kedua orang tua nya Dara.
Kedua orang tua Dara sangat senang mendengar apa yg mereka lakukan tadi.. mereka hanya menunggu kabar dari Aldy.
Setelah mandi Dara pun ikut nimbrung bersama Faozan dan kedua orang tua nya.
" Sayang.. kamu belum jawab pertanyaan ku tadi loh." Kata Dara yg membuat Faozan bingung.. lantaran ia tak ingat pertanyaan yg mana.
" Pertanyaan yg mana?.". Tanya Faozan terus terang.
" Itu loh.. apa yg kamu katakan pada Satya.. hingga dia langsung marah dan menceritakan kejahatan nya." Dara mengulangi kata² nya tadi.
" Oh itu.. jangan marah ya tapi.." Faozan menjawab dengan tersenyum.
" Iya aku nggak akan marah... kamu cerita aja."
" Janji dulu." Pinta Faozan.
" Iya janji." Dara hanya menuruti saja.
" Aku bilang pada nya.. selamat ya Sat.. semoga kamu bahagia bersama Dara.. dan ku harap kamu nggak menyesal menerima nya sebagai istri mu.. meskipun sebenar nya Dara sudah tak suci lagi... itu yg ku katakan pada Satya."
Dara langsung melotot mendengar nya.
" Iiih.. kamu benar² kurang ajar ya.. berani nya Fitnah aku kayak gitu." Dara berkata dengan nada yg agak kesal.
" Maaf.. habis aku tak punya pilihan.. aku tau sifat Satya.. tak mudah untuk membuat nya ngaku.. kecuali jika dia membenci mu.. dan hanya itu cara ku untuk membuat nya membenci mu.. dan berfikir kalo kamu telah lama mengkhianati nya." Jelas Faozan.
Dara yg menyadari kebenaran dari perkataan Faozan hanya mengangguk saja.
" Kamu masih marah?." tanya Faozan lagi.. sebab ia lihat Dara hanya diam.
" Nggak kok... ngapain aku marah.. justru harus nya aku senang.. karna akhir nya Satya akan mendapat ganjaran atas perbuatan nya." jawab Dara apa ada nya.. iya itulah yg sebenar nya Dara sudah tak sabar menunggu kabar dari kakak sepupu nya itu.
Tak berapa lama setelah itu.. ponsel Dara berdering.. Dan itu dari kakak sepupu nya.
__ADS_1
Dengan cepat Dara menjawab nya.
Dan benar saja.. Kakak nya itu memberikan kabar yg bahagia..
Aldy mengatakan kalo mereka telah menangkap Satya.
Dara langsung tersenyum lebar mendengar nya.
Usai menutup telpon.. Dara langsung bicara pada Faozan.
" Sayang apa kamu masih mau bermain².." Dara berkata sambil menginjit² alis nya.
" Maksud nya.". tanya Faozan bingung.
" Tadi kak Aldy bilang saat ini Satya sudah ada di kantor Polisi.. apa kah kamu mau menemui nya.. untuk menyudahi permainan kita."
" Boleh.". Jawab Faozan dengan tersenyum.
Kedua orang tua Dara hanya tersenyum melihat mereka.
" Ayah.. Ibu.. kami pergi dulu ya.". Dara pamit pada kedua orang tua nya.
Tiba di kantor Polisi.. Dara langsung menemui kakak nya.. biar cepat bertemu Satya.
Aldy pun mengatar kan Dara & Faozan untuk menlihat keadaan Satya.
Dilihat nya Satya tengah berdiri memegangi jeruji besi itu.. dengan raut wajah yg sangat kesal.. ada lebam di muka nya.. mungkin karna di pukul Polisi agar mau mengakui perbuatan nya secara terus terang.
Satya melihat Dara yg berjalan menghampiri nya langsung memanggil nya.
" Dara.. kamu ada disini." Kata Satya.. mereka berdua saling menatap hanya terhalang sel penjara itu.
Dara tersenyum mendengar perkataan Satya.
" Iya Sat.. selamat ya untuk rumah baru mu ini." Dara mulai mengejek Satya.
" Dasar wanita murahan.. berani sekali kamu mengejek ku.."
__ADS_1
" Tutup mulut mu itu Satya..". Faozan menyela dengan sangat marah.. " Kamu lebih rendah dari pada seorang wanita murahan."
" Oh.. sekarang aku mengerti kalian sengaja kan menjebak ku." tutur Satya mendengus.
" Aduh.. rupa nya setelah berada di balik sel ini kamu makin pintar ya Sat.. tepat sekali.. kami lah yg sengaja menjebak mu.. upz." Dara menutup mulut nya.
" Salah tepat nya bukan menjebak.. tapi membuat mu.. mengakui kejahatan."
" Kamu akan menyesal telah melakukan ini pada ku Ra." Bentak Satya.
" Benar banget Sat.. aku sangat menyesal kenapa dulu aku kenal kamu.. dan kenapa dulu aku bisa mencintai pria seperti mu.. sungguh aku sangat malu dan menyesal sekali.. karna kamu adalah mantan pacar ku."
Mendengar perkataan Dara Satya makin jengkel saja.
" Ingat ya Ra.. kamu akan menerima akibat yg lebih buruk lagi saat aku keluar nanti." Ancam Satya.
" Cuiih." Dara berludah.. " Aku takut Sat.. jangan gitu donk." Dara pura² ketakutan.. Satya hanya menatap nya bengong.
Saat itulah Dara sengaja menarik kerah baju Satya dan mulai bicara.. sementara Faozan hanya menyaksikan.
" Dengar ya Sat.. kalo kamu berfikir aku akan takut pada mu.. maka buang jauh² pemikiran bodoh mu itu.. aku nggak pernah takut pada mu.. karna aku punya Allah yg akan selalu melindungi ku.. jadi berhentilah kamu mengancam ku.. atau jika salah satu Polisi mendengar ancaman mu.. maka hukuman mu akan semakin berat.. jadi akan lebih baik jika kamu bertobat Sat."
Satya yg menyadari kebenaran dari perkataan Dara hanya mampu untuk berdiam diri.
Dara pun melepas kan tangan nya dari kerah baju Satya.
Setelah itu Dara mengajak Faozan untuk meninggal kan tempat itu.. karna ia sudah cukup puas melihat wajah sedih dan takut Satya.
" Dara.. apa kamu sadar.. aku melakukan semua ini karna aku sangat mencintai mu.. aku nggak rela kamu dimiliki oleh orang lain.. kamu hanya milik ku." Satya berteriak.
Sejenak Dara menghentikan langkah nya dan berbalik menatap Satya.
Di lihat nya Satya sudah mulai menetes kan air mata.
Ada rasa tak tega juga dalam hati nya.. tapi Satya tetap harus di hukum atas perbuatan nya.
" Bertobat lah Sat." hanya kata itu yg Dara ucapkan sebagai respon dari perkataan Satya tadi.
__ADS_1
Lalu kemudian dengan langkah lebar Dara mengajak Faozan pergi dari tempat itu.
Dara & Faozan pun langsung pulang.