Cinta jarak jauh... ( LDR)

Cinta jarak jauh... ( LDR)
Pembukaan Klinik.


__ADS_3

Begitu Dara dan Faozan tiba di klinik.. Dr.Farez sudah ada disana.


"Maaf Dr.Farez kami sedikit terlambat.” tutur Dara saat dia berada di dekat Dr.Farez.


" Iya tak apa apa kok Ra.” sahut Dr.Farez.


“Oh iya.. Apakah dia..?” tunjuk Dr.Farez pada Faozan.


"Iya kenalin ini Suami ku... Untuk Ozan ini Dr.Farez yg sering aku ceritain ke kamu.” Dara berkata pada kedua pria yg ada disana.


Dr.Farez dan Faozan pun saling berkenalan dan berjabat tangan.


Setelah semua undangan datang.. Acara pemotongan pita pun dimulai.. Dara sendirilah yg memotong nya.


Klinik tersebut di beri nama KLINIK DAFA.


Entah apalah kepanjangan dari DAFA yg sebenar nya..


Apakah Dara Faozan.. Atu justru Dara Farez.. Yg pasti nya nama itu dipilih oleh Dr.Farez.. Tentu atas persetujuan Dara.


Setelah acara pemotongan pita.. Dara diminta untuk menyampaikan sepetah dua patah kata sambutan.. Dara pun melakukan nya dengan sangat baik.


Padat singkat dan jelas.. itulah isi sambutan Dara.


Disana dia mengucapkan rasa terima kasih untuk semua orang.. bahkan tersirat pesan di dalam nya agar sebagai manusia kita harus tetap rendah hati.. saling tolong menolong dan terus berdoa serta berusaha.


Dara juga sempat bercerita mengenai masa lalu nya dimana dia sempat terkena kanker dari sana lah impian nya untuk menjadi seorang Dokter muncul.


Dari sana lah pula dia makin mencintai Faozan.. Yg selalu ada bersama nya dalam suka ataupun duka.. Itulah alasan nya mengapa dia begitu mencintai Faozan.. Hingga apapun kata orang orang dia tak peduli.


Hampir setiap undangan yg hadir dan mendengar kan cerita Dara menitikan air mata.. Ternyata perjalanan hidup Dara tidak lah semulus yg mereka bayangkan.


Dan semua orang merasa bangga dan haru atas ketegaran dan kesabaran Pasutri itu.


Hingga tak ada lagi orang yg bergunjing mengatakan bahwa Faozan tidak lah pantas untuk Dara.


Mereka mulai memahami betapa besar nya hati Faozan.. Mungkin jika laki laki lain yg ada di posisi nya sudah lama menyerah dengan keadaan namun tidak dengan Faozan.. Hal itu juga sempat mereka kagumi dari Faozan.


Yakni mencintai dengan tulus.


Sekitar jam 13 siang.. Acara telah selesai.. Dr. Farez dan semua orang telah pulang.


Dr.Nadia lah yg akan di tugaskan untuk menghandle Klinik tersebut.


Dara & Faozan pun pamit untuk pulang.. Klinik tersebut akan di buka mulai besok.


Sepanjang perjalanan pulang tak henti henti nya Faozan tersenyum menatap sang istri.. Dia merasa sangat senang dengan cerita sang istri tadi yg terkesan memuji diri nya.


“Makasih ya Sayang kamu sudah mau berbagi kisah kita dengan semua orang.” Tutur Faozan saat itu mereka telah berada di kamar dan berganti pakaian.


“Iya aku sangaja membuka lembaran pahit itu.. agar mereka tak memandang rendah pada mu.. Hanya karna kamu orang biasa.” jelas Dara.


Karna masing masing telah selesai berganti pakaian.. Kedua nya duduk di tepi ranjang.


"Sayang.. Aku punya sesuatu untuk mu.” Tutur Faozan kemudian.

__ADS_1


Selama Dara pergi ke RS tadi Faozan memang membeli hadiah untuk istri nya itu.


“Owah.. Apa?.” Tanya Dara antusias.


Faozan berdiri dan mengambil sebuah kado dari dalam laci yg ada disana.


“Hadiah untuk istri ku tersayang.. Sebagai ucapan selamat atas kebeerhasilan mu.” sambil berkata Faozan memberikan kado tersebut pada Dara.


Dara menerima nya dengan tersenyum bahagia.


Tak lama setelah itu Dara pun membuka nya.


Ternyata hadiah nya adalah Tiket Umroh untuk mereka berdua.


Air mata haru langsung menetes tanpa Dara sadari.


“Makasih ya Sayang.” Dara berkata sambil memeluk suami nya.


“Tapi menurut ku kita harus menunda ini dulu.. biarkan Ibu dan kakek saja yg kesana.. kita bisa menyusul tahun depan.” usul Dara... Faozan pun menyetujui nya.. Mereka sudah sepakat untuk membiarkan kakek dan Ibu nya yg pergi umroh duluan.


Faozan makin merasa bangga akan sikap baik istri nya itu.


“Baiklah ayo kita beritahukan hal ini pada Ibu & juga kakek!.” ajak Faozan... Sambil meraih tangan Dara untuk turun dan menemui ibu dan juga kakek mereka.


Namun masih di cegah oleh Dara.


“Ntar dulu.. Aku juga punya sesuatu buat kamu.” Tutur Dara.. Faozan pun menghentikan langkah nya.. Dan kembali duduk di sisi sang istri.


“Apa kamu tau kenapa aku ke RS tadi?.” Tanya Dara.


Dara menaikan lengan baju nya dan memperlihat kan perban bekas bedah tadi.


“Kamu kenapa?.” Faozan mulai cemas.


“Tenang.. Aku nggak apa apa kok.. Ini hanya luka bekas aku buka implan tadi.” jelas Dara.


Faozan mengambil nafas lega.


“Apa itu artinya kita harus segera memikirkan tentang baby?.” Goda Faozan... Sambil mengedipkan mata nya genit.


“Eem nggak.” Goda Dara.


“Ya udah kalo kamu masih belum siap juga nggak apa apa kok.. Kita akan memikirkan buat punya anak setelah kamu siap saja.” Tutur Faozan penuh pengertian.


“Baik nya suami ku ini.” Tutur Dara mencubit lembut pipi Faozan.


“Aku kan sayang sama kamu.” jawab Faozan.


Dara tertawa pelan.


“Sebenar nya aku setuju kok.. Kalo kita harus memikirkan tentang untuk mempunyai baby sekarang.” Tutur Dara tersenyum.


“Benarkah?.” Tanya Faozan antusias.


“Eem.” Gumam Dara.. Sambil menatap lekat Faozan.

__ADS_1


“Merencanakan untuk mempunyai seorang bayi saja wajah nya sudah begitu senang.” Gumam Dara dalam hati.


“Oh iya aku tadikan bilang punya sesuatu buat kamu.. tapi belum aku berikan ya.” Tutur Dara lagi.


“Aku fikir kamu cuma mau ngasih tau hal tentang ini saja.” sahut Faozan.


“Nggak kok.” sambil berkata Dara mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya.


Kemudian di berikan nya pada Faozan.


Faozan langsung membuka sebuah amplop tersebut.. Dan hal itu membuat nya tak bisa berkata apapun lagi.


Selembar kertas hasil pemeriksaan Dara tadi yg menyatakan kalo Dara hamil.. Bahkan sudah 4 bulan.


Bahkan hasil USG nya juga ada disana.


Iya ternyata yg sempat membuat Dara khawatir akan sesuatu yg bergerak dalam perut nya tadi pagi.. tak lain dari gerakan janin yg ada dalam kandungan nya.


Tanpa disadari dia sudah hamil 4 bulan.. saking sibuk nya dia hingga lupa bahwa implan yg masih terpasang dalam tubuh nya sudah lama habis masa obat nya.. Untung itu tidak mempengaruhi janin nya.


Hanya titik titik bening yg mewakili kebahagiaan yg di rasakan Faozan saat itu.


Dengan pelan Dara menepis air mata yg mulai mengalir di pipi suami nya itu.


“Kok nangis.. Ah ini nggak asyik.” celetuk Dara.


“Aku fikir suami ku akan senang dengan hal ini.. eh nggak tau nya malah sedih.” Oceh Dara lagi.


“Ini hanya lah air mata kebahagiaan Sayang.. Terimakasih.” Barulah dia bicara meski nggak begitu lancar karna rasa haru dan juga bahagia yg teramat sangat.


Tanpa banyak bicara lagi Faozan langsung memeluk erat tubuh sang istri.


“Aku sudah nggak tau lagi.. Gimana cara nya aku ngungkapin betapa bahagia nya aku saat ini.. Rasa nya aku ingin teriak sekeras keras nya.” Kata Faozan bersemangat.


“Jangan nanti kamu di kira orang gila.” Dara menanggapi dengan candaan.


Yg membuat Faozan langsung tertawa pecah.


Kemudian tangan nya dengan lembut mulai menyentuh perut sang istri.


“Ayah harap kamu nggak seperti Ibu mu yg selalu menggoda dan mengerjai ayah mu ini ya.” Faozan mulai bicara sendiri pada calon bayi nya.


Yg membuat Dara merasa sangat senang dengan pemandangan itu.


Setelah bicara pada calon bayi nya.. Faozan mulai bicara pada Dara lagi.


“Eh disini tertulis usia kandungan mu sudah 4 bulan.. Tapi kok kita bisa nggak sadar ya.” Tutur Faozan kemudian.


“ Entahlah kita sama sama sibuk dengan kegiatan kita masing masing.. di rumah juga kita selalu nggak mikirin ini kan.. kita hanya menikmati kebersamaan kita saja.” jelas Dara memang itulah kenyataan nya.


“Padahal jika aku bisa berfikir lebih keras lagi tentang keanehan kamu.. maka jawaban nya pasti mudah ku dapatkan.” lanjut Dara.


“Maksud nya?.”


Penasaran?? nantikan di nex episode.

__ADS_1


__ADS_2