
Disaat Faozan tengah asyik nya tertawa mereka malah di kejutkan dengan kedatangan seseorang yg tiba² masuk ke ruangan itu.
Dan Orang itu adalah Dimaz.. teman sekaligus orang yg mencintai Dara.
Dimaz datang dengan membawa bucket bunga mawar merah segar.. dan juga satu parcell buah.
" Selamat pagi Can.." Dimaz langsung menghentikan bicara nya saat ia melihat seorang pria sedang duduk di sebelah Dara dengan jarak yg sangat dekat pula.
Sontak Dara dan Faozan menoleh menatap Dimaz.. yg kini bagai patung.
Faozan mengamati wajah pria itu.. ia seperti pernah melihat.. kemudian ia ingat kalo ia pernag melihat fhoto Dimaz saat itu Faozan sendiri yg minta fhoto Dimaz pada Dara dan Dara pun juga memberikan nya.
" Dimaz." kata Faozan dan Dara bersamaan.
Dimaz terkaget mendengar perkataan kedua orang itu.
Dengan perasaan kecewa ia melangkah menghampiri Dara.. mata nya terus melirik Faozan dengan tatapan yg agak sinis.
Ia tak tahu siapa Faozan.. tapi ia merasa cemburu melihat kedekatan Faozan dengan Dara.
" Ini untuk mu." kata nya sambil memberikan bunga dan juga buah yg ia bawa.
" Makasih Dim." jawab Dara menerima pemberian Dimaz.
" Bagaimana keadaan mu sekarang?." Dimaz berkata sambil mendekati Dara dan langsung saja memeluk Dara.
Dara yg tak tahu Dimaz akan memeluk nya tak bisa mengelak.
Saat itulah Faozan tak bisa tinggal diam.
Ia meraih tangan Dimaz dengan kuat.. hingga Dimaz menjauh dari Dara.
" Bisa nggak.. nggak usah pake peluk segala." kata Faozan dengan menahan amarah nya.
" Eh kamu siapa nya.. pake larang² aku.. Dara saja tak keberatan lalu kenapa kamu yg sewot." Dimaz juga mulai kesal.
Dara menatap Faozan dan Dimaz secara bergantian kelihatan jelas bahwa kedua nya tak menyukai antara satu sama lain.
" Aku pacar nya.". jawab Faozan.
__ADS_1
" Kamu hanya pacar bukan suami nya.. dan ia pacar kamu bilang.. pacar macam apa kamu.. kemana aja selama ini.. kenapa baru datang sekarang.. selama ini apa pernah kamu peduli. pada nya.. pernahkah kamu menemani nya saat ia begitu hancur dan apa pernah sekali saja kamu memberikan dia uang setidak nya untuk bantu biaya berobat nya.. nggak kan..?.. lalu pantaskah orang sepertimu mengaku sebagai pacar nya."
Faozan yg merasa sangat marah mendengar perkataan Dimaz tak bisa menahan amarah nya lagi.
Dia ingin memukul Dimaz.. tapi baru saja tangan nya ingin mendarat di muka Dimaz.. Dara menghentikan nya.
" Cukup." sambil berkata begitu Dara mencoba meraih tangan Faozan.. namun tangan nya begitu keras hingga Dara begitu sulit menahan sampai ia harus mengeluarkan begitu banyak tenaga agar bisa menghentikan nya.. dan untung nya berhasil tapi kondisi nya yg makin melemah.
Faozan yg menyadari perkataan Dara.. langsung menatap Dara yg terlihat makin lemas.
Dimaz juga menyadari keadaan Dara sedang tidak baik.
Maka dengan bersamaan Faozan dan Dimaz mendekati Dara dan ingin membantu nya..
Namun kali itu Faozan yg lebih dulu didekat nya.
" Maaf.. ayo biar aku bantu.". sambil berkata Faozan berniat mengangkat tubuh Dara.. begitu juga dengan Dimaz..
Ia mendekati Dara dan mulai meraih tangan Dara untuk membantu nya.
Tapi sekali lagi lekas² Faozan menjauh kan tangan Dimaz.
" Jangan sentuh dia."'. sambil menepis kuat tangan Dimaz.
Dara sudah tak bisa berkata apapun lagi.. ia benar² lemas tak menyangka disaat ia belum pulih malah dihadapkan di situasi yg seperti ini.
Faozan mengangkat tubuh Dara dan mendudukan nya di ranjang rumah sakit itu.
Dara masih terdiam.. hanya mata nya yg bergantian menatap Faozan dan Dimaz.
Melihat Dara telah duduk.. Dimaz mengambil sebotol air mineral yg ada disana dan memberikan nya untuk Dara.
Dara menerima nya dan juga meminum nya.. kali itu Faozan tak mencegah sebab ia tau Dara butuh minum untuk membuat nya sedikit tenang.
Setelah minum dan mengambil nafas dalam.. Barulah Dara mulai biacara.
" Apa kalian tidak waras." kata nya bergantian menatap Dimaz dan Faozan.
Dimaz dan Faozan hanya saling menatap sinis.
__ADS_1
" Aku bertanya pada kalian?.. apakah kalian masih punya otak?."
" Dia yg salah." jawab Faozan.
" Kamu yg mulai." ucap Dimaz pada Faozan.
" Kalo kamu nggak memeluk Dara aku nggak akan marah." jawab Faozan.. " Tapi yg kamu lakukan itu kelewatan.. siapa saja yg jadi aku pasti akan marah."
" Kalian masih mau bertengkar.. kalo begitu silahkan keluar dari sini.. didepan sana ada lapangan luas.. kalian bisa bertengkar disana tapi tidak disini.. ini rumah sakit bukan hanya aku tapi juga banyak pasien lain yg akan terganggu."
Lagi² Faozan dan Dimaz hanya diam.. mereka menyadari kesalahan mereka.
" Maaf." ucap Faozan dan Dimaz bersamaan.
" Ozan..". Dara mulai bicara pada Faozan... Faozan menatap Dara... " Aku tau kamu pacar ku.. kamu juga berhak untuk marah.. tapi bukan berarti kamu bebas memukul atau menyakiti apa lagi mau bertindak keras pada orang lain.. kamu tau kan aku nggak suka kekerasan.. bahkan sering aku bilang pada mu kalo cara menyelesaikan masalah itu nggak perlu dengan kekerasan.. tapi kenapa kamu begitu suka memukul orang.. apa lagi kali ini kamu tau.. Dimaz itu teman ku.. aku nggak akan suka orang yg menyakiti teman ku...."
" Jadi kamu lebih membela nya.. padahal kamu dengar sendiri apa yg ia katakan tadi.. aku tau semua nya benar.. aku bukan pacar yg baik buat kamu.. tapi..." Faozan merebut bicara Dara.
" Bisa nggak kalo aku lagi bicara nggak main penggal aja." ketus Dara.
Faozan hanya menghela nafas dalam.
" Dan kamu Dimaz.". Dimaz mulai menatap Dara dengan serius.
" Kamu tau kalo aku tak menyimtaimu dan kita sudah sepakat kalo kita hanya akan tetap berteman.. aku tau kamu senang melihatku sudah siuman.. tapi cara mu yg langsung memeluk ku itu salah besar apa lagi kamu lakukan itu di depan pacar ku.. harus nya kamu menghargai perasaan nya terlebih lagi perasaan ku apakah aku akan suka dengan tindakan mu atau tidak harus nya kamu fikirkan dulu... tapi tidak kamu hanya memikirkan perasaan mu sendiri."
Dara menghentikan bicara nya dan menatap Dimaz yg hanya diam.
" Maaf Dim.. bukan maksud ku untuk menyakiti mu.. kamu itu teman baik ku.. aku nggak mau kamu disakiti oleh siapapun termasuk oleh orang yg ku sayang maka nya aku mencegah Faozan memukul mu.. tapi sebenar nya kamu memang salah Dim.. tak semesti nya kamu berkata sedemikian kasar nya pada Faozan.. bukan tak ada niat dia untuk membantuku tapi aku yg menolak.. kamu tau kenapa?.. karna aku tak ingin menambah beban dihati nya.. aku tau saat ia mengetahui kalo aku sakit maka dia yg lebih sakit dari pada itu.. karna itulah aku tak mau bantuan nya.. jadi ku harap kamu tak pernah bicara yg akan menyakiti hati nya lagi Dim.. karna jika kamu menyakiti perasaan nya maka sama saja dengan kamu melukai perasaan ku.. karna sama seperti kamu yg tak bisa melihatku terluka.. maka aku juga tak bisa melihat nya tersakiti.. dan kita semua tau alasan nya.. yaitu cinta." Dara berkat panjang lebar.
Mendengar penuturan Dara kedau insan itu hanya bisa meneteskan air mata.
Mereka berdua benar² egois.. tak memikirkan perasaan Dara hanya menuruti emosi semata.
Padahal jika mereka mau sadar.. apa akibat dari yg mereka lakukan tadi.. akibat nya Daralah yg pasti paling terluka.
Bagaimana tidak di satu sisi ada Faozan yg ia cintai.. namun disisi lain ada sahabat nya yg juga ia sayang karna sejak masih kecil mereka sudah dekat.
Tapi kenapa mereka tega membuat Dara berada di tengah² nya.
__ADS_1
Jawaban nya hanya satu yaitu karna rasa cemburu..
Cemburu adalah api.. yg begitu cepat melahap sasaran nya tanpa bersisa.